BTJ: Mangkuk Bakkhus Blah Blah Blah… Ritual Dyonisos, Meninggalkan Panggung Untuk Pembebasan. (Bagian 1)

http://teaterdankota.org/peristiwa/btj-mangkuk-bakkhus-blah-blah-blah-ritual-dyonisos-meninggalkan-panggung-untuk-pembebasan-bagian-1/

Stager kayu setinggi 4 m dengan bagian atas mengecil ukuran 4 sisinya, berdiri di kanan-tengah panggung prosceniumGedung Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta (IKJ), lampu neon 40 watt dipasang horisontal ditengah jenjang tanggastager itu pada 20/9/2015. Koper teronggok dikiri depan bagian apron, memberi semacam tanda bahwa ada yang akan berangkat.

Hal di panggung seperti itu menyarankan semacam menulis ruang dengan benda-benda sebagai tanda, tanpa seorang pun di situ. Pertunjukan menyampaikan bahwa ada yang akan berangkat meninggalkan panggung proscenium itu, standaritas ‘konservatif’ teater modern Indonesia pada umumnya, dan lampu neon, sebagai tanda populis budaya urban kota.

Sementara di pelataran depan panggung proscenium menempati posisi arena, berserak-bertumpukan ratusan lebih sendok-garpu – yang lebih dekat dibaca sebagai ‘genangan’ – sehubungan dengan 2 orang berjas hujan berwarna hijau dan kuning, mondar-mandir menjejaki genangan itu. Mereka memindahkan buah anggur, strawberry, tomat yang berserak di belakang – dekat dengan bibir panggung proscenium. Buah-buah itu dipungut satu-persatu, dan dimasukkan ke dalam mangkuk, yang diletakkan di kiri-depan dari hadapan penonton depan. Sementara seorang lainnya dengan mengenakan jas hujan berwarna merah berdiri diam semacam menunggu, menghadap ke sepiring penuh gula pasir yang tampak membentuk miniatur bukit. Ia berdiri dengan satu kaki di depan seolah akan memulai berlari. Mata mereka adalah mesin tablet yang diikat ke kepala bagian belakang: semacam menyampaikan pikiran mereka ditentukan oleh penglihatan mereka.

Berapa buah yang terinjak kaki bersepatu? Sementara mereka mengumpulkan buah-buah itu. Gerincing sendok garpu diinjak memberi efek tajam dipendengaran; kilat cahaya yang terpantul dari sendok-garpu yang terinjak berkelebat menusuk mata; bagaimana jika mereka menginjaknya dengan kaki telanjang? Tapi tidak, mereka mengenakan sepatu, menghindar dari persembahan kaki berdarah.

Materi benda sendok-garpu mengingatkan pada karya pentas Bandar Teater Jakarta (BTJ) sebelumnya, yaitu Dramatic Reading “Hamlet Mesin”- Heiner Müller di Festival Teater Jakarta (FTJ) tahun 2012; dimana sendok-garpu melayang turun-jatuh bagai hujan on screen dilayar backdrop, dibelakang 4 orang Hitler yang hamil tua, duduk menghadapi penontonnya.

Pada mondar-mandir ke sekian, langkah 2 pemungut buah dipotong lintasan langkah orang yang tadi menunggu, dengan tempo lebih cepat. Semacam bergerak untuk mengganggu ritme langkah yang telah tercipta. Lalu, kembali Ia diam, menoleh ke dalam, ke tengah arena dan 2 pemungut buah yang tetap mondar-mandir. Ia seperti menunggu saatnya kembali membuat lintasan membelah-mengganggu irama, dan itu dilakukannya beberapa kali, hingga saat Ia meneriakkan suara, seperti “heak”, seperti suara suatu binatang. Ia teriakkan lagi seperti “mohon perhatian”. “Mangkuk Bakhus. Tempat semua kaisar mati. Dengan darah dan sperma,” ucapnya. Lalu menjatuh dirinya menelungkup. Sementara 2 orang pemungut buah telah duduk menghadap ke mangkuk buahnya masing-masing. Mereka mengatakan: “Saya ingat orang bilang; kemarin ya kemarin, besok ya besok. Sebelum hari ini berakhir. Mari makan mama.” Setiap orang mengucapkannya berulang sebanyak 3 kali tanpa bersamaan. Lalu mereka memakan dengan lahap buah-buah dalam mangkuk. Seorang yang telungkup kembali teriak “heak” memotong ritme.

