Teater Minikata-Bengkel Teater Rendra (Bagian 3)

Teater Minikata-Bengkel Teater Rendra (Bagian 3)

http://teaterdankota.org/peristiwa/teater-minikata-bengkel-teater-rendra-bagian-3/

sinar-harapan-senin-27-des-1971-dok-dkj-1030x732

Periode Lingkaran Studi Drama

Walau Rendra dan istrinya, Sunarti, pernah berdialog tentang segala macam handicaps bagi seseorang yang akan mengabdikan hidupnya kepada seni sandiwara di Indonesia, sehubungan dengan ketiadaan infrastruktur, ketiadaan tradisi dan semuanya. Tapi Rendra punya dua kesimpulan saat itu, yakni: pertama, harus punya grup yang intens ber-workshop, sebab tanpa workshop tak akan ada gaya yang unik dalam pementasan. Dan grup yang ber-workshop itu harus bersifat padepokan. Hal itu berhubungan dengan olah daya hidup dan olah daya cipta, guru dan murid harus hidup bersama dalam satu pekarangan untuk mempraktekkan ilmu menjadi jalan hidup bersama.

Kesimpulan kedua menyangkut kenyataan tentang segala handicaps tersebut, maka grup yang akan bisa punya daya tahan adalah, apabila pemimpin grup itu sanggup berfungsi sebagai guru yaitu sumber ilmu dan orientasi, juga sebagai sumber naskah yaitu menjadi penulis naskah, penyadur atau penerjemah naskah asing. Dan akhirnya, pemimpin grup juga harus menjadi sumber dana, atau mencari nafkah untuk hidup bersama.

Selanjutnya, rumah Rendra menjelma menjadi padepokan. Kastoyo Ramelan, Jasso Winarto bergabung tinggal bersama. GM Sidharta kadang-kadang datang dari Klaten, Amoroso Katamsi kadang-kadang datang dari Baciro penuh rasa ingin tahu. Hidup yang intens dengan pekerjaan rumah tangga sekaligus ber-workshop senantiasa, setidaknya dua kali sehari. Bakdi Soemanto yang tidak tinggal bersama, namun merupakan tetangga dekat, berperan penting sebagai intelektual grup. Ia banyak memperkenalkan kepada teman-teman tentang sejarah kesusastraan Eropa dan puncak-puncak karya seni dunia. Selain itu, Ia juga banyak membantu soal logistik padepokan. Bahkan, Bakdi Soemanto pernah mencukupi keperluan logistik Rendra, agar Rendra bisa menyelesaikan terjemahan naskah Oidipus Rex karya Sophocles, dan Poetica karya Aristoteles, dari sumber bahasa Inggris.

Para pemain putri adalah Widiyati Saebeni, Irna Hani, Ninuk Istantiyah, Lana Indrayati (yang kemudian menjadi istri Bakdi Soemanto), Hani Musila, dan Sunarti Pr (adik pelukis Sunarto Pr). Mereka tidak tinggal bersama.

Sambutan publik cukup bagus. Arifin C. Noer, Deddy Sutomo, Parto Tegal, yang selalu bermain cemerlang mulai mendapat penggemar. Oleh karena itu, Rendra selalu mengingatkan agar setiap seniman setelah selesai berkarya dengan penuh dan tuntas, harus selalu kembali ke “nol”. “Bali bamban,” kata orang Jawa. Tidak kembali sebermula, tetapi kembali seperti pemula. Inilah kunci rahasia stamina kesegaran seorang seniman. Dengan cara itu, seniman bisa menjaga kemurnian kalbunya. Kemurnian kalbu adalah persemaian segala benih kemungkinan di dalam hidupnya.

Rendra juga mengajarkan bahwa; seniman harus secukupnya menyesali kegagalan dan menyukuri kesuksesannya. Ia tidak boleh terjerat oleh sukses atau kegagalan karyanya. Kegemaran berkokok atas satu sukses, atau menangis pilu karena satu kegagalan akan menyebabkan kekerdilan. Pikiran dan jiwanya tidak lagi merdeka tanpa beban, sehingga kemurnian jiwa sukar didapatkan. Pada hakekatnya seniman harus memahami bahwa; nama itu kosong, ketenaran itu hampa. Hanya jalan hidup yang nyata.

