PUISI-SAJAK; KLARA AKUSTIKA; Agam Wispi

download (5)

Surabaja
tiap kita djumpa
surabaja
aku selalu remadja
gembira kepada kerdja
pasti kepada harapan
surabaja
laut dan kota
rata
surabaja bau keringat
bau kerdja
ketegarannja harum semerbak
dan malamnja malam bertjinta
deritanja
terisak-isak
dalam dengus napas
darah bergelora
tjemara bersiut
meliut semampai
wilo merunduk
merenung sungai
besok ke laut
dia akan sampai
tapi ini!
malam pelaut
buih hidup
jang menggapai!
surabaja
lebih remadja
dalam bantingan usia
kutjinta surabaja
sebab dia kota kelasi
kurindukan surabaja
sebab trem berlari-lari
(djakarta? Term diganti impala!)
kusukai surabaja
sebab betja dan taman
ditepi kali
kubanggakan surabaja
sebab dia kota berani
kusenangi surabaja
sebab kedjantanan bernjanji
kepahlawanan bergolak
dari kantjah-kantjah jang menggelegak
dan tahun-tahun kenangan
jang diwariskan
mogok pertama
buruh kereta api
zeven provincien
buruh pelabuhan dan pelaut
bersatu hari
disiram hudjan peluru
dan dentjing belenggu
rantai besi, bendera pertama
internasionalisme proletar
dipantjangkan
proklamasi ? sitiga-warna diturunkan
dan dalam pelukan sang saka
dipandjatkan kepuntjak perlawanan
kemudian
diantara serpihan bom
jang mengojak
dan kota jang terbakar
terbakarlah semangat pertempuran
njalanja
tak terpadamkan
hingga kini
nanti
dan kapanpun
njalanja panas menempa
badja kemerdekaan
badja kehidupan
ketika kita tidak lagi bertanja
pilih njala atau pilih badjanja?
dan kita merebut
kedua-duanja!
djauh mengatasi segala
pekik pilu dan djerit sendu
ratapan kehilangan dan erang kesakitan
adalah bagai ibu jang melahirkan baji
jang kemudian memeluk dan menjusui
serta mengusap-usapnja dengan kesajangan kebahagiaan
disitu Hari Pahlawan
dilahirkan
kko pesiar
menunggu trotoar
kelasi-kelasi
melambaikan dasi
jang bernama “kesenangan” memperpandjang umurnja
maka itu djadi terlambat
tapi bus dan truk tidak menunggu
ajo, pulang djalan kaki!
tjinta sudah ketinggalan
ditembok-tembok kota
o, ketika kapal merapat lego djangkar
pelabuhan mengulurkan tangannja
dan lampu kota mengerdipkan matanja
dan bus-bus kadet menderu
megah
dan di tundjungan sikadet melangkah
gagah
putih-putih
dan gadisnja dua
jang satu pedang jang satu wanita
dan si gadis punja mata kedjut pelita
dan si pedang punja mata gelegak darah mudah
si kadet djua permata dari lautan
bukan main!
namun adakah permata berkilau
tanpa sebersit tjahja mentjekau?
dan tiadalah angkatan perang
tak bertulang-punggung
kukuh
merekalah
kelasi dan pradjurit
darat laut udara
polisi
milisia dari rakjat pekerdja
tangan-tangan badja jang keras menghentam
tidak perduli bom nuklir
tapi tangan!
tangan jang menentukan
jang menghajunkan pedang kemenangan
selama di djantungnja
debur-mendebur
gelora repolusi
mengabdi rakjat pekerdja
sokoguru
buruh
tani
matahari tenggelam
di djembatan wonokromo
surabaja berdandan
bagi malam berdesau
tjemara
tjadar kota
jang disingkapkan
surabaja
napas merdeka
jang dipertaruhkan
pahlawan-pahlawan lahir
pada djamannja dan diukur
oleh pengabdiannja
kepada rakjat
dan hari depannja
djaman lampaupun berlalu
djaman baru datang
melahirkan pahlawan baru
namun pahlawan sebenarnja
hanja tumbuh dalam lumpur dan debu
pembesar-pembesar boleh bermatian
orang-orang besar boleh berlahiran
tenaga segar dari kepahlawanan
djuga sekarang
djika muda-mudi berperasaan
merasakan hidup sampai ke tulang-sumsumnja
dan jang tua-tua teguh
membatu karang oleh hempasan gelora
merekalah orangnja
dan kebanjakannja
tak bernama
merekalah petani jang dirampas tanahnja
kembali merebutnja dari setan-setan desa
mereka jang berdjuang membebaskan dirinja
dari belenggu perbudakan tanah
dan buruh-buruh pelabuhan buruh pabrik
jang beruntun-rutun pagi hari
berkilat-kilat oleh keringat
dan hitam oleh matahari
pengangkut pasir jang menunggu
perahu menghajut ke gunung sari
betja jang berkerumun di lubuk djalanraya
kko – kelasi – pradjurit
jang ingat kepada asalnja
pegawai-pegawai jang sadar kepada klasnja
(bukan pemabok “karyawan jang mengingkari “makan-gadji”)
si miskin-kota jang kehilangan desanja
dan mengisi sudut-sudut gelap kota
dengan kerdap-kerdip pelita
petani-petani jang dirampok panennja
dan tepat menghidjaukan bumi, memerahkan tanah
pemuda peladjar mahasiswa jang membakar buku USIS*