Mereka tidak saling melakukan konteks, hanya menyampaikan teksnya sendiri-sendiri. Menyangkut teks-teks yang digunakan, katalog pertunjukan telah mengonfirmasinya dengan menuliskan bahwa Dramagraf Pertunjukan adalah: Mesin Hamlet (Dramatic Reading, 2012), Arthefuck (pada kapak, genangan, belukaran, 2004), Woyzeck (2000), Batu Ulekan Di Atas Bedak (1997) dan The Opening. Balok Es, Pipa Besi, Boneka Sex & Panggung Miring (1995), yang merupakan karya-karya pertunjukan BTJ terdahulu. Benda lainnya seperti alat musik tabuh berukuran kecil, peleksepeda motor semacam menunggu antrian dilantai bagian sisi belakang arena yang dekat dengan bibir panggungproscenium.

Semacam Latar belakang gagasan dan konsep kreatifitas

Teks lain dikatalog menuliskan:

Apa yang terjadi? Semua teks itu tersusun dengan ajaib, bisa menyatu ke dalam pertunjukan ini. Teks-teks tersebut menantang untuk disajikan ke tengah pertunjukan, meskipun tidak memperlihatkan keterkaitan satu sama lain secara jelas atau definitif. Teks yang satu melahirkan teks yang lain karena terus diperbincangkan dalam pertemuan-pertemuan di antara para pelaku pertunjukan ini. Tetapi ada pula teks yang muncul secara spontan di ruang latihan untuk kemudian mengalami pemrosesan pada sesi latihan berikutnya. Tunggu dulu, pertunjukan masih dibumbui pula dengan teks memori pengalaman.

Sebentuk dunia teks itu berpotensi merangsang keasingan untuk melahirkan ketertegunan. Keasingan yang menggantung, antara bisa dikenali dan tidak, mirip tindakan membunuh dengan cinta. Narasi besar dan narasi kecil sejajar tumpang-tindih, bagian manakah yang lebih penting dari yang mana?

Gestur pemain mengalami minimalisasi. Aksi tubuh yang heroik serba dikurangi. Pembesaran vokal pemain direduksi, bahkan dihindari. Justru kerja aktor menjadi tidak otomatis mudah karena sebisa mungkin melawan rangsangan ke arah dramatisasi. Antara aktor yang satu dengan aktor yang lain tidak berhubungan secara linear. Meskipun mereka berada dalam satu area permainan, mereka memegang teks yang berlainan. In action bisa diinterupsi dengan lintasan pemain yang berjalan ke belakang.

Ada keterangan lain yang didapat dari seorang personil BTJ menuliskan:

YouTube bertemu dengan mitologi Yunani di sini. Pablo Neruda bersama Beatrice, senjata laras panjang istana Santiago. Masih ada nafas dari Priok, masuk lorong berair Panama. Itukah narasi yang berasal dari keluargamu? Perawan tua. Kutipan Adorno, bukan Pangeran Denmark. Odysseus, Bacchus berseberangan dengan Jamaica Kincaid. Seseorang berjualan kota. Binturong memanggil Duchamp setelah menjilati sepatu high heels.

Apa Bakhus?

Bakhus berarti merah, adalah nama lain Dyonisos, Dewa Anggur, juga Dewa Kesuburan, Grape Harvest, Ritual Madness, Keagamaan, Ecstasy, juga Teater dalam mitologi Yunani. Penggambaran awal pengultusan Dionysus menunjukkan bahwa Ia laki-laki dewasa, berjanggut dan berjubah. Dia memegang staf adas, berujung dengan pinus kerucut dan dikenal sebagai thirsos. Ada juga gambar yang menunjukkan Ia sebagai pemuda yang sensual, telanjang atau setengah telanjang, sehubungan dengan literatur yang menggambarkan Ia sebagai feminin atau “kewanita-wanitaan”.