Sudjatmoko dan Oyong Peng Koen selalu setia membantu dengan dana besar. Begitu juga Pater Dick Hartoko dari majalah Basis. Ada juga yang bernama Priyo, seorang pemilik toko onderdil mobil yang membantu pembiayaan pentas Paraguay Tercinta.

Naskah-naskah yang dipentaskan Lingkaran Studi Drama diantaranya adalah Paraguay Tercinta (Fritz Hochwalder), Oidipus Sang Raja (Sophocles), Kereta Kencana (menyadur dari Eugene Ioneco), Suara-suara Mati (Van Loggen), Lawan Catur (Kenneth Sawyer Goodman), Hello Out There (William Saroyan), dan Perang dan Pahlawan (George Bernard Shaw).

Kesuksesan pentas-pentas Lingkaran Studi Drama mengantarkan pada kenyataan bahwa seni modern belum bisa mendatangkan uang yang cukup bisa dijadikan sandaran hidup seluruhnya. Kehidupan sehari-hari padepokan Lingkaran Studi Drama sangat bergantung kepada penghasilan Rendra sebagai penyair dan sastrawan, seperti honorarium dari Starweekly, Majalah Basis, Penabur, dan Minggu Pagi di Yogyakarta. Sudjatmoko dan Yayasan Pembangunan membeli hak penerbitan dua kumpulan sajak Rendra, serta proyek-proyek terjemahan dari Pater Dick Hartoko.

Semangat teater kontemporer yang diusung Rendra hadir dengan semangat yang tidak lagi tradisional, maka kelangsungan hidupnya harus dikelola secara tidak tradisional pula. Teater di Indonesia pada dekade akhir 1950-an dan awal 1960-an menghadapi gangguan-gangguan, sehubungan hal yang diistilahkan Umar Kayam sebagai “sistem kekuasaan”. Mengembangkan grup teater di awal 1960-an mendapat hadangan dari gejolak politik. Menurutnya, kelangsungan kesenian disuatu wilayah atau negeri sangat tergantung dengan sistem kekuasaan yang ada, apakah sistem kekuasaan itu terbuka atau tertutup.

Bagi Rendra, berteater bukan hanya sekedar berekspresi diri, tetapi juga didasari pengertian mendalam tentang keadaan teater kontemporer di Indonesia. Teater kontemporer ibarat anak yang tidak memiliki orang tua. Maka, tidak ada cara lain untuk mengusahakan teater harus bisa hadir dengan kreatif dan terus menerus berada dalam konteks dengan masyarakat, terus menerus melakukan dialog dengan lingkungan hidupnya, atau teater kontemporer akan hilang karena tidak mampu bertahan. Meminjam istilah Sapardi Djoko Damono; teater kontemporer harus “sendiri menghadapi gergaji waktu”. Teater kontemporer memang sendirian, sebab ia bukan anak tradisi. Teater kontemporer bagian dari, apa yang disebut Joseph Drucker dengan “the tradition of the new”.

Masa Kritis Politis

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 membuat kekuasaan Presiden Soekarno makin kuat, bahkan sempat dinyatakan sebagai Presiden Seumur Hidup oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Presiden Soekarno mengerahkan semua kekuatan untuk mencapai tujuan, dengan munculnya pameo “Politik adalah Panglima”, Kesukaran hidup sangat terasa sewaktu Presien Soekarno mulai mencanangkan revolusi yang berjalan terus menerus untuk melawan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme, maka karya seni pun harus mengabdi pada revolusi.

