GERAKAN KEBUDAYAAN KITA ADALAH SAAT INI,KAWAN !

Oleh : Lukman Hakim, S.Sos *

Kebudayaan adalah identitas sebuah bangsa, ia lahir bukan hanya sebagai pengejawantahan dari gerak laku hidup bersama, perjuangan bersama maupun tata hidup bersama alam semesta namun juga merupakan suatu bentuk apresiasi spiritual suatu kaum/bangsa dalam mewujudkan ketaatannya terhadap kekuatan yang maha ‘ghaib’, maha pencipta; Tuhan yang Maha Kuasa. Karena hakikat seni dan budaya yang lahir dari sebuah masyarakat pasti senantiasa berangkat dari pemaklumatan keyakinan terhadap yang kuasa dalam menjaga keseimbangan alam semesta dan keselarasan hidup bersama antar manusia, jadi kebudayaan tak mungkin lahir tanpa pondasi dialektika membangun peradaban manusia. Corak kebudayaan suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh kondisi alam, gerak antropologi manusia dan rekayasa-rekayasa lingkungan demi terciptanya harmoni dan tujuan mengangkat harkat-martabat manusianya.

Begitu juga Indonesia_sebagai bangsa, pergerakan kebudayaan tidak pernah lepas dari pergulatan sejarah menuju Indonesia merdeka dan berdaulat. Para seniman besar lahir dari buminya rakyat Indonesia, kesadaran pekerja seni ikut ambil bagian dalam memperjuangkan keutuhan Indonesia sebagai bangsa dan manusia. Sebut saja Abdullah bin abdulkadir Munsji, Ronggowarsito, Raden Saleh dan pendiri lain, peletak batu pertama dari kebudayaan modern kita adalah seorang pejuang kerakyatan yang bergerak dan mengangkat senjata dengan jalan kebudayaan. Kemudian nama-nama seperti Mas Marco  sebagai pengarang yang revolusioner, WR. Soepartman dalam bidang musik mewujud seiring dengan masa perebutan kemerdekaan, di era selanjutnya kita kenal generasi AA. Navis, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Prof. Bakrie Siregar, Rivai Apin, Utuy Tatang Sontani dan masih banyak nama-nama lain yang ikut andil besar dalam membangun kesadaran massa rakyat untuk terus memperjuangkan bahwa seni tidak hanya untuk kenikmatan seni semata tapi juga merupakan obor/suluh perjuangan bagi rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemartabatan hidup bersama, mengupayakan kehendak kemanusiaan yang adil dan beradab, bahwa seni bukanlah alat mengedepankan ekspresi individu semata_bukan semangat humanism Universal_tapi seni adalah alat perjuangan bagi sebuah bangsa demi kemerdekaan, kedaulatan, harkat dan martabat dalam bingkai memanusiakan manusia dan harmoni hidup bersama. Karena Rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan dan bahwa pembangunan kebudayaan Indonesia ke depan hanya dapat dilakukan oleh rakyat sendiri, maka keberpihakan terhadap rakyat adalah satu-satunya jalan bagi seniman-seniman, sarjana-sarjana maupun pekerja-pekerja kebudayaan Indonesia.

Di masa kini, ketika kemerdekaan sudah menapaki tahun ke 60 an, gerakan kebudayaan seperti hilang arah. Banyak seniman lahir karena bukan berangkat dari tengah-tengah pergulatan kehidupan masyarakatnya, paradigma westernisasi-pragmatisme, liberalism telah menghadapkan para pekerja seni pada kenyataan bahwa gagasan sebagi alat perjuangan rakyat semakin jauh api dari panggang. Tanpa di sadari pasca periode TAVIP dan Manipol yang berserak setelah Kepemimpinan Ir. Soekarno tumbang, gerakan kebudayaan menjadi pisau tajam yang menghunus mengarah ke jantung dan urat nadi rakyat. Seniman lahir menjadi alat kekuasaan, orde baru mampu memutarbalikkan keyakinan kebudayaan rakyat, bahwa bermain seni adalah sebatas panggung dan pertunjukkan. Kesenian dan kebudayaan dikerangkeng dalam etalase-etalase kaca, menjauhkan diri dari dialektika hidup rakyatnya. Semua tergerak dalam penciptaan-penciptaan artistik semata, keindahan bentuk, membuai kemudian menjauhkan diri dari bumi dan akar Indonesia. Proklamasi 17 Agustus dan Pancasila 1 Juni yang merupakan sebuah karya kebudayaan yang monumental dari rakyat Indonesia hanya menjadi traktat dalam figura, semu dan artificial.

Kemana arah kita ?