Ia menunjukkan kemenangan, seolah-olah kembali dari beberapa tempat di luar batas-batas yang dikenal dan beradab. Prosesinya (thiasus) diikuti oleh kaum perempuan yang liar, atau binal (wanita gila-gilaan) dengan satyr berjanggut dan penis tegak. Beberapa dipersenjatai dengan thirsos dan beberapa tari atau bermain musik. Ia semacam diarak dengan sebuah kereta, biasanya dengan binatang eksotis seperti singa atau harimau. Prosesi ini dianggap menjadi model ritual pengultusan oleh para pengikut Dyonisos, sebagai Dionysian Misteri. Dalam misteri Thracian, ia memakai bassaris atau rubah-kulit, melambangkan kehidupan baru. Dionysus mewakili agama kota sebagai pelindung orang-orang yang tidak termasuk masyarakat konvensional, dengan perambangan segala sesuatu yang kacau, berbahaya dan tak terduga. Semua yang lolos dari akal manusia dan yang hanya dapat dikaitkan dengan aksi tak terduga dari para dewa. Thirsosnya kadang terluka dan ivy meneteskan madu. Ivy adalah tongkat kedermawan tetapi juga senjata, dan dapat digunakan untuk menghancurkan orang-orang yang menentang kultus dan ia mewakili kebebasan.

Ia juga disebut Eleutherios (“pembebas”), dengan anggur, musik dan tari gembira membebaskan pengikutnya dari ketakutan, dan merawatnya. Ia merongrong kekangan penindas yang kuat. Mereka yang mengambil bagian dari misterinya, akan dimiliki dan diberdayakan oleh dewa itu sendiri. Kultus-Nya juga merupakan “kultus jiwa”. Wanita gila-gilaan itu memberi makan orang mati melalui darah sebagai penawaran, dan ia bertindak sebagai komunikan illahi antara hidup dan ‘yang mati.’

Ada sumber yang menuliskan; konon ia lahir dua kali, putra Jupiter dari Semele, putri dari Thebes. Ketika ia menjadi hamil, dia diminta untuk melihat wajahnya. Saat ia menunjukkan dirinya di guntur dan kilat, dia tertangkap terbakar. kemudian, Jupiter merobek bayi dari rahimnya dan menempatkan dia di pahanya, di mana ia tetap sampai ia mencapai kematangan Ovid. Bacchus juga dipanggil “Putra Petir.” Alkohol, terutama anggur, memainkan peran penting dalam kebudayaan Yunani dengan Dionysus yang menjadi alasan penting untuk gaya hidup ini.

Ada sumber lain lagi yang menuliskan; bahwa Ia dilahirkan sebagai putra Zeus dan manusia “Semele”, sehingga bersifat semi-illahi dan heroik. Ia anak dari Zeus dan Persephone atau Demeter, sehingga keduanya sepenuhnya bersifat illahi, dan mungkin identik dengan Iacchus dari Eleusinian misteri. Beberapa sarjana percaya bahwa Dionysus adalah sinkretisme dari Yunani alam dan dewa lokal yang lebih kuat dari Thrace atau Frigia seperti Sabazios atau Zalmoxis.

Ada juga sumber lain yang menuliskan asal-Nya tidak pasti, dan kultusnya mengambil banyak bentuk. Dalam beberapa sekte menuliskan bahwa ia tiba dari timur, sebagai orang asing dari Asia. Ia adalah dewa pencerahan, “dewa yang datang” dan “asing”. Ia adalah tokoh populer yang utama dari mitologi Yunani dan semacam representasi agama. Dionysus adalah dewa terakhir yang diterima Mt. Olympus. Dia adalah anak bungsu dan satu-satunya yang dimiliki seorang ibu fana, yaitu manusia. Festival peringatan Dyonisos adalah kekuatan pendorong di belakang perkembangan teater Yunani. Ia juga contoh dari dewa kematian.

Sekilas Odissey

Odyssey adalah julukan yang digunakan untuk penggambaran Odiseus, sebuah nama yang memiliki beberapa varian, yaitu Olysseus, Oulixeus, Oulixes. Ia juga dikenal sebagai Ulysses dalam bahasa Latin atau Ulixes dalam mitologi Romawi. Salah satu disebut Odysseus, sesuatu lain disebut Ulixes atau Ulysses, yang digabungkan menjadi satu kepribadian yang kompleks. Ia adalah raja Yunani legendaris dari Ithaca dan pahlawan dalam puisi epik Homer, Odyssey. Odiseus juga memainkan peran kunci dalam Iliad Homer dan karya-karya lain dalam siklus epik yang sama.