Dua kekuatan imperialisme dan kolonialisme raksasa di dunia waktu itu tengah melakukan perang dingin, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya, dan Soviet-Rusia dengan sekutunya. Mereka berideologi komunis, dan kapitalis. Rendra beranggapan bahwa kedua-duanya itu merusak kekuatan ekonomi negara-negara yang sedang berkembang. Rendra juga menyayangkan Presiden Soekarno yang hanya melawan Amerika dan sekutunya, tetapi tidak sama sekali melawan imperialisme Soviet-Rusia. Padahal, menurut Rendra, Soviet-Rusia merajalela dan menindas hak azasi manusia di Eropa Timur, Asia Tengah, dan Afrika. Presiden Soekarno yang didukung Partai Komunis Indonesia (PKI) cenderung memuji negara-negara dan pemimpin boneka dari Soviet-Rusia. Dengan pemberontakan PKI 1948 di Madiun, Rendra beranggapan bahwa partai tersebut tidak patriotik, seperti Soviet-Rusia, mereka lecehkan hak azasi manusia di Indonesia, mereka tidak menghargai keanekaan pendapat di masyarakat, bahkan ingin menyeragamkan pemikiran politik di masyarakat dengan kekuasaan dan kekerasan. Intelektual dan seniman yang berbeda pikiran mereka ganyang habis-habisan. Menurut Rendra, mereka sangat berbahaya bagi daya hidup dan daya cipta bangsa.

Presiden Soekarno mencanangkan Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin, yang memuncakkan kemuakan Rendra. Selanjutnya, Rendra berpikir untuk benar-benar terlibat dalam perjuangan mempertahankan hak azasi manusia, sebagai usaha untuk menjaga daya hidup dan daya cipta bangsa, dengan ikut menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang dibuat oleh HB Jassin dan teman-teman lainnya di Jakarta.

Rendra menuliskan bahwa, semua penandatangan Manikebu tanpa kecuali diganyang oleh PKI dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dan Pemuda Rakyatnya. Rezim Soekarno menganggap Manifes Kebudayaan terlarang dan tak boleh disiarkan. Lekra memperluas dampak pelarangan itu ke masyarakat. Sehingga para penandatangan Manikebu menjadi “orang yang terlarang”, dan kehilangan pekerjaan. Koran dan majalah tak mau memuat karangan mereka. Buku-buku karangan mereka dibakar dalam satu api unggun, dan tidak seorang pun seniman yang duduk di Dewan Pengurus Lekra mau pun Pemuda Rakyat membela mereka. Itulah maknanya pengganyangan yang dimaksud. Majalah Sastra yang dipimpin HB Jassin di bredel. Itulah saat-saat sulit, sangat sulit mendapat kesempatan berekspresi. Juga sulit bagi Rendra untuk mencari nafkah. Pada saat demikian, media cetak untuk ekspresi dan sumber penghasilan Rendra di bredel, sementara berteater tidak mudah, hanya tersisa di Starweekly, Basis dan Penabur, Rendra masih bisa mengirimkan karya-karyanya.

Kemudian, Rendra menyayangkan, setelah mengetahui bahwa kelompok Manikebu berkerjasama dengan tentara, dan tidak transparan. Rendra merasa terkecoh dan kecewa. Rendra bergabung dengan kelompok lain di dalam Manikebu yang tidak berkerjasama dengan tentara, dan berjuang murni untuk hak azasi manusia, seperti Bur Rasuanto, Soe Hok Djin (kemudian menjadi Arief Budiman), Darmanto Jatman, Goenawan Mohamad, Budiman S. Hartoyo, Bastari Asnin dan masih banyak lagi.

Sementara, ikatan berkelompok pada grup Lingkaran Studi Drama sangat longgar sekali. Rendra sangat tidak menyukai ikatan yang membatasi anggota untuk melakukan kegiatan diluar grup, karena itu picik dan tak berfaedah. Itu bukan cermin kesetiaan, tapi menunjukkan kedangkalan pergaulan. Setiap orang siap menyebar setiap saat untuk memenuhi panggilan cakrawala yang luas terbentang, yang penting saling setia sebagai sahabat dan hati nuraninya masing-masing. Grup hanyalah tempat singgah untuk menempa diri.

