Korek (Si) Kebudayaan, Dramatika Bekasi

Oleh : Ekky Nopriyawan

Sebuah Catatan dalam halaman Jurnalisme Warga, Koran Radar Bekasi 22 Jan 2016

12565349_1001064823249461_1721499586736448677_nTarumanegara, pajajaran, sumedanglarang (mataram), Banten, VOC, patriotisme merebut kemerdekaan, kabupaten jatinegara, kabupaten Bekasi hingga saat inib menjadi Kota-Kabupaten Bekasi . Pada zaman tersebut, Bekasi berada didalamnya mulai pertengahan abad ke lima hingga saat ini dan mungkinkah bertahan dalam waktu yang akan datang? Di sana sang waktu menepaki bumi  membuat jejak Dramatika Ke-Bekasi-an.

Peristiwa masa silam tidak mungkin berulang lagi  dengan waktu dan pelaku yang sama, namun bisa hal serupa terjadi dengan tampilan kekinian atau dimasa depan dengan pola dan subjek yang berbeda. Mungkin inilah pentingnya saat kita mempelajari sejarah, masa lampau memberikan manfaat hikmah pada masa kini atau hari esok.

Kisah kejadian lama yang di transformasikan  melalui proses belajar dengar-bicara (tutur lisan) dialog atau mempelajari  baca-tulis (buku)  kajian berfungsi sebagai saluran untuk memelihara dan menurunkan buah pikiran dari  tradisi yang merupakan cermin alam pikiran, pandangan hidup serta ekspresi rasa keindahan masyarakat pemiliknya.

Pada umumnya kisah atau cerita masa lalu diperoleh dari penutur cerita, berisikan gambaran tentang masyarakat pemiliknya, yang mengungkapkan hal-hal yang bersifat permukaan, tetapi juga sendi-sendi kehidupan yang lebih mendalam. Misalnya Bekasi mempunyai tokoh serupa Robin Hood. Namanya Entong Tolo, seorang pencuri yang menyerahkan hasil curian ke rakyat miskin. Banyak benih-benih pemikiran dari cerita tersebut.

Berdasarkan penafsiran subjektif, cerita Entong Tolo pastilah menuai  ragam tanggapan. Bahkan bisa jadi lakon Entong Tolo di era kekinian menjadi cerita koruptor yang merampok negara. Tanpa mengenyampingkan perumpamaan bahasa atau anologi  memakai istilah budaya korupsi-budaya maling, yang jelas jelas perilaku tersebut bukanlah perilaku budaya, karena  budaya di dalamnya terdapat nilai nilai.

Diluar dari pemahaman relativisme (penilaian  yang menghendaki tidak ada penilaian lagi) dan pemahaman absolutisme (penilaian berdasarkan faham, aliran, politik, moral,  atau ukuran tertentu yang bersifat dogmatis dan pandangan yang sempit), namun alangkah lebih bijaksana lebih mengarah pada penafsiran atau penilaian  dari berbagai sudut pandang yaitu dengan memberikan gambaran tentang nilai-nilai kebudayaan,  terkoreksi, baik pada masa kemunculannya maupun pada masa yang akan datang.

Dengan penafsiran  hakikat kebudayaan yang lebih hakiki, yakni dengan kesadaran tanggung jawab moral baik secara individu maupun kelompok mengangkat kemanusian sebagai pelaku budi dan daya itu sendiri. Hal tersebut  akan dipastikan menimbulkan pertimbangan  baru bagi masyarakat  saat ini untuk bangga dengan asal usul identitasnya,

Dramatika Bekasi yang di mulai dengan pembuktian sejarah pada pertengahan abad ke lima melalui Karajaan Tarumanegara hingga saat ini 2016, terdiri dari proses episode episode menuruti hukum hidup manusia, ada awal,  komplikasi (konflik) , bagian tengah (klimaks/krisis), puncak, dan akhir (resolusi).

Melihat Bekasi melalui geografis berupa rawa (lumbu, kalong dsb), muara (gembong, tawar, dsb) Teluk (pucung), Tegal (danas), dll merupakan tempat terciptanya  budaya dan terbina oleh suatu yang khas ke bekasian, sebagai buah dari pemikiran berupa seni-budaya (ujungan, lakon topeng, sastra lisan bahasa lokal, dan sebagainya) merupakan hamparan kebudayaan yang lebih luas yang membaurkan berbagai macam tradisi, oleh karena itu produk kebudayaan ini menjadi unsur budaya Bekasi, milik masyarakat Bekasi, dan di pihak lain merupakaan bagian dan kebanggaan Indonesia bahkan Dunia.

