LELAH ITU TIBA-TIBA MEMBUNUHKU

Penulis : Eka Herlinah, SS (Dewan Alumni Teater Korek)

ADEGAN I

 

Darti menyeret langkah berat dengan segudang pemikiran yang masih bercokol di otaknya. Kemudian duduk sambil memperhatikan plafon rumah yang sangat sederhana.

DARTI             :HARI DAN MALAM YANG SAMA, DENGAN KERESAHAN YANG SAMA DENGAN KEMARIN, MASIH SAMA DENGAN SEMINGGU YANG LALU, SEBULAN YANG LALU, SETAHUN ATAU BAHKAN BERABAD-ABAD YANG LALU, SEMUANYA TAK ADA YANG BERUBAH, DAN SAYA MASIH SAJA DI SINI, MENCARI, MENELUSURI DAN MENYELAMI JEJAK-JEJAK SANG NENEK MOYANG YANG KATANYA AGUNG ITU.

TIBA-TIBA PINTU BERDERIT DAN TERBUKA, ANGIN MASUK, LALU MUNCULLAH SESOSOK

MANUSIA TEGAP DAN MASIH TERLIHAT GAGAH MESKI USIANYA TAK MUDA LAGI.

DARTI             : Apa Kau di sana? Hai Kau sudah Pulang? Aku sudah mencium baumu. Aku  sudah hapal sekali caramu membuka pintu.

LELAKI            : Ya, aku di sini, kau sepertinya semakin cerdas dan jeli untuk mengenali dan menangkap segala sesuatu, aku tahu itu.

LELAKI ITU MENGHAMPIRI DARTI DAN DUDUK DI SEBELAHNYA, DARTI MENUANGKAN

SECANGKIR TEH HANGAT PAHIT KESUKAAN SUAMINYA ITU.

DARTI             : Malam ini kau tampak letih sekali, apakah banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor?

Apakah orang-orang kampung itu datang lagi?

Apakah mereka mengganggumu lagi?

Apakah mereka masih menuntut keinginan mereka?

Dan apakah kau lagi-lagi belum bisa menjawab persoalan yang ada?

LELAKI            : Cukup Darti, Aku tidak ingin membicarakan persoalan itu, aku tidak ingin memperdebatkan permasalahan itu di rumah ini.

DARTI             : Maafkan aku,,,,maafkan aku Suamiku, sebaiknya kau istirahat saja

LELAKI            : Cukup Darti……

DARTI             : Atau biar ku siapkan air hangat untuk mandi

LELAKI            : Tidak, aku mau sendiri

DARTI MENINGGALKAN SUAMINYA SENDIRIAN DI RUANG TAMU YANG SEDERHANA ITU. LALU SI LELAKI MEMINUM SECANGKIR TEH DAN MENYANDARKAN KEPALANYA PADA DINDING.

LELAKI            : Aku sudah memberikan apa yang mereka minta, aku sudah berusaha memenuhi aspirasi mereka, aku sudah meluangkan waktu untuk memikirkan dan mencari solusi untuk kehidupan mereka. Aku sudah,  aku sudah, ya aku sudah, semuanya sudah aku lakukan sepenuh jiwa dan raga ini.

KEMUDIAN LELAKI ITU BERDIRI DAN MENYALAKAN ROKOK.

LELAKI            : Apa benar mereka sedang mengadu, di antara mereka ada yang sedang menangis, ada juga yang sedang terbakar dan meradang, mereka seperti terhimpit pada individualisme mereka sendiri, sehingga terjebak pada keadaan.

Dan aku, istriku dan keluargaku adalah mereka juga, para mereka yang sedang mencari dirinya sendiri.

MALAM SEMAKIN SUNYI DAN MEMBISU, NYANYIAN SENDU MENGIRINGI SI LELAKI KE

ALAM MIMPI HINGGA ANGSA-ANGSA MEMBANGUNKANNYA TEPAT PADA AZAN SHUBUH.