Setiap anggota grup punya kegiatan diluar grup yang juga sukses dan bisa dibanggakan. Arifin C. Noer giat di Teater Muslim di Yogyakarta sebagai sutradara dan penulis naskah. Deddy Sutomo bersama GM Sidharta dan teman-temannya yang lain di Klaten punya kegiatan teater komunitas yang juga penting. Mochtar Hadi tekun membina kegiatan teater di Solo. Parto Tegal juga terlibat kegiatan teater lokal di Tegal.

Pada saat krisis itu, Rendra sangat dibantu oleh Direktur Bank yang sangat cinta teater. Ada semacam hall di gedung Bank yang dipimpin I Nyoman Muna yang terletak di sebelah kantor pos besar di sebelah utara alun-alun Yogyakarta. Rendra dan kawan-kawan dapat memainkan satu lakon pendek di hall itu, dengan panggung dirancang sebagai pentas sentral. Lakon yang dipilih seperti Pinangan karangan Anton Chekov. Pementasan dapat berjalan mulus tanpa hambatan sensor, sebab Badan yang harus dimintai izin setiap pementasan dapat disogok. Kadang penonton sangat sedikit karena publikasi yang tidak cukup, tapi Rendra tetap dibayar penuh sesuai perjanjian. I Nyoman Muna membiarkan Rendra mengungkapkan pandangan estetikanya, termasuk kebebasan menafsir naskah-naskah lakon ke dalam pentas.

Walau sedikit, teater ternyata mampu memberikan nafkah. Rendra menegaskan, Ia tidak dapat memperoleh nafkah dari sastra, Ia dapat memperolehnya dari teater. Rendra sadar bahwa Ia harus dapat hidup dari teater, maka sikap demikian menjadikannya lebih kritis terhadap pilihannya. Kritis dimaksud adalah, teater sebagai pilihan profesi dalam hidup disamping sastra, akan membawa kepada sejumlah kesulitan. Ini memerlukan kesiapan mental tersendiri yang sekaligus membedakannya dengan temen-teman lain yang juga berteater.

Rendra menuliskan; selama dalam “tahanan” politik yang luar biasa itu, Sudjatmoko, Oyong Peng Koen, Pater Dick Hartoko, keluarga Bakdi Soemanto, dan bapak saya yang selalu membela saya saat tekanan hidup makin berat. Satu persatu dengan sopan dan halus para anggota grup meninggalkan padepokan.

Rendra Berangkat ke Amerika

Akhirnya, pada tahun 1964, Rendra mendapatkan undangan dari Dr. Henry Kissinger untuk ikut Seminar Musim Panas di Universitas Harvard di Amerika Serikat. Sudjatmoko dan Oyong Peng Koen sangat membantu dalam persiapannya. Usai Seminar, Rendra mendapat kesempatan dari US State Department untuk keliling Amerika Serikat selama dua bulan dan melihat apa saja yang diinginkan Rendra. Sesudahnya, Rendra mendapat grant dari Seksi Humanities, dariRockefeller Foundation untuk mengamati kebudayaan dan kesenian dari Amerika Serikat dalam kapasitasnya sebagai penyair. Kemudian grant disambung dengan grant dari JDR 3rd Fund untuk tour ke beberapa negara di Eropa.

Selama Rendra di Amerika Serikat, istrinya, Sunarti menyusul, dan sempat melahirkan dua anak di sana. Rendra berkesempatan merasakan bagaimana kehidupan berkeluarga seperti penduduk Amerika pada umumnya. Ia juga sempat masuk The Americn Academy of Dramatic Arts (A. A. D. A) di New York, serta mengikuti beberapa kuliah non degree di New York University.

