SAJAK-SAJAK

 

TRAGEDI JIWA

Ohh….tak kunjung sepi hendak hati menepi

Di saat Kenyataan kadang tak jua berpaut pandang

Kedigjayaan semesta adalah keburaman kita memahami gejala

Keagungan kuasa adalah perlantunan kita mendiamkan nista

 

Oiiyy….kepergianmu kawan,

Masih tetap ku yakini bukan lantaran tanpa pengendapan

Bukan karena hak Azasi yang kau Dendangkan di saat malam Perjamuan

Bukan karena pupusnya kehendak tuk melawan

Karena, kepergianmu adalah hening mata air di tengah riuhnya Pesta

tanpa pemberontakan

 

Satu-satunya yang kau punya tlah kau buat rela

Segala harapan tentangmu kau labuhkan kepada senja

Kau hantamkan pada karang yang tak jua menjawab segala tanyamu

Kau karbala kan diri saat mawar merona menjemput layu

 

AKU, Merebah saat kau jinakkan segala Khutbah

Aku, tak mampu lagi tegakkan kepala,

 

Amboiiy….adakah tangis yang merupai kau punya derita

Adakah api yang mampu memendam kau punya Bara

Dan adakah sunyi yang menggantikan symphonimu di kala waktu menjelang tiba

 

Aku, tak kuasa mengenggam harap di tengah Rimba yang tak berbingkai  belantara.

 

Masih dalam perjalanan kemarin
Saat layar tak kunjung berkibar
masih dalam keyakinan kemarin
Meski arah angin entah membawamu kemana berlayar
Masih dalam kehendak yang Kemarin
Tentang kini, esok dan Nanti mungkinpun tak jua terhampar

Karena, Kau…AKU
adalah anak jaman yang dibesarkan dari episode barbar
yang kuasa menjadi Tuhan

Dan Tuhan tak berdaya di ketiak Istana; dalam reportoar

Dan mabuknya sebuah kegelisahan

Kemana Tuhanmu saat anak negeri membakar diri

Kemana Ibumu saat kau jual satu-satunya martabat yang kau miliki
Di mana daulatmu atas tragedi ini
Atas liur mulutmu yang jatuh tepat di ulu hati
Melelehkan hati
mengoyak nurani, melantunkan damai  pada mata pisau belati

dan dasi berwarna biru tua tetap melambai
tersudut, pada rasa-rasa dan mimpi
pada lemari besi dan dinding-sepi

Aku,

Memanggilmu, Hey…


Tan eL hak/KOREK, 12-12-11

 

TAn El Hak

JAGAKU; PRAJURIT MALAM

 

Malam ini kmbali kita masuki bab terdahulu dari mitos kesetiaan

 

Betapapn hujan menyapu, langit sempat hitamkan cakrawala

Namun kau tetap bersinar hingga nanti saatnya gerimis mereda

Kau kan tetap menjaga malam meski mungkin kadang tersamar

kau tetap bergulat dalam kesejatian

menunaikan cinta dan sayang

 

Jalan ini tetap kita tapaki Kawan

membelah malam, kabarkan Pemberontakan………

Bersama kuatnya Harapan

dan Heningnya Cahya “Rembulan”

17 mei 11/Tan eL Hak

 

hARI ini

smesta kembali mengajar tanpa perlu kata-kata

bahwa cinta begitu mahal harganya

Bahwa hidup bersama harus terus kita jaga

Bahwa Luka sekecil apapun akan meninggalkan tanda

bahwa ada yang di sebut rasa dalam tiap diri kita; Manusia

 

Kawan,

Smoga Esok tak ada lagi cela tuk kita saling menorehkan lara

hari-hari ke depan tentu akan semakin berat kita punya derita

akan semakin terjal liku, onak dan perdunya

 

Cukup Kawan !!!

kita hidup tuk menjaga sesama

agar lapang jalan menuju sentosa,

7/04-11/tAn eL Hak

 

P L A S !

Mungkin esok kita akan cukup lama tak saling sapa

Perjalanan ini kadang harus memilih diantara persimpangan

Lusa mungkin kita masih belum bisa bertukar kabar

karena Jalan yang terbentang kadang membebaskan kita tuk menentukan arahnya

Tapi,

Bukan berarti hari ini kita sama-sama ucapkan kalimat indah tentang perpisahan

Melodi puitik tentang saling melepaskan

karena kita sama-sama anak malam

yang menemukan keteduhan dalam gelap

menemukan hening di saat riuh

Karena kita sama-sama anak jaman

yang tak hendak lari dari kerasnya pergulatan.

