TEaTeR dalaM LinGkungAN KamPus

TEATER DALAM LINGKUNGAN KAMPUS
SEBAGAI STUDY AGITASI PROPAGANDA GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

Sebuah reportir bebas oleh : TAN eL Hak

 

Sebuah pengantar

Mengutip tulisan Afrizal Malna pada harian Kompas, Minggu, 06 Mei 2007 dalam menanggapi kebertumbuhan Teater-teater di lingkungan kampus bahwa “ Teater kampus tumbuh subur dan ikut merayakan narasi yang bukan dari dunianya sendiri. Tetapi ketika Teater kembali membaca aktor dan tubuh seperti apa yang sedang dilami dunia di sekitarnya, mungkin teater_kampus_akan bangun terkejut ketika menyaksikan bahwa jam di tangannya telah berpindah mencekik lehernya sendiri”.

Penulis menangkap apa yang disampaikan Afrizal adalah dimaksudkan bahwa problematika Teater Kampus adalah sebagai berikut ; pemahaman essensi teater yang masih dangkal (tidak menyikapi teater sebagai displin ilmu pengetahuan dan ilmiah)- – sehingga berjalan dengan tanpa arah dan jelas, mentalitas aktivisme dengan tradisi teater yang rutin dengan sistem pergaulan sikap hirarkis_senior yunior, hirarkis ini menghalangi terciptanya dialektika kelompok yang dinamis, formasi keanggotaan= – berganti bergulir, pijakan teori, hasil apresiasi dan diskusi internal kelompok atau hasil serapan dari yang menjadi pendampingnya, tarik ulur kebutuhan ekspresi dan tuntutan formal akademis, lebih bertumpu pada kharisma pionernya, kelemahan jaringan dan komunikasi media, ditambah tentang pisau analisa_kesadaran Ideologi_, motivasi, regenerasi, etos kerja dan hegemoni kampus yang membunuh kreatifitas mahasiswa.

Penulis tidak bermaksud menyampaikan bahwa realitas Pertumbuhan Teater di lingkungan kampus sepenuhnya juga terjadi pada realitas Gerakan Mahasiswa Indonesia, namun setidaknya kedua hal tersebut tumbuh dan berkembang dalam lingkungan civitas akademika dan sebagai sutradara sekaligus aktornya adalah manusia yang disebut sebagai Mahasiswa. Saya bisa pastikan bahwa dinamika Lingkungan kampus menjadi faktor utama dialektika gerak Individu serta kelompok dalam aktifitas kemahasiswaan baik Teater maupun Gerakan di samping tentu faktor-faktor eksternal lain yang turut serta mempengaruhinya.

Baiklah penulis mencoba menyempitkan bahasan ini pada materi awal tentang hubungan teater dan agitasi propaganda dalam gerakan mahasiswa. Dalam system Teater sebagai seni pertunjukkan panggung, tetaer apapun hanya mengandalkan tubuh dan sukma manusia sebagai medianya—dengan 4 unsur yang mendukungnya, yaitu ide dasar, pemain, tempat pertunjukkan dan penonton.

 

Ide dasar

Sebuah upaya menyerap dan menggali unsur tradisi adalah lahan yang luas dan tak akan kehabisan daya tariknya. Di samping mengaitkan akar dan konstalatif, sekiranya dapat mengukuhkan penghayatan pengalaman dalam menangkap problem yang tumbuh dekat dengan masyarakatnya. Penggalian ini dikawal oleh sebuah kerja-kerja riset dan tradisi mencatat. Dari mengolah rasa, mengendapkan pengalaman kemudian menjadikan kristal, mengolah imajinasi, menghidupkan panca indra, memadukan imajinasi hingga membidik gagasan.


Pemain

Pelatihan tubuh actor difokuskan dengan menghubungkan dan mengkonstruksi tubuh menjadi kognisi—pikiran. Tubuh yang hidup adalah tubuh yang berpikir dan bekerja. Demikian teater menkonstruksi pikiran dari tubuh.


Tempat Pertunjukan

Dekonstruksi panggung berupa kotak persegi (Box stage) menyatu dengan tempat penonton. Dekonstruksi bentuk panggung ini merupakan pendekatan teater Studio. Bentuk pemanggungan seperti ini, mengatur panggung dengan permukaan datar tanpa dinding imajinasi. Ini adalah dekonstruksi panggung, yang merupakan suatu teater pencerahan, yang terlepas dari yang lain-lain, sebuah gagasan box-stage. De-struktur panggung juga tanpa dekorasi yang dihakimi hukum arsitektur. Panggung adalah tiga dimensi sederhana.