Rendra beranggapan, apa yang dipelajari di A. A. D. A. adalah hal-hal teknis yang sudah pernah dibacanya dibuku-buku saat sekolah menengah atas di Solo. Tetapi tehnik mendengar lawan bermain di panggung yang diajarkan di situ merupakan hal baru baginya. Teknik tersebut adalah warisan dari Charles Jehlinger, pendiri akademi itu. Itulah ilmu tambahan yang berguna bagi Rendra. Rendra menyenangi kelas analisa naskah. Suasana belajar di A. A. D. A sangat mengasyikkan, yang belum pernah dialaminya di Indonesia. Jumlah pesertanya kecil, suasana bebas, disiplin logikanya bagus, semua dapat berpartisipasi dengan rata. Bagaikan unggas yang mendapat taman yang bagus. Rendra selalu bisa berkiprah dengan memuaskannya di forum semacam itu; intim, bebas, terbuka dan tuntas.

Rendra menyukai demokrasi di Amerika. Demokrasi sebagai sistem yang tidak sempurna, tetapi terbuka dan mampu melayani banyak kemungkinan. Rendra melihat sistem demokrasi harus selalu diawasi, dan membuka wewenang rakyat untuk mengontrolnya. Demokrasi adalah sistem yang juga terbuka untuk diperbaiki.

Rendra tidak menyenangi kapitalisme di Amerika. Ia merasa selalu alergi bila bersentuhan dengan kebudayaan yang bersifat akumulatif. Sebaliknya, Rendra menyukai budaya yang bersifat sirkulatif. Itulah sebabnya, Ia tidak senang dengan kapitalisme dan komunisme. Menurut Rendra, kapitalisme itu tak henti-hentinya melakukan penumpukan kapital dan untuk itu selalu harus berproduksi, selalu memerlukan bahan mentah dan selalu memerlukan perluasan pasar. Dan dalam praktek praktisnya selalu melakukan neo-kapitalisasi dan neo-imperialisasi. Sementara komunisme, karena ideologinya mengenai revolusi kelas yang internasional itu juga selalu memerlukan akumulasi kekuasaan yang tak habis-habis. Ke segenap penjuru dunia melaukan intervensi, neo-kolonialisasi dan neo-imperialisasi.

Selama di Amerika, Rendra sering berkirim surat kepada teman-temannya di Indonesia. Tatkala pemberontakan PKI pada 30 September 1965, Rendra merasa lega, sebab teror yang dilakukan orang komunis kepadanya pada masa pemerintahan Soekarno telah berakhir. Menurutnya, ekonomi Indonesia semakin buruk selama pemerintahan Soekarno. Inflasi meningkat. Hal itu diketahuinya melalui perangko yang ditempelkan pada surat-surat yang diterimanya dari tanah air.

Jauh dari kampung halaman, Rendra prihatin menyaksikan bagaimana dunia ketiga diobrak-abrik tatanan hidupnya dan dibuat miskin oleh komunisme dan kapitalisme yang ekspansif itu. Rendra berpikir, seandainya komunisme di Rusia dikontrol oleh demokrasi barangkali akan jadi lain sejarahnya. Sebab tanpa kontrol demokrasi, sosialismenya tak pernah menjelma, yang beroperasi hanyalah praktek-praktek tiranisme yang sangat birokratis piramidal, sama memuakkannya dengan fasisme.

Rendra pernah mengirim surat; bahwa Ia ingin mengajukan usul untuk membuka Jurusan Teater di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada (UGM), almamaternya. Kemudian Ia berpikir untuk mendirikan Akademi Teater atau memperbaiki Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI) dengan mengajukan perombakan.

Begitulah, Rendra sering merenung dan prihatin selama di Amerika, karena melihat negaranya diharu biru oleh perang dingin antara Imperialis Rusia dan Amerika. Sampai akhirnya, pada musim panas tahun 1967, Rendra pulang ke Indonesia, dan didatangi Azwar AN dan Moorti Purnomo. Mereka meminta Rendra untuk membentuk grup sandiwara lagi. Sementara Rendra sudah berjanji pada Sunarti, istrinya, untuk menjauhkan diri dari dunia sandiwara, dan terlebih dulu mengutamakan usaha untuk memperkuat ekonomi keluarga.

