hikayat KADIROEN

24/09/2011

Hikayat Kadiroen Oleh Semaoen (1920)

HIKAYAT KADIROEN

Kata Pengantar Pengarang

Di waktoe jang bertanda tangan dibawah ini dalam tahoen 1919 masoek pendjara karena presdelict, maka dalam 4 boelan di boei itu saja soedah mengarang tjerita dalam boekoe ini.

Dalam tahoen 1920 saja robah sedikit saperloenja, jaitoe sesoedahnja tjerita ini masoek sebagai fuilleton dalam Sinar Hindia.

Pada Soedara Ngadino jang membantoe saja dalam hal memperbaiki kalimatja maka dengan ini saja mengatoerkan terima kasih!

Moega-moegalah tjerita yang saja toelis dengan aer mata kesengsara-an dalam pendjara itoe bisa djadi senangnja orang banjak, jaitoe semoea pembatja dan rajat. Semaoen

BAB I

Mantri Polisi yang Bijaksana

“Opas, Asisten Wedono ada?”

“Ada Kanjeng Tuan!”

“Saya mau bicara dengannya.”

“Saya Kanjeng, hamba akan segera mengatakannya!”

Begitulah tanya jawab antara Tuan Zoetsuiker, administratur pabrik gula Semongan, pagi tanggal 6 Februari 19…, di muka pendopo rumah Tuan Asisten Wedono dari Onderdistrik Semongan juga.

Yang disebut sebagai Opas di sini adalah seorang tua yang bernama Pigi. Ia sudah 33 tahun bekerja menjadi Opas Asisten Wedono Semongan juga. la sudah biasa menda­pat pelajaran bagaimana menghormati semua tamu-ta­mu Belanda. Apalagi jika tamunya itu adalah seorang Tuan Administratur. Tamu orang besar seperti itu pasti akan dia sebut kanjeng. Demikian pula apa yang diperin­tahkan oleh para tamu-tamu besar semacam itu pasti segera dilaksanakan dengan secepat-cepatnya. Oleh kare­na itu, tidak mengherankan jika jika Opas Pigi segera berlari seperti dikejar harimau, menghadap Tuan Asisten Wedono yang sedang makan pagi di ruang makan rumah belakang. Ketika Tuan Asisten Wedono mengetahui ada tamu Tuan Administratur, ia segera berhenti makan. Ia mengambil baju jas dan dengan tergopoh-gopoh seperti orang yang hendak naik kereta api yang siap berangkat, berlari ke pendopo untuk menemui tamu besar Tuan Administratur tersebut.

“Tabik, Asisten! Saya kasih tahu sama Asisten, tadi malam ada pencuri ambil satu ayam yang nyonya beli di Surabaya. Harganya dulu f.2,50. Jadi seekor ayam bagus itu. Saya mau supaya Asisten cari pencuri dan ayamnya. Besok lusa saya ingin tahu kabarnya.”

“Saya Kanjeng, sebentar lagi saya akan datang ke rumah Kanjeng untuk mengurusnya sendiri.”

“Baik, Asisten. Jadi Asisten mau pigi…”

“Kanjeng…!” Terdengar suara keras Opas Pigi dari luar. Ia segera berlari dan duduk bersila seperti katak menghadap Tuan Administratur. Tuan administratur menjadi sangat terkejut dan marah besar, karena ia tidak merasa memanggil opas. Tetapi kini datang seorang opas. Ia mengangkat kakinya, dan sambil sepatunya terarah ke muka opas ia berteriak:

“Pigi!”

“Hamba Kanjeng!”

Opas Pigi tetap duduk sambil menyembah-nyembah mendapat usiran Tuan Administratur. Sudah barang ten­tu, Tuan Administratur bertambah marah dan berkata pa­da tuan Asisten Wedono

“Asisten, ini opas gila. Apa sebab tidak lekas dipe­cat?”

Pada saat itu Tuan Asisten baru menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam hal ini terdapat salah pengertian karena opas itu namanya Opas Pigi. Jadi, sewaktu Tuan Administratur berkata “pigi”, maka Opas Pi­gi mengira ia dipanggil.

Tuan Administratur mengerti hal itu ia tertawa terbahak-bahak dan Tuan Asisten Wedono pun berani ikut tertawa. Sedang Opas Pigi keluar dengan wajah menanggung malu.

Baru saja Tuan Administratur pulang, datang Lurah Desa Wonokoyo, membawa seorang desa, yang dari pa­kaian yang dikenakannya kelihatan amat miskin. Ada­pun nama orang desa itu adalah Soeket. Ia diantar oleh lurahnya menghadap Tuan Asisten Wedono untuk mengadukan bahwa baru saja ia kecurian. Untuk orang desa macam Soeket, tentu berbeda aturannya dengan Tuan Administratur pabrik gula meskipun keduanya sama-sa­ma melaporkan sedang kecurian. Seorang Administratur pabrik gula, berpangkat besar, kaya dan semua orang me­ngenal dan mempercayainya. Lain halnya dengan Soeket, ia orang kecil, tak dikenal orang banyak, apalagi oleh Asisten Wedono yang kekuasaannya hampir meliputi 10.000 orang kecil. Itulah sebabnya Tuan Administratur bisa datang sewaktu-waktu dan melaporkan perkaranya begitu saja, tidak usah memakai saksi seorang lurah pada Asisten Wedono. Tetapi bagi orang seperti Soeket, untuk melaporkan perkaranya, ia harus disertai lu­rahnva sebagai saksi bahwa apa yang menimpanya memang-benar-benar terjadi.

Untuk orang besar, semua urusan menjadi gampang. Tetapi untuk orang kecil, susahnya bukan main.

Tuan Asisten Wedono yang baru saja bertemu dengan Tuan Administratur bertanya pada Lurah, apa sesungguhnya keperluannya.

“O, Tuanku, ini orang dari desa saya. Ia seorang petani yang hanya memiliki seekor kerbau. Tetapi tiba-tiba kerbau itu tadi malam dicuri orang!”

“O, jadi kecurian! Baik, silahkan kalian menunggu dahulu sebab saya akan sarapan lebih dahulu. Selesai makan pagi saya akan segera pergi ke rumah Tuan Zoetsuiker yang juga sedang kecurian. Nanti siang, kalau saya sudah pulang, kau boleh melaporkan lagi. Sudah!”

Begitulah jawaban Tuan Asisten Wedono. la sangat tergopoh-gopoh dan sangat cepat ketika mengurus per­kara Tuan Administratur, tetapi ia memandang kecil ma­salah Soeket. Bahkan ia disuruh menunggu terlebih da­hulu. Perbuatan semacam ini memang tidak mengherankan sebab seorang Administratur kelas sosialnya sama dengan pembesar seperti asisten Wedono. Juga dengan pembesar-pembesar lain seperti Asisten Residen, Kontrolir, Regen, Patih dan sebagainya. Orang-orang besar semacam itu sangat mudah berhubungan dengan tuan-tuan besar di atas dan mudah saja mengadukan perbuatan-perbuatan amtenar-amtenar seperti Asisten Wedono kepa­da para pembesar-pembesar di atasan. Sebaliknya, seorang desa seperti Soeket, sangat susah untuk mengadu­kan kesalahan para pembesar. Sedangkan untuk bertemu dengan Asisten Wedono saja ia harus melapor bersama lurah lebih dahulu. Apalagi ketemu dengan Tuan Regen atau Tuan Kontrolir guna melaporkan kesalahan pejabat macam Asisten Wedono.

Aturan di desa memang sangat menyulitkan orang-orang kecil untuk bertemu dengan pembesar-pembesar negeri. Sehingga hampir-hampir orang desa sama sekali tidak bisa dan tidak suka mengadukan keberatan-keberatannya kepada kepala negeri. Itulah sebabnya mengapa seorang pejabat macam Asisten Wedono tersebut sangat cepat jika mengurus perkara yang menimpa tuan-tuan besar. Tetapi menomorduakan pengaduan orang desa atau orang kecil.

Tidak lama berselang, kita telah melihat antara Tuan Asisten Wedono, Nyonya Administratur dan seorang mantra polisi muda, berada di muka kombong di kebun be­lakang rumah Tuan Administratur Zoetsuiker.

Nyonya Administratur menjelaskan bahwa ia amat senang memelihara ayam yang bagus-bagus. Ia punya ayam sepuluh ekor. Tetapi pagi ini tinggal sembilan ekor. Jadi jelas, yang seekor pasti hilang dicuri maling. Karena nyonya tahu betul bahwa kemarin sore ayam itu masih genap sepuluh ekor di kandang. Tetapi pagi ini, ketika ia hendak melihat ayamnya, kandang ayam itu sudah terbuka. Pintunya rusak seperti dibongkar pencuri. Ketika Nyonya Administratur memperhatikan lebih lanjut, ia ta­hu bahwa ayam yang dibelinya dari Surabaya seharga f.2,50 yang berbulu biru, sudah tak ada sama sekali. Jadi ayam yang langka dan sangat bagus itu telah hilang. Ia tanya pada koki, babu, jongos, tukang kebun dan tukang kuda serta semua pegawai di rumah itu, semua tidak ta­hu. Melihat pintunya yang sedikit rusak – meski pintu kandang ayam itu memang sudah tua dan amat gampang dirusak – yang mestinya masih tertutup tapi kali ini sudah terbuka, maka ia berpikir pasti ayam itu dicuri orang. ­Apalagi Nyonya sering mendapat laporan dari babu-ba­bu dan koki bahwa tetangga kanan-kiri Administratur ju­ga sudah sering kecurian ayam.

Tuan Asisten Wedono memperhatikan betul cerita Kanjeng Nyonya dan ia percaya begitu saja. Ia melihat-lihat pintu kandang yang rusak. Ia membikin beberapa catatan semua hal yang ia ketahui dan ia dengarkan. Selain itu, ia berjanji kepada Kanjeng Nyonya bahwa Asisten Wedono sendiri yang siap mengurus dan menyelesaikan perkara ini.

Tetapi Mantri Polisi muda berpikiran lain. Ia mendu­ga ayam itu pasti dicuri dan dimakan oleh seekor garangan sebab pintu kandang ayam itu memang mudah dirusak. Selain itu, di pintu terdapat goresan-goresan seperti bekas cakaran kuku seekor garangan. Mantri Polisi tidak yakin bahwa yang mencuri ayam itu adalah manusia. Ka­rena jika yang mencuri manusia, pasti dia tidak hanya mengambil seekor saja. Tetapi ia pasti akan mencuri se­kuat ia mengangkat. Selain itu, memang sangat mustahil ada pencuri yang berani masuk ke kebun Tuan Zoetsuiker karena tuan besar mempunyai pegawai banyak sedang di muka rumah ada penjaganya. Begitupun, Tuan Zoet­suiker terkenal mempunyai senjata api yang selamanya jelas akan membikin takut pencuri. Mengingat lagi kete­rangan dari tetangga-tetangga kanan-kiri Kampung Nyo­nya sering kecurian ayam. Maka ia menduga, pasti sekitar perumahan ini terdapat sarang garangan. Tuan Mantri Polisi muda menjelaskan praduga-praduganya ini pada Nyonya Administratur dan Tuan Asisten Wedono. Tetapi Nyonya menjawab:

“Neen Mantri! Mesti ada pencuri sebab Nyonya Kon­trolir, saya punya sahabat, dulu juga pernah kecurian ayamnya dan pencurinya juga tertangkap. Tuan Asisten Wedono, dengar kata Nyonya Kontrolir saya punya sahabat, saya menjadi khawatir, jangan-jangan ini perkara nanti diurus oleh Tuan Kontrolir dan tentu akan gampang ma­rah pada Tuan Asisten Wedono jika perkara ini tidak selesai.”

Itulah sebabnya Asisten Wedono sekali lagi berjanji akan mengurus perkara ini sampai selesai. Ia juga men­jelaskan bahwa Mantri Polisi ini baru saja lulus sekolah. Jadi apa yang menjadi praduganya memang gampang ke­liru. Setelah berkata begitu ia permisi pulang untuk memikirkan masalah ini serta bagaimana cara menangkap pencurinya. Mantri Polisi diajak pulang. Tetapi Mantri Polisi merasa tidak enak, sebab ia tetap yakin pada du­gaannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan mencari bukti-bukti dan mengurus masalah ini sampai selesai.

Siapa sesungguhnya Mantri Polisi itu? Ia masih mu­da sekali, baru berumur 20 tahun. Dan baru saja keluar dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (O.S.V.I.A) di Probolinggo. Ia baru saja bekerja sebagai Schrijver Controleur selama tiga bulan. Namun sudah dipandang pantas untuk menjadi mantri polisi. Pada waktu pencurian ini terjadi, ia baru tiga hari ditugaskan jadi mantri polisi di Onderdistrik Semongan. Ia adalah pemuda yang amat bijaksana, meski ayahnya hanya seorang lurah. Dengan pertolongan Tuan Kontrolir yang membawahi lurah tersebut, maka anaknya bisa masuk sekolah O.S.V.I.A di Probolinggo. Tuan Kontrolir ter­sebut sudah mengambil si anak lurah tersebut sebagai anak emas sebab Tuan Kontrolir tahu bahwa anak itu me­mang cerdas dan bijaksana. Hal serupa ini memang amat jarang terjadi di tanah Jawa. Dari sekitar 10.000 orang, hanya ada satu. Kita harus tahu bahwa pada masa itu, sekolahan memang amat sedikit jumlahnya. Dan itu khusus untuk anak para priyayi. Sedang anak-anak orang kecil, sampai anak lurah sekalipun, hampir tidak mungkin dapat belajar sampai sempurna. Hanya karena watak, ke­pribadian dan keberanian lurah tersebut, ia berani mendekati Tuan Kontrolir dengan yakin walau tidak melu­pakan sopan santun yang berlaku. Maka Tuan Kontrolir

menjadi senang pada lurah itu. Apalagi, lurah itu memang terkenal sebagai yang terbijaksana di antara lurah-­lurah yang lain. Karena hubungan itulah maka anak lurah itu bisa diambil sebagai anak emas Tuan Kontrolir. Anak emas itu bernama Kadiroen. Di sekolah ternyata ia terpandai, suka belajar, rajin menuntut ilmu. Dan watak­nya teguh kuat serta pemberani. Ia tidak akan berhenti berikhtiar selama apa yang diinginkan tercapai. Ia berjiwa merdeka dan pemberani sehingga tidak mudah bagi pe­muda sebayanya untuk mengalahkannya dalam segala hal termasuk dalam kecerdasan, beradu kekuatan fisik dan lain-lain. Oleh sebab itu, di sekolah ia dianggap sebagai bintang kelas. Ia dicintai oleh guru-gurunya dan dihormati oleh sesama murid.

Kadiroen memiliki perawakan yang sedang, tidak besar tidak juga kecil, tetapi di dalam tubuhnya tampak ter­simpan kekuatan yang besar. Wajahnya ganteng. Kulit­nya hitam bersemu merah halus. Matanya terbuka lebar, serta bersinar tajam jika memandang. Hal itu menanda­kan bahwa pemiliknya mempunyai kepribadian yang kuat, berwatak kesatria dan tidak suka berbuat dosa. Se­lain itu, ia pemberani, setia dan mudah dipercaya. Ia hor­mat dan tidak suka menghina pada sesama, tidak suka menyakiti hati nurani lain. Sehingga semua orang senang melihatnya.

Kadiroen memang ditakdirkan Tuhan memiliki ke­baikan dalam segala hal, melebihi dari yang lain-lain se­samanya. Dan ia memang sangat suka berbuat kebaikan. Meski ayahnya hanya orang kecil atau orang biasa, tetapi ibunya masih memiliki gelar Raden Ayu. Karena ibunya tahu betul watak, kecerdasan dan kepribadian ayah Ka­diroen, ia merasa senang meski hanya kawin dengan se­orang lurah. Apalagi ia memang sudah tidak punya sa­nak famili lagi. Dan tampaknya semua sifat dan tabiat dari kedua orangtuanya itu, telah melekat, menurun pada diri Kadiroen. Karena ia memang sangat suka berbuat ke­baikan, maka ia melebihi sesama pemuda sebayanya.

Berkebalikan dengan watak mantri Polisi Kadiroen, yakni atasannya atau Asisten Wedono Semongan; Ia adalah anak seorang regen yang bergelar Raden Panji Tumenggung. Dan anak yang jadi Asisten Wedono itu bergelar Raden Panji juga. Ia sudah berumur 35 tahun. Meski sudah bekerja selama 12 tahun di Binnenlandsch-Bestuur, tetapi masih saja berpangkat asisten Wedono. Sejak ia di sekolah, ia tergolong amat bodoh dan kocak. Tabiatnya sangat berani luar biasa, kalau menghadapi orang kecil dan yang ada di bawahnya. Jadi wajar jika ia suka berbuat sewenang-wenang. Tetapi jika ia menghadapi para pem­besar yang ada di atasnya, atau lebih kuat dibanding di­rinya, dia menjadi amat penakut dan sangat bersikap hor­mat. Bahkan saking hormatnya, martabat dirinya sendiri sering direndahkan seperti seekor anjing. Wajar jika ia punya watak penjilat. Memang sudah lumrah jika watak penjilat biasanya disertai dengan watak sewenang-wenang. Meski tamatan O.S.V.I.A. di Probolinggo, tetapi di sana ia hanya memamerkan kebodohannya, amat tidak suka belajar, tidak disenangi guru dan sesama murid yang lain. Hanya karena ia anak seorang regen karena ayahnya yang berpangkat tinggilah, menggunakan pengaruhnya, ia bisa menjadi asisten wedono tersebut, ia diangkat menjadi asisten tersebut, ia bergelar Raden Panji Kuntjoro Noto-Prodjo-Ningrat, sebuah gelar yang amat panjang dan mentereng.