ADEGAN II

SEMENTARA SANG ISTRI (DARTI) SEDANG MEMPERSIAPKAN PAKAIAN DAN SELENDANG

YANG AKAN IA KENAKAN UNTUK BEKERJA SEBAGAI PENARI.

SUNDARI        : Menurutmu aku lebih cocok yang mana?

DARTI             : Sepertinya kamu lebih kelihatan pas dan menarik kalau memakai kebaya yang bermotip kuning dan coklat muda

SUNDARI        : (SAMBIL MENCOBA MEMAKAI PAKAIAN DAN MEMADUKAN SELENDANG-SELENDANG). Ya aku kelihatan menarik bukan? Lihat, aku tampak lebih muda dan sempurna jika dipadukan dengan selendang ini?

DARTI             : Ya, menurutku kau pantas memakai model dan warna apa saja, karena memang kau cantik. Cantik saat kau lenturkan jari-jarimu, saat kau goyangkan pinggul dan badanmu, apalagi kalau lagi tersenyum, dan yang paling penting kalau senyummu itu jujur, bukan karena pekerjaan.

SUNDARI        : Ah Mbak Darti ini bisa aja menghiburku, oya memangnya mbak pernah melihat aku senyum  terpaksa di atas panggung? Aku ikhlas loh kalau tersenyum, walau kondisi aku lagi capek, lagi ribut sama suami dan terkadang bayaran kita murah, atau kalau lagi kantong kering, walaubagaimanapun juga kita kan harus profesioanal sama pekerjaan, seperti yang mbak ajarkan sama aku itu loh.

DARTI             : Iya, sekarang kamu sudah bisa dan sudah tahu, bagaimana dan apa yang harus kamu lakukan saat kamu harus menjadi seorang Ibu dan saat kamu menjadi penghibur; di mana kau, aku dan juga temen-temen yang lain sudah menjadi milik banyak orang saat di panggung itu.

SUNDARI        : Memang, bener juga sih kata orang, ada enak dan tidaknya juga menjadi penari sewaan kaya kita ini, kalau mbak sih lebih enak di banding dengan aku, Mbak  bekerja ya karena menyalurkan bakat dan mencari hiburan saja. Lah kalau kaya aku dan beberapa temen yang lain, kondisinya jauh mbak. Kita ini mencari rejeki, membantu suami membiayai anak-anak, ya kalau cuma mengandalkan gajih dari suami, aku ga bisa menyekolahkan anak-anak.  Buat makan seadanya aja sudah cukup, apalagi buat urusan yang lain dan tetek bengek.

DARTI             : Memang, sebetulnya kita belum cukup tahu tentang sebuah esensi dari keberadaan kita di sini. Apakah kita merasa tersakiti, terbuang atau merasa dihakimi oleh keadaan dan kondisi yang sedang kita jalani?

SUNDARI        : Lah, kita hidup kan buat di jalani, bukan untuk di ratapi, di sesali, lalu di tangisi, dan yang ada hanya pasrah, berdiam diri dan akhirnya kalah sama mereka yang punya nasib lebih leberuntung ketimbang aku dan teman-teman.

DARTI             : Hush, kamu itu jangan terlalu membanding-bandingkan orang dengan kondisi yang beragam. Seperti yang kita tahu, masih banyak sekali orang-orang di sekitar kita yang jauh lebih buruk kondisinya, mereka masih saja bisa tersenyum dan bisa bertahan hidup.

SUNDARI        : Kalau Cuma berargumen mah mudah Mbak, sekedar mengusulkan sesuatu dan berkomentar. Yang menjalani kan kita, kita yang berada dalam keadaan tak sama, yang ada hanya kesenjangan dan perdebatan. Itu yang aku, dan beberapa teman rasakan dan hadapi sekarang.

DARTI             : Kamu sudah terlalu jauh, banyak sesuatu hal yang sebenarnya kita sendiri belum memahami semua itu.

SUNDARI        : Lalu kenyataan yang bagaimana yang harus kita terima dan harus kita lawan?