dan mengusir setan-setan ilmu dari amerika imperialis
untuk mematahkan belenggu kebodohan
ratjun kemerdekaan jang berbungkus kenikmatan hampa
dan surabaja
berderap dalam tempik-sorak
meski bau tengik dan sarang malaria
sama banjak njamuk dan lalat dimana saja
tunggu! suatu hari pernjataan perang
djuga kepadamu!
disini ketegaran berkata sederhana
keras dan langsung kehulu-hatimu
jang sudah mati, ja sudah!
jang hidup sekarang, menjiapkan repolusi
dimana masing-masing beri djanji
merdeka atau mati!
bagi keringat kaum buruh
bagi tanah-tanah petani
bagi kepertjajaan kepada harapan
MANUSIA
ja, sekarang kita bertanja
sudahkan tanah bagi petani?
sudahkan keringat bagi kaum buruh?
jang sudah – sedikit!
jang belum – banjak!
menteri-menteri tetaplah turun naik
jang belum, kepingin djadi menterei
jang djelek, tak mau turun
jang baik, masih di podium
dan rakjat tetap menuntut: kabinet nasakom!
dan kabir-kabir main sunglap dengan peluru, wang, dan senjum
dengan tuantanah dan imperialis?
seketurunan! satu medja-makan dan sama-sama minum dan pemimpin-pemimpin munafik menghamburkan budi ikut berteriak “ganjang malaysia! Berdiri di atas kaki sendiri!”
kemak-kemik pantjasila, manipol, djarek, sukarnoisme
tapi main mata dengan modal monopoli
gudang ratjun komunisto-phobi
buruh phobi
tani phobi
partai phobi
imperialisme amerika? Tunggu dulu!
dan sardjana-sardjana membalik-balik bukunja
tapi tak mengenal aspirasi tanahairnya sendiri
dan seniman memabokkan diri dengan kepuasan murah
tak tahu kemelaratan dan kebangkitan rakjatnja sendiri
dan politikus mentjatut teori dengan “ala indonesia”
munafik-munafik ini mau melupakan sumbangan dunia
kepada sedjarah dan perdjuangan klas
sungguh, kekerdilan yang memalukan dan hina
adalah mereka jang mau menutup laut dengan telapak tangannja
laut daripada kebenaran perdjuangan klas
o, sudahkah keringat bagi kaum buruh?
sudahkah tanah bagi kaum tani?
jang menggarap!
jang menggarap!
jang menggarap!
betapa berbelit-belit
plintat-plintut
tapi adakah jang lebih tegas dari kebenaran?
sebab dia tak dapat digeser dari relnja repolusi?
abad-abad telah menjumbangkan lokomotip-lokomotip raksasa
jang menderu kentjang menembus belantara kegelapan
dengan perdjuangan klas dan repolusi
dengan marx, engels, dan lenin
dengan mau tje-tung, bung karno, dan aidit
dengan diri sendiri; rakjat tertindas
antara sabang dan sukarna-pura
di seluruh dunia dimana sadja
o, djanganlah hanja membaca hurup-hurup
tapi tak menangkap hakekat dan arti
o, djanganlah sungai lupa kepada laut
dan kemerdekaan tinggal abu tanpa api
sebab kami
surabaja
sudah banjak mati
sebab kepahlawanan sehari-hari
tidak pada jang sudah mati
berkata pemimpin besar repolusi
djaman ini djaman konfrontasi
pemimpin tengahan bitjara lain lagi
katanja: perdamaian universil dan konsepsi
dan perdamaian djadilah dewi ketjantikan
dan pedang kemerdekaan ditumpulkan
maka konsepsipun berlahiran diatas kertas
dan kertas-kertas berhamburan setjepat inflasi
mereka jang bekerdja dilaparkan oleh djandji
mereka jang malas berpikir tanpa batas
jang tak tahu ekonomi politik
mau bikin ekonomi politik
maka begitu naik djadi menteri
harga beras melambung tinggi
maka berkatalah rakjat suatu hari
bisa sekarang bisa nanti
stop!
mau konsepsi apa lagi?
kami sudah banting kemudi ke u.u.d empatlima
kami sudah bikin manipol dan nasakom
land reform dan dekon
ajo, konfrontasi
melawan tudjuh setan-desa
imperialis amerika
atau
sebelum roda ini melindas
minggir!
kami mau repolusi
kami mau buku dan pedang ditangan
kami mau tanah dan bedil dibidikkan
kami mau palu dan meriam didentumkan
kami mau pukat dan kapal-selam berkeliaran
kami mau indonesia dan rakjatnya jang gesit berlawan
bagi repolusinya dan bagi dunianya
bagi dunia dan bagi repolusinya
dan surabaja
senatiasa remadja
dalam bantingan usia
berdjuang
beladjar
kerdja
kutjinta surabaja
dia kota kelasi
kurindukan surabaja
sebab trem berlari-lari
kusukai surabaja
betja dan taman ditepi kali
kubanggakan surabaja
kota berani mati
kusenangi surabaja
kedjantanan jang bernjanji
surabaja
menghadang pukulan
menghantam
bertubi-tubi
disini tjemara bersiut
meliuk semampai
dan wilo merunduk
merenung sungai
kelasi, djika besok kelaut
djangan lupa kepada pantai