Mendirikan Bengkel Teater

Rendra membeli rumah di Ketanggungan Wetan, sebuah daerah di Yogyakarta yang Ia senangi. Lingkungan hidup yang sangat merangsang daya hidupnya, yaitu sebuah komunitas kampung, dengan Penduduk yang rajin menyapu halaman. Sampah dibakar setiap pagi dan sore. Pohon-pohon nangka, melinjo, sawo, jambu air dan pagar rumah dari tanaman yang hidup. Bila hujan, halaman dan jalan tidak becek berlumpur, karena tanahnya berpasir. Pagi hari burung berkicau, siang hari rumpun bambu berdesir dan berdesah. Malam hari ada serangga-serangga bersuiran.

Azwar AN dan Moorti Purnomo kembali datang membujuk agar Rendra membentuk grup sandiwara lagi. Rendra menolak lagi. Mereka juga membujuk Sunarti. Hingga pada suatu hari Bakdi Soemanto datang dan mengatakan bahwa Ia tidak suka keadaan sekarang ini. Bakdi Soemanto mempertanyakan tentang perubahan seperti apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini? Semua orang mencari kesempatan untuk ikut membangun ekonomi, tetapi sebenarnya hanya memikirkan kemakmuran, bukan kesejahteraan. Bangsa ini kehilangan hati nurani. Sebentar lagi akan terjadi pendangkalan kehidupan. “Apakah kita akan diam saja?” Rendra terdiam. Kemudian Bakdi Soemanto menegaskan kepada Rendra bahwa kita harus bikin workshop lagi. Kita masih harus belajar banyak tentang kemanusiaan.

Akhirnya, istri Rendra, Sunarti setuju, Rendra membentuk grup lagi. Tidak peduli nama, pendeknya sebuah bengkel teater. Nama Bengkel Teater awalnya merupakan terjemahan dari Workshops of Theatre. Terdengar aneh karena mengisyaratkan kerja perbengkelan. Dalam prakteknya memang sungguh mirip perbengkelan, dan berbeda dengan proses saat di Lingkaran Studi Drama dahulu. Pandangan teater yang berkembang pada diri Rendra memunculkan semacam kesadaran baru bahwa teater harus dipelajari secara lebih suntuk. Teater harus dipelajari secara lebih manual dan sistematik, terutama persiapan untuk calon aktor.

Sunarti mengingatkan bahwa Ia tidak bisa menerima rumah mereka menjadi padepokan lagi. Meski pun akan adaworkshop dan kelas setiap malam, setelah selesai semua anggota harus pulang ke rumah masing-masing, kecuali jika ada yang terpaksa harus menginap. Pendeknya tidak ada anggota yang tinggal menetap. Sunarti juga meminta agar setiap kali Rendra ada penghasilan, yang boleh digunakan untuk keperluan grup hanya 25% saja. Maka, pada bulan oktober 1967, Rendra mendirikan Bengkel Teater.

Berbeda dengan Lingkaran Studi Drama, bukan naskah yang pertama digarap, tetapi manusia-manusia yang namanya calon aktor. Bahkan mereka belum tahu akan memainkan lakon apa, karena yang penting adalah membangun mental readiness, atau kesigapan mental, kelenturan tubuh dan ketangkasan anggota tubuh. Indera yang terdiri dari penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, dan perabaan, diaktualisasikan kerjanya, agar tidak berkarat dan harus dibersihkan. Kelima indra itu dilatih untuk bekerja sama. Mereka melakukan latihan-latihan improvisasi, yaitu latihan untuk mengasah kecekatan daya imajinasi dalam mencipta.

Menurut Bakdi Soemanto; akibat budaya indoktrinasi di jaman Soekarno, generasi saat itu (1967-pen) kurang kesegaran ekspresi diri, mereka berlepotan dengan klise. Dan juga kurang pengetahuan umum karena kurang membaca. Paling tidak kurang bacaan yang baik, khususnya di bidang humaniora. Rendra pun mengecek yang dimaksud Bakdi Soemanto tersebut, dan memang mendapatkan keadaannya demikian.