Dalam konteks saya berteater di Bekasi yang tak memiliki ruang pertunjukan dalam arti yang bersifat fisik dan material, juga memahami konsep ruang yang mewadahi imajinasi dan atmosfernya yang dikonstruksikan di dalamnya—persepsi ruang menjadi kian tak terbatas. Pentas bisa di ruang mana saja, dengan ketakterbatasan ruang ini, teater kita bedol dari gedung, membiarkan teater untuk menginterupsi ruang-ruang yang lainnya.

Menurut Saini KM, supaya tak sepi penonton maka teater perlu menggali nilai ritualnya. Teater diposisikan sebagai ritus, sebagai upacara milik masyarakat. Ritus bukan hal yang praktis tetapi lebih simbolik. Bersilaturahmi untuk mengukuhkann dan menghayati nilai-nilai bersama. Kata Almarhum arifin C. Noer, adalah Forum pertemuan antar manusia.


Penonton

Teater untuk bernalar kritis melalui tubuh aktornya, mengasingkan penonton dari cara berpikir yang ilutif dan dihegemoni informasi umum. Penonton tak dilibatkan dalam perjalanan kehidupan tokoh-tokoh. Ia diberi tempat untuk menafsirkan dengan mempertentangkan permainan dan kenyataan. Ia digiring masuk dalam wilayah penyelesaian kemanusiaan dengan kritis.


Mencari Korelasi

Pada dasarnya Teater adalah keutuhan action tubuh dan sukma sang actor berdasarkan kegelisahan terhadap realitas untuk memberikan kemungkinan-kemungkinan penyelesaian manusia melalui ruang ritus spiritual yang tidak memisahkan Ide dasar, pemain, tempat pertunjukan dan penonton, sedangkan Agitasi dan propaganda dalam Gerakan mahasiswa adalah prosesi pemagaran dan pemenangan pemikiran sasaran/target audiens dengan maksud meyakinkan dan pada titik tujuannya adalahdiharapkan secara bersama-sama melakukan Aksi/Act/Action/Gerak sesuai dengan keyakinan dan kesadaran yang dimiliki. Kedua-duanya tidak bisa dilepaskan dari studi Ilmu Komunikasi, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan Ilmu Komunikasi dalam Kurikulum pendidikan Nasional kita. Karena agiprop dan teater tidak hanya berhubungan_baik verbal/non verbal maupun gesture_dengan sesama manusia sebagai actor maupun penonton, tapi ada kesustraan tubuh,benda-benda dan ruang.

Teater membutuhkan ke 4 (empat) unsur yang telah penulis sampaikan sebelumnya dan Agitasi Propaganda sesungguhnya juga meliputi hal-hal yang menjadi unsur-unsur teater, meskipun dengan bahasa istilah Ilmu komunikasi yang umum adalah sebagai berikut ; Komunikator, Pesan dan Komunikan. Yang diterjemahkan dalam : Realitas Objektif, Ide dasar/Pesan, Pelaku/Komunikator/

Realitas Objektif adalah tesis yang selalu menjadi pondasi gerak laku dan pikir manusia, kenyataan lingkungan yang membentuk cara berfikir manusianya. Maka, jika Agiprop diharapkan sepenuhnya mampu memenangkan pikiran Komunikan (target audiens) pemahaman terhadap realitas objektif menjadi prasarat utama sebelum kita menuangkannya dalam materi AgiProp. Jika kita mampu _dengan Ilmiah dan berlandaskan data_ menerjemahkan Realitas Objektif, maka setidaknya kita telah memiliki dasar yang tepat dalam memulai menentukan materi AgiProp. Dan kekeliruan cara pandang/Pisau analisa/filsafat bahkan ideologi kita dalam memahami Realitas Objektif masyarakat maka sangat memungkinkan kita terjerumus dalam kekeliruan langkah, gerak dan materi dalam merumuskan AgiProp. Selanjutnya Unsur-unsur yang lain serupa dengan unsur dalam teater, hanya perbedaan istilah/tatabahasa/kosakata saja tapi pada prinsipnya sesuai dengan maksud untuk menyampaikan pesan untuk kemudian Audiens/penonton meyakini, melakukan tindakan dan bersama-sama menyelesaikan permasalahan kemanusiaan dengan kritis.

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di asik BELAJAR TEATER. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s