Profil TEATER KOREK 2002 – 2011
Profil Teater Korek
Nama : Teater Korek
Awal Perjalanan : Mei 2000
Lahir : 19 Juli 2002
Alamat : Jl. Cut Meutia No.83 Universitas Islam “45″ Bekasi – Jawa Barat – Indonesia
Teater Korek berdiri atas prakarsa dari 5 Orang (Arie’ Tog’, Lukman, Aib’z, Neo, Ebi). Dari latar belakang yang berbeda-beda kami mencoba untuk berbuat dan melakukan perubahan atas terkikisnya nilai-nilai.
Arie ‘Togle’ : Nama aslinya adalah haryanto lahir di Pemalang – Jawa Tengah, sebuah kota kecil dengan peradaban yang terjalar dari kota besar. Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil. Perjudian, Alkohol dan Wanita, tapi sosok yang disegani (dielu-elukan) selalu dekat dalam kesehariaanya. Darah kesenimanan lahir dari seorang Ibu pemain ketoprak. Bernyanyi dari bus kota sampai kereta Api bersama teman karibnya.
Aib’z : Nama aslinya adalah Sya’arief lahir diBekasi – Jawa Barat, berdarah minang. Adalah 5 bersaudara dengan darah kesenimanan sudah ada dari kecil karena orang tuanya. Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil. Bernyanyi, musik (gitar & biola) tidak lepas dari tangannya. Menghibur teman-teman kampus adalah hobinya. Bus kota dan Kereta Api adalah teman kesehariaannya.
Lukman Hakim : Lahir di Brebes – Jawa Tengah, berdarah Jawa dan Sunda. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Mencoba lari dari kenyataan hidup dari kehidupannya. Orasi, Demonstrasi dan terali besi, untuk menyuarakan masyarakat yang terus tertindas. Bernyanyi diatas panggung adalah kesenangannya. Ia adalah sosok yang aktif dalam sebuah organisasi, cerdas dan pemberani, Presiden Republik Mahasiswa dan sekretaris DPC GMNI Bekasi pernah diembannya.
Neo Saebani : Lahir di Bekasi – Jawa Barat, berdarah Jawa dan Betawi. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Seorang sosok jawara yang lembut dan berwibawa, tenang dalam menyelesaikan masalah. Keteladanan untuk berpikir menjadi pemicu dan motor adik-adiknya untuk terus berjuang. Orasi dan demonstrasi juga menghiasi kehidupannya. Tapi wanita menjadi bom waktu baginya.
Febrianto ‘EBie’ Eko Waluyo …………………………………………………………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………………………………………………………… mengundurkan diri pada Oktober 2003
Pagi-Siang-Malam terus berganti menjadi sebuah lingkaran. terbiasa, bersama, bergumul, bernyanyi, bercengkrama, hingga sebuah hikmah datang menghampiri.
Korek adalah sebuah perlambang, jika dinyalakan akan mengeluarkan cahaya yang menerangi alam ini, akan tetapi bila disalahgunakan, maka semuapun menjadi malapetaka (apapun itu…..).
Dari perlambang itulah muncul kata-kata, meng-korek-si, mencari, menggali sampai pada kedalaman nurani.
…..Berjalan mengelilingi pegunungan, lautan dan padang pasir….. mencari terus-menerus….(petikan naskah Bulan Bujur Sangkar) dengan harapan. Workshop, pertunjukan, diskusi, pustaka dan alam adalah bekal menuju Rumah Tinggal “Teater Korek”.