DARTI             : Simpan semua purbasangkamu itu……

SUNDARI        : Aku tidak sedang berpurbasangka Mbak, tapi inilah kenyataan yang kita rasakan

DARTI             : Betul sekali, kamu tidak salah berpandangan seperti itu, setiap orang punya cara pandang yang berbeda dengan pemahaman yang beragam pula.

SUNDARI        : Kalau mbak punya pandangan yang berbeda dari aku, lalu bagaimana dengan pandangan Mbak Darti sendiri?

DARTI             : Keberadaan kita di sini, apakah semua lahir atas kehendak dan harapan kita sebelumnya? Apakah sebelumnya kita sudah memisahkan kita dengan komunitas lain yang mungkin tak sepaham dengan kita?

Semua itu sudah terencana dalam kitab yang namanya kenyataan. Dan tak ada satupun yang bisa menghapus dan menolak dari kenyataan itu. Mungkin kita sudah lupa bahwa kita semua adalah partikel penting yang menjadi sebuah komponen yang saling berkaitan, bersentuhan dan saling memberi makna terhadap yang lain dalam peran dan karakter yang tak sama.

SUNDARI        : Mungkin benar pandangan mbak Darti memaknai kenyataan ini. Tapi tak semua orang berpikiran seperti itu, termasuk aku sendiri. Dan aku sendiri belum bisa memahami itu semua.

LAMPU PADAM SUNYI

 

ADEGAN III

DI BALIK KESUNYIAN, PERLAHAN TERDENGAR ALUNAN MUSIK YANG BERTALU-TALU,

SEMAKIN KERAS TERDENGAR, DIIRINGI MUSIK JAWA BESERTA SUARA SINDEN YANG

SEMAKIN MERIAH DAN  NYATA. SEMENTARA ITU MUNCULLAH SEORANG PENARI YANG

KEMUDIAN DIIKUTI OLEH BEBERAPA PENARI LAIN. SUASANA SEMAKIN RAME TATKALA

WAKTU SEMAKIN MALAM DAN MENJELANG PAGI.

ADEGAN IV

DI SEBUAH KAMAR YANG SUNYI DAN SEDIKIT GELAP, SEORANG LELAKI SETENGAH BAYA SEDANG MERAPIHKAN BERKAS-BERKAS DI MEJA KERJANYA. DIA KELIHATAN SIBUK DAN SEDANG BERPIKIR KERAS. TAK LAMA KEMUDIAN TERDENGAR LANGKAH KAKI YANG BERJALAN MENUJU SI LELAKI ITU.

LELAKI            : Tumben hari ini kau pulang sangat terlambat. Apakah ada tambahan durasi bekerja? Atau memang sengaja kau ingin terlambat?

DARTI             : Tidak ada, mungkin benar tadi ada tambahan durasi. Maafkan aku……

LELAKI            : Bukankah kita sudah bersepakat tidak ada lagi yang diperdebatkan antara pekerjaan dan perbedaan peran kita. Peran sebagai laki-laki dan perempuan?

DARTI             : Justru aku yang terkadang diliputi perasaan bersalah, karena sedikit mengabaikan pekerjaan dan tugas sebagai perempuan yang bersuami dan mempunyai anak-anak.

LELAKI            : Aku sudah mendamaikan itu semua, meski terkadang hati dan jiwa menolak itu semua.

DARTI             : Jadi, kau memaafkan aku……(SAMBIL MENDEKATI SUAMINYA)

LELAKI            : Ini bukan permasalahan memaafkan,

DARTI             : lalu apa? Aku semakin tak mengerti. Apa kau masih mau bercerita lagi padsaku?

LELAKI            : Sepertinya kau tampak lebih lelah daripada aku.

DARTI             : Terserah kamu saja, besok pagi kita akan kembali pada dunia kita masing-masing.

LELAKI            : Sebentar lagi pagi kan tiba. Masih banyak yang harus kita lakukan. (LELAKI ITU MERANGKUL SANG ISTRI)

LAMPU PERLAHAN PADAM

Catatan :- Tulisan ini dilindungi oleh Undang-Undang, Mohon tidak untuk mencopy maupun menduplikasikan tanpa ada ijin dari penulis (red-)

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di Salam Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s