 

Kita saling percaya!!!

5 april -11/tan el hak

Tentang Kabar

Adakah yang bisa memberiku kabar

Sebuah keingintahuanku tentang kisah yang sama-sama ingin kita wujudkan

tentang Janji yang tinggal menunggu bukti

tentang MALAM ini yang sama-sama kita yakini tuk kita lewati

Adakah merpati sang penyampai pesan

yang dengan sedia hati memberi pertanda tentang esok hari

tentang transisi yang pasti harus kita jalani

tentang Mimpi yang mungkin entah kmana atau pergi

HALLOuuwwWW……!!!

Spaaddaaaa……………..!!!

Maap ku masih terbaring di sini

Kamis,31/03/11

Apalagi yang mesti diungkapkn dengan kata-kata
sedang indah begitu nyata dipelupuk mata
pahit getirnya sudah tak mampu lagi dikecap dengan  indra Perasa

Adakah lagi yagn hendak disampaikn dengan  untaian nada
Sedang grimis tlah basahkan senja dalam derap dan derita samsara
sedang mata belati senantiasa mengintai
mengabarkn kdahsyatan dari setiap tulus Derma

Ya
Kau,aku
kini
sudah sama menua

Pemaknaan hidup yang hakiki
kadang perlu didapat dari penderitaan yang brtubi

Rabu pukul 22:12 30/03/11/tan el hak

“………….????”

MERDEKALAH jiwa2 yang terpasung. AKULAH Kedzoliman itu

Betapa Mata terus memandang …namun HATI terus terpejam Kain2 Kafan terhampar di mana-mana Maklumat Pengadilan RAKJAT tak mungkin terGUGAT Kehendakmu, Kehendakku. Menjadi Kedigdjayaan KeAKUan Yang PILU.

Hay Brother…. Kontradiksi Mesti Terjadi dan Akulah Kedzoliman yang kan terus Menghadapi. Meski, sepi.

JIKA

Semburat Jingga Merona di Langit Baratku

Menuju Pulang memeluk peraduannya. …Jingga Ya, Sebentar Lagi malam

Angin bercumbu dengan gerimis Menebarkan Aroma Akar rumput dan keringat… Padi Kembali Tumbuh Cangkul kembali diayunkan

Aku, Kini Kembali disinni dalam rinai Airmata Ladang dan Sawah dalam peluk Senja yang basah.

Genjer-Genjer tetap Menari; RESAH.

Minggu 12/09/2010 pukul 0:04

“PAK SOED”

JEJAK kakinya masih hangat terasa mereka belum lama dari tempat ini, Langkah2 keyakinan yang tegap Dua ribu lebih pasang tapak2.

…Lereng Gunung Slamet Semangatmu masih Kobarkan BARA

141 Organisasi Politik;Laskar Rakyat;Partai Politik Perjuangan Tak Kenal KOMPROMI..!!!

Degup Jantungnya Masih di sini darahnya masih mengalir pada setiap kami.

AKU, anak Lereng Gunung Slamet itu!

Sabtu,11/09/2010 pukul 3:46

Ya, Aku bersimpuh Jabat erat tanganmu Luapkan sgala sesal . . .

…Ya Mungkin tak perlu lagi di maknai biar pagi yg kan temukan beningnya Embun tak sedikit, Kebenaran yg lahir dari Kesalahan dari Hujatan dan caci maki…

OuuGGhh!! Aku Lupa mengembalikan Kuncinya Jendela itu mungkin kini terbuka karena hujan Deras tak Kunjung Reda Tiupkan angin menghempaskan Sisa-sisa kini kita menjadi JAUH.

