RADIKALISASI KEBUDAYAAN

Bekasi yang miris, curiga dengan diri sendiri bahwasannya Bekasi atau bukan?

Saya adalah orang Bekasi, dengan sikap yang Kontroversial, sangat merasakan di Bekasi banyak polemik, dilema hubungan sebagai pribadi atau organisasi, namun yang harus ditekankan secara pribadi Kebudayaan akan menjadi isu yang krodit jika mengatas namakan secara organisasi maupun individu. Ketika kita bercerita budi dan daya, kita sudah harus terlepas dari persoalan organisasi, esensi individu ketika konteksnya secara “Budi”.

Okelah kita berorganisasi, okelah kita berkelompok, karena ini bagian dari strategi untuk menemukan rumusan di dalam forum yang tidak sama. Maka rumusan yang di hasilkan adalah rumusan sebagai personal dan komunitas atau lebih tepat disebut organizer.

Memang secara epitomologi kebudayaan adalah kata sifat, tapi kalau mensifati, tarikan sifatnya secara epitomologis Budi dan Daya diluar kebudayaan itu menjadi Tanya yang cukup besar, memang bisa saja sah sebagai kebudayaan, tapi sangat canggung ketika didalamnya membahas hakikat tentang kemanusiaan dan sosial.

Dua Kisah nyata berikut mungkin menjadi prototype yang dahsyat, yang pertama, saya menyaksikan Anak Punk berusia belasan tahun, datang melalui gorong-gorong jalur air menghadiri acara pagelaran festival dengan perjuangan yang saya anggap cukup beresiko. Melewati gorong gorong untuk menghindari “membayar tiket”. saya cukup tersihir dengan perjangan mereka melalui gorong gorong bawah tol dan gorong gorong jalur air kalimalang untuk masuk ke unisma area pementasan itu berlangsung, hanya sebagai penonton belum sebagai pelaku.

Ini merupakan peristiwa kebudayaan yang cukup membuat saya gemetar, sebuah energy yang cukup kuat dibanding kita yang berpengetahuan. Kita mungkin punya rumusan rumusan tentang negosiasi penjualan tiket atau kita akan melakukan mobilisasi masa untuk melakukan pendobrakan ke pintu masuk.Mereka bekerja untuk kebudayaan versi mereka.. Disi lain mereka yang berpengetahuan karena angka tersebut kita mengurungkan diri untuk tidak menyambangi event tersebut.

Kisah kedua, saat ini saya sedang mengajar teater di daerah Sukatani Kabupaten Bekasi yang Kepala Sekolahnya berkesenian teater bersama saya semenjak beliau SMP, Beliau mempunya visi seandainya saya menjadi Kepala Sekolah Beliau akan memberikanperhatian khusus mengenai kebudayaan dalam hal ini kesenian teater, karena selama berkesenian dia tidak pernah didukung oleh sekolah atau lembaga yang menaunginya. Beliau adalah Faturrohman atau yang biasa disapa Deni Baret Kepala sekolah BINA ILMU MANDIRI. Disana Saya mengalami kejutan kejutan,diantaranya saya bisa latihan dari jam dua siang sampai jam Sembilan malam, dispensasi waktu bagi siswa untuk mengikuti proses teater, dikampung ujung berung, Sukatani.

Ini membuat saya bertanya kembali pada diri sendiri, tentang kesenian saya?. Tentang kebudayaan yang saya jalani diluar permasalahan normatif etika yang dibuat Negara untuk gerakan kebudayaan yang dilakukan. Membuat saya juga bertanya Tanya pada dinas dinas yang mendapat tugas dari Negara, apakah telah sampai pada misi kebudayaan yang di usung.

Dalam konteks dramatika kehidupan, punya cita cita dan tujuan, Kebudayaan didalamnya teater adalah pelajar, kita semua adalah seorang pelajar yang terus belajar. Teater adalah kehidupan, sementara kehidupan belum musnah maka pelajar kebudayaan belum stop selesai. Beranikah kita menawarkan event kebudayaan yang membebaskan diri dari penjara-penjara penjara, Ketika kondisi bekasi sampai pada rumusan estetika, Berani kah kita menawarkan konsep ke Bekasi-an yang lebih radikal tentangkebudayaan, tidak tergoda pada legitimasi legitimasi kebudayaan versi ilmu pengetahuan yang dirumuskan Negara.

(Dediesputra Siregar)

http://mataindonesianews.com/radikalisasi-kebudayaan/

Pos ini dipublikasikan di Salam Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s