 

Agam Wispi

 

PETIK GITAR

……Untuk kawan dan lawan

Malam ini kawanku memetik gitar
selama ini berdebu di sudut kamar
mengalun lagu kenangan lama.

Melodi makin segar menaik
trem penghabisan menderu lalu
kawanku menyanyi nyanyian hati
cerita remaja mencumbu gadis
cerita lama jutaan buku.

Melodi makin segar menaik
dan malam makin menyepi
suka duka bergetar dalam suara
remaja menempuh badai lautan
hilang gaids, hilang impian.

Getar berdenyar diremas jari
remaja telanjang di padang luas
sekitar menantang nuntut pilihan
mau ke mana, mau ke mana
ini batas, ini anggur dan wanita.

Aku tatap muka kawanku
di jalanan tukang sate yang mengeluh
dagangan mesti habis malam ini
dan dia tidak mau menyerah
bintang harapan di dalam hati.

Gitar halus memperbaja melodi
kawanku mesra merangkai bungapi
dari hati remaja kembali.

1955

Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1957

————

RUKMANDA

Sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku

Sebutkan segala badai
kepahitan pembuangan
kerinduan pada kecapi
kesunyian malam sepi
kenangan pada Priangan
dan kelayuan dari menanti

Aku yang telah menghilang
rangkaian detik
berpuluh tahun
aku serahkan segala
pada peta perlawanan
selama ini jiwa remaja
setiap detak nafas nyawaku
dan kata ini juga diminta
aku nyanyikan “bangunlah kaum terhina”

Aku kini tiada lagi
bersatu dengan bumi tanah air tercinta
tapi lagu aku tamatkan
bersama bintang seminar kelam
dengan debar jantung terakhir
yang melihat fajar bersinar
kelahiran tunas penyambung keremajaanku

Sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku
tapi sebutkan juga kesetiaan
kegairahan dan kepahlawanan
itulah aku!

1954

Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1967

puisi Klara Akustika lainnya…

—————————————————-

 

PEJOANG

Kau tegak
bikin malu beringin seribu akar

Sekali kau sadar di udara segar
dunia tidak buruk semua
mengapa mesti memilih
apalagi ragu bimbang
soal damai atau perang

sekali, pejoang, kau cinta
di senyum gadis di kuncup bunga
juga indah bela rakyat
bela manusia dan dunia
dalam kata dan isi cinta.

sekali, pejoang, kau cinta
manusia dan dunia dalam derita

Engkau gemetar dirangsang daya
sini kami mulai, Pertiwi
anakmu menuntut bebas sejati.

Dan kau tegak
bikin malu penipu terbuka kedok.