Odysseus mungkin paling dikenal sebagai pahlawan eponymous dari Odyssey. Ia paling terkenal untuk sepuluh tahun kejadian Perang Troya, dan kembali ke rumah. Epik ini menjelaskan kerja keras, yang berlangsung selama 1 dekade, dan menegaskan kembali posisinya sebagai raja yang sah dari Ithaca.

Odysseus adalah suami dari Penelope, ayah dari Telemakus. Odysseus terkenal karena kehebatannya, tipu muslihat, dan fleksibilitas (polytropos), dan karenanya dikenal dengan julukan Odysseus yang Licik (Metis, atau “kecerdasan licik”).

Relatif sedikit yang diketahui tentang latar belakang Odysseus. Kakeknya dari pihak ayah adalah Arcesius, putra Cephalus dan cucu dari Aeolus, sementara kakek dari pihak ibu adalah pencuri Autolycus, putra Hermes dan Chione. Oleh karena itu, Odiseus adalah cicit dari dewa Olympian Hermes. Menurut Iliad dan Odyssey, ayahnya adalah Laertes dan ibunya Anticlea, meskipun ada tradisi non-Homer menuliskan bahwa Sisyphus adalah ayahnya yang sejati. Ada juga rumor bahwa Laertes membeli Odysseus.

Dalam Iliad Homer dan Odyssey, Odiseus digambarkan sebagai pahlawan budaya. Orang-orang Romawi yang percaya diri sebagai ahli waris Pangeran Aeneas dari Troy, menganggap Odyseus pemalsu jahat. Dalam Virgil Aeneid, ditulis antara 29 dan 19 SM, ia selalu disebut sebagai “Odysseus yang kejam” atau “Odysseus penipu”. Sementara orang-orang Yunani mengagumi kelicikan dan kemampuan tipuannya.

Odiseus adalah salah satu juara Yunani yang paling berpengaruh selama Perang Troya. Seiring dengan Nestor dan Idomeneus dia adalah salah satu konselor dan penasehat yang paling terpercaya. Kontribusi paling terkenal Odiseus untuk upaya perang Yunani adalah bahwa ia telah merancang muslihat Kuda Troya, yang memungkinkan tentara Yunani menyelinap ke bawahnya tanpa kelihatan. Kuda Troya dibangun oleh Epeius dan prajurit Yunani yang dipimpin oleh Odysseus.

Dalam perjalanan pulang dari Troy, setelah serangan di Ismaros di tanah Cicones, ia dan dua belas kapalnya terguncang badai dan terpaksa mendarat di Lotus-Eaters dan ditangkap oleh Cyclops Polyphemus. Saat Polyphemus sedang memakan buah, dan Odiseus mengambil barel anggur, Cyclops meminumnya dan jatuh tertidur. Odiseus dan anak buahnya membutakan Cyclops dengan sebatang kayu dan sisa anggur.

Secara tradisional, Odysseus dapat dilihat sebagai antitesis Achilles ini. Odysseus sering dipandang sebagai seorang yang berarti terkenal karena kemampuannya menahan diri dan trampil diplomasi. Dia lebih konvensional dipandang sebagai antitesis dari Telamonian Ajax (Shakespeare “sapi dungu” Ajax) yang hanya mengandalkan otot. Sementara Odiseus tidak hanya cerdik (yang dibuktikan dengan idenya untuk Kuda Troya), tetapi Ia fasih berbicara, keterampilan terbaik di kedutaan. Achilles dan Odysseus tidak hanya beda secara abstrak tetapi sering bertentangan dan selalu kontradiktif.

Saat mendarat di pulau Thrinacia, Odiseus mengabaikan peringatan dari Tiresias dan Circe, dan diburu ternak suci dewa matahari Helios. Helios mengatakan kepada Zeus tentang apa yang terjadi, dan memerintahkan agar Odiseus harus dihukum, atau Helios akan mengambil matahari dan bersinar dalam Dunia bawah air. Zeus memenuhi tuntutan Helios, yang menyebabkan kapal Odyseus karam saat badai. Tapi Odysseus hanya tenggelam. Ia terdampar di pulau Ogygia, di mana Calypso memaksanya untuk menjadi kekasihnya selama 7 tahun, sebelum akhirnya melarikan diri, dan Hermes meminta Calypso untuk melepaskan Odiseus. (bersambung-deds)

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di asik BELAJAR TEATER, Salam Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s