KEBUDAYAAN BEKASI TANPA KOPTASI

Kongkow Idea sebagai Pra FGD Teater Korek dalam merumuskan langkah-langkah yg akan dilaksanakan menuju FTP III sekaligus sebagai media “Membaca Bekasi, Membaca Teater” dg unsur undangan dr kalangan Pembina, Kreator, Guru, pemerhati Teater dan unsur Media Bekasi… Ayo!

kongkow-idea1

Kongkow Idea : Membaca Bekasi dalam Kerangka Kebudayaan di Laboratorium Teater Korek Unisma Bekasi. (16/01/2016) 

 

MATAINDONESIANEWS.COM, BEKASI – Sejumlah komponen masyarakat diantaranya, Komunitas seni budaya, perwakilan senat fakultas, Keluarga Mahasiswa (KM) BEM Mahasiswa Unisma bekasi, Perwakilan Pelajar, Guru, menghelat diskusi melalui Kongkow Idea dengan tema Membaca Bekasi Dalam Kerangka Kebudayaan. Sabtu 16/01 di Laboraturium Teater Korek Unisma Bekasi.

“Manusia tidak terlepas dari kebudayaan, hak lahir dan hak batin melekat pada setiap manusia. saat ini manusia berada pada hanya memiliki sebuah prinsip berbudaya hak lahir yakni sebatas memenuhi kebutuhan hidup, saat ini kita sedang menjalankan hak batin kita untuk berkumpul, berbicara, berinteraksi, saling memahami emosianal lebih erat untuk lebih aplikatif menyentuh sosial masyarakat”. Tutur Icong Perwakilan SEMA FISIP Unisma.

Kongkow idea ini diharapkan menghasilkan gagasan mengenai kebudayaan, tidak hanya sebagai ruang diskusi rutin yang dilakukan oleh komponen kampus guru dan pelajar, ,element Kebudayaan namun menjadi focus group diskusi yang mampu menggagas agenda budaya yang menyentuh masyarakat luas terutama kalangan pelajar di Bekasi.

“Wacana Kebudayaan dalam ruang khusus perteateran di Bekasi seharusnya tdak hanya dimiliki oleh pelaku atau penggiat kebudayaan itu sendiri, sudah saatnya masyarakat, pelajar pada khusunya merasakan geliat kebudayaan tersebut. Melalui Kongkow Idea saya harapkan menjadi Fokus Group Diskusi (FGD) yang menggagas agenda kebudayaan kedepan yang lebih massif.” Ujar Abol Wakwikwuk Ketua UKM Teater Korek

Masih dalam forum yang sama, Presiden Keluarga Mahasiswa Unisma 45 Bekasi mengatakan, Stimulasi pada ruang kampus dan komunitas, tidak menutup kemungkinan mampu memberikan inovasi daya tarik kepada audiens atau masyarakat yang lebih luas.

“Harus kita akui ruang kebudayaan di bekasi belum mampu mengakomodir kebudayaan dalam artian yang lebih murni, jernih dan bertendensi pada kebudayaan itu sendiri, tanpa koptasi dari pihak pihak yang mengambil keuntungan dari sisi lain kebudayaan” Tandas Didi Mulyawan. (Kie)

http://mataindonesianews.com/kebudayaan-bekasi-tanpa-koptasi/

 

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di Salam Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s