TOPENG KAWAT RAINA-2009

Teater Korek Unisma, Menembus Batas

Kamis, 22 Januari 2009 Leave a Comment

SEBUAH Pertunjukan bukan sekedar mengandung unsur hiburan. Tapi didalamnya memuat juga pesan dan perlawanan terhadap carut marut kehidupan. Semangat itulah yang menjadi inspirasi kelompok Teater Korek Unisma Bekasi untuk tetap eksis dan berkarya.  

Mengusung lakon Topeng Kawat Raina garapan Dedies Putra Siregar, Teater Korek berhasil masuk babak final 20 besar ajang Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festa Masio) yang akan digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) 27 Februari – 7 Maret mendatang. Prestasi yang cukup membanggakan bagi dunia kesenian dan kebudayaan di Bekasi.

Topeng Kawat Raina, mengangkat tema keseharian rumah tangga yang hidup di Kota Besar. Dimana hubungan antara suami, istri dan anak seringkali tidak harmonis. Watak manusia yang keras dan kerap menyembunyikan sifat aslinya dilambangkan dalam topeng kawat. Sedangkan Raina, berasal dari bahasa arab yang artinya lihatlah kami. Teater Korek mengajak penonton untuk menelisik lebih jauh tentang hakekat penciptaan manusia, mendudukan peran manusia sesuai dengan kodrat dasarnya, laki-laki dan perempuan.
Anak adalah lambang masa depan dan orang tua adalah bagian dari masa silam. Tapi, ada kalanya, masa silam justru ingin mengambil peran dari masa depan. Anak, dipangkas krativitasnya, dipacu untuk dewasa sebelum waktunya. Dan saat anak tumbuh dan berkembang di luar harapan, maka ibu dianggap yang paling bertanggungjawab. Pada titik ini, perempuan kerap disalahkan atas kegagalan dalam mendidik anak. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter anak. Perempuan dimatikan potensinya, dibatasi hanya sekedar urusan dapur, sumur dan kasur. Anggapan inilah yang ingin dilawan oleh Teater Korek dalam Topeng Kawat Raina.
Menurut Ketua Teater Korek Mahrus Zain, naskah Topeng Kawat Raina yang dipentaskan di Festa Masio adalah hasil elaborasi selama delapan bulan lebih. Setiap kali latihan, selalu saja ada pengembangan sampai akhirnya dianggap sempurna untuk dipentaskan. Sembilan orang dipasang sebagai pemain, empat orang mengisi musik, dua orang ditugasi untuk penata cahaya. Dan disutradarai langsung oleh penulis naskah, Dedies Putra Siregar. “dalam satu minggu kami latihan tiga kali, dengan persiapan ekstra ini, kami berharap bisa menang” ujar Mahrus mantap.
Harapan untuk keluar sebagai juara pada ajang bergengsi Festa Masio, menurut Mahrus akan menjadi pembuktian pada publik khususnya di Unisma dan Bekasi setelah enam tahun berdiri sejak 9 Juli 2002. Sebenarnya benih Teater ini sudah berkecambah sejak tahun 1999, yang ditandai dengan event Pagelaran Musik Taman yang diadakan di halaman kantin Unisma pada tahun 2000. Sempat terhenti selama satu tahun sampai akhirnya menggelar teatrikal di palataran kampus pada tahun 2001 yang sekaligus juga melakukan pementasan perdana di ISTN Jakarta membawakan naskah Bulan Bujur Sangkar. Bulan Mei 2002, para generasi awal merasa perlu mengadakan regenerasi, diadakanlah Latihan Alam Orientasi Dasar Pemain Teater angkatan pertama dengan jumlah peserta 18 orang. “nama Korek sendiri bermakna selalu mencari atau mengkoreksi diri” terang Mahrus.
Saat ini anggotanya mencapai 50 orang dan sudah kerap melakukan pementasan baik disekitar Jabotabek maupun luar daerah seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Dalam setiap pementasan, Teater Korek selalu berusaha mengadopsi budaya lokal. Seperti memasukkan unsur kesenian khas Bekasi yakni topeng. Begitu juga dengan instrument musiknya. “kita ingin menyajikan sesuatu khas dari Bekasi” tambah Mahrus.
Sayangnya semangat untuk mengembangkan kebudayaan Bekasi melalui teater belum sepenuhnya didukung dengan sarana yang memadai, seperti misalnya belum tersedianya gedung pertunjukan teater yang representatif. Padahal di Kota dan Kabupaten Bekasi ada sekitar 40 kelompok teater dan sanggar kesenian, belum termasuk di Sekolah-Sekolah. Kelompok teater dan sanggar kesenian ini rata-rata hidup dari anggaran swadaya karena minimnya subsidi dari Pemerintah Daerah. “mungkin dengan kemenanggan kami nanti bisa menjadi pertimbangan Pemda untuk lebih serius mengembangkan kesenian dan kebudayaan di Bekasi ” kata Mahrus. (bratha)

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di asik BELAJAR TEATER. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s