Bengkel Teater melakukan workshop setiap malam. Setiap selesai workshop, Rendra mengadakan review dan diskusi bersama. Dalam setiap diskusi, Bakdi Soemanto dan Rendra selalu memasukkan hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan umum. Terkadang, setelah membahas hal artistik, dengan sengaja diskusi dibelokkan pada soal-soal antropologis atau sosiologi, sambil berhati-hati agar tidak terasa berat, abstrak dan melelahkan, dengan selalu bertolak dari persoalan-persoalan di masyarakat saat itu. Semua anggota Bengkel Teater melahap acara-acara itu seperti orang lapar dan dahaga. Dan untuk membebaskan dari klise-klise budaya indoktrinasi, workshop menekankan pada latihan improvisasi. Improvisasi gerak indah dengan musik, dengan suara air, suara hujan, suara jangkrik, rekaman percakapan di pasar, rekaman suara lalu-lintas, atau dalam hening. Juga improvisasi dengan lawan main, sendirian, atau dengan banyak orang, dengan properti, dengan plot, dan dengan watak. Dalam improvisasi, pemain menjadi pengarang sekaligus sutradara adegan itu, sebagai tantangan yang menyebabkan munculnya kemungkinan-kemungkinan baru yang terkandung dalam dirinya. Hal itu akan menjadi permulaan dari perjalanan untuk menemukan diri sendiri.

Improvisasi yang dirasakan efektif adalah gerak indah. Pemain dilarang memakai idiom-idiom tari-menari yang ada. Ia harus mengikuti naluri dari sel-sel tubuhnya untuk bergerak dalam format yang sadar bentuk, sadar ruang, sadar melodi, sadar irama, sadar dinamik dan sadar tempo. Segala hasrat untuk merancang gerak harus disingkirkan, tanpa topangan apa-apa kecuali diri sendiri itu. Pemain akan sampai kepada penghayatan mengalami diri sendiri.

Rendra menuliskan bahwa latihan improvisasi tersebut bersifat moderasi atas tradisi meditasi dengan gerak. Hal itu pernah dilakukan Rendra di tepi kali, saat masih sekolah kanak-kanak yang diajarkan Mas Janadi, guru kejawennya dari keluarga ibu Rendra. Latihan dengan gerak semacam itu, dalam Kejawen diberi nama Betoro Siwo Tiwikromo, yang mungkin berupa saduran dari judul yang berasal dari India yang berarti Tarian Siwa Nataraja. Konon, dikalangan para sesepuh kebatinan jawa, metode meditasi semacam itu adalah memasukkan diri ke alam “ning”, nangangakanmulut, menelan alam semesta, tempatkan dipusar, lalu suruh ia menari. Ikuti naluri tarian semesta raya diperut itu. Mas Janadi mengajarkannya menjadi: “Berdamailah dengan alam dan dengan dirimu sendiri. Hilangkan semua ingatan dari kebudayaan dan ikuti naluri menari.”

Latihan dasar Bengkel Teater lainnya yang diambil dari tradisi meditasi Kejawen, yang namanya Nggrayang Rogo, danNggrayang Donyo, diterjemahkan Rendra menjadi Meraba Raga dan Meraba Dunia. Pemain duduk rileks, tulang punggung lurus dengan seluruh tubuh luar dan dalam (jeroan, kepala, dada, perut, semua otot) disuruh diam oleh pikiran, lalu mata dipejamkan. Menutup mata adalah langkah pertama untuk menanggalkan kebudayaan dan masuk ke dalam alam. Sesudah itu pemain meraba seluruh raganya, luar dan dalam dengan pikirannya.

Peran mata sangat penting dalam kebudayaan manusia. Aesthetica manusia dalam membudayakan ruang itu terutama berdasarkan orientasi indra mata. Begitu pula pergaulan dengan lain manusia, mahluk lain dan alam raya banyak dipengaruhi oleh unsur penglihatannya. Adapun metode latihan metode Meraba Dunia adalah duduk tegak, seluruh tubuh rileks, mata dipejamkan, lalu pikiran meraba dunia kebudayaan dan dunia alam. Hal ini penting untuk melatih kekuatan daya pembayangan dan sangat berguna untuk menghidupkan peran dan lingkungan adegan yang sedang dimainkan.

