NYAI-pramoedya ananta Toer

“Nyai”nya Pramoedya Ananta Toer

Rabu 09-03-11 01:37, oleh M.D. Atmaja

Pramoedya Ananta Toer (PAT), seorang penulis legendaris yang menjalani kehidupan dalam perjalanan panjang dan berat, serta perjuangan yang berat juga. Dia memikul tanggung jawab sebagai agen pembeber realitas sejarah masyarakatnya. Hal ini dapat saja kita tilik, dari pandangan kepenulisan PAT yang berlandaskan pada Realisme Sosialis, yang dalam pandangan Gorki: “bahwa setiap orang harus mengetahui sejarahnya”, sehingga peran untuk mengungkapkan realitas sejarah dipikul sastrawan Realisme Sosialis.

Karya PAT secara keseluruhan berupaya meraup realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya. Ia (karya tersebut) sebagai penggambaran hidup yang utuh, sampai-sampai Yakob Sumarjo mengatakan kalau publik akan kesulitan dalam menentukan, apakah karya PAT sebagai karya fiksi atau karya biografis. Realitas kehidupan yang mendalam, PAT gambarkan melalui karya-karyanya yang mungkin (semoga) saja ada di rak buku kita.
“Bumi Manusia” (2006) sebagai novel pertama dari Tetralogi Buru, memberikan suatu perdebatan tersendiri mengenai ranah kebudayaan. Misalnya saja, konsep mengenai “Nyai” yang muncul dalam dua pandangan berbeda, baik secara realitas maupun kisah fiksinya. Konsep ini membawa pada suatu kontradiksi pemahaman budaya, yang mungkin saja, sengaja diketengahkan penulis.

Dalam “Bumi Manusia” seorang Nyai, atau istilah Nyai mengacu sebagai produk kebudayaan pemerintah Kolonial Belanda (dan Eropa). Nyai sebagai seorang perempuan peliharaan atau sebut saja sebagai perempuan gelap yang memiliki hubungan tidak sah dengan seorang Asing (Belanda). Lihat saja, skema hidup Nyai Ontosoroh yang berperan sebagai perempuan pribumi dan menjadi gundik. Keberadaan Nyai, dalam konsep “Bumi Manusia” hampir sama dengan seorang pelacur yang mendatangkan aspek kesenangan dan pemenuhan kebutuhan akan seks.

Memang berbeda, dengan Nyai Ontosoroh yang justru menjadi penguasa di Boederij Buitenzorg milik pengusaha Belanda bernama Herman Mellema. Peran Nyai di sini memiliki tendensi yang luar biasa, sebab bagaimana seorang perempuan simpanan bisa memimpin perusahaan milik orang Belanda. Nyai Ontosoroh tidak sekedar Nyai yang diperankan. Saya membaca, di sana ada pengembanan tugas yang luar biasa penting demi kelajuan hidup perusahaan besar.

Aspek ke-Nyai-an hampir sama, apabila tidak ada hubungan pernikahan sah, maka status mereka sama dengan para selir raja Jawa. Perbedaannya, selir raja menduduki posisi terhormat dikalangan masyarakat umum, bahkan banyak dari rakyat kecil yang mengidamkan posisi tersebut. Esensi antara Nyai-nya pembesar Belanda dengan selir raja Jawa adalah sama. Lantas, apa yang membedakan diantara keduanya? Nyai di sini dapat saja dipandang sebagai suatu bagian dari sistem perbudakan bangsa Belanda pada masyarakat pribumi, seperti yang diungkapkan Nyai Ontosoroh sendiri, bahwa: “bisa saja seorang budak hidup di istana kaisar, hanya dia tinggal budak (BM, 2006: 340-341)”. Dan hal ini, sama saja dengan posisi selir raja Jawa itu sendiri.

Masyarakat Jawa, memandang fenomena “Nyai” sebagai hal yang salah karena menyimpang dan merupakan pelanggaran terhadap norma masyarakat yang berkaitan dengan prinsip moral. Akantetapi, pandangan negatif ini sepertinya tidak berlaku bagi kehidupan para selir raja Jawa. Lantas, apakah fenomena “Nyai” yang terjadi pada waktu itu karena rasa ketertarikan pembesar Hindia Belanda pada kehidupan para raja Jawa?