Kendati dalam perkembangannya begitu lamban dalam perjalanan, nyataannya budaya daerah merambah dan saling bersentuhan dengan budaya lain seiring perubahan lingkungan (secara fisik dan mental), penyebaran penduduk yang begitu pesat dan kerap bersinggungan dengan budaya masa (modernitas zaman) yang hanya sesaat.

Modernitas zaman, disinilah  letak komplikasi, kemungkinan  klimaks atau krisis  bisa terjadi. klimaks dalam artian mampu menjadi titik tertinggi sebuah peradaban pada segi kemanusian yang membawa keseimbangan secara aplikatif atau sebaliknya menjadikan sebuah krisis kemanusiaan-kebudayaan.

seperti halnya yang banyak terjadi di bekasi, modernitas dan pesatnya pembangunan berupa arus modal tanpa di imbangi dengan regulasi yang berpihak pada lokalitas kebekasian. Semisal pembangunan yang begitu masif di Rawa Bugel. Secara geografis rawa rawa telah berubah menjadi bangunan mewah dan tempat perbelanjaan, telah banyak istilah istilah asing menggantikan nama lokalitas kebekasian. Di atas tanah leluhurnya, rawa bugel tidak menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Begitu hebatkah kekuatan kapital menggerus peradaban yang telah berlangsung selama ratusan tahun, begitu kuatkah kekuatan modal  mampu meremukkan rasa percaya diri masyarakat Bekasi untuk bangga menggunakan istilah kebekasian  penamaan bangunan-bangunan berkelas, atau seberapa dahsyatnya kapitalis mampu membungkam aparatur pemerintah dan para pembuat kebijakan untuk pro terhadap khasanah lokal kebekasian. Lantas dimana aktivis lntelektual, akadamisi, pelaku seni budaya, dan lainnya?

Fenomena rawa bugel bukanlah akhir dari salah satu dramatika kebekasian, sebab dalam konsep dramatik di bagian akhir selalu ada resolusi.  Yang patut diwaspadai adalah peristiwa semacam itu tidak terjadi di rawa, muara, teluk, tegal yang  menjadi wilayah tempat dimana Bekasi berasal.

Korek si kebudayaan, proses mengorek yang memiliki kata dasar korek dalam kamus besar bahasa indonesia berarti cungkil, dan mengorek artinya mengeluarkan sesuatu dari lubang, agar lebih jelas untuk diperhatikan, yakni (si) kebudayaan yang bersifat dinamis, kebudayaan hidup dalam artian bisa saja musnah di hempas badai zaman. Mengorek, dengan mempelajari  sistem nilai berupa konsepsi hidup dalam alam pikiran masyarakat yang amat bernilai dalam kerangka  kebudayaan dengan sikap rasa ikut memiliki sesuatu yang sebenarya memang milik bersama.

Dari perjalanan itu, harus ada sesuatu tentang apa yang ingin dicapai bukan hanya untuk saat ini, melainkan sepuluh bahkan ratusan tahun kedepan. Karena kalau hanya untuk mengejar surplus pertumbuhan ekonomi hingga mengenyampingkan manusia dan lingkungannya. Visi kebudayaan harus mampuni, dan mempunyai spirit perjuangan yang matang. Visi kebudayaan mesti tertanam semenjak dini, pada para pelajarnyakni manusia yang pada dasarnya adalah makhluk pelajar, makhluk yang senantiasa belajar tanpa batasan usia.

Diskusi terfokus, Fokus Gruop Diskusi (FGD) mengenai kebudayaan mutlak menjadi titik cerah untuk melihat kebudayaan secara jernih tanpa bias bias dan penyamaran hantu politik. Secara khusus mengorek untuk  menemukan, membuat, merancang ulang pengalaman masa silam dengan gagasan baru hingga berwujud sesuatu yang lebih baru. Meletakkan kembali kebudayaan sebagai pondasi awal tatanan.

Saya sepakat dengan istilah bahwasannya kebudayaan adalah ibu tempat kita lahir dan kembali pulang, yang menghubungkan antara masa lalu dan masa depan. Tak sepatutnya isu atau wacana kebudayaan di manfaatkan oleh segelintir elit elit politik guna memikat hati masyarakat guna raihan suara. Isu wacana kebudayaan bagaikan idiom pribahasa “bagai katak di musim penghujan”, muncul ke permukaan hanya pada saat moment moment besar. Seperti pemilihan kepala daerah atau pemilihan anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD). Setelah pertarungan politik selesai, si pemenang atau pejabat yang terpilih tak ubahnya sepert malin kundang yang durhaka terhadap ibunya, yaitu kebudayaan yang terdapat masyarakat didalamnya.

Tentang Tan eL Hak

Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah dan tengah. semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit.
Pos ini dipublikasikan di Salam Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s