Derek Bowskill (1973) mendefinisikan improvisasi adalah to compose and recite, or perform, without preparation; to bring about on a sudden, yang memiliki kesejajaran dengan penerapan yang dilakukan Bengkel Teater. Workshop, workshop, workshop yang diterapkan di Lingkaran Studi Drama menjadi workshop, review, workshop, dan perlunya pengetahuan umum, yang diterapkan di Bengkel Teater. Latihan mengaktualisasikan panca indra juga ditemukan dalam buku Acting and Stagecraft Made Easy, Derek Bowskill. Yang membedakan adalah proses latihannya, dimana Rendra telah menggunakan unsur-unsur Kejawen. Bowskill tidak menawarkan hal menyangkut soal pertanggungjawaban moral, sikap dan pandangan hidup. Latihan akting di Bengkel Teater, sedikit banyak membangun watak keksatriaan dalam arti yang seluas-luasnya.

Generasi pertama Bengkel Teater antara lain adalah Azwar AN, Moorti Purnomo, Bakdi Soemanto, Sunarti, Chairil Umam, Amak Baldjun, Titik Broto, Sardono W. Kusumo, Putu Wijaya, Wied Senjayani, Wahyu Ekawati, Entik Kamdani, Syahroni, Untung Seno Broto, Supono Pr, Syubah Asa, Etty Asa dan Robinson Simanjuntak.

Demikianlah Bengkel Teater pada awal memulai proses, yang menciptakan antologi yang tak berjudul, yang merupakan ungkapan-ungkapan non verbal, seperti suara, bunyi, nyanyi dan gerak-tari. Goenawan Mohamad menyebutnya sebagai Teater Minikata. Namun, Rendra menyatakan bahwa Ia tidak pernah kehilangan harapan pada kata. Kata hanya bisa dimurnikan dengan memurnikan kalbu orang yang menggunakannya. Kata yang muncul dari kemurnian kalbu akan punya daya kharisma sehingga bisa meruang dan mewaktu, di alam kesadaran orang lain, lepas dari kamus, lepas dari sejarah, lepas dari daya korupsi manusia. Di dalam kesenian kata-kata, suara dan gerak bukan cerminan dari maksud artistik sang seniman, tetapi pancaran dari pengalaman kalbunya. Teater Minikata telah mengubah gaya pentas realisme yang mendominasi kehidupan teater Indonesia sejak awal kemerdekaan. Daya pukaunya yang kuat menjadikan teater kontemporer bukan lagi seni modern yang terlalu terpencil, saat itu.

Rendra mengakui bahwa Teater Minikata yang banyak dibicarakan orang adalah Bip-Bop dan Rambate-Rate-Rata. Seandainya, Rendra tidak melihat pertunjukan tari kecak di Bali pada September 1967, barangkali Ia tidak hanya sekedar punya pengertian atau penyadaran saja akan adanya bahasa non-verbal dalam kehidupan sehari-hari, atau paling jauh akan menjadi pengertian dan maksud-maksud artistik semata-mata. Tapi, Tari kecak tersebut yang mampu mendorong pengertian artistik itu menjadi pengalaman kalbu bagi Rendra. (Deds-Bersambung)

Diolah dari sumber-sumber:

1. TEATER INDONESIA, Konsep, Sejarah, Problema, Tommy F Awuy, Dewan Kesenian Jakarta, Cetakan 1, 1999, Pengalaman Mengejar Tujuan Yang Belum Tercapai, Rendra.

2. Seri Figur Seni Pertunjukan Indonesia 1, TIGA JEJAK SENI PERTUNJUKAN INDONESIA; Rendra, Sardono W. Kusumo, Slamet Abdul Syukur, Penyunting Tommy F Awuy, Hadir dan Mengalir, Bakdi Soemanto.

3. Menonton Bengkel Teater Rendra, Edy Haryono, Burung Merak Press, 2013.

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di asik BELAJAR TEATER, Dokumentasi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s