08 September jam 14:52

GEURILLA

Jejak-Jejak Langkah Tapak-tapak Sepatu beralas airmata bagai air bah menyerbu. kembali ke Desa

…Lihatlah senyumnya tetap meski Kerja tak mengenal adab

karena “Kamilah budak paling Perkasa di jagad Raya…”

bergegaslah…. Perayaan hari besar Agamamu Menyeretmu dalam dilema terus bekerja dalam hina Atau Tundukkan Kepala krn kampung halaman hanya Tuk mereka yg bisa Tunjukkan harta & permata. 06 September jam 2:40

KEPADA KAWAN

KawaN, Kebersamaan Kita Malam ini Gelak Tawa dan Ceria Kita…

adalah sebuah Permohonan Maafku …Atas Semua yg Mungkin Tlah Melukiskan LUka Atas Kata Yang Mungkin Pernah terbata.

kEBERSAMAAN kITA mALAM INI adalah sunyi di saat ramai menjajah bumi

Kawan,Kata Maafku Mungkin Tak Lagi Terperi aku Tak bisa Lagi Bersembunyi

tuk maafmu LEKAS SEMBUH… BidadariKU, bergegaslah warnai pagi

05 September jam 5:14

PTAH! PTAH!

SeJuta Wajah Resah… dalam selimut debu dan Kabut. Samar, Meski Tujuan Tetap TerBENTANG.

Mata itu Membakar Amarah..!! … selaksa Peristiwa kian Menjelma. “Aku Tak Lagi kau KUASAI…………..!!!”

AKU, Pemilik syah atas Kemanusiaan diri ini. 03 September jam 3:19

TAN

HARI INI aku tak mampu LAGI berkata-kata Teriakkanku Tak Lagi Beringas

KAU Tlah menjadi milik alam raya …menjadi kenyataan semesta Tak hanya menjadi MIlikku TAK HANYA UNTUKKU

Berabad2 hadirmu ku tutup rapat tak ingin Kau Mereka ketahui Kadang harus bersembunyi dalam sepi trs menari dlm mimpi

Tp kini, smua tlah menjadi Kehidupanmu menjadi kemutlakanmu

Biarlh kau terbang Tinggi m’jd Keyakinan BERSAMA tuk esok nanti.

01 September jam 6:02

Hak 2

dengan tanpa maksud Bukan Berarti ku merasa lebih bijak

Kicau kenari di ujung Mentari diterpa desiran angin di sabana kecil…. … OuwwWW…Penggembala Senja. Betapa Belaian Serunaimu terus jagakan Tdurku. …………… Kemana Hendak Bertanya Dangau Kecil Kehilangan Penghuni Rindang ilalang temaramkan daun pintunya

Malam yang basah. Gerimis. Esok masih tetap KATA-KATA!!

29 Agustus jam 6:26

“TAN  II”

Rinduku Pada Kalbu Yang teduh

Pada Rinai Air Mata Saat Hadir Sebentuk Ragu

Rinduku pada Kedalaman Hati … Meski Jaman Mendesak SEsak TAk sedikitpun kau berlalu pergi…

Rinduku pada Kehendak MIssion Sacre-mu Pada Pilihan Tuk terus merunduk Pada Kenyataan Akhirnya kau Di tenggelamkan DAN tak ada pilu

Rinduku pada kemilau CINTA Yang kau miliki dan Terus Kau Bela

hanya tuk INDONESIA…!!

27 Agustus jam 17:51

“ALI”

Orang GilA dILAMPU PENYEBRANGAN selamat Malam…

Derap-derap spatu berdesis merindu Pilu …Risau dan JELATA Sewajarnya.

Mereka namakan aku Petani Bisu Diam, Terus digilas Peradaban

Tapi Cluritku masih Tajam Ani_ku siap tuk menuai PaNen

Langkahku masih terus merampas Malam Di Lampu Penyeberangan Tunggu aku, tak sampai Swindu!

22 Agustus jam 21:20

“KARENA MEREKA”

MESTI KEMBALI TURUN KE tengah2 Massa, Bersama dalam derap dan suaranya.. Menciumi Bau Sederhana dari jiwa2 yang senantiasa rela

Saatnya Terus Menjaga Sebuah Rasa …Karena HIDUP yang Layak harus Terus Kita BELA. Kebudayaan adalah keluhuran Budi Manusia.

Kawan…… Teriaklah nyaring dalam Rindu Ku Kan datang Melangkah kembali bersamamu.

Semaikan kembali benih2 PERLAWANAN..!!