Pertama, Pancasila 1 Juni sebagai roh dan Filosofis dasar berkebudayaan Indonesia telah diposisikan sebagai Produk kesenian semata, dikultuskan kemudian disimpan rapi dalam lemari-lemari kaca, berdebu. Dera Kudeta militer tahun 66 telah ikut menegasikan kesjetaian jiwa dan karakter sudah sudah dengan susah payah di bangun oleh para Pendiri Bangsa Penjajahan Kebudayaan (Westernisasi,Liberalisasi, Humanisme Universal) tanpa disadari telah menjadi keyakinan semu bagi para pekerja kebudayaan pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Kedua, Kedudukan bidang kebudayaan yang hanya difungsikan sebagai ruang ekspresi individual, sebatas eksistensi pertunjukkan dan sangat terpisah dari keberadaan dan derita rakyat telah ikut ambil bagian dalam menjerumuskan peran kebudayaan yang sesungguhnya. Produk-produk kebudayaan saat ini sekedar menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan, bahasa; sastra; tari; teater; film; kesenian tradisi; wayang dan sebagainya tidak lebih hanya sebagai alat bantu penguasa dalam mentransformasikan kebijakannya, bahkan ada yang berperan dalam memoderasi gerakan kebudayaan yang berakar dari gejolak jiwa rakyat Indonesia. Ketiga Kebijakan Pemerintah yang dengan sengaja memposisikan Kebudayan hanya sebagai alat pelengkap dalam pengajaran di Indonesia. Pendidikan karakter berkebangsaan, etos diri, kepribadian sekarang telah digantikan oleh kurikulum-kurikulum yang berbasis menyiapkan tehnokrat,Budak-budak Kapitalisme. Terpisahnya Dinas Pendidikan dan kebudayaan menjadi salah satu unsure yang ikut terlibat dalam demoralisasi berkehidupan berbangsa.

Kontemporer hari ini, akan menjadi Tradisi di kemudian hari

Menghidupkan kesenian Tradisi Jakarta harus berangkat dari memadukan produk kesenian tradisional yang baik dan seni pertunjukkan masa kini yang revolusioner. Semestinya adanya pergerakan yang revolusioner dari para ahli penelitian dan riset (dengan peran pemerintah) untuk melakukan kajian-kajian yang terkait dengan penguatan dana dan manajerial para penggiat kesenian tradisi. Tradisi lahir secara dialektika unsur-unsur budaya yang baik dan kuat akan terus menemukan antitesanya. Peran para ilmuwan kebudayaan dan antropologi harus terus berupaya keras dalam merekomendasikan potensi-potensi penguatan gerakan kebudayaan tersebut. Jangan sekali-kali Program kesenian dan budaya berorientasi Proyekisme, sebut saja terbengkalainya Balai Rakyat, disorientasi Gelanggang Remaja menjadi Gedung Olahraga (GOR) dan pembangunan Balai Latihan Kesenian (BLK) tanpa berkehendak untuk membangun masyarakat pekerja keseniannya.

Jika Pemerintah tidak mampu menangani dinamika masyarakat yang cenderung Chavinis dan Liberalism maka Pemerintah bisa dianggap  telah ikut menunggangi gerakan kebudayaan Jakarta sebagai alat dalam mempolitisasi ruang antropologi masyarakat Jakarta. Penyelesaian gejolak-gejolak sosial di masyarakat yang parsial tidak lepas dari lemahnya Pemerintah dalam memahami Kultur warga Chauvisme/sikap kedaerahan/kelompok-kelompok keagamaan telah difasilitasi sedemikian rupa oleh PemerintahSitus sejarah, produk-produk kesenian Rakyat Jakarta hanya dijadikan sebagai asset pertunjukkan dan pariwisata semata dengan orientasi komersialisasi dan Pendapatan Anggaran Daerah tanpa berpihak pada pembangunan manusianya.

Geliat Kesenian dan kebudayaan di DKI Jakarta dan sekitarnya secara kuantitas memang telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, di dirikannya Taman Ismail Marjuki 1968, sekolah-sekolah tinggi kesenian dan beberapa  ruang-ruang kebudayaan di DKI Jakarta telah ikut memotivasi geliat pekerja-pekerja seni untuk terus meproduksi karya-karyanya. Seniman-seniman besar lahir, kesenian tradisional rakyat tetap bertahan, buku-buku seni dan budaya bertebaran di setiap percetakan, namum masih ada kegelisahan karena kita tak kunjung mampu melahirkan Joebar Ayoeb muda; Chairil Anwar muda; Njoto muda dan Pramoedya Ananta Toer di era kekinian, yang menjadikan Seni dan budaya sebagai alat perjuangan demi mewujudkan kemanusiaan manusia. Karena Sekolah-sekolah, sanggar-sanggar, Kantong-kantong Budaya, juga memiliki peran yang sangat Signifikan dalam Pengembangan dan Penjagaan Indonesia sebagai Bangsa dan Sebagai Nilai. Jika Kebudayaan bangsa hanya dianggap sebagai penanganan yang birokratif dan tehnis maka saatnya besok kita bertanya “Kemana Indonesia sebagai cita-cita ??”

*Dewan Pelopor Teater Korek, Dept. Kebudayaan DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta, PC Alumni GmnI Bekasi, Murid Teater.

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di Salam Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke GERAKAN KEBUDAYAAN KITA ADALAH SAAT INI,KAWAN !

  1. Ping balik: Gerakan Kebudayaan kita adalah saat ini, Kawan! | Tan EL Hak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s