PAT juga menceritakan mengenai dilema Herman Mellema ketika ingin anaknya dengan Nyai Ontosoroh mendapatkan pengakuan, atas baptis dari agama Kristen. Agama tersebut menolak, karena baik Robert Mellema dan Annelies Mellema bukan anak dari pernikahan yang sah. Dengan demikian, kita melihat adanya penolakan dari agama tersebut mengenai keberadaan Nyai. Tapi sayangnya, pada masa itu ketika para pembesar Hindia Belanda memeluk agama Kristen, kenapa tidak melarang perbudakan Nyai sehingga Robert Mellema dan Annelies Mellema tidak perlu lahir?

Fenomena “Nyai”nya Pramoedya perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik, sebab di satu pihak pribumi mengatakan kalau fenomena ini sebagai produk perbudakan Hindia Belanda di Jawa, sedang disisi lain, fenomena Nyai juga muncul dalam kehidupan para raja Jawa dengan nama selir.

“Nyai” itu sendiri muncul dikarenakan adanya suatu keadaan yang mendorong seseorang untuk menyerahkan nasib untuk menjadi Nyai atau selir untuk menjalani hubungan tanpa pernikahan. Kondisi ini bisa saja sebagai akibat dari kemiskinan atau situasi politik yang gemar memberikan upeti. Apabila ditinjau dari selirnya para raja Jawa, fenomena “Nyai” dapat dipandang sebagai salah satu bentuk penyelewengan kekuasaan dalam tingkatan sosial, politik dan budaya.

Kemudian, apakah fenomena “Nyai” masih hadir dalam lingkungan masyarakat Indonesia modern? Mari kita jawab bersama-sama. Kalau, dalam suatu konsep “Nyai” sebagai suatu pola hubungan (seks, rumah tangga) yang di dalamnya tidak terdapat pernikahan, maka pada kondisi Indonesia modern sekarang, apakah hubungan-hubungan seperti itu masih terjadi? Sebut saja, kumpul-kebo sebagai hubungan antara lelaki dan perempuan dalam satu rumah, mereka melakukan hubungan keluarga seperti suami istri namun tidak terlebih dahulu melakukan pernikahan secara agama dan hukum.

Kumpul kebo yang membudi-daya ini berasal dari mana? Apakah karena gerak kebudayaan yang diwariskan semenjak dahulu, atau karena ada pengaruh kebudayaan lain yang ikut membentuk karakter bangsa. Kumpul kebo atau bahasa menterengnya living togheter, memiliki kesamaan karakter dengan “Nyai”nya Pramoedya Ananta Toer, atau dengan selir yang berada di samping raja. Entah itu Nyai, selir, kumpul kebo, atau istilah lain masih harus ditelusur dari latar belakang yang mendasari pembentukannya. Selanjutnya, bagaimana dengan free sex anak muda sekarang? Apakah itu masuk ke dalam daftar Nyai dan Selir yang didorong faktor ekonomi, atau kegiatan anak muda sekarang menjadi genre kebudayaan yang mengacu pada kesenangan. Dan kesemua ini, mengacu pada hubungan seks.

Kembali pada konsep “Nyai”, apabila dalam khasanah Hindia Belanda yang dikemukakan Pramoedya, ada khasanah lain mengenai konsep “Nyai” ini. Khasanah yang bisa membuat kita heran, karena di dalamnya terdapat perbedaan konsep. Yaitu, masyarakat Jawa pada umumnya, memandang “Nyai” sebagai seorang perempuan yang terhormat, suci, dan menjadi pendamping atau gelar bagi perempuan bersuami yang meninggal. Hal ini sangatlah berbeda dengan konsep “Nyai” antara pandangan masyarakan Hindia Belanda dengan masyarakat Jawa. Perbedaan makna ini yang dapat membuat kita salah mengerti, sehingga tidak setiap Nyai menjadi gundik dan tidak setiap gundik mewakili “Nyai”. Kemudian, bagaimana dengan free sex, kumpul kebo dan sederet yang lainnya? Saya kira, itu tidak menjadi bahasan yang penting di sini. Atau mungkin saja, para perempuan itu ingin menjadi nyai-nyai dan para lelaki kita itu ingin menjadi tuan-tuan Belanda.

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di pUSTaka naskah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s