20 Agustus jam 21:50

Warna-Warna Terima kasih malam kau beri aku keteduhan yg utuh dengan rinai gerimis yang jatuh di rimbunnya danau dan temaram… … Terimakasih kawan kau kuatkan aku saat ku merapuh menyesali perjalanan waktu Terima kasih KAU kau beri arti hidup ini meski kadang tak terkendali

harus ku catat hari ini 19 Agustus . . . !! Ya Sembilan belas Agustus !!!

19 Agustus jam 22:34

JEND. SOED

Ratusan Laskar-Laskar Menuruni Lereng Gunung Slamet

Hari itu tepat 19 Februari 1946 Ledakkan Amarah Bertanah Resah …Hidup hari esok mesti segera di jawab !!!

Wajah2 Tenang terus mmastikan jejak2 langkahnya

Rintihan Anak2 Rintihan istri-2

“ku ingin mereka tersenyum”

dan tak mungkin tidak angkat senjata…….!!!!

R E V O L U S I…..harus dituntaskan!

18 Agustus jam 4:57

Hak MERDEKA

Selamat Datang Gembala Abadi Hari ini adalah milikmu. Mutlak milikmu… Rindumu pada kebisuan angkara Tlah kau reguk. Teguk dan kau kecup…. …Landas.

Serunai kedigdayaan Teduh lirih perihnya sangkakala Merambat melunglaikan Sendi dan fatamorgana.

Uggh..!! 17 agustus di kala pagi

DIRGAHAYU GEMBALA ABADI Jiwamu tetap Gembala. MERDEKA..!!

16 Agustus jam 21:17

JIKA

JIKA TLAH DATANG WAKTUNYA

Takkan Lagi kau mampu tuk menghentikannya betapa derap Langkah-langkah yang lama memendam Bara maju berGegap Tuk Robohkan Kau Punya KUASA … KEHENDAK Takdir adalah Pergulatan Manusia Jagad Raya, ALam Semesta…!!

Jadi Jangan lagi kau Lambungkan Mimpi sedang Esok Tak MUNGKIN Lagi kau Miliki

RAKYAT PASTI SING KUOSO….!!! Agawe Dumadi.

16 Agustus jam 2:35

PENUNGGU Terjaga ku Pagi INi, Tak sedikitpun karena Mistika yang masih di Yakini sebagian Tetanggaku Bahkan Di KOTAku…

…Muncratnya KESADARAN ini Sejatinya Karena Kita MEMANG PARA PENUNGGU MAUT Yang Tak Hendak Berdiam Diri MENUNGGU saatnya tiba Nanti

HARI ESOK Kan sllu di tentukan hari ini Pagi Esok akan kita Tegaskan Malam ini Karena KITA SUNGGUHNYA PARA BIADAB di kala MALAM… HEehheee,

15 Agustus jam 4:08

“TEDUHLAH”

JIka Ternyata Tak ada Syurga dan NERAKA Masihkah Kita kan tetap Berlapar2 PUASA

Jika Bukan Karena ingin tercatat sebagai Amal Ibadah masihkan kita menundukkan kepala berdzikir mengagunGkan SEMBAH?? … JIKA BUKAN KARENA DIA… mampukah kita menjaga keteduhan alam semesta??

LALU, untuk apa kita berbuat semua?? Toh DIA tidak mengaharapkannya….

Semoga bukan Lantaran SORGA atau NERAKA.

12 Agustus jam 16:56

h e n i ng Akh..RAmadhan Kembali dirimu Hadir di Saat Maknamu buram dan semakin redup dari NYATA

…Akh…Berpuasa kembali tiba di kala si Kaya Tlah Lupa akan JELATA. di saat penguasa terus Tanjapkan Taring KEKUASAANNYA

Marhaban yaa Ramadhan mampukah kau Pijarkan kembali KEHENDAK hidup Bersama.

AYO…!!!

Salam.. Salam Tuk Semua salamku terdalam,

Pagi ini Mentari Kembali Tak Ingkar Janji …dia tetap berseri meski malam mngunyah Mimpi..

Terima Kasih KAWAN Kau terus berikan aku ARTI Hidup. Thx

08 Agustus jam 5:48

NGIMPI

TOLoooNNg….!! Beri aku Mati Hari INI……!

sudahlah, memperpanjang Usia hanya menambah Kebengisan KaLBU …Mengulur Waktu tuk Usai Hanya menambah Derita Semesta

KARENA Kita terus berdiam dan mendiamkan Kesewang-wenangan ini

WooIiiyy………………………… TOLONGLAH….!!