Begitulah dua orang yang satu dengan yang lainnya saling bertolak belakang, seperti siang dan malam, meski mereka sama-sama bekerja dalam satu instansi. Yang baik hanya menjadi mantri polisi yang diperintah, sedang yang busuk justru menjadi asisten wedono yang memerintah.

Setelah jam satu siang, Tuan Asisten Wedono pulang, Selama itu juga Soeket masih tetap menunggu. Ia sudah ditinggal pulang oleh lurahnya. Lurah itu berjanji sanggup menjadi saksi nanti sore apabila Soeket hendak melaporkan perkaranya pada asisten Wedono. Setelah Tuan Asisten Wedono pulang, Soeket langsung saja datang menghadap. Tetapi kata Tuan Asisten Wedono:

“Tunggu saya makan dahulu.”

Selesai makan, ia memanggil Soeket yang segera menjelaskan perkaranya.

“O, Ndoro, hamba orang miskin. Hamba hanya memiliki seekor kerbau, sebagai tumpuan mencari sesuap nasi. Tetapi tiba-tiba, tadi malam kerbau itu dicuri orang!”

“Kamu amat teledor! Kemana kamu semalaman per­gi? Tidur nyenyak itu saja yang kau bisa. Bayangkan kerbau sebesar itu. Dicuri orang kau tidak tahu. Hai pemalas. Sekarang kamu minta tolong sama aku. Apa memang kamu sudah tidak bisa menjaga kerbaumu sendiri. Dasar pemalas!” kata Tuan Asisten Wedono sambil marah besar.

Soeket menjadi amat takut. Dalam benaknya, ia sangat menyesal. Mengapa harus mengadukan masalah ini. Coba kalau tahu bakal begitu. Tentunya ia sebisa-bisanya akan mencari sendiri kerbau serta pencurinya Sekarang nasi telah menjadi bubur. Lalu mau dikata apa. Ia memberanikan diri, menuturkan kejadian yang sebenarnya.

“O, Ndoro, hamba mohon ampun. Tadi pagi jam tiga, hamba berangkat ke kota untuk menjual kelapa. Dan baru pulang setelah jam delapan. Anak hamba hanya seorang tapi tiba-tiba tadi malam sakit. Sedang istri hamba juga turut sakit. Jadi sejak jam tiga pagi tadi, rumah hamba kelihatan sangat sepi, itulah sebabnya sampai kecurian.”

“Diam!” Kata Tuan Asisten Wedono yang marah besar. “Kamu dasar bodoh, mengapa semua sedang sakit nekat kau tinggal ke pasar?”

“Hamba mohon ampun Ndoro. Karena hamba memang terpaksa harus pergi ke pasar menjual kelapa untuk membeli beras jatah makan keluarga hari ini.”

“Diam kau, berani sekali kau melawan kata-kataku, anjing. Saya sudah bosan bicara denganmu. Nanti sore kau boleh datang lagi. Dan cukup melaporkan perkaramu pada Mantri Polisi. Ayo, cepat pergi”

Itulah watak Tuan Asisten Wedono yang busuk ketika harus menerirna pengaduan rakyat kecil. Asisten Wedono semacam itu namanya tidak mau tahu bahwa dia dibayar oleh Gupermen untuk melayani keperluan orang kecil juga. Ia merasa dirinya seakan raja di hadapan rakyat kecil agar si kecil terus-menerus takut kepadanya. Dengan cara menindas semacam itu, ia berusaha agar rakyat kecil tidak gampang-gampang mengadu perkara yang dihadapinya. Hal mana jika itu terjadi akan membikin begitu banyak kerjaan dan urusan Asisten Wedono sehingga ia tentu tidak akan bisa makan enak dan tidur nyenyak. Dengan menindas perasaan rakyat yang berani menuntut hak-haknya, perintahnya gampang dituruti oleh rakyatnya. Sebaliknya, rakyat menjadi amat ketakutan, dan kemerdekaannya menjadi hilang sama sekali sehingga keinginan rakyat untuk memperbaiki nasibnya sendiri menjadi semakin terlupakan. Akhirnya, rakyat menjadi penyabar dalam semua hal sehingga ia akan miskin terus-menerus. Namun jika kemiskinan itu telah sampai pada batasnya maka ada para “dukun” atau “kyai” yang memberikan ilmu memperbaiki nasib, dan rakyat lain lari kepada para penolong-penolong semacam itu, sehingga orang-orang semacam ini akhirnya mendapat kepercayaan yang besar dari rakyat. Dan berkat kepercayaan itu, dalam diri mereka sering timbul niat dan pikiran-pikiran yang keliru. Tanpa pikir panjang, mereka mengira bisa menjadi seorang raja. Maka akibatnya, timbul berbagai gejolak dan kerusuhan di desa-desa, yang akhirnya dapat menjadi alasan para serdadu untuk membunuh jiwa-jiwa rakyat kecil yang tak berdosa. Sungguh, para priyayi yang buas itu memang tidak berusaha membantu pemerintah bagaimana meningkatkan taraf hidup rakyat. Mereka malah selalu bikin ribut dan onar di desa-desa sehingga ketertiban dan keamanan desa menjadi kacau. Untunglah jika kemudian ada perkumpulan-perkumpulan atau gerakan-gerakan yang berusaha mengurangi dan menghalangi kejadian-kejadian buruk serupa itu.

Jam tiga sore Mantri Polisi Kadiroen menerima pengaduan Soeket dengan ramah tamah. Selain itu, ia segera mengajak Soeket pulang untuk melihat sendiri tempat kejadian perkara dimana pencurian kerbau itu terjadi. Mendengar segala penuturan Soeket yang panjang lebar, Kadiroen menaruh belas kasihan yang mendalam terhadap nasib yang menimpa Soeket. Dalam hatinya, ia berjanji akan berusaha dengan sungguh-sungguh menolong Soeket mendapatkan kerbaunya kembali serta menangkap pencurinya. Setibanya ia di rumah Soeket, ia mendengar rintih tangis yang menyayat.

“O, Bapak, mengapa kau pergi lama sekali. Aduh Pak, sakit, sakit Pak. Aduh Bu, sakit…!”‘

Juga disusul rintih tangis yang lain.

“O, Pak, aku tidak kuat kalau harus terus-menerus sakit begini. Minum…, saya minta minum. Apa sebabnya kau pergi begitu lama!”

Begitulah rintih tangis anak dan bini Soeket yang sedang sakit. Mengetahui semua itu, hati Kadiroen serasa hancur. Ia memberi beberapa nasihat kepada Soeket. Ia juga berusaha menolong dan menghibur kepada si sakit sebisa-bisanya. Dan dengan senang hati ia berusaha secepatnya mengurus perkara Soeket. Pertama-tama, ia melihat dimana lokasi rumah Soeket berdiri. Ia tahu, rumah itu berdiri di perbatasan desa. Di belakang rumah terdapat areal persawahan yang luas. Sunyi. Kiri kanan jauh dari tetangga. Wajar jika mudah dimasuki pencuri. Di muka rumah yang berdinding bambu dan tertutup atap – sebuah rumah yang memang sudah tua – berdiri kandang ternak kerbau Soeket. Sebuah kandang yang sudah tua. Perkakas dan seisi rumah menandakan hanya Soeket orang yang sangat miskin. Kadiroen lalu berusaha mencari jejak-jejak pencurinya. Tetapi pencuri itu nyaris tidak meninggalkan jejak yang jelas sama sekali. Sebab tanah di situ adalah tanah kering, sehingga tidak meninggalkan jejak kaki satu pun. Ia mendapat keterangan bahwa pintu pekarangannya pagi-pagi sudah tidak tertutup lagi. Hal itu membuktikan bahwa pencuri itu membawa kerbaunya lewat depan rumah. Hanya pagar belakang rumah terdapat beberapa kerusakan, jelas bahwa pencuri itu pasti masuk lewat belakang rumah dengan cara merusakkan pagar. Dari rusaknya pagar itu, Kadiroen bisa menduga-duga, pencuri itu pasti berbadan besar dan kuat. Orang yang lembek dan kecil, tentu tidak mungkin dapat menumbangkan pepohonan di pagar. Pohon-pohon itu rebah pasti karena desakan dan tendangan pencuri yang berbadan besar dan kuat. Sebuah jejak yang menguntungkan ditemukan Kadiroen. Ia mendapatkan selembar kartu remi (kartu judi) terselip di pagar itu. Dari penjelasan Soeket bahwa ia tidak pernah main judi, Kadiroen yakin kartu ini pasti milik pencurinya. Hal itu dapat menjadi jalan terang, bahwa pencurinya adalah seorang penjudi. Ia mengira, pasti pencuri itu habis kalah judi. Sehingga ia nekat mencuri kerbau itu. Kadiroen terus berpikir panjang lebar. Dalam hatinya ia bertanya-tanya. “Sesudah mencuri, dibawa kemana kiranya kerbau itu? Ke pasar atau ke rumah orang lain untuk dijualkah? Rasanya tidak mungkin. Sebab tidak mudah untuk berbuat hal yang demikian sebab semua penjualan kerbau, harus memakai saksi lurah, yang menjelaskan dari mana asal usul kerbau itu dan lain-lainnya. Dalam hal ini, tentu pencuri akan sangat mudah ketahuan dan tertangkap. Apa mungkin kerbau itu dipotong untuk dimakan sendiri? Mustahil, rasanya tidak mungkin, sebab satu orang tidak mungkin makan seekor kerbau jika tak punya hajat. Apa mungkin daging kerbau itu lalu dijual ke pasar? Juga tidak bisa. Karena semua hewan yang dipotong dan dagingnya dijual di pasar, harus mendapat pengesahan dari pegawai Gupermen. Pendek kata, jika hanya seorang pencuri, tidak mudah bcrbuat hal-hal yang sangat sukar begini. Dan pasti pencuri itu akan cari akal bagaimana mudah mendapatkan uang.” Oleh sebab itu Kadiroen yakin bahwa pencuri itu akan kembali datang ke rumah Soeket, untuk berjanji mengembalikan kerbaunya asalkan mendapatkan uang tebusan. Kejadian-kejadian serupa ini memang sering terjadi dalam hal pencurian hewan-hewan besar. Setelah itu, Kadiroen permisi kepada Soeket dan berjanji akan mencarikan kerbaunya.

Pukul sepuluh malam. Desa Wonokoyo sunyi sekali. Seantero desa terkurung gelap malam yang hitam pekat. Di runah Soeket tidak terdengar apa-apa selain rintih tangis anak dan bininya yang sedang sakit. Memikirkan semua ini, hati Soeket menjadi amat berduka. Tiba-tiba ia amat terkejut, seperti seorang yang baru bangun tidur dibangunkan oleh suara guntur yang menyambar sangat keras. Ia mendengar pintunya diketuk orang dan terdengar suara ancaman yang menakutkan.

“Hai Soeket, awas, besok jam sepuluh malam kamu harus menyediakan uang sebesar f.25,- di pintu pagar sebelah kanan. Jika kau tidak mau menyediakan uang itu, kerbaunya akan hilang selamanya. Tetapi jika kau menurut, lusa pagi-pagi kau akan mendapatkan kerbaumu lagi di muka rumahmu. Saya hanya minta tebusan murah, sebab saya masih kasihan dengannmu. Dan ingat, jangan sekali-kali kamu berani lapor polisi. Sebab kalau kamu berani lapor polisi, lain kali kau akan kubunuh.”

Soeket menjadi amat bersedih. Uang f.25,- harus ia dapat paling lambat besok malam. Dari mana ia bisa dapat uang sebanyak itu? Ia ingin keluar untuk berunding dengan pencuri itu. Tetapi ia tidak berani, sebab ia tidak tahu berapa berapa besar kekuatan yang ada di luar. Ia memberanikan bertanya, namun di luar keburu sunyi, Soeket tak mendapatkan jawaban apa-apa. Ia menjadi amat takut dan berjanji untuk tidak melaporkan masalah ini pada polisi.

Sesosok badan yang besar dan tampak kuat, berpakaian serba hitam dan tampak meninggalkan rumah Soeket, dengan perlahan-lahan, sehingga langkah-langkah kakinya tak terdengar sedikit pun. Ia berjalan menuju jalan raya. Tetapi tanpa sepengetahuan dirinya, menguntit di belakangnya seorang yang berperawakan kecil dan berpakaian serba hitam hitam pula. Ia terus-menerus menguntit kemana perginya orang itu.

Selama satu jam perjalanan, tibalah orang yang dikuntit itu di muka sebuah rumah besar. Sesudah mengetuk pintu, ia segera masuk. Rumah itu berdiri dekat hutan yang sunyi serta jauh dari tetangga kanan-kiri. Sementara badan yang kecil, yang juga berpakaian serba hitam berada di luar, mengintip dari lubang pintu dan mendengarkan pembicaraan orang yang ada di dalam rumah. Di dalam rumah ia melihat ada empat lelaki yang bermuka kasar dan tampak sangar. Mereka sedang asyik bermain judi, sedangkan yang baru datang langsung ngeloyor masuk ke dalam kamar. Ia tidak kelihatan wajahnya, hanya terdengar suaranya saja.

“Sudah sahabat-sahabat, saya sekarang capai. Saya mau tidur. Yang punya kerbau besok malam tentu akan memberikan uang tebusan f.25,- kepada saya.”

Lain halnya jawaban dari empat orang tadi.

“Wah, Kang, sekarang kita musti main dadu, sebab kartu buat main ceki kurang satu!”

Inilah suara-suata yang perlu diketahui oleh orang berpakaian hitam yang ada di luar. Yakni, suara-suara yang dapat memberikan keterangan lebih jauh perihal pencurian kerbau itu pada Kadiroen; Mantri Polisi Kadiroen sendirilah yang berpakaian serba hitam, seperti pencuri yang malam-malam menyelinap di samping rumah Soeket, untuk mengetahui siapa sebenarnya pencuri kerbau yang meminta tebusan kepada Soeket.

Sekarang Kadiroen sudah tahu semuanya. Tetapi ia ingin tahu lebih dahulu dimana kerbau itu disembunyikan. Kadiroen belum berani masuk ke rumah pencuri itu. Sebab ia sendiri tentu tidak mungkin menang melawan lima orang. Maka pada malam itu, Kadiroen merasa bahwa perkara ini sementara cukup sampai disini lebih dahulu. Ia segera pulang dan tidur nyenyak seperti tidak ada kejadian apa-apa; itu membuktikan bahwa ia memang memiliki watak pemberani.

Esok paginya, jam enam, ia sudah berangkat ke kantor Tuan Asisten Wedono. Ia minta izin sampai sore untuk mengurus masalah kerbau itu. Ia berniat memakai uangnya sendiri f.25,- untuk dipasangkan sebagai taruhan menangkap pencuri itu. Yaitu ia mempunyai uang kertas f.5,- berjumlah lima lembar. Ia menyuruh dua opas untuk mencatat nomor seri uang-uang itu. Adapun kartu judi yangia peroleh dari pagar rumah Soeket, ia simpan dengan baik di kantor asisten Wedono. Selanjutnya, ia pergi ke rumah Soeket.

Soeket menangis meminta pinjaman uang f.25,- tetapi tidak berani menjelaskan bahwa uang itu akan digunakan sebagai uang tebusan kerbaunya. Meski Kadiroen mengetahui akan hal ini, ia pura-pura tidak tahu. Ia segera memberikan pinjaman semua uang kertas miliknya. Habis dari rumah Soeket, ia segera pergi ke areal persawahan dekat perumahan Tuan Administratur yang kecurian ayam. Ia menengok kanan-kiri, barangkali melihat seekor garangan sedang bersembunyi. Tetapi disitu memang begitu banyak semak-semak rimbun yang layak untuk persembunyian garang yang aman. Kadiroen terpaksa mencari cara lain. Ia meminjam kurungan yang kuat sekaligus dengan ayamnya sekalian. Ia menaruh ayam dalam kurungan itu serta meletakkan di dekat semak-semak rimbun dan sunyi. Ia sendiri segera naik ke atas pohon untuk memperhatikan kurungan ayam pasangannya. Karena suara dan bau ayam tidak berselang lama ia melihat seekor garangan datang menghampiri kurungan itu. Kadiroen segera melemparkan batu kerikil ke arah garangan itu, sambil pandangan matanya mengikuti kemana garangan itu bersembunyi. Lalu Kadiroen segera turun dan pergi mendekati semak rimbun tempat garangan itu masuk. Disana ia mendapatkan bangkai ayam berwarna biru milik Nyonya Administratur. Tidak jauh dari tempat itu, ia melihat tulang-belulangnya serta bulu-bulu ayam berserakan. Hal itu membuktikan bahwa pencuri ayam yang dicari Tuan Asisten Wedono adalah benar-benar seekor garangan. Dalam hatinya Kadiroen tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi ia tidak berani menceritakan semua itu kalau belum berhasil menangkap garangan tersebut. Itulah sebabnya, ia hendak memasang jaring perangkap garangan di dekat semak-semak rimbun tersebut. Sebagai umpannya ia membeli seekor anak ayam yang masih kecil. Sesudah memasang jaring perangkap itu dan meminta tolong pada orang-orang yang ada di dekat situ supaya melarang anak-anak main di sekitar situ, maka ia segera pulang. Sore harinya ia berangkat lagi ke kantor Asisten Wedono.

“Nah, Mantri Polisi, Lihatlah pekerjaanku!” kata Tuan Asisten Wedono bangga. “Kemarin ada pencurian ayam, sekarang pencurinya sudah saya tangkap!”

Kadiroen mlenggong. Bagaimnna bisa, pikirnya. Tetapi Tuan Asisten Wedono menceritakan hal itu dengan bangga, sehingga Kadiroen tidak mau mengomentari. Ia membiarkan kebanggaan Tuan Asisten Wedono. Yang dimaksud pencuri ayam itu adalah seorang desa yang tinggal dekat rumah Tuan Administratur. Namanya Soekoer. Ia seorang yang hidup pas-pasan. Tidak kaya, juga tidak miskin. Ia tampak gemuk dengan pakaian yang pantas. Kadiroen tidak yakin kalau Soekoer pencurinya. Oleh karena itu, ia bertanya kepada Asisten Wedono.

“O, Tuan, saya senang Tuan sudah dapat menangkap pencurinya. Karena saya masih polisi baru, jadi saya masih harus belajar dengan Tuan. Namun saya masih belum yakin, apa benar Soekoer adalah pencurinya? Bagaimana Tuan menangkap serta apa bukti-buktinya?”

Tuan Asisten Wedono merasa amat bangga menceritakan keberhasilannya, seraya ia berkata:

“Ya, Mantri, begitulah, orang harus pintar. Tidak boleh asal berpendapat bahwa pencuri ayam itu adalah seekor garangan. Sementara kau sudah berpendapat begitu, itu salah besar. Mestinya kamu mengurusnya terlebih dahulu, mencari bukti-buktinya. Baru berpedapat. Tetapi maklum, kamu masih muda, jadi masih harus banyak belajar kepada saya! Adapun Soekoer, memang telah nyata sebagai pencuri ayam Nyonya Administratur, meskipun ia masih mungkir. Tetapi bukti-bukti telah cukup. Ada saksinya segala. Doerachim bercerita pada saya, kemarin pagi ia membeli ayam berwarna biru pada Soekoer. Ayam itu telah disembelih oleh Doerachim. Tetapi ia membawa bulu-bulu serta tulang-belulang ayam sebagai barang bukti. Sewaktu Doerachim membeli ayam itu, saksinya Nojo. Jadi sudah sangat jelas, tetapi pencurinya belum juga mau mengaku. Adapun saya bisa menangkap dia, ceritanya begini: Saya memiliki banyak mata-mata. Tetapi yang paling pintar adalah Soekari. Soekari dahulunya seorang kepala pencuri, suka bermain judi, pokoknya kelakuannya sangat busuk. Tetapi sejak ia saya jadikan kepala mata-mata, kelakuannva berubah menjadi baik. Ia saya gaji tetap dari uang saya sendiri. Tiap bulannya, sebesar f.20,-. Kalau ia sedang bekerja mencari pencuri, supaya ia mau mencari dengan sungguh-sungguh, ia saya ongkosi seperlunya. Jadi kalau mereka mencari pencuri sampai pencurinya dapat tertangkap, mereka saya bayar sedikitnya f.2.50,- Dalam perkara pencurian ayam Nyonya Administratur ini, kalau pencurinya tertangkap tentunya saya akan mendapat nama baik di mata tuan-tuan besar. Oleh karena itu, saya tidak segan-segan mengeluarkan uang. Dan lagi Mantri Polisi, jangan lupa ‘pencuri mesti harus ditangkap dengan pencuri juga.’ ini strategi seorang polisi. Itulah sebabnya yang saya jadikan mata-mata adalah kepala pencuri. Kau lihat sendiri, kemarin terjadi kecurian, sekarang pencurinya sudah tertangkap. Inilah politik saya. Kamu masih harus banyak belajar hal-hal begini dari saya.”

Kadiroen mendengarkan betul nasihat-nasihat Asisten Wedono. Tetapi dalam hatinya merasa heran; pertama, mengapa Asisten Wedono sangat bangga, sombong dan menggelikan. Umpamanya memang betul Soekoer adalah benar-benar pencuri yang dicari. Toh yang tahu akan hal itu bukan Tuan Asisten Wedono sendiri. Tetapi mata-mata yang dibayarnya. Sedang Tuan Asisten Wedono sendiri tidak tahu dan tidak kerja apa-apa. Ia tidak berpikir dan bertindak apa-apa kecuali membayar mata-mata. Sekarang mengapa sebabnya Tuan Asisten Wedono demikian yakin dan bangga sekaligus sombong menceritakannya. Kedua, Kadiroen belum yakin bahwa Soekoer adalah pencurinya karena ia tahu sendiri bangkai ayam Nyonya Administratur. Ia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres dibalik perkara ini. Selain itu ia juga heran, kalau betul Soekoer pencurinya, mengapa ia terus-terusan mungkir, sedangkan bukti-bukti dikatakan sudah cukup meyakinkan. Kadiroen ingin tahu bagaimana selanjutnya jalan cerita masalah ini. Ketiga, Kadiroen tertawa dalam hati, bagaimana bisa, ayam hanya seharga f.2.50,- dicari dengan membayar f.25,- . Ia tahu persis bahwa perkara ini hanya dijadikan modal oleh Tuan Asisten Wedono untuk cari nama, dengan harapan pangkatnya akan segera naik. Adapun masalah pencurian ini hanya dijadikan jalannya semata. Bagaimanapun Kadiroen juga tahu, hidup sebagai polisi memang amat susah untuk bisa cepat naik pangkat. Wajar jika akhirnya banyak yang mau memberikan uangnya sendiri kepada para mata-mata sebagai uang belanja. Dan untuk segala urusan, ia mesti mengeluarkan uang dari koceknya sendiri yang tidak sedikit jumlahnya untuk keperluan pekerjaannya. Hal-hal yang beginian di dunia polisi memang tidak asing lagi. Karena itu banyak polisi yang berusaha dengan caranya sendiri – kadang-kadang tidak halal dan tidak masuk akal sekalipun – untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Akhirnya, para lurah dan orang-orang kecillah yang menjadi korbannya. Peraturan dan kode etik polisi pada masa itu memang ada begitu banyak. Sehingga para polisi banyak yang tidak berani minta agar anggaran kepolisian dinaikkan, apalagi kenaikan gaji. Keempat, dalam hati Kadiroen juga merasa heran mengapa untuk menangkap pencuri ayam mesti pakai pencuri lain. Seorang pencuri, jelas orang yang jahat, ia tidak mungkin dapat dipercaya. Tetapi anehnya, sebagaimana yang diterangkan oleh Asisten Wedono, seorang pencuri yang jelas tidak bisa dipercaya, tiba-tiba harus dipercayai untuk menangkap pencuri lain. Kadiroen memikirkan hal ini secara panjang lebar sehingga ia tidak bisa komentar apa-apa terhadap petunjuk Asisten Wedono. Kadiroen tersentak ketika ia kemudian mendengar suara Asisten Wedono selanjutnya:

“Nah, Mantri Polisi, bagaimana itu pencuri kerbau Soeket? Apa kau belum dapat keterangan. Masalah ini seyogyanya jangan dimasukkan ke dalam buku laporan. Sebab kalau terlalu lama pencuri itu tidak bisa tertangkap, lebih baik perkara itu dibekukan saja. Kalau tidak dibekukan, saya khawatir nantinya akan membikin banyak pertanyaan dari atas, yang bikin susah. Laporan Soeket kita menganggap tidak ada saja, toh ai tidak mungkin berani melaporkan perkara ini ke pembesar-pembesar yang ada di atas.”

Kadiroen bertambah heran mendengar kata-kata Tuan Asisten Wedono. Ia tak bisa berkomentar apa-apa. Ia berpikir, mengapa untuk orang kaya seperti Tuan Administratur yang hanya kemalingan seekor ayam saja, Tuan Asisten Wedono tidak merasa rugi mengeluarkan uang banyak. Lagipula ia ribut untuk mengurusnya dengan sungguh-sungguh. Tetapi bagi Soeket yang kehilangan kerbau, yang jelas nilainya lebih dari separo harta kekayaannya, hampir-hampir tak diperhatikan oleh Tuan Asisten Wedono. Memang, untuk membekukan perkara Soeket adalah soal gampang. Karena orang kecil memang susah untuk mengadukan perbuatan polisi pada atasannya. Tetapi mengurus perkara orang besar jelas akan bisa mendatangkan keuntungan. Kadiroen memikirkan masalah ini dengan panjang lebar. Sekarang ini memang masih lazim mengurus perkara seseorang mesti diperhatikan seberapa besar pengaruh orang tersebut. Soal-soal beginilah yang tidak mendidik orang untuk bertindak adil, berbudi baik dan berwatak kesatria. Namun Kadiroen telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berlaku adil. Selain itu ia telah berjanji untuk menolong Soeket. Ia ingat bagaimana susahnya nasib orang kecil semacam itu. Ia juga telah berjanji pada dirinya sendiri un­tuk menolong Soekoer yang didakwa mencuri ayam. Ka­diroen merasa tugas berat sedang menghadang di depan mata. Kadiroen memang berhati mulia, ia mau berbuat baik kepada siapa saja. Tetapi susahnya, ia masih diperintah oleh orang yang sangat berlainan dengan watak dan pikiran Kadiroen. Sungguh suatu masalah yang jelas akan sangat membingungkan dirinya. Tetapi Kadiroen tak merasa bingung dan berkecil hati. Karena ia percaya kepada keadilan Tuhan Allah yang mau memberi pahala kepada siapa saja manusia yang mau berbuat kebaikan.

Sementara pikiran Kadiroen penuh dengan kemulia­an dan kebaikan, tiba-tiba ia mendengar Tuan Asisten Wedono yang memanggil Opas Pigi.

“Opas, coba kau siksa Soekoer si pencuri itu. Sudah satu hari ia tidak saya beri makan dan minum supaya ia menjadi kelaparan dan kehausan sehingga ia mau meng­akui perbuatannya. Tetapi sampai sekarang ia belum ju­ga mengakui kesalahannya.”

“Baik Ndoro!” kata Opas Pigi. Ia mengambil sepotong rotan dan segera memukuli telapak kaki Soekoer. Sebuah siksaan yang amat kejam dan keras. Tetapi tidak sampai menimbulkan luka sehingga tidak kentara. Karena sik­saan itu Soekoer hanya dapat meraung dan menjerit-jerit. “O, Tuhan Allah, apakah dosa saya sehingga disiksa seperti ini. Disuruh mengaku mencuri, padahal saya memang benar-benar tidak melakukannya. O, ya Allah ….”

“Pukul lagi yang keras!” kata Asisten Wedono.

Melihat penyiksaan semacam itu darah Kadiroen se­rasa mendidih. Ia ingin sekali menolong Soekoer. Tetapi ia pikir belum waktunya untuk memberi pelajaran pada Tuan Asisten Wedono karena ia belum tahu persis ba­gaimana kisah selanjutnya masalah ini. Tuan Asisten We­dono bertanya kepada Soekoer sambil memaki-maki de­ngan kata-kata yang tak layak didengar telinga orang wa­ras.

“Nah, apakah sekarang kau mau mengaku, bajingan!”

Tetapi apa jawaban Soekoer.

“Tuan, bagaimana hamba mesti mengaku, sedang hamba memang tidak berdosa.”

“Kalau kau mau mengaku, kau akan mendapat hu­kuman ringan,” kata Tuan Asisten Wedono.

“Tuan, bukannya hamba takut pada hukuman, memang hamba benar-benar tidak mencuri. Tetapi hamba tidak suka berdusta. Dan dustalah hamba jika hamba mengaku mencuri, padahal hamba memang tidak mela­kukannya. Hamba tidak takut pada hukuman manusia Tetapi hamba sangat takut pada murka Tuhan Allah. Di akhirat nanti pasti tidak akan memberi tempat yang baik jika hamba berdusta.”

Begitulah keterangan Soekoer, meski orang menyik­sanya, tetapi total, teguh pendiriannya. Tuan Asisten We­dono menjadi amat marah. Bayangkan, ia seorang Asisten Wedono yang sangat berkuasa, tetapi ia tidak bisa me­naklukkan seorang pencuri yang berdasarkan fakta dan bukti-bukti yang dipercayainya, dialah pencurinya. Ya, manusia mana yang dapat menaklukkan jiwa manusia yang teguh dan baik hatinya dan hanya mau takluk ke­pada ketentuan Tuhan Allah, yakni Tuhan raja dari se­mua kebaikan dan ketetapan. Meski dia adalah seorang raja sekalipun. Inilah letak kebodohan Tuan Asisten We­dono yang tidak mau tahu. Ia kira bisa menaklukkan hatinya Soekoer. Manusia bisa membengkokkan besi, tetapi mustahil bisa membengkokkan jiwa yang teguh imannya. Tuan Asistan Wedono yang bodoh telah menyiksa Soe­koer habis-habisan, tetapi ia tetap tidak bergeming. Me­mang, menurut peraturan, seorang polisi tidak boleh menyiksa terdakwa. Adapun perbuatan Asisten Wedono jelas melanggar peraturan dan ia bisa dituntut. Tetapi apa­lah artinya peraturan? Peraturan manusia hanya mungkin dijalankan oleh manusia yang baik, yakni manusia-ma­nusia yang mau menghormati dan menjalankan peratur­an yang baik sebagaimana dikehendaki Tuhan Allah. Te­tapi peraturan yang baik bagi orang bejat tentu tidak akan dijalankan sebagaimana mestinya jikalau si bejat itu tidak diawasi perbuatannya. Tetapi siapa yang akan mengawasi perbuatan Asisten Wedono, seorang pejabat tinggi yang mestinya menjalankan peraturan-peraturan negeri. Sedangkan perbuatannya tidak diawasi oleh atas­annya. Sementara yang bisa mengawasi perbuatanya hanya orang-orang yang ada di bawahnya, orang-orang yang ia perintah, orang-orang kecil dan lain-lain. Tetapi orang-orang ini tidak bisa berbuat apa-apa. Karena me­mang ia sangat susah jika akan mengadukannya pada para pembesar. Apalagi sesudah ia mengadukan, kalau ti­dak sedang bernasib baik, ia akan difitnah yang bisa-bisa mencelakakan dirinya. Hal-hal yang serupa ini, umum­nya di seantero dunia, sering terjadi di dalam negeri yang rakyatnya tidak mempunyai kekuatan untuk turut memerintah negerinya sendiri. Sebaliknya, jika peraturan bikin­an manusia yang bejat, tentulah peraturan serupa itu hanya dijalankan oleh manusia-manusia yang bejat pula. Te­tapi jelas akan mendapat tantangan dari manusia-manu­sia yang baik. Ironisnya, si baik yang melawan – yang selalu ingin tetap berada dan ingin menjalankan keten­tuan peraturan-peraturan Tuhan Allah – ini justru sering menjadi korbannya.

Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika Tuan Asis­ten Wedono yang bejat dengan gampang menyiksa Soe­koer. Memang sudah sangat sering terjadi di tanah Jawa (negeri ini) seorang terdakwa mengaku berbuat salah di muka polisi hanya karena tidak tahan disiksa, tetapi di muka pengadilan ia sering mungkir atau mencabut peng­akuannya. Dan ia menjelaskan pengakuan itu ia buat semata karena ia hanya tidak ingin disiksa. Inilah yang membikin kusutnya perkara sebab akan semakin susah membuktikan apakah seorang terdakwa itu benar-benar bersalah atau tidak.

Kadiroen memikirkan hal ini dengan panjang lebar. Kadiroen menyaksikan sendiri bagaimana Soekoer tetap mungkir. Maka ia yakin orang macam Soekoer memang selalu ingat kepada Tuhan Allah, jadi ia selalu ingat ke­pada kebaikan. Mana mungkin ia berbuat dosa mencuri ayam. Kadiroen yakin, di balik perkara ini banyak hal yang ganjil. Itulah yang mendorong niat Kadiroen ber­tambah kuat untuk menyelesaikan masalah Soekoer. Se­lain itu, makin bertambah kuat pula niat Kadiroen untuk menegakkan keadilan bagi semua manusia. Besar mau­pun kecil.

Jam sembilan malam. Dengan pakaian serba hitam, Kadiroen berangkat sendirian. Ia membawa beberapa tali untuk mengikat beberapa orang. Dengan satu revolver dan beberapa peralatan lainnya, pergilah Kadiroen ke ru­mah Soeket. Ia bersembunyi, tidak kelihatan orang. Me­nunggu pencuri kerbau yang akan mengambil uang te­busan sebesar f.25,-. Ia diam, bersembunyi, sambil terus mengawasi, persis seperti pencuri. Pada saat itu, ia ingat petuah-petuah Tuan Asisten Wedono yang bodoh itu: “Pencuri harus ditangkap oleh pencuri lain.” Tetapi Ka­diroen merasa dirinya bukan pencuri. Itulah sebabnya ia menjalankan pepatah Tuan Asisten Wedono dengan membikin pepatah sendiri. “Pencuri harus ditangkap dengan cara pencuri.” Untuk menangkap orang bejat mesti dipakai polisi baik. Bukan orang bejat yang harus menangkap orang bejat lainnya. Sebab aturan yang serupa ini sering menimbulkan hal-hal yang lebih bejat lagi.

Kira-kira jam sepuluh Kadiroen melihat ada seorang mengambil uang tebusan itu. Sesudah mengambil langsung ngeloyor pergi. Kadiroen menguntit orang itu dari belakang, ke mana pun perginya. Akhirnya ia tahu, orang itu masuk ke dalam rumah penjudi kemarin. Kadiroen mengetahui juga yang ada di dalam rumah itu, ada dua orang laki-laki lain dan seorang perempuan. Istrinya pen­curi kerbau itu. Tidak berapa lama, dua orang lelaki itu disuruh pencuri pertama untuk mengambil kerbaunya Soeket sehingga ia tinggal sendirian dengan bininya. Kadiroen berpikir. “Nah, kini dua orang pergi. Dan kerbau­nya Soeket akan dibawa kemari.” Inilah saat yang tepat untuk menangkap kepala pencuri yang sedang sendirian itu. Perkara perempuan, istri pencuri itu, tidak masuk hi­tunganku. Dengan pikiran semacam itu, ia langsung ma­suk ke rumah pencuri itu. Tetapi pencuri yang berbadan besar dan kuat itu bertindak cepat juga. Demi melihat Ka­diroen, ia langsung meloncat dari tempat duduknya, me­nabrak Kadiroen sehingga Kadiroen tidak sempat menggunakan revolvernya. Si pencuri seraya berkata dengan murka. Ia marah seperti raksasa.

“Hai, saya tahu kau Mantri Polisi baru. Sekarang ku­bunuh kau.” Kadiroen dengan cepat menghindar ke ka­nan sehingga tidak tertabrak pencuri. Tetapi Kadiroen segera dipegang pencuri itu sehingga terjadi adu gulat yang ramai antara antara pemuda yang berbadan kuat dengan seorang pencuri besar dan berbadan besar dan kuat juga. Mereka berdua bergantian saling menindih dan gulatnya amat cepat. Istri pencuri itu menjadi ketakutan, ia lari keluar. Kadiroen ingat yang ia kerjakan kali ini adalah perbuatan yang baik. Pada saat itu ia merasa me­miliki kekuatan yang luar biasa. Ia bisa sangat lama menindih pencuri itu. Namun Kadiroen juga telah mengeta­hui dua orang yang disuruh mengambil kerbau itu su­dah datang. Yang seorang mengambil kayu galih asam, segera masuk ke rumah, hendak memukul Kadiroen, gu­na membantu sahabatnya yang tertindih Kadiroen. Ka­diroen pura-pura tidak tahu apa-apa. Tetapi pada saat pu­kulan itu hendak menimpa dirinya, dengan cepat ia me­loncat, meninggalkan pencuri yang ia tindih sehingga pukulan yang seharusnya buat dia itu jatuh tepat mengenai kepala pencuri, musuhnya, sampai pingsan. Musuh Kadiroen kini tinggal dua orang. Dengan cepat ia menarik revolvernya. Sambil mengancam dua musuh itu, ia berkata:

“Awas, diam, jangan bergerak. Sebab kalau nekat, akan kutembak kau.” Kedua musuh itu lalu diam. Yang satu dilempari tali oleh Kadiroen, disuruh mengikat pen­curi yang sedang pingsan serta satu pencuri lainnya. Habis itu, maka Kadiroen mengikat sendiri pencuri nomor dua itu sehingga Kadiroen dengan gagah berani sudah berhasil menangkap ketiga pencuri yang sangat berbaha­ya. Sungguh sangat mengherankan. Kadiroen menang karena ia didasari oleh keberanian, keteguhan hati serta cepatnya ia bertindak yang terbawa karena keberanian dan keteguhannya itu.

Maka uang f.25,- itu kembali ke tangan Kadiroen. Se­habis mengatur semuanya yang ada di situ, ia dengan ber­bagai cara berusaha membangunkan pencuri yang pingsan. Akhirnya ia berhasil juga. Kadiroen segara bertanya nama pencuri yang baru saja siuman dari pingsannya. Namun betapa terkejutnya hati Kadiroen ketika mendengar jawabannya:

“Nama saya Soekari!”

Sekarang ternyata Kadiroen sudah dapat berhasil me­nangkap mata-mata yang amat dipercaya oleh Tuan Asis­ten Wedono. Kadiroen menjadi bertambah heran ketika yang dua lainnya memberikan pengakuan; namanya Durachim dan Nojo. Kedua-duanya menjadi saksi dalam perkara “pencurian” ayam si Soekoer. Segera Kadiroen yakin, ketiga orang ini ikut berdosa dalam perkara Soekoer tersebut. Tetapi Kadiroen menjadi khawatir, ja­ngan-jangan ketiga pencuri itu tidak akan mau memberi keterangan tentang hal ini kalau tidak diusahakan suatu hal yang halus. Oleh karena itu ia memanggil istri Soekari dan berkata pada Soekari:

“Hai Soekari, lihatlah binimu ini. Saya tahu, kamu sa­ngat mencintai binimu. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mungkir kalau saya tanya, agar kamu tidak mendapat hu­kuman yang terberat. Dan supaya kamu lekas keluar dari bui, guna meneruskan perkawinanmu dengan binimu.”

Soekari menjadi takut kepada Kadiroen sebab ia ta­hu Kadiroen sangat cerdik, pemberani dan kuat. Ia ber­janji akan berterus terang, tidak akan berdusta. Lalu Ka­diroen berkata lagi:

“Lihatlah, binimu, tampak susah. Apa kamu tidak ka­sihan?”

“Saya Tuanku!” Kata Soekari.

“Nah, ingatlah. Pada saat ini bini Soekoer juga sedang dalam kesusahan. Ia sangat berduka. Apa kamu juga tidak kasihan pada bini Soekoer yang didakwa mencuri ayam? Dan juga apa kamu tidak kasihan pada Soekoer yang terdakwa?”

“O, ya Tuanku, sekarang saya merasa, semua itu ka­rena dosa saya. Berilah saya petuah, supaya hati saya menjadi tenteram dan bisa bertobat!”

“Baik, sebelum aku memberikan petuah padamu, ce­ritakan terlebih dahulu perihal Soekoer!”

Di sini Soekari menjelaskan bahwa dahulu ia sangat membenci Soekoer sebab Soekoer tidak pernah mau memberi uang kepadanya setiap kali ia memintanya. Ka­tanya ia tidak punya. Karena itu, maka Soekari berusaha mencelakakan Soekoer. Waktu Tuan Asisten Wedono sanggup memberi uang f.25,- maka Soekari sangat ingin mendapat uang itu. Dan dia sudah membikin saksi-saksi palsu, yaitu Doerachim dan Nojo, buat menuduh Soekoer sebagai pencuri ayam Tuan Administratur. Sedang bu­lu-bulu ayam itu, ia ambil dari ayam lain. Dengan cara itu, ia bisa mencelakakan Soekoer sekaligus mendapat uang f.25,-. Cerita Soekari itu dibenarkan oleh Doerachim dan Nojo. Sekarang nyatalah bahwa Tuan Asisten We­dono berbuat kekeliruan sebab mau menangkap pencuri dengan pencuri lain. Sesudah perkara ini menjadi jelas, maka ketiganya bersedia menceritakan perkara itu pada Asisten Wedono supaya Soekoer bisa dilepaskan dari dakwaannya. Sehabis itu, Soekari juga mengaku bahwa dirinya adalah pencuri kerbau Soeket. Lalu Kadiroen ber­kata:

“Nah, kamu bertiga, ingatlah. Kamu sudah berbuat dosa, sedang menurut peraturan negeri, maka tidak boleh tidak, tentulah kamu harus mendapatkan hukuman. Mengingat kamu sudah berterus terang, tentu hukuman­mu bisa diringankan tetapi carilah ketenteraman hatimu sendiri dengan cara bertobat pada Tuhan Allah, percaya­lah kepada Tuhan Allah dan berbuat baiklah serta ting­galkanlah tingkah lakumu yang sudah-sudah. Dan kalau kamu menurut perintahku, kamu bertiga akan bisa men­jadi orang baik sehingga hati dan pikiranmu akan men­jaali tenteram.”

Petuah-petuah Kadiroen ini merasuk betul dalam hati sanubari ketiga orang yang berbuat jahat itu. Dan akhir­nya menjadi kenyataan, sebab sepuluh tahun kemudian, ketiganya telah menjadi orang baik.

Jam lima pagi esoknya. Kadiroen membawa ketiga pencuri itu ke rumah Asisten Wedono. Tetapi di tengah jalan mereka mampir ke rumah Soeket untuk mengem­balikan kerbaunya. Dan berkata pada Soeket, bahwa hu­tangnya yang f.25,- tidak usah dikembalikan sebab uang itu telah dikembalikan oleh pencurinya kepada Kadiroen. Wah, sungguh Soeket bersama anak istrinya menjadi sa­ngat gembira. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Kadiroen, tetapi Kadiroen malah menjawab:

“Baiklah, ucapan terima kasihmu itu kusampaikan saja pada Tuhan Allah. Sebab saya hanya perantara saja untuk membantumu.”

Karena teramat gembiranya, istri dan anak Soeket yang sedang sakit menjadi lekas sembuh. Sungguh, perbuatan yang keluar dari niat suci selamanya akan beru­bah kebaikan. Habis menyelesaikan masalah Soeket, Ka­diroen mampir lagi untuk melihat perangkap garangan yang dipasangnya kemarin. Maka senanglah ia sebab ga­rangan yang dimaksud telah masuk perangkap. Jadi, pencuri ayam alias garangan itu juga sudah bisa ditangkap oleh Kadiroen. Sedang ayam biru yang sudah mati dan tinggal bangkainya itu ia bawa sekalian untuk barang bukti.

“Jadi pencuri saya punya ayam sudah tertangkap? Dan ayam saya sudah habis dimakan?” Begitulah Nyonya Administratur bertanya pada Asisten Wedono jam de­lapan pagi-pagi. Pada saat itu Nyonya dan Tuan Admi­nistratur mampir ke rumah Tuan Asisten Wedono. Se­telah itu akan langsung pergi ke kota. Tuan Asisten We­dono menjadi sangat bangga sambil memperkenalkan Soekoer yang amat lemah badannya, sangat pucat wajah­nya. Karena sudah 24 jam belum mendapat makan dan minum. Pada saat itu Tuan Asisten Wedono berkata

“Ini Nyonya, pencurinya. Tetapi sampai saat ini ia be­lum juga mau mengaku.”

Lalu Tuan Asisten Wedono menceritakan duduk per­karannya, siapa saksi-saksinya dan sebagainya. Tetapi Tuan Asisten tidak menceritakan perihal mata-mata yang memberikan petunjuk itu sebab Tuan Asisten Wedono berharap supaya dikatakan cerdik. Akan halnya Soekoer yang disiksa, itu pun sama sekali tidak ia katakan. Ketika Nyonya melihat Soekoer yang tampak lemas badannya, ia berkata:

“Kasihan! Betulkah ia pencurinya. Tetapi ia tampak begitu lembek dan pucat seperti sakit. Sungguh kasihan!” begitulah kata Nyonya.

Sebagaimana semua perempuan, Nyonya lebih me­ngedepankan perasaan terlebih dahulu, barulah ia ber­pikir. Sebaliknya, seorang laki-laki sering berpikir lebih dahulu, sesudah itu baru mengungkapkan perasaannya. Seorang laki-laki dalam hal mengungkapkan perasaannya, tidak bisa sedemikian cepat dan halus sebagaimana pe­rempuan.

“Ya, toh itu orang salah dan mesti dihukum!” kata Tuan Administratur.

Nou, Asisten, kamu ada pintar dan ada cepat ini per­kara. Nanti di kota, saya akan menceritakan hal ini pada tuan-tuan pembesar.”

Baru saja Tuan Administratur berkata yang demikian Kadiroen datang di pendopo, bersama ketiga pencuri yang telah berhasil ia tangkap, serta dengan garangan dan bangkai ayam. Ia mengambil kartu judi dan nomer-no­mer seri lima buah lembar uang kertas f.5,- dan ia cocok­kan dengan angka-angka seri uang kertas yang dicatat oleh opas hari kemarin. Semua itu akan ditunjukkan se­bagai barang bukti.

Melihat orang-orang itu, bangkai ayam, garangan, serta kartu judi yang dibawa Kadiroen, Nyonya dan Tuan Administratur, dan juga Asisten Wedono menjadi heran. ­Ketiganya meminta supaya Kadiroen menjelaskannya, serta apa maksud dari barang-barang itu semua. Kadiroen menjelaskan semua itu apa adanya. Hanya saja, Kadiroen tidak suka menceritakan perihal Tuan Asisten Wedono yang sudah menyiksa Soekoer sebab ia tidak suka mem­buka aib Tuan Asisten Wedono kalau tidak ada perlunya. Salah satu dari ketiga pencuri itu juga mengakuinya. Sedang Soekoer yang tidak berdosa dilepaskan dari ta­hanan.

Tuan dan Nyonya Administratur sangat gembira me­lihat keberhasilan Kadiroen sebab masih begitu muda, sudah sangat cerdik dan pemberani. Sedang Tuan Asisten Wedono menjadi amat malu.

Di kota peristiwa itu diceritakan kepada para pembesar yang menjadi atasan dua pejabat tersebut. Maka de­ngan tersiarnya kabar itu, diuruslah masalah Asisten We­dono dan Kadiroen.

Karena kepandaian Kadiroen, tidak begitu lama ia dinaikkan pangkatnya menjadi Asisten Wedono di On­derdistrik Gunung Ayu. Sedang Tuan Asisten Wedono yang besar kepala dan berhati batu dimarahi sehingga menjadi malu.

BAB II

Jiwa yang Tergoda

Sudah empat tahun Kadiroen menjadi Asisten Wedono di Onderdistrik Gunung Ayu, yaitu sebuah onderdistrik yang sunyi karena di daerah pegunungan. Sedang di situ tidak ada pabrik gula atau onderneming-onderneming. Na­mun Kadiroen sampai waktu itu belum juga kawin. Selama empat tahun ia bekerja siang malam untuk mening­katkan taraf hidup orang kecil yang menjadi rakyat ba­wahnya. Ia sangat pandai dan bijaksana dalam mengu­rus setiap persoalan. Hampir semua rakyatnya hidup ber­kecukupan. Sebab Kadiroen selalu memberi nasihat dan teladan yang baik kepada orang-orang kecil. Karena ke­hidupan rakyat yang berkecukupan maka tidak ada or­ang yang suka mencuri dan berbuat kejahatan. Kadiroen sangat dicintai oleh rakyatnya sedang dari atasannya ia sering mendapat pujan. Hanya sekitar satu tahun yang lalu ia menghadapi masalah yang menyusahkan dirinya. Yaitu di Meloko di mana penduduknya tidak bisa mak­mur sebagaimana desa-desa yang lainnya. Desa tersebut, penduduknya banyak yang hidup miskin. Tetapi lurah di desa itu terkenal sebagai lurah terkaya ketimbang lu­rah-lurah yang lain di seantero Onderdistrik Gunung Ayu. Kadiroen menyelidiki dengan seksama kehidupan di desa itu. Tetapi ia tidak juga mengerti apa yang men­jadi penyebabnya. Kemiskinan penduduk desa tersebut­lah yang membikin susah hati Kadiroen. Ia sering tidak tidur, memikirkan bagaimana ia berikhtiar mencari cara guna meyelesaikan masalah tersebut.

Begitulah, jam empat pagi ia sudah naik kuda pergi ke desa tersebut. Ia ingin melihat bagaimna cara kerja rakyat disana. Sebab dengan mengerti sendiri kerja rakyat, ia akan mengerti bagaimana cara berusaha dan me­nasihati rakyat desa tersebut.

Sunyi sekali. Hawanya sangat sejuk. Burung-burung terbang kian kemari. Dari pepohonan yang sepertinya masih tidur, belum dibangunkan oleh angin, terdengar pantun dan nyanyian burung-burung yang amat indah, menyenangkan hati untuk mereka yang menghargai ke­hidupan binatang dan alam. Dan jauh terdengar kokok ayam jantan, seperti mengingatkan kepada makhluk Tuhan bahwa pagi itu adalah saat di mana kita akan meli­hat hari-hari yang bakal terbit. Langit di timur berwarna merah saga makin lama makin menguning. Kuning muda lalu kuning putih. Dan mengintiplah sang raja alam, mentari dari balik batas dunia. Sinarnya memancar kuat, mengusir gelapnya malam seperti membuka jalan bagi si raja siang. Bangunlah dunia.

Jalan raya yang naik turun di tanah perbukitan itu belum banyak dilalui orang. Hanya ada seorang naik kuda sambil berpantun ria dengan burung-burung menunjuk­kan bahwa orang itu memiliki hati yang tenteram dan berbakti pada Tuhan yang menganugerahi keelokan du­nia ini. Ia adalah Kadiroen, yang sangat gembira menyak­sikan indahnya suasana pagi.

“O, Tuhan Allah. Gustiku. Hamba berterima kasih kepada kebesaran-Mu. Sebab telah memberikan peman­dangan pada hamba yang bisa melihat dan merasakan keelokan kekuasaan Tuhan atas makhluk-Nya.”

Begitulah, Kadiroen selalu memuji dalam hatinya. Lalu ia berkata dalam hati: “Hai, teramat sunyi dan indah sekali jalan ini. Sudah dua jam saya naik kuda, berarti su­dah dekat dengan Desa Maloko. Tetapi mengapa belum bertemu dengan seorang manusia pun.” Baru saja Kadi­roen berpikir demikian, di kejauhan ia melihat sosok ma­nusia, makin lama makin besar. Mereka berdua hendak berpapasan. Kadiroen naik kuda, sedangkan orang itu ber­henti di tepi jalan, mempersilakan Kadiroen. Kedua ma­ta mereka saling beradu pandang. “Aduh” kata Kadiroen dalam hatinya. Ia hendak melecut kudanya supaya ber­jalan lebih cepat. Maka ia segera melewati orang yang ada di tepi jalan itu. Setelah agak jauh, ia menengok ke belakang. Dalam hatinya ia bertanya: “Siapakah gerangan orang itu?”

Sesampai di Desa Maloko, Kadiroen melihat pendu­duk di situ sudah bangun semua. Mereka sedang sibuk bekerja di sawah. Kadiroen menjadi gembira. Ia berkata dalam hati, ”Penduduk di sini rajin-rajin, tanahnya subur, air banyak. Tetapi mengapa mereka tidak bisa kaya sebagaimana desa-desa lain. Apakah penyebabnya?” Kadiroen bertanya kepada orang-orang yang bekerja di sawah tentang berbagai hal yang berhubungan dengan mata pencaharian dan kehidupan rakyat di desa itu. Te­tapi seluruh keterangan yang didapat Kadiroen belum mampu memecahkan persoalan yang dihadapi. Apa se­babnya rakyat tidak bisa hidup makmur. Setelah siang ia pulang dengan hati gundah. Ia berjanji dalam hatinya, esok pagi akan kembali lagi. Ia ingin tahu dan terus berusaha mencari tahu sebab-sebabnya. Di dalam perjalanan pulang, ia terus berpikir. Otaknya terus berputar-putar. Tetapi selain itu, setiap beberapa saat, jiwanya selalu bertanya “Aduh, siapakah, gerangan orang yang tadi itu?” Silih berganti ingatan dan pikirannya berkecamuk. Kadiroen berusaha menenteramkan jiwanya. Tetapi ah, setiap saat ia selalu teringat. Dadanya berdebar-debar dan nyeri, “Aduh, siapakah?” Jika pada siang hari jiwa Kadiroen bertanva-tanya, malamnya selalu tidak bisa tidur. Dan pada saat itu juga batinnya selalu bertanya: “Siapakah dia?” pertanyaan itu terus-menerus tidak mau pergi dari ingatannya.

Tengah malam Kadiroen baru bisa tidur. Lalu ber­mimpi seperti sedang naik kuda lagi, pergi ke Desa Meloko. Dan persis seperti kejadian sesungguhya yang ia aalmi paginya. Di dalam impian itu ia bertemu lagi de­ngan orang: “Siapakah dia?” O, tetapi betapa bahagianya hati Kadiroen mendapat impian yang luar biasa. Sebab dalam impian itu, orang yang selalu menjadi pertanyaan hatinya “Siapakah dia?” yang berbicara dengannya. Ya, berbicara, itulah sebabnya Kadiroen menjadi sangat ba­hagia.

“Siapakah dia?” Dialah seorang perempuan. Pembaca yang terhormat memang di suatu ketika dalam hidup ma­nusia, ada saat-saat yang menghidupkan jiwa manusia, ada saat-saat demikian luar biasa. Yaitu saat seorang bujang mengungkapkan perasaan cintanya kepada orang lain. Yakni pe­muda kepada pemudi atau sebaliknya. Inilah kodrat Tu­han Allah. Dan oleh karena itu, mulai saat itu Kadiroen menaruh perasaan cinta kepada seorang perempuan.

Pagi tadi ia baru sekali melihat perempuan yang sedang berangkat ke pasar. Tetapi, anehnya seterusnya ia tidak bisa lupa kepadanya. Tidak tahu, siapa perempu­an itu. Ia hanya baru tahu wajahnya saja. Tetapi wajah perempuan itu sekarang sudah tidak bisa pergi dari ingat­annya. Perempuan itu adalah seorang gadis muda. Usia­nya 21 tahun. Tadi pagi ia berangkat ke pasar. Pakaian­nya tidak menunjukkan sebagai orang kaya. Tetapi bersih dan rapi. Tetapi wajahnya sangat cantik sekali. Pera­wakannya sedang. Penampilan dan tingkah lakunya tam­pak lembut, begitu menarik hati; berwajah cantik, dengan rambut hitam mengkilat menambah sempurna kecan­tikan wajahnya. Yaitu wajah yang berkulit kuning bersemu putih serta halus, sehalus sutera layaknya. Hidung­nya mancung dan indah. Mulutnya kecil dengan bibir yang memerah indah. Pipinya padat berisi. Dagunya kelimis, alis atau keningnya bersemu hitam manis ayu de­ngan bulu mata yang lebat dan panjang. Dan matanya, O, matanya, begitu elok-tajam, begitu terang. Bola mata­nya tampak hitam mengkilat jika sedang memandang orang. O, Kadiroen tidak bisa melupakan pada keindah­an yang begitu menarik jiwanya. Yang mengikat jiwanya sampai sakit, menyenangkan.

Esok harinya, sedikit agak siang, Kadiroen berangkat lagi ke Desa Meloko. Dalam perjalanan ia selalu melihat bayangan perempuan yang ia cintainya. Kadiroen sangat berharap supaya ia jangan bertemu lagi dengan perem­puan itu. Karena ia tidak ingin jiwanya tergoda. Ia berusaha menindas perasaan cintanya. Akan tetapi celaka, di dekat Desa Meloko, ia bertemu lagi dengan perempu­an itu. Berjalan sendirian di jalan yang sepi, baru pu­lang dari pasar. Di punggungnya ada gendongan rangking atau kemarang yang penuh berisi. Kangking itu tampaknya amat berat. Karena perempuan itu berjalan pelan-pe­lan dan sebentar-sebentar berhenti untuk memulihkan te­naganya. Ia bermandi keringat.

Demi melihat itu, Kadiroen menjadi amat belas ka­sihan. Hatinya seraya hancur laksana air. Ia tidak ingat apa-apa lagi seraya turun dari kudanya dan berkata:

“Mbakyu, saya kasihan kepada Mbakyu. Berikanlah sebagian isi rangking itu padaku, biar agak ringan. Saya bersedia menolong membawakannya”

Perempuan itu terkejut. Wajahnya terlihat sedih, sehingga Kadiroen tambah kasihan. Dengan suara nyaring dan ringan molek menjawab:

“Terima kasih banyak Tuan. Tetapi karena rumah sa­ya sudah dekat. Jadi saya kuat membawanya sendiri, meskipun berat.”

Kadiroen menjadi heran dan memuji keteguhan si pe­rempuan, tidak suka ia ditolong, meskipun kelihatan su­dah amat lelah. Kadiroen tidak berani memaksa meno­long sebab ia belum kenal kepada perempuan itu. Dan lagi, ia merasa perbuatannya sangat aneh. Hatinya me­nyesal, sebab tidak berpikir dahulu. Ia merasa ia turun dari kuda bukan hanya karena perasaan sangat belas ka­sihan semata. Tetapi karena dorongan rasa cinta. Kadi­roen toh harus bisa berpikir bahwa seorang perempuan yang pulang dari pasar tentu tidak mungkin berani me­nitipkan barangnya kepada seorang priyayi, Asisten We­dono. Meskipun ia seorang Asisten Wedono yang tidak suka meninggi-ninggikan derajat dan pangkatnya. Kadi­roen merasa perbuatannya tidak dipikir panjang lebih dahulu. Tetapi sebaliknya, ia membetulkan perbuatannya dengan alasan, ia tidak bisa berpikir panjang ketika melihat ada seseorang yang mesti ditolong seketika itu ju­ga. Ia tidak punya maksud lain selain hanya ingin meno­long semata. Dan siapa pun orang yang mau menolong tentu tidak ingat apa pangkatnya. Kadiroen lalu ingin segera naik ke atas kuda lagi. Tetapi tertarik oleh perasaan cintanya maka ia seperti dipaksa oleh kekuatan raha­sia sehingga ia pun bertanya:

“Siapa namamu Mbakyu?”

“Ardinah,Tuanku!”

Hari itu Kadiroen mendapat sedikit keterangan, me­ngapa penduduk Desa Meloko tidak bisa kaya sebagai­mana desa-desa lain. Tetapi keterangan itu belum cukup menjadi bukti untuk menindak bagi yang bersalah. Ka­rena itu esok paginya Kadiroen hendak kembali lagi ke Desa Meloko. Dalam perjalanan pulang lagi-lagi bayangan Ardinah terus menyusup dalam hatinya. “Ardinah, o, Ardinah,” katanya dalam hati.”Apakah dosa kini aku sekarang telah bertemu denganmu dua kali, lalu menjadi tergila-gila tidak bisa melupakanmu?” Setiap kali Kadi­roen berusaha menindas perasaan cintanya kepada Ar­dinah, setiap kali itu juga justru semakin bertambah ingat Ardinah. Kadiroen menjadi sering heran mengapa jiwa­nya begitu tergila-gila hanya ingat pada seseorang. Se­dangkan ia baru bertemu dua kali. Kadiroen merasa ia sangat menaruh rasa cinta. Dan perasaan cinta itu telah mengikat jiwanya pada Ardinah. Karena itu dalam be­naknya ia berpikir untuk kawin dengan Ardinah.

Begitulah kenyataannya manusia itu. Pada suatu saat di dalam hidup manusia, ia akan kedatangan perasaan cinta. Dan setelah itu datang kehendak untuk kawin. Dua hal ini tidak mungkin disingkirkan. Karena keduanya me­rupakan suatu yang telah dikodratkan Tuhan Allah se­bagai suatu kepastian. Ada siang ada malam, tidak mungkin bisa dilawan manusia. Kadiroen yang sudah berumur 24 tahun dan sudah sering ditanya ayah dan ibu­nya apakah ia telah ingin menikah, selalu menjawab: “Ti­dak, sebab saya tidak mau terikat dengan perempuan. Sa­ya mau merdeka terus.” Tiba-tiba, sekarang dengan kua­sanya sang kodrat, maka mau tidak mau ia sangat suka terikat dengan Ardinah. Dan ia lalu berpikir tentang per­kawinan. Apakah Kadiroen tahu betul siapa itu Ardinah? Buat Kadiroen, nama itu berbunyi seperti judul gending atau lagu gamelan yang terbaik. Kadiroen berpikir, tidak peduli itu anaknya siapa. “Saya mencintainya, maka tentu akan saya kawini. Saya mencintai Ardinah, tetapi ah….” ia tidak berani meneruskan pikirannya. Ia menjadi takut. Hatinya amat sedih. Ia berdoa jangan sampai Ardinah ti­dak mencintainya dan tidak mau kawin dengan dirinya. Dalam hati ia menangis, “O, Ardinah. Ampunilah aku, berikan cintamu kepadaku, sebagaimana aku mau m­emberikan cintaku kepadamu.” Lalu timbul lagi dalam pi­kiran Kadiroen, bahwa ia orang baik-baik, masih muda ia sudah berpangkat tinggi. Ia masih bujang perjaka se­jati. Oleh karena itu, kalau ia datang ke rumah orang tua Ardinah, pasti ia diterima sebagai menantunya. Tetapi sebaliknya ia berpikir: “Orangtuanya umpamanya memberi izin, tetapi jika Ardinah tidak mencintai saya. Oh, mau apa saya?” Orangtua bisa memaksa Ardinah, itu tidak melanggar adat. Tetapi apa perlunya saya kawin dengan orang yang dipaksa mencintai saya. Sedang ia sendiri tidak mencintainya. Dalam masalah ini, tentu sayalah yang berdosa, sebab sayalah penyebab awal sehingga orang memaksa orang lain untuk menyerahkan hidupnya seumur-umur kepada saya. Sedang ia merasa susah terus-menerus. Orang yang terpaksa seperti itu, pasti hatinya teramat susah. O, saya tidak suka membikin susah manusia. Apalagi susahnya Ardinah. Saya hanya mau kawin dengan orang yang betul-betul saya cintai. Begitupun sebaliknya, ia juga mencintai saya dengan sungguh-sungguh. Begitulah dalam hal ini sikap adil yang harus diutamakan oleh Kadiroen. Tetapi, sebentar-sebentar perasaan Kadiroen berubah-ubah. Manakala ia berpikir Ardinah juga mencintainya, ia bahagia tetapi sebaliknya ia menjadi sangat susah manakala terpikir Ardinah tidak mencintainya. Sungguh, jiwa Kadiroen sangat tergoncang, sebentar ia teramat senang, sebentar susah. Jiwanya seperti dipermainkan oleh perasaannya sendiri, antara senang dan susah. “Ardinah, Ardinah, ampunilah aku, berikan cintamu kepadaku. Saya sanggup memberikan seluruh hidup dan cintaku kepadamu.” Begitulah, tiap menit ia selalu memuji-muji Ardinah. Sungguh manusia dalam situasi semacam itu, jiwanya menjadi sangat tergoncang. Dan kalau rasa cinta itu tak terpenuhi, sementara orang itu tidak kuat memikul beban itu, maka celakalah ia. Ia akan gampang menjadi gila. Itulah sebab yang menjadikan adat orang-orang Islam di tanah Jawa mengawinkan anak-anaknya pada usia masih muda sekali. Supaya pada saat perasaan cinta menjelang ia kawin. Sehingga saat cinta datang, maka kebanyakan lalu ia akan mendatangi istrinya yang sudah bersama dengannya dan juga sedang jatuh cinta. Demikian pula seorang perempuan yang berhadapan dengan lelaki. Kawin dahulu, baru mencintai. Itulah yang kemudian menjadi adat. Padahal menurut kodrat, mestinya cinta lebih dahulu, baru kawin. Adat semacam ini sepertinya melawan kodrat. Karena itu maka sering terjadi, adat berbuah kebusukan. Yaitu, sudah kawin tetapi sama-sama tidak saling mencintai. Sehingga mereka hidupnya mengalami kesusahan terus-menerus, dan akhirnya bercerai. Atau menikah lebih dari satu perempuan atau bahkan berzina. O, sungguh hal-hal yang tidak baik seperti ini sering terjadi di tanah Jawa. Kodrat tidak bisa diatur oleh adat. Demikianlah pikiran-pikiran itu menerawang dalam benak Kadiroen. Dan baru tengah malam ia bisa tidur.

Kadiroen harus mencari bukti-bukti yang jelas selama kedatangannya di Desa Meloko, untuk memberi pelajaran kepada mereka yang bersalah karena menghalang-halangi rakyat dapat hidup makmur. Oleh karena itu, pada suatu hari, ia pergi lagi ke Desa Meloko, melalui jalan yang sepi sebagaimana biasanya. Kadiroen berpikir keras supaya ia tidak bertemu dengan Ardinah. Sebab Kadiroen khawatir jiwanya akan tambah tergoda oleh perasaan cintanya. Tetapi sebaliknya, jiwanya sebentar-sebentar justru mengharap agar ia bertemu. Antara keinginan bertemu dan keinginan tidak bertemu, dua keinginan yang berlawanan yang berkecamuk dalam benak Kadiroen. Pikirannya menolak, sebaliknya hatinya berharap. Sungguh, seorang yang sedang jatuh cinta sakit rasanya jika perasaan cinta itu belum terpenuhi. Kadiroen sudah hampir tiba di Desa Meloko, tetapi ia menjadi sangat terkejut, karena ia bertemu lagi dengan Ardinah. Bagaimana pertemuan itu terjadi? Ia melihat Ardinah duduk menangis di pinggir jalan. Muka Ardinah ditutupi dengan kain selendang, sedang airmatanya bercucuran. Rangking yang berisi penuh, ia letakkan di sampingnya. Ardinah sangat susah hatinya, sehingga ia tidak tahu kalau Kadiroen datang mendekat lalu turun dari kudanya. Demi melihat Ardinah menangis, Kadiroen merasa sangat kasihan dan hancur perasaan hatinya. Makanya tanpa pikir panjang, ia mendekati Ardinah dan bersikap sebagaimana orang yang satu sama lain telah mengenal cukup lama. Maka dengan segenap perasaan cintanya, Kadiroen berkata: “Ardinah, o, Ardinah, jangan menangis dan bersedih hati.”

Mendengar suara itu, Ardinah terkejut. Ia segera mengelap airmatanya serta menjawab: “Ampunilah Tuan, Hamba tidak tahu kalau Tuan datang.”

“Tidak mengapa. Sayalah yang wajib minta ampun kepadamu. Karena saya berani mendekatimu saat engkau sedang dalam kesusahan. Tetapi saya ingin menolongmu, apa saja sebisaku. O, Ardinah, percayalah kepadaku, ceritakan apa yang menyebabkan kesusahanmu,” kata Kadiroen.

Ardinah mendengarkan omongan Kadiroen yang lemah lembut. Lalu roman mukanya yang susah kelihatan berubah menjadi bahagia. Sekarang ia bertemu dengan seorang lelaki yang gagah dan suka menolong pada sesama manusia. Ardinah tahu yang hendak menolong itu adalah Kadiroen, seorang Asisten Wedono. Karena Kadiroen sudah dikenal oleh semua rakyatnya, demikian pula tentunya Ardinah juga telah mengenalnya. Kadiroen seorang priyayi yang terkenal mencintai orang kecil. Ia seorang kesatria, pembela rakyat. Kadiroen berkata dengan lemah lembut kepada Ardinah. Hati Ardinah menjadi penuh dengan rasa terima kasih. “O, Kadiroen, kamu sungguh baik lahir-batin. Kamu masih muda, ganteng dan amat bijaksana. Sekarang kamu mau menolong saya,” katanya dalam hati. Dan dengan terus terang Ardinah menjawab:

“O, Tuan hamba mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas maksud Tuan menolong hamba. Tetapi hamba tidak perlu ditolong, karena hamba kuat memikul beban kesengsaraan ini. Adapun hamba tadi menangis karena hamba merasa susah, sebab mau menolong orang lain, tetapi hamba tidak mampu.”

Demi mendengar itu, hati Kadiroen menjadi sangat bahagia. Ardinah, perempuan yang ia cintai, susah hanya karena belum bisa menolong orang lain. Pada saat itu, Kadiroen mengetahui, Ardinah selain elok paras mukanya, juga elok hatinya. Selain itu, Kadiroen juga menjadi semakin mengerti dari keterangan Ardinah yang mengatakan ia kuat memikul kesengsaraannya sendiri, ia tidak suka ditolong. Ia mengerti, Ardinah sangat besar hati, percaya diri, pemberani, sebuah watak yang sungguh mengagumkan. Sekarang Kadiroen menjadi semakin cinta kepada Ardinah. Wajah, hati dan semuanya, sungguh elok. Apakah itu bukan bidadari yang menjelma menjadi manusia. Kadiroen sangat ingin menjadi suami seorang perempuan seperti itu. Ia sangat mencintai dan menghormati Ardinah. Apakah Ardinah juga mencintainya. Hati Kadiroen menjadi berdebar-debar kalau memikirkan hal itu. Tetapi Kadiroen berusaha menahan perasaannya. Ia menutupi segenap perasaan hatinya dan memutar otaknya. Dan dengan sabar ia bertanya pada Ardinah:

“Siapakah yang hendak kau tolong dan mengapa harus ditolong. Saya mau berusaha membantumu menolong yang sedang menderita itu. Satu orang tidak bisa menolong, dua orang menjadi kuat. Dan barangkali bisa menolong. Percayalah kepadaku.”

“O, Tuan, beribu-ribu terima kasih. Tuan seorang Asisten Wedono, memiliki kekuasaan. Barangkali Tuan bisa menolong. Selain itu, hamba sudah tiga kali bertemu dengan Tuan. Dan waktu pertama kali hamba bertemu, hamba sudah menaruh kepercayaan besar pada Tuan. Tuan seorang kesatria, dan semenjak pertama kali bertemu dengan Tuan hamba tidak bisa melupakan Tuan, tiap saat wajah Tuan terbayang. Hamba menaruh kepercayaan yang besar pada Tuan. Oleh karena itu, hamba akan bercerita panjang lebar kepada Tuan tentang hal-hal yang menyusahkan orang yang ingin hamba tolong itu,” jawab Ardinah.

Kadiroen mendengar jelas perkataan Ardinah: “Semenjak hamba bertemu pertama kali, hamba tidak bisa lupa pada Tuan. Tiap saat hamha terbayang wajah Tuan. Hamba menaruh kepercayaan vang besar pada Tuan.” Ha, apa itu bukan perkataan vang menerangkan bahwa Ardinah dalam hatinya memiliki rasa cinta kcpada Kadiroen. Kadiroen mengerti semua itu, meski Ardinah tidak terus terang mengatakannya. Mendengar itu semua, hati Kadiroen menjadi sangat berbahagia. Ia mencintai seorang yang elok segalanya. Dan orang itu juga membalasnya juga. O, Kadiroen merasa begitu senang. Begitu nikmat kalbu hatinya. Ia merasa berada dalam surga, sedang bertemu dengan bidadari. Kadiroen kemudian ikut duduk di tepi jalan itu, di samping Ardinah, ia ingin mendengarkan cerita Ardinah.

Maka Ardinah bercerita:

“Ayah hamba seorang yang miskin. Sewaktu umur hamba 18 tahun, ibu hamba meninggal dunia. Hamba hanya tinggal sendirian dengan ayah, sebab hamba tidak memiliki saudara. Setelah ayah hamba sangat tua karena tidak memiliki sanak famili, tetapi atas berkat Tuhan Allah, kami berdua bisa hidup di Desa Meloko. Meskipun miskin ayah hamba sangat mencintai hamba karena hamba anak tunggal, yang membantu semua urusan keluarga. Sudah sering hamba dilamar untuk dikawini banyak pemuda, tetapi hamba selama ini belum suka. Sebab hamba merasa berat meninggalkan ayah yang sudah tua. Sebaliknya ayah berkata, seandainya saya berumah sendiri, tentu ia akan sangat berat mengurus hidupnya sendiri di rumah hamba. Dengan tegas ia berkata tidak suka dihidupi oleh anak menantu. Inilah yang menyebabkan hamba tidak mau menikah dan terus-menerus membantu kehidupan ayah. Tiba-tiba satu tahun yang lalu, ayah hamba sakit keras. Lima hari hamba merawat ayah supaya sembuh. Hamba tidak pergi dari rumah dan pekarangan, sebab hamba ingin tetap menjaga ayah sampai sembuh. Meskipun seorang dukun di desa sudah menolong memberikan obat-obatan dan makanan, tetapi semua ikhtiar hanya sia-sia belaka. Adapun sakit ayah hamba sudah sangat mengkhawatirkan. Dan sudah nasib hamba kalau ia meninggal dunia. Keluh kesahnya tidak ada lain, selain: “O, anakku Ardinah, hamba tidak mau meninggal dunia sebelum hamba tahu betul kamu memiliki seorang suami yang baik”. Setiap saat ia memuji dan berdoa kepada Tuhan Allah, supaya datang seorang lelaki yang melamar hamba. Adapun hamba sendiri, siang-malam tidak bisa tidur selain berdoa supaya ayah sembuh. Pada hari yang kelima, hamba kedatangan seorang tamu lelaki yang tidak saya senangi. Sebab hamba belum mengenalnya. Tetapi ia membikin ulah yang menakutkan hamba. Ia datang kepada ayah hamba yang sedang sakit dan minta berbicara empat mata. Sehingga hamba tidak tahu, apa yang mereka bicarakan pada saat itu. Satu jam setelah itu, tamu lelaki itu pergi dan saya kembali menemui ayah. Ayah kelihatan sangat bahagia seperti tidak sedang sakit layaknya. Ia berkata pada hamba: “O, Ardinah, tamu yang barusan datang kemari itu adalah Kromo Nenggolo. Lurah baru di desa ini. Baru hari kemarin ia ditetapkan menjadi lurah. Jadi ia berpangkat besar di desa ini, selain itu, ia orang kaya. Ia bertamu ke sini untuk menjelaskan bahwa ia sering melihatmu, meskipun kamu tidak pernah memperhatikan dirinya. Dan sekarang ia sangat senang denganmu. Dan melamarmu. Melihat keadaannya, dan karena saya sendiri sudah tua dan sangat ingin menyaksikan kau menikah dengan selamat, maka tadi saya mengizinkan bahwa besok pagi ia akan datang dengan penghulu untuk kawin denganmu. Ia kaya, selain itu, ia juga bisa mendatangkan penghulu kemari.”

Baru sampai di situ cerita Ardinah, Kadiroen menjadi bingung. Hatinya berdebar-debar keras. Ia merasa terpelanting masuk dalam jurang yang sangat dalam. Ia merasa tidak hidup lagi. Dan dengan suara perih ia bertanya:

“Jadi, Ardinah sekarang sudah kawin dan sudah punya suami?”

“Ya!” Kata Ardinah. Pada saat jawaban itu keluar, Kadiroen menjadi pucat wajahnya. Ia seperti tidak melihat apa-apa lagi. Semuanya menjadi gelap. Ia merasa tidak bisa hidup lagi. Ia merasakan ada pukulan berat yang menyebabkan pecah hatinya. Maka ia memegang dadanya sambil menjerit dalam hati “Aduh!” dan badannya hampir jatuh ke tanah kalau Ardinah tidak cepat-cepat menahannva. Kadiroen pingsan beberapa saat. Pada saat ia siuman, ia mendengar kata-kata Ardinah:

“Tuan, ampunilah hamba, hamba merasa berdosa besar dengan menceritakan hal ini pada Tuan. Karena masalah ini Tuan pingsan beberapa saat. O, hamba tidak mengira.” Kadiroen menjadi ingat lagi. Ia memaksa dirinya untuk menenteramkan hati dan jiwanya yang sudah hancur. Ia ingat kepada Tuhan Allah. Ia menjadi sabar dan bertanya kepada Ardinah:

“Bukan salahmu, Ardinah. Hari ini saya memang agak kurang enak badan!”

Tapi Ardinah seorang perempuan yang perasa. Meski Kadiroen tidak mengatakan yang sebenarnya. Sebagaimana perasaan semua wanita, perasaan Ardinah juga sangat peka. Waktu Kadiroen pingsan karena mendengar perkataannya bahwa ia sudah kawin dan punya suami, maka segeralah Ardinah juga merasakan bahwa Kadiroen menaruh perasaan cinta yang luar biasa kepadanya. Pada saat itu juga Ardinah merasakan bahwa ia sangat mencintai Kadiroen. Selain itu, hati Ardinah juga merasakan seperti sedang diremuk oleh sebuah kekuatan rahasia. Tetapi Ardinah bisa menyabarkan dirinya. Sebab ia tidak mau mengatakan perasaannya pada Kadiroen. Tiada berapa lama, Ardinah mendengar perkataan Kadiroen:

“Sudah Ardinah, saya sudah sembuh. Saya ingin menolong orang yang kamu kasihi yang sedang menderita itu. Teruskanlah ceritamu itu.” Perkataan itu terdengar begitu sabar dan sangat mengharap Ardinah meneruskan ceritanya. Terpaksa Ardinah meneruskan ceritanya. “Tadi hamba sudah bilang, bahwa ayah hamba sakit keras. Dan ia bermaksud mengawinkan hamba dengan Kromo Nenggolo. Sebaliknya hamba tidak senang dan takut dengan Kromo Nenggolo. Apalagi ia begitu tergesa-gesa mendatangkan penghulu. Meskipun ayah masih sakit, ia nekad mau kawin. Tetapi hamba tidak berani melawan kata-kata ayah. Karena hamba khawatir akan bikin susah dan membikin matinya ayah seketika. Selain itu, sudah adatnya kita bumiputera, seorang gadis harus menurut kepada kemauan orang tua jika ia menghendaki kita dikawinkan. Kita seorang gadis tidak punya hak bicara dan mengeluarkan pendapat kita. Meskipun masalah perkawinan adalah urusan terbesar bagi hidup manusia, untuk ketentuan kehidupan seterusnya. Sungguhlah adat yang begini ini memang sudah nasib bagi gadis-gadis. Dan sering seorang gadis menikah dengan terpaksa. Lalu mereka yang lembek hatinya mau menghibur dirinya dengan berzina dengan lelaki lain. Memang, kehendak orangtua itu baik, sebab ingin melihat anak gadisnya bahagia dengan memilihkan lelaki sebagai suaminya. Tetapi kodrat Tuhan Allah tidak boleh dilawan dengan adat manusia. Jadi hamba mesti kawin dan tidak berani melawan keputusan ayah. Karena hamba khawatir menambah sakitnya. Apalagi melawan merupakan hal yang tidak patut, karena menyimpang dari adat. Begitulah dengan izin ayah, maka esok paginya di rumah, hamba akan kedatangan Kromo Nenggolo dan penghulu. Dan hamba selanjutnya ditetapkan menjadi istri Kromo Nenggolo. Tetapi sesudah dikawinkan, maka seketika itu juga sakit ayah bertambah keras. Dan lalu meninggal dunia dengan kata-kata terakhirnya kepada hamba: “Sekarang hamba sudah siap mati, karena kamu sudah kukawinkan dengan orang kaya dan berpangkat.””

Sampai di sini Ardinah menangis karena ia ingat kepada ayahnya yang ia cintai.

“Sesudah ia dikubur, maka hamba dibawa ke rumah lurah, suami hamba itu. Dan di situ saya diberi tahu bahwa hamba dijadikan selir. Diselir, artinya dijadikan istri muda. Kromo Nenggolo berdusta waktu ia berkata kepada ayah hamba. Istri tuanya ia tipu. Ya, sekarang Kromo Nenggolo semakin tambah bejat hatinya. Itulah sebabnya hamba tidak bisa mencintainya.”

“Istri tuanya menjadi sakit hati melihat hamba. Ia merasa bahwa ia akan kehilangan pangkat dan hak-haknya sebagai istri lurah.”

“Ia merasa jiwanya menjadi amat sakit, karena ia sudah dibikin permainan oleh suaminya. Ia teramat sedih, batinnya menderita. Inilah perempuan tua yang sangat kasihan, Tuan. Dan hamba ingin sekali menolongnya. O, Tuan, apa sebabnya agama Islam hamba memperkenankan lelaki kawin lebih dari satu. Sedang biasanya ajaran agama sering dijadikan alasan oleh kaum lelaki yang hanya ingin mempermainkan perempuan.”

“Itulah sebabnya, hamba sebagai seorang perempuan, sering menderita batin. Hamba tahu, seorang perempuan perangainya sangat lembut, seorang lelaki banyak alasannya, bahwa di beberapa negeri, ada lebih banyak kaum perempuan daripada lelakinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa ajaran agama kita memperkenalkan lelaki boleh kawin lebih dengan satu perempuan. Tetapi hamba tidak mengerti, mengapa seorang lelaki berani mengambil hak-hak itu tanpa meminta izin sang istri tua, tanpa menghormati dan turut merasakan bagaimana pedihnya dimadu. Demikian pula, perempuan mudanya, sebelum dinikahi seharusnya ditanyai bagaimana pendapatnya, mau apa tidak ia hidup rukun dengan istri tua. Dan si lelaki seharusnya bisa membagi perasaan cintanya kepada semua istrinya. Tetapi biasanya, tidak ada perdamaian semacam ini yang terjadi dengan tulus hati satu dengan yang lainnya secara terus-menerus. Selain itu, perempuan biasanya tidak ditanya pendapatnya lebih dahulu dan hanya dianggap sebagai benda yang tidak bernyawa saja. Kita perempuan memang lemah, lelaki kuat dan kuasa, mereka bisa berbuat sewenang-wenang kepada kita. Itulah yang sering terjadi di Hindia sini. Selama para lelaki belum bisa berbuat baik dan adil, maka lebih baik kalau agama kita melarang perkawinan lebih dari satu perempuan. O, Tuan Kadiroen, hamba merasa sendiri hidup dalam neraka dari kesewenang-wenangan lelaki, yang mengaku beragama tetapi tidak menjalankan ajaran agamanya tersebut. Meski begitu, saya tidak akan menggugat aturan agama kita. Atau tidak menggugat juga pada yang membikin aturan itu. Sebab, mestinya maksudnya baik. Tetapi hamba mencela semua laki-laki yang busuk seperti Kromo Nenggolo suami hamba. Lelaki seperti itu, wajib dikucilkan dari pergaulan orang banyak. Sekarang hamba sudah telanjur menikah dengan Ielaki yang tidak hamba cintai. Istri tuanya dalam kesusahan yang amat sangat dan mesti saya tolong. Oleh karena itu, hamba lalu minta cerai dari Kromo Nenggolo. Bukan karena hamba mementingkan diri sendiri karena susah. Tetapi hamba ingin menolong istri tuanya. Tetapi Kromo Nenggolo tidak mau menceraikan hamba. Ia memenuhi semua kewajibannya kepada hamba. Tetapi hamba tidak suka kepada dia. Sampai sekarang hamba menolak berhubungan dengan dia. Tetapi dia tetap tidak mau menceraikan hamba. Keadaannya sekarang, saya secara lahir diikat oleh seorang lelaki yang tidak saya sukai. Yaitu orang yang selalu membikin sakit hati kaum perempuan. Demikian pula, saya tidak bisa menolong istri tuanya. Itulah yang menyebabkan susahnya pikiran hamba. O, Tuan Kadiroen, berilah pertolongan untuk perkara ini.”

Sampai di sini Ardinah menceritakan riwayatnya. Kadiroen mendengarkan betul dan berikhtiar bagaimana bisa membantu menolong Ardinah. Tetapi waktu itu sepertinya otaknya tidak bekerja. Hanya hati dan jiwanya terus-menerus gelisah. Oleh karena itu, ia berkata pada Ardinah: “Mbakyu, saya mengucapkan banyak terima kasih. Karena kamu mempercayai saya dan sudah menceritakan hal ini. Kau dengan gagah berani, melupakan kepentinganmu sendiri, dan berusaha untuk menolong orang lain. Kau telah memberikan contoh yang baik kepada saya. Selain itu, saya akan melupakan kepentinganku sendiri, kalau ada orang lain yang mesti ditolong. Pasal membantu kamu untuk menolong bini tua dari lurah tersebut, sesungguhnya amat sukar urusannya. Saya sekarang belum dapat berusaha. Oleh karena itu, saya minta waktu. Lain hari hal ini akan saya bereskan. Hanya satu hal lagi yang ingin saya ketahui, Ardinah istri muda seorang lurah, mengapa pergi ke pasar sendirian saban hari?”

“Tadi sudah hamba terangkan bahwa hamba tidak suka dengan lelaki yang secara agama telah sah menjadi suami hamba, tetapi pada praktiknya lain. Di mata orang banyak, hamba memiliki suami, tetapi yang sebenarnya bukan suami hamba. Hal yang demikian ini membikin marah dan bencinya Kromo Nenggolo kepada hamba. Dan oleh karena itu ia menyiksa hamba. Jam empat pagi hamba harus sudah bangun, pergi ke pasar yang begitu jauh. Dan kalau sampai di rumah, terus-menerus sampai malam, hamba harus bekerja. Selain itu, ia seringkali memukuli tubuh hamba juga. Ia sanggup meringankan nasib saya kalau hamba mau melayani keinginannya. Tetapi hamba tetap tidak mau, sebab supaya jangan menambah sakit hati istri tuanya. Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang hamba disiksa terus-menerus. Tetapi hal itu tidak hamba pikirkan. Dan siang-malam hamba hanya memohon kepada Tuhan Allah, supaya diberi kekuatan memikul semua siksaan ini dengan hati sabar. Hamba memegang teguh nasihat ibu hamba, “Siapa yang berbuat baik, tentu akan dibalas kebaikan oleh Tuhan Allah. Dan oleh karena itu, dalam kesengsaraan tetaplah percaya kepada Tuhan Allah yang akan memberi kekuatan sampai saatnya anugerah itu datang.” lnilah pepatah yang selalu hamba ingat Tuan dan yang membikin saya tetap sabar serta sanggup memikul kesengsaraan ini dengan tidak sampai berputus asa.”

Kadiroen mendengarkan semua pembicaraan Ardinah, dalam batinnya ia menghormati pendirian perempun yang herhati mulia itu. Mulia karena memang baik. Kadiroen merasa sepertinya ia mendapatkan pelajaran dari pepatah yang sudah diterangkan Ardinah tadi. Kadiroen sangat bahagia mendapat pelajaran mencari kekuatan Allah dalam kesengsaraan tadi. Dan pikirannya yang kebingungan memikirkan cinta menjadi bersabar. Lantas Kadiroen permisi pulang. Sungguh Kadiroen sudah bertemu dengan seorang perempuan yang cocok dengan jiwa, watak dan pikirannya. Karena terdapat tiga kesamaan dalam tiga masalah itu, maka tidaklah heran jika Kadiroen menaruh cinta yang amat besar kepada Ardinah. Seorang lelaki hanya akan betul-betul mencintai seorang perempuan jika watak, jiwa dan pikiran si perempuan memiliki kecocokan dengan si lelaki. Begitu pula sebaliknya seorang perempuan terhadap seorang lelaki. Cinta sejati adalah jika ia melihat dirinya sendiri dalam diri orang lain. Itulah percintaan sejati yang amat indah sinarnya.

Hari itu Kadiroen tidak jadi pergi ke Desa Meloko. Meski ia sangat suka, tetapi pikirannya sedang melawan semua pekerjaannya karena ia sangat tertarik oleh debaran jiwanya. Oleh karena itu ia lalu pulang. Dan karena ia merasa begitu tergoda, begitu sakit jiwanya, maka ia minta cuti 14 hari untuk menerangkan semua persoalannya kepada ayah dan ibu di rumah. Hari itu, pada tengah malam, ia mengerti ada tiga perkara yang mesti ia bereskan. Yaitu jiwanya sendiri, pertolongan untuk istri tua Lurah Meloko, serta kepada rakyat di desa itu.

Untuk pasal yang pertama, ia sudah dapat menyelesaikan dengan baik. Yaitu ia akan cuti menghibur hati di rumah orang tuanya. Dan untuk pasal yang kedua, ia sudah menemukan jalannya. Yaitu ia akan menyerahkan hal itu pada Asisten Wedono yang akan mewakilinya dalam 14 hari cuti itu. Hal itu tidak akan menyusahkan yang mewakilinya. Sebab Kadiroen sudah tahu duduk perkaranya. Dan hanya tinggal mengumpuIkan bukti-bukti saja. Untuk mengumpulkan bukti-bukti, wakilnya pasti tidak akan keberatan.

Begitulah, Kadiroen akan menyelesaikan dua perkara itu, sebab ia sudah tidak kuat lagi. Hanya perkara menolong istri tua Lurah Meloko, itulah yang masih belum bisa diselesaikan dalam pikiran Kadiroen. Beberapa ide telah membayang dalam pikiran Kadiroen untuk mengikhtiarkan perkara itu. Tetapi hanya satu cara yang dapat menyelesaikan masalah itu, “Ardinah harus cerai dengan Kromo Nenggolo”. Tetapi bagaimana hal itu meski dijalankan. Itulah yang selalu dipikirkan otak Kadiroen. Ia berpikir, seumpama Ardinah sudah diceraikan oleh Kromo Nenggolo, istri tuanya pasti akan tertolong. Tetapi bagaimana hidup Ardinah selanjutnya, seorang perempuan muda yang tidak punya sanak famili?

Jadi dalam hal ini, Kadiroen harus mau memikul kehidupan Ardinah. Dan bisa memikulnya, sebab tentunya ia akan kawin dengan Ardinah. Kadiroen akan kawin dengan dia. Ia tahu, dari pertemuan tadi pagi, bahwa Ardinah mencintai dirinya. Sebaliknya jika Kadiroen ikut campur tangan masalah cerai itu, lalu ia kawin dengan Ardinah, bagaimana nantinya dalam pandangan umum? Tentunya ia akan kelihatan busuk sekali, sebab ia memaksa seorang lurah – seorang pegawai di bawah kekuasaannya – untuk bercerai dengan istrinya, buat dikawin sendiri oleh Kadiroen. Kadiroen yakin, cara ini akan kelihatan busuk sekali. Sebab jika hal itu sampai kejadian, namanya akan menjadi sangat tercemar. Dan lalu ia tidak begitu dipercaya oleh rakyat. Akhirnya ia tidak akan bisa membantu rakyat dalamwilayah kekuasaannya itu. Selain dari itu, dengan mengambil jalan yang demikian itu, ia akan memberi contoh yang buruk kepada semua orang. Pendek kata, bahwa jalan yang demikian sangat buruk sekali. Betul juga, Kadiroen sudah mengerti, pada zaman kuno banyak atasan yang memaksa bawahannya untuk memberikan istrinya pada atasannya. Mereka memaksa dengan ancaman, membenci, melepas pekerjaan atau pangkat seorang pegawai yang ada di bawah perintah kekuasaannya. Karena seorang pegawai biasanya amat takut kehilangan jabatannya. Ia malu. Jadi mereka menurut saja semua apa yang diperintahkan atasannya. Tetapi Kadiroen tidak suka berbuat begitu hina, memaksa bawahannya untuk urusan demikian. Ia lebih baik bunuh diri daripada harus berbuat yang demikian hina. Pendek kata, Kadiroen tidak bisa ikut campur tangan dalam urusan cerai ini. Bisa juga dilaksanakan, tetapi sesudah Ardinah diceraikan, maka selanjutnya Kadiroen akan menghindari Ardinah. Padahal ia sangat khawatir akan hidup dan masa depan perempuan itu. Bahwa Ardinah akan hidup lebih sengsara dari pada sekarang. Meskipun kira-kira Ardinah akan sanggup memikul beban tambahan kesengsaraan itu. Tetapi Kadiroen sendiri yang tidak akan kuat melihatnya jika hal itu sampai terjadi. Ya, bagaimanapun Kadiroen memikir-mikir, selalu saja ia tidak mendapatkan jalan yang baik untuk menolong istri tua yang disakiti jiwanya oleh Kromo Nenggolo. Semalaman Kadiroen tidak bisa tidur. Dan pagi-pagi ia sudah pergi ke Desa Meloko, ingin bertemu di jalan dengan Ardinah. Dan setelah bertemu maka Kadiroen meminta maaf kepada Ardinah karena sampai sekarang ia belum bisa membantu dengan semestinya apa yang dimaksud Ardinah. Lalu Kadiroen menjelaskan bahwa ia sudah minta cuti selama 14 hari untuk pulang ke rumah orangtuanya. Selain itu, ia meminta izin Ardinah, apakah ia boleh meminta nasihat ibu dan bapaknya mengenai kesulitan ini.

“Hamba mengucapkan beribu terima kasih atas kehendak Tuan yang mulia itu. Sesungguhnya Tuan adalah seorang kesatria. Tetapi tadi malam hamba sudah menemukan cara, dan akan berusaha sendiri, yang akan hamba lakukan dalam dua minggu jika Tuan cuti. Tuan pun tak usah turut campur tangan lagi. Sebab hamba tidak ingin Tuan ikut susah dalam masalah ini. Selain dari itu, Tuan jangan bilang pada ayah dan ibu Tuan, ya Tuan hamba,” jawab Ardinah.

Pesan yang terakhir itu dikeluarkan dengan perkataan yang sangat terang dan dengan cara yang begitu menarik hati. Sehingga Kadiroen tidak bisa bilang apa-apa, selain “Saya menuruti kemauan Ardinah!”

Dengan begitu maka Ardinah melepaskan Kadiroen dari kewajibannya yang amat sukar, yang meringankan apa yang mesti dipikul Kadiroen.

Beberapa hari tidak lama sesudah kejadian ini berlangsung, maka Kadiroen mendapat telegram dari pembesar atasannya yang sebagian berbunyi; “cuti diizinkan. Habis verlof supaya terus menjabat dengan pangkat Wedono di Distrik Rejo….”

Sesungguhnya kabar itu membikin gembira Kadiroen. Batinnya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Tuhan Allah. Kenaikan pangkat itu bagi Kadiroen dapat menjadi sedikit obat bagi jiwanya yang sakit dan terguncang keras.

Bab III

Terjepit

Perihal jiwa Kadiroen yang tergoda, luka, dan sakit itu pun tidak bisa ia katakan kepada kedua orangtuanya. Karena ia sudah berjanji pada Ardinah untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun. Bahwa orang tua Kadiroen amat bahagia menyambut kedatangan anaknya yang membawa kabar, bahwa ia sudah naik pangkat menjadi wedono, itu pun tidak usah diceritakan lagi di sini.

Orangtua Kadiroen mengerti bahwa anaknya kini sudah berumur lebih dari 24 tahun. la bertanya kepadanya apakah ia sudah ingin menikah. Tetapi Kadiroen menjawab “belum”. Memang sudah biasanya orangtua dari seorang perjaka bertanya apakah anaknya sudah ingin kawin. Dan kalau sudah ingin maka lalu orangtuanya kemudian mencarikan istri. Kadiroen ingin menyimpang dari adat kebiasaan seperti itu. Karena ia belum bisa menentukan, apakah ia bakal mencintai istri yang dicarikan oleh orangtuanya itu. Dan kalau umpama tidak cinta, tentunya akan menyusahkan orangtuanya juga. Kadiroen hanya mau kawin dengan seorang perempuan yang ia pilih sendiri. Ia memilih berdasar atas rasa cinta. Coba Ardinah belum mempunyai suami, tentu ia akan minta kawin dengan Ardinah. Tetapi sekarang hal itu tidak mungkin. Ketika Kadiroen ditanya oleh orangtuanya mengenai perkawinan, jiwa Kadiroen saat itu sedang hancur, jadi tentu saja ia tidak ingin kawin. Kadiroen berharap, sehabis cuti 14 hari itu, selanjutnya ia akan meninggalkan Ardinah selamanya. Sebab tempat tinggal Kadiroen sebagai wedono sangat jauh dengan Ardinah. Ia berharap jiwanya akan sembuh dan tidak lagi teringat kepada Ardinah. Tetapi siapa akan bisa melupakan cinta sejati? Cinta sejati hanya datang sekali dalam hidup manusia, dan seumur hidup rasa cinta itu tidak akan hilang bekas-bekasnya dan dilupakannya. Lelaki bisa jatuh cinta lagi dengan perempuan lain – dan sebaliknya – tetapi, sifat dan rasa hatinya terhadap cinta yang kedua itu akan sangat berbeda dengan cinta yang pertama. Oleh karena luka jiwa cinta pertama yang tak tergapai itu, seumur hidup masih ada bekasnya dan sering pada suatu saat nanti akan teringat lagi. Begitupun kenyataannya pada diri Kadiroen. Pasal ini akan diceritakan dalam lain bagian di belakang nanti.

Sehabis cuti, Kadiroen pergi ke ibukota Distrik Rejo. Ia mengambil alih pekerjaan wedono yang ia ganti. Wedono yang lama adalah seorang pejabat yang sudah sangat tua dan tergolong kolot. Tetapi amat baik hatinya dan selamanya berusaha memakmurkan kehidupan rakyat. Karena sudah tua, maka ia minta pensiun. Sewaktu wedono tua habis menyerahterimakan jabatannya kepada Kadiroen sebagaimana kebiasaan yang berlaku maka ia minta waktu berbicara sendirian dengan Kadiroen.

“Dinda, saya seorang pejabat tua. Saya sangat mencintai rakyatku. Karena itu saya sangat susah, karena terpaksa harus meninggalkan pekerjaan saya ini. Saya bilang terpaksa karena rupa-rupanya saya sudah tua dan sudah tidak bisa lagi menyesuaikan dengan kemajuan zaman sekarang. Itulah sebabnya, bagaimanapun usaha saya memakmurkan kehidupan rakyat, tetapi tambah lama justru menjadi tambah miskin rakyat yang saya pimpin, yang sudah kuanggap sebagai anak-anakku sendiri itu. Sesungguhnya, dahulu rakyat yang saya pimpin menurut kehendak Gupermen dapat hidup mulia lahir-batin. Sekarang ternyata tambah miskin dan hidup kesusahan. Selain itu, perilaku rakyatku yang dahulu begitu baik dan halus, sekarang semuanya sudah berubah. Saya sudah lama mencoba memperbaiki hal ini. Tetapi semua usaha saya tidak berhasil. Karena itu saya merasa ketinggalan dengan kemajuan zaman sekarang ini. Maka saya minta pensiun, supaya bisa menyerahkan jabatan kepada yang lebih muda dan bisa menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Saya mengharap dan selalu mendoakan kepada Dinda Kadiroen, berusahalah yang keras untuk menjaga keselamatan kehidupan rakyat di sini.”

Kadiroen mendengarkan petuah-petuah bijak dari seorang wedono tua itu dengan perasaan hormat dalam hatinya. Muka wedono tua itu, dan rambutnya yang seluruhnya sudah hampir memutih, dapat meyakinkan semua orang muda untuk dapat mempercayai dan menghormatinya seperti hormatnya cucu kepada kakeknya. Memang, di antara pejabat kuno, ada banyak yang dengan tulus ikhlas mencintai rakyatnya. Hanya karena mereka memerintah dan mengatur semua hal, menurut aturan dan adat yang sudah kuno – sedang semakin lama zaman terus berubah – maka para pejabat tersebut lalu tidak bisa lagi menyesuaikan dengan kemajuan zaman baru. Itulah sebabnya, mengapa sering terjadi perselisihan dengan rakyat pada zaman baru itu. Dan para pejabat-pejabat yang kuno, meskipun maksud hatinya menurut keyakinannya begitu baik untuk rakyat, tetapi wedono yang budiman tersebut minta segera pensiun karena mengerti akan hal ini.

Adapun ibukota dari Distrik Rejo bernama Rejo juga. Distrik itu dibagi menjadi empat bagian, yaitu empat onderdistrik yang diperintah oleh empat asisten wedono. Sekarang Kadiroen mesti menjadi kepala dari keempat onderdistrik itu. Kadiroen ingin memerintah dengan adil dan betul. Artinya, memerintah begitu rupa, supaya semua rakyat di situ hidup selamat dan berkecukupan. Karena Kadiroen sudah mendengar dari wedono tua bahwa rakyat di situ boleh dibilang miskin dan susah hidupnya, berlainan dengan zaman dahulu. Itulah sebabnya Kadiroen terlebih dahulu ingin mendapat keterangan yang secukupnya mengenai hal-hal di bawah ini:

1. Kehidupan rakyat di situ apakah sudah berkecukupan dan selamat, serta usaha yang bagaimana serta apa penghasilannya dahulu sehingga bisa berkecukupan?

2. Sekarang bagaimana kehidupan rakyat, bagaimana usaha hidupnya dan bagaimana serta apa penghasilannya?

3. Apakah ada perubahan antara dahulu dengan sekarang, dan apakah perubahannya, sehingga memiskinkan kehidupan rakyat?

4. Apakah ada hal-hal lain yang sudah membikin mundurnya keselamatan rakyat?

Untuk keperluan ini, maka Kadiroen secepat-cepatnya memanggil empat asisten wedono yang ada di bawah kekuasaannya untuk mengadakan rapat. Di situlah masalah-masalah tadi diurus. Asisten Wedono A menerangkan bahwa ia baru satu tahun memerintah di daerah itu. Jadi kurang mengetahui asal usul zaman dahulu. Asisten Wedono B baru dua tahun, jadi jawabannya seperti jawaban A. Begitupun C. Hanya Asisten Wedono D yang sudah lima belas tahun memerintah di wilayahnya. Lalu ia menerangkan hal yang berlainan dengan keterangan wedono yang baru pensiun. Ia mengatakan bahwa onderdistrik yang diperintahnya, dahulu rakyatnya bodoh-bodoh, miskin sebab hidupnya hanya bertani saja. Sekarang hidupnya cukup, kepandaian mencari uang bertambah dan bisa bekerja sebagai kuli pabrik dan sebagainya. Jadi betul kalau zaman dahulu dibanding dengan sekarang memang sudah mengalami perubahan besar. Tetapi perubahan itu menjadikan semakin majunya kehidupan rakyat. Ia mengatakan bahwa semua itu Asisten Wedono D-lah yang telah mengusahakannya.

Kadiroen belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari rapat yang pertama itu. Karena itu, ia membikin keputusan bahwa semua asisten wedono wajib mengumpulkan semua lurah yang ada di desanya. Adapun setiap lurah wajib membawa seorang tetua desa dari desanya sendiri. Kumpulan itu wajib diadakan di pendopo asisten wedono masing-masing. Dan di situ Kadiroen akan turut hadir untuk mengurusnya.

Tiada berapa lama Kadiroen datang ke onderdistrik Asisten Wedono A. Di sana sudah kumpul para lurah dan tetua-tetua desa. Kadiroen tahu bahwa orang kecil menghadap priyayi atau pejabat besar, selamanya mereka merasa takut dan tidak berani berkata berterus terang dalam hal-hal yang sekiranya akan bikin repot atau banyaknya pekerjaan pejabat. Orang kecil takut mendapatkan marah dan dikatakan rewel. Karena itu, dalam membuka permusyawaratan tersebut Kadiroen berpidato begini:

“Sahabat para lurah dan semua tetua desa yang berkumpul di sini saya mengajak kalian semua untuk musyawarah di sini, tidak untuk mendapatkan keterangan berdusta. Saya mempunyai maksud, memakmurkan orang kecil yang ada di dalam wilayah distrik saya, saya perlu mengetahui lebih dahulu hal ihwal rakyatku. Dan jika saya sudah mengerti, tentulah bisa berusaha guna memakmurkan rakyat semuanya. Kalau rakyat hidupnya susah, tentu saya akan turut susah. Dan karena itu, siapa dari kalian yang saya tanyai sesuatu, jangan takut berkata dengan berterus terang apa adanya. Siapa yang menjawab dusta, maka ia saya pandang rewel dan ingin membikin susah saya. Jelas?”

Inggih bendoro!” kata mereka bersama-sama. Perkataan Kadiroen di atas tadi, rupa-rupanya menyenangkan semua yang datang. Dan kelihatannya mereka tidak akan takut menerangkan semua hal ihwal desanya. Kadiroen tahu, biasanya orang kecil takut kepada lurahnya. Oleh karena itu, terlebih dahulu ia meminta semua keterangan dari para tetua desa. Sesudah itu baru dari lurah-lurahnya. Adapun keperluannya, supaya rakyat sendiri yang akan menerangkan sesuai dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Jangan hanya mengikuti keterangan dari lurahnya saja. Kadiroen sering mendengar ada lurah yang mengatakan bahwa hal-hal yang ada di desanya telah baik, sedangkan sesungguhnya tidak demikian. Mereka hanya ingin mendapat pujian dalam pangkat dan pekerjaannya. Oleh karena itu, Kadiroen memandang kurang cukup kalau hanya mendapatkan keterangan dari lurah-lurahnya saja. Tetapi, ia mesti dapat keterangan dari tetua penduduk desa setempat. Itulah sebabnya, mengapa Kadiroen mengundang para tetua desa dalam musyawarah tersebut, dan mereka dimintai keterangan lebih dahuIu. Rapat di wilayah Onderdistrik A itu berlangsung cukup lama. Dan Kadiroen mendapat keterangan yang singkatnya sebagai berikut.

1. Pada zaman dahulu, jadi waktu sedikit kuno, kehidupan rakyat memang tenteram dan berkecukupan. Hampir semua mempunyai kerbau, sapi, rumah, lumbung dan sebagainya. Karena kehidupan yang cukup itu, maka di desa menjadi selamat, aman dan tenteram. Pada saat itu jenis usaha kehidupan rakyat hanya sedikit macamnya dan gampang. Yang laki-laki sebagian besar menjadi petani, ada satu-dua menjadi dukun, tukang kayu, tukang besi, tukang emas, dan pertukangan lain-lainnya. Mereka semua bekerja dengan bebas untuk keperluannya sendiri-sendiri. Yang perempuan membantu lelakinya dengan menanam, memotong, mengetam padi, membatik, berjualan hasil bumi ke pasar dan sebagainya. Sedang anak-anak biasanya membantu orangtua memelihara hewan-hewan ternak. Hasil bumi biasanya berupa padi, ketela, jagung dan sebagainya.

2. Sekarang kehidupan penduduk banyak yang berkesusahan. Banyak yang tidak mempunyai kerbau dan ternak lagi. Hanya satu-dua yang masih bisa mempunyai lumbung. Memang, hampir semua masih mempunyai rumah sendiri-sendiri. Tetapi, banyak yang mempunyai pinjaman pada orang-orang mindring. Itulah sebabnya, desa sekarang menjadi tidak aman lagi. Lalu banyak orang jahat seperti pencuri, perampok dan sebagainya. Jenis usaha kehidupan rakyat ada banyak, misalnya menyewakan tanah pada pabrik gula – dalam distrik wilayah Kadiroen ada empat pabrik gula – dan juga bisa menjadi kuli atau buruh pabrik. Semua orang laki-laki, perempuan dan anak-anak ada satu-dua yang masih menjadi tukang-tukang tersebut sebagaimana disebut di atas dan masih banyak yang bertani di sawah untuk keperluannya sendiri. Sedang yang tidak punya pekerjaan sekarang bisa gampang mendapat pekerjaan di kota-kota atau di tempat-tempat lain. Pendek kata jenis usaha kehidupan rakyat atau pekerjaan lahirnya itu tidak kurang. Meskipun ada suatu masa di mana dalam satu tahun ada banvak orang yang tidak mendapat pekerjaan sama sekali. Selain itu, bedanya zaman dahulu dengan sekarang, yaitu hasil rakyat zaman dahulu berupa hasil-hasil pertanian, sekarang hasilnya berupa uang.

3. Jadi nyata ada banyak perubahan yang kentara secara lahiriah, yaitu perubahan kemunduran alias kaya menjadi miskin. Perubahan yang besar lagi, bahwa dahulu rakyat dapat penghasilan dari tanah, sekarang uang. Menurut kenyataan tersebut ini, maka hampir semua orang merasa mengalami kemunduran. Tetapi jarang yang mengetahui apa sebabnya bisa mengalami kemunduran itu.

4. Begitupun dengan lurah-lurah dan para tetua yang berkumpul di Onderdistrik A, sama, tidak ada yang bisa menjelaskan sebab-sebab kemunduran itu. Dan hanya berkata bahwa hal itu sudah zamannya atau takdir.

Di hari kedua dan ketiga, Kadiroen berbuat hal yang sama seperti di Onderdistrik A. Mencari tahu keadaan di Onderdistrik B dan C. Tetapi kesimpulannya sama saja seperti di Onderdistrik A. Pada hari yang keempat Kadiroen datang di Onderdistrik D, yang oleh asisten wedononya dikatakan bahwa keadaan rakyatnya di wilayah itu sekarang semakin makmur ketimbang dahulu.

Pagi-pagi betul Kadiroen datang di Onderdistrik D di kantornya Tuan Asisten Wedono. Lurah-lurah dan para tetua desa belum datang di situ. Baru saja Kadiroen duduk, ada seorang polisi desa datang, mengantarkan seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya yang kira-kira berumur sembilan bulan. Perempuan itu kelihatan amat kurus badannya. Dan dari pakaiannya kelihatan sangat miskin. Baju robek-robek dan kainnya bertambal-tambal. Anaknya yang kecil telanjang. Demi melihat mereka, Kadiroen menaruh betas kasihan pada si miskin itu. Segera Kadiroen bertanya pada pegawai polisi yang mengantar:

“Itu orang apa?”

“Ini seorang pesakitan Ndoro, kemarin siang ia ditangkap oleh mandor tegal tebu, sebab ia sedang mencuri tebu pabrik. Sekarang hamba antar ke sini atas perintah lurah.

Lalu Kadiroen mendekati perempuan tersebut dan bertanya:

“Mbok mengapa kamu mencuri. Kamu toh tahu, yang itu adalah perbuatan jelek dan kamu bisa dihukum?” Maka perempuan tadi menjawab, singkatnya begini: “Bagaimana Ndoro, hamba punya anak menangis, karena lapar. Sedang hamba juga lapar, uang atau makanan tidak punya!”

Mendengar jawaban tadi, hati Kadiroen seperti tergilas oleh mesin. Sebab ia kasihan pada si miskin. Lalu ia meminta keterangan lebih jauh dan mendapat cerita bahwa perempuan itu dulunya hidup cukup. Tetapi kira-kira dua tiga bulan ini dia dan suaminya tidak mendapat pekerjaan di desanya. Lalu ia menjadi miskin, dan suaminya terpaksa meninggalkan sang istri untuk mencari pekerjaan lain di tempat yang jauh. Karena kurang ongkosnnya, sedang di tempat lain itu belum tentu mendapat pekerjaan, maka istri dan anaknya tadi terpaksa ditinggal dan hidup sengsara di desa. Sehingga pada suatu hari tadi, terpaksa ia mencuri tebu untuk mengisi perutnya. Mendengar cerita tadi, hati Kadiroen rasanya seperti menangis. Dan amat betas kasihan pada si malang itu. Segera Kadiroen dengan uangnya sendiri menyuruh membelikan makanan yang cukup untuk perempuan tadi dan ia memberi derma uang sebesar f.2.50,- kepadanya. Kecuali itu ia tidak bisa menolong apa-apa lagi. Dan perempuan itu meski menghadap di muka Landgerecht sebab mencuri sepotong tebu. Di sini Kadiroen tidak bisa menghalang-halangi hukum. Ia meski menjalani hukum itu. Siapa yang mencuri mesti dihukum. Apakah sebabnya mencuri pun hanya untuk menimbang berat ringannya hukuman saja. Hal ini memang sudah seadil-adilnya.

Sesudah semua lurah dan tetua desa berkumpul, maka Kadiroen membuka pembicaraan seperti di Onderdistrik A, B, dan C, serta menambah bahwa kehidupan yang melarat itu gampang menggoda manusia, sehingga ia menjadi jahat. Oleh karena itu, semua diminta keterangan sebenar-benarnya, supaya Kadiroen bisa berusaha untuk memperbaiki kehidupan rakyat, agar rakyat tetap baik budi pekertinya.

Maka kesimpulannya, semua masalah di Onderdistrik D persis sama dengan onderdistrik lainnya. Sesudah itu, maka permusyawarahan dibubarkan. Dan berbeda dengan adat kebiasaan pejabat yang kasar dan gampang marah kepada pejabat yang ada di bawahnya, Kadiroen lalu menasihati Wedono D secara sendirian, tidak diketahui oleh orang-orang lain, supaya selanjutnya asisten wedono itu jangan berdusta: mengatakan kehidupan rakyat makmur pada kenyataannya tidak. Asisten wedono tersebut mengaku bersalah, dan berkata bahwa dia takut mendapat marah kalau dahulu mengatakan bahwa kehidupan rakyatnya sengsara. Memang sering terjadi, para pejabat membesar-besarkan kemakmuran rakyat di bawah pemerintahannya dan menutup-nutupi kekurangan rakyat agar ia mendapat pujian bahwa ia pandai. Kedustaan seperti itu justru menyusahkan para pembesar dan pemerintah. Karena mereka selanjutnya tidak tahu betul hal ihwal rakyat di desa-desa. Tetapi seorang pejabat yang menjelaskan kekurangan kehidupan rakyat pun, sering mendapat malu dan dimarahi oleh atasannya. Ia katakan kurang pandai memenuhi kebutuhan rakyat. Buat seorang pejabat yang dasarnya tidak kesatria, maka mereka sering berbuat kekeliruan dan memilih berbuat dusta daripada malu dimarahi. Sebaliknya seorang pejabat yang kesatria, tidak berbuat dusta, mereka berusaha menerangkan sebab-sebab kemunduran keselamatan rakyat itu serta membikin voorstel-voorstel pada pembesarnya guna memperbaiki keadaan rakyat itu. Mereka mencari pangkat tidak dengan perbuatan-perbuatan yang tidak halal, tetapi dengan kebenaran dan kesucian hati menghadapi pada rakyat di bawah perintahnya. Kadiroen menerangkan hal ini dengan halus pada Asisten Wedono D. Dan ia mendengar janji bahwa asisten wedono itu seterusnya akan bertindak dengan benar dan tidak berdusta lagi.

Datang di kawedanan atau kantor wedono, Kadiroen memikirkan keterangan-keterangan yang sudah ia dapatkan dari keempat pertemuan tersebut. Banyaknya penghasilan dan pekerjaan untuk rakyat hampir sama seperti zaman kuno. Ya, sekarang justru lebih banyak jenis pekerjaan. Meskipun begitu, toh rakyat tambah miskin. Apa sebabnya? Kadiroen mengira bahwa rakyat sendiri yang salah. Tentunya rakyat lebih royal ketimbang yang dahulu. Sehingga hasil yang mereka dapat tidak seimbang dengan belanja yang mereka keluarkan. Artinya rakyat mengeluarkan ongkos hidup lebih besar dari pendapatannya. Tetapi umpama perkiraan itu betul, apakah sebabnya sehingga rakyat berbuat begitu? Apakah adat mereka yang berubah. Kadiroen mengerti bahwa memang biasanya bumiputera senang kelihatan kaya. Seperti dalam hal mengawinkan anak, membikin keramaian yang tidak kecil ongkosnya, pada Hari Raya 1 Syawal menyalakan mercon atau kembang api dan kesenangan lainnya. Mereka mau mengeluarkan ongkos yang banyak untuk keperluan-keperluan begitu. Sebab kalau tidak begitu, mereka malu pada sahabat-sahabatnya. Umpamanya betul ini adat yang memiskinkan rakyat, toh zaman dahulu adat itu juga ada; mengapa hal yang sama, sekarang menyebabkan miskin? Kadiroen menyangka bahwa royal-nya rakyat bertambah tapi mengapa bertambah? Kadiroen menyangka biasanya tambah royal itu karena terbawa oleh hasil yang didapat rakyat sekarang ini lebih gampang dikeluarkan, lain dari zaman dahulu. Tentang masalah ini Kadiroen mengira karena sekarang rakyat kebanyakan mendapat hasil berupa uang. Sedang dahulu berupa hasil tanah seperti padi, beras, kelapa, jagung, ketela dan sebagainya. Uang sangat enteng dan gampang dikeluarkan. Sebaliknya, hasil tanah sangat berat dan sedikit susah dikeluarkan. Rakyat mencari gampangnya. Itu sudah menjadi kebiasaan kebanyakan manusia. Oleh karena itu, mereka lebih senang menerima hasil uang daripada hasil tanah. Karena itu umpama ada hasil tanah, mereka lalu lekas menukarkan menjual hasil itu dengan uang. Tetapi kemudahan yang berhubungan dengan uang itu tidak sepadan dengan pengertian dan kepintaran rakyat. Rakyat tidak tahu betul harganya uang. Dan mereka lebih gampang lagi mengeluarkan uangnya. Akhirnya, mereka menjual kerbau, sapi dan sebagainya. Sehingga bertambah lama menjadi bertambah miskin. Begitulah pendapat Kadiroen setelah ia berpikir lama dan dalam.

Tertarik oleh pendapat itu, maka Kadiroen secepat-cepatnya menulis surat panjang lebar kepada asisten-asisten wedono di bawah perintahnya. Di dalam surat tersebut Kadiroen menceritakan pendapatnya. Dan dengan surat itu, Kadiroen memerintahkan kepada asisten-asisten wedono agar segera menerangkan maksud surat itu kepada semua lurah. Dan lurah-lurah desa diperintah untuk memberitahukan masalah itu pada rakyat kecil. Dengan disertai nasihat supaya rakyat menjadi hemat. Jangan gampang-gampang mengeluarkan harta benda; royal tayuban dan kesenangan-kesenangan lain yang mahal supaya dikurangi.

Setelah menulis surat itu, maka Kadiroen menyuruh mengirimkan surat tersebut. Lalu ia menulis semua urusan dan pendapat serta perintahnya itu dalam laporan yang panjang lebar pada pembesar-pembesarnya, yaitu tuan patih untuk diteruskan pada tuan bupati atau regen.

Kadiroen mengira bahwa aturan yang dibikinnya sudah bisa diumumkan pada rakyat dalam waktu dua puluh hari. Oleh karena itu, mulai hari yang kedua puluh satu, setelah suratnya dikirimkan, Kadiroen mau memeriksa sendiri di desa-desa, bagaimanakah aturan yang dibikinnya itu diterima oleh rakyat. Kadiroen tahu bahwa jika rakyat ditanya satu per satu oleh seorang wedono, tentu mereka tidak akan berani menceritakan pikirannya dengan terus terang untuk mengatakan baik buruknya aturan wedono yang menanyai mereka itu. Kadiroen berdandan. Dengan pakaian palsu, ia menyamar seperti orang Arab, layaknya seorang mindring yang mengutangkan kain pelakat dan kain kebaya kepada penduduk desa. Dengan pakaian begitu, maka ia akan mendapat keterangan yang sebenarnya dari rakyat. Kadiroen akan mendatangi tiga atau empat desa dalam sehari di setiap onderdistrik. Dalam empat hari, pekerjaan itu akan bisa selesai. Mengingat bahwa ia saban hari harus mengerjakan pekerjaannya di kantor juga, sudah tentu pekerjaan Kadiroen selama empat hari itu akan berat sekali. Mulai jam empat pagi sudah berangkat bekerja, jam sebelas malam baru bisa tidur. Segala susah payah itu bagi Kadiroen tidak dihiraukannya. Yang ia ingat pertama-tama adalah keperluan rakyat yang ada di wilayah distriknya.

Begitulah, maka pada suatu hari kita melihat seorang Arab palsu alias Kadiroen berjalan mondar-mandir di Desa H, Onderdistrik A. Ia memasuki satu per satu rumah dan menawarkan jualan sarung-sarungnya sambil berteriak-teriak:

“Sarung, sarung! Sungguh ini sarung yang bagus dan murah. Boleh dicicil saban sepasar dan tiga bulan Voldaan. Mindring sarung buat anak-anak yang