1952

Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-2007, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1957

puisi Klara Akustika lainnya…

—————————————————-

NYI MARSIH

……….Kepada Penari Senen

saban malam nyi Marsih mesti menari
hati sepi jiwa hampa

nyi Marsih datang dari desa
rumah tinggal abu
suami entah di mana
nyi Marsih pergi ke kota
saban malam menari, menari.

nyi Marsih tidak tahu revolusi
tetapi cinta merdeka
merdeka baginya tanah
nyi masih sedih
rumah dan suami musnah.

nyi Marsih tidak tahu krisis moral
dia senyum dan menari
dicium dan memberi
nyi Marsih tidak merdeka
dan perut keroncongan.

saban malam nyi Marsih menari
hati menanti kapan merdeka.

1952

Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1957

puisi Klara Akustika lainnya…

MERDEKA KAMI

Kami datang sejak tahun ampatlima
kami datang cari Merdeka.

Bapa-bapa beri kami komando
kami prajurit patuh setia
kami tuju mereka yang kami cari
mengapa dibawa ke Merdeka-bapa

Bapa-bapa beri komando
kawan-kawan kami banyak mati
tidak tahu kami belum Merdeka
dan beberapa kami masuk penjara

Bapa-bapa beri komando
kami prajurit patuh setia
tetapi mengapa kini
kami dengan kami yang mesti berkelahi

Kami datang sejak tahun ampatlima
mencari Merdeka, Merdeka kami.

Bapa-bapa lihat kami kuat
kami telah usir musuh Merdeka
bapa-bapa dengar, kami banyak
mati seribu timbul sejuta.

Kami satu dan tidak mau
disuruh mati untuk Merdeka-ini
api-noraka kami lalui
apalagi kami takuti.

Minggir, bapa-bapa, minggir
kami tamatkan tugas ampatlima
siapa larang musuh kami
kami bikin Merdeka untuk semua.

1952

Sumber:
Rangsang Detik, Kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1957

puisi Klara Akustika lainnya…

—————————————————-

KASIH DAN PENJARA

Kasih dan hormat kami
waktu ini mengarah pantai hatimu
kalian di balik terali besi.

Tatapkan pandang ke langit bintang
dan bariskan Diponegoro bersama
laguan sejarah di malam sepi
dan akan cair ruang waktu
engkau kami di hati rakyat senyawa.

Atau dengarkan gema langkah kami
menembus besi beton kuasa
bawa pesan terima kasih
serta setia dan harapan
yang cemerlang di sinar fajar

Dan kami semua ikut rasakan
gemas menderita di sel terbatas
ini godam batu ujian
bikin indah kekasih kita bersama
dunia kita sonder penjara

Kasih dan hormat kami
biarkan bebas mencapai pantai hati
tahanan kini, pembebas esok.

1952

Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1957

puisi Klara Akustika lainnya…

—————————————————-

KATA BIASA

………Kepada R. Kertapati

Kata orang kita satu bahasa
tetapi ternyata dusta belaka
katamu bagiku sering halimun lebat

Telah lama aku menanti
bila adik pensiun menjadi duri
berhenti berteka-teki
bersmaa kita mengasah
kata sakti kata sederhana

Turunlah adik, di kayangan tiada
manusia sengsara minta dibela
kasihku mengajak bersatu
di dalam cinta kepada
jutaan budak tersisa

Kata orang, kita satu bahasa
mari adik, nikmat ini bukan monopoli
kita resapkan kepada mereka yang belum merasa

1950

ANTARA BUMI DAN LANGIT

……untuk HB Jassin

Kita adalah dua manusia
dari dua pandangan hidup
dipanaskan matahari satu zaman.

Engkau dan aku mencoba
menjalin permainan hitam-putih
kita cari lapang luas
di mana kata merdeka
berhenti menjadi semboyan hampa

Kita sama-sama cinta merdeka
tetapi isi kata kita cari masing-masing
dan detik akan temui warna
yang tak luntur diuji waktu
gila kita terus-menerus jadi pencuri?

Engkau mabuk gairah langkah mencari
niadakan segala nilai hasil kerja
aku minta kau ambil posisi
ini senjata tidak serampangan
dia keringat dan otak sejarah manusia.

Engkau dan aku cinta merdeka
tapi lapang luas punya batas
kalau kau berlagak dewa
ku proklamir manusia darah-daging
zaman ini pelaksana kata merdeka.

Kita berdua sama-sama tidak bebas
kau terikat pada dirimu
aku pada manusia zaman kini

1950

Sumber:
1. Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1957
2. Zaman Baru, 2 (no. 58), 15 November 1951

 

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di PUISI-SAJAK. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s