Biarkan MATI segala Kehendak pribadi,

07 Agustus jam 21:53

“INGAT INI MILIK KITA”

Melewati kegelapan Malam Panjang tak kunjung bertepi Jalanan membasah Lampu-lampu kota bergulat redup dengan Rinai Hujan Jingga. … Kenapa kita tetap Melakukannya saat kata-kata tak lagi menyampaikan apa. Remang-remang temaram Cahaya di selimuti Kabut Reda sekejap kembali melebat

Kenapa kita masih melakukannya sedang pedih, perih, tak lagi terasa menggores Jiwa

Kenapa kita….?? Kenapa Apa..??!

Karena KEYAKINAN KITA

04 Agustus jam 22:22

AYO!!

Majulah berderap Laskar-laskar Kebudayaan.

Serunai alam begitu syahdu Memanggil Dentingnya tak mungkin lagi tersembunyi

…suarakanlah.. sampaikan dengan bahasa Angin dengan rintihan Laksana MERpati dengan kalimah Jamus Agawe Dumadi

AYO..Prajurit keteduhan alam!! Dengan sampan angin dan Dayung Nafas kita sibak malam demi Malam…

02 Agustus jam 21:24 ·

dan M A LA M

di saat sgla meriahnya kota mencumbui Khilaf

…Lampu-lampu …belantara Jalan Raya simpang siur Batas-Batas Kepribadian … Bising Kereta menggilas Resah..!!!

dan kembali AKU padamu

saat rintik gerimis lambungkan bau tanah yang basah di saat kemerdekaan tak seperti yang KAU duga

Tak ada yang abadi, Kawan ……………………………………………….. kelak, satu persatu diantara kita tentu akan kembali

02 Agustus jam 14:11

mereka SEBUT AKU

hanya karena aKU LELAKI dan KAU wanita Lantas kita harus bersama??

Hanya Karena Aku tak Mungkin menjadi dirimu, …begitupun dirimu, Lalu, Kita harus saling menghiba…

Kedaulatan Lahir karena persenyawaan Jiwa ini adalah pertentangan Kasta, darah dan…….CCuuuiiihhHH!! Airmata. Kontradiksi kenyataan dari kelas kita

Lihatlah BATAS SUDAH SANGAT NYATA….!! aku tak mungkin kau rengkuh.

Aku tetap milik semesta.

01 Agustus jam 7:12 ·

DRAMA PENARI

Ayoo… PukuL terus Gendangmu!! Biar kita kan trs Mnari Lepas Kendali Meski Mimpi2 trs mnghakimi

…Ayo ! Lekaslh Gendangmu kau Tabuh Biar Mengaduh Biar Mengeluh Biar Sudah segala Gundah Biar Rebah segala Resah

KITA hanya Lakon2 yang memainkan peran dari sutradara Kehidupan

Biarpun Ludah sumpah serapah

trus Muncrat dari Mulut2 Kotormu itu Takkan Lagi ku hentikan LANGKAH.

KAU yang kan kelak MENGADUH…. RINDU,

30 Juli jam 18:27

KEKASIH

Labuhkan…… Biar itu sebuah Keluh, entah Itu Menjadi Peluh.

Hamparkanlah smua di atas Meja …mari Kita bedah bersama mari kita Uraikan dengan seksama Dengan Hati tetap Berseri, tentunya Hhii,hiii

Bukankah Kontradiksi adalah sebuah kenyataan semesta Dan Dialektika tetap sebuah Keharusan realita.

KAU….!! TAK LAYAK MENJADI seorang pemimpin Apalagi sebuah SURI TAULADAN jika terus mendewa-dewakan Logika KEMAPANAN!!!

29 Juli jam 21:57

SI MERAH Seperti malam-malam yang kemarin ku bergegas memacu laju sang Angin menjelajahi temaram Lampu2 Kota dan Bengisnya kenyataan manusia

……UUggHH!! Belantara Jalan Raya.

Sperti saat2 Gelap Kemarin Ku ikhlaskan semesta tuk tetap SETIA Tebarkan Salam,Semaikan cinta Mengguratkan mimpi dan lukiskan Pelangi

Kaulah ROEMAH tempatku tuk kembali Terserah…..!! jikapun kalian Tak menghendaki dan AKU tetap TAK akan PERDULI!!!

26 Juli jam 20:06

HOYYAA……………!!!

AYO..! LambungKanlah Mimpimu Hamburkanlah Kehendakmu Karena Keinginan adalah satu2nya Milik kita yg Tak Mungkin terRenggut Oleh PENGUASA. … Ayo..! Pilih Kuda Yang Paling LIAR Paculah hingga Menembus Batas-Batas Kemestian Biarlah ia Terus berlari menembus Ladang2 HARAPAN.

Meski pada akhirnya kan Kembali ke BUmi Terjatuh, Merangkak SENDIRI

Yakinlah Prjalanan, Tetap memberi sebentuk ARTI

22 Juli jam 17:47

TEDUHKU MENGHARU BIRU Senja Yang Basah Rinai Gerimis nan Lembut, Halus Menyisir Derap Langkah Penjemput maut Hari ini …Ada Lagi yang Tlah Mati Ada pengorbanan yang semestinya Terelakkan Ada KeikhLasan, meski dipaksakan. Maaf, Harus Ku Tunaikan, Harus kau RELAKAN Senja ini Masih Basah Saat langkah-langkah beranjak menjauh. Saat Petualang Berjalan menembus impian Selamat Tinggal Keindahan Ku memilih jalan SUNYI dan kesendirian

21 Juli 2010 jam 16:52

RINDUKU 1 Rinduku adalah samudera yang tak hendak surut karna airmata adalah Camar yang tak hendak berhenti berteriak …meski paNdang kadang tersamar

RINDUKU adalah Lagu pengiris waktu adalah symphoni mengharap harmoni adalah senandung ibu yang setia menunggu, aku

RINDUKU adalah MENTARI yang takkan menepi adalah Darah Juang Jelata mENGGENGGAM Kata MERDEKA

Relakan aku bunda,

14 Juli 2010 jam 1:40


RINDUKU

HARUS ku katakan, Jujur Ku Sampaikan

KepaDa Jingga SenjA Sebelum Usai …Kepada Hidup Yang Melangut Masai

DErap sepatu-Sepatu BerLaras BerinGas Keras Menggilas

KenyATAAN adalah Kidung PengHantar Mimpi Demi APa, KeseNian Jika Lepas Dari LingKungan

Dan KINI Serunai Gembala Telah Memanggilku Tuk KEMBALI TAK USAH KAu Cari…

10 Juli 2010 jam 2:23

Hak

Begitu banyak Pengertian Yang sesungguhnya DIRIMU ketahui tentang Semua ini

Begitu banyak …Faham yang kau miliki

Knapa tetap Membatu ??!

smestinya setapak demi setapak Jalan Panjang ini kita Lalui Meski tertatih, takkan jadi meragu

semestinya setiap Hela Nafas adalah PELURU pilu menghujam paru-paru

Kenapa CAMBUK Sedang aku tak hendak lari dari kenyataan

kenapa aku ?? sedang DIRIMU tlah Usang dan menjadi lalu!

06 Juli 2010 jam 22:57

RASIO KEIMANAN

Jika Kebudayaan adalah kita Manusia Agama Adlah Keteraturan Hidup Bersama Maka Jangan Sekali-kali Mengatas namakan Tuhanmu Jangan sekali-kali Melemahkan Boedhi Dayamu

karena tak ada Satupun Tuhan yang Mengajarkan PENINDASAN Tak ada satupun Ajaran yang Menghendaki Ketertindasan

Jadi, Nabimu adl Revolusioner SEJATI Lahir tuk Martabat dan KEADILAN Hakiki.

Keyakinan,biar jdi milik Pribadi!

TAK LAGI AKU

Dan Tak akan ku merasa Benar2 Takut Kehilngan Karena aku tak pernah benar2 Merasa MemilikiNYA Perjalanan ini sebuH DIALEKTIKA Tak Usah Takut Menjauh Krena KITA memilih cara yg berbeda dlm Mencinta

aku tetap teguh menjadi Hamba dan KAU tetap angkuh sebagai segala MAHA

JADI… Kita Apa..??

karena, aku dan KAU bukan siapa2 dan tetap tak akan menjadi apa2 Jika Peradaban telah menjadi Domba-Domba fatamorgana.

adakah aku?? adakah KAU

Oktober 2010

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di PUISI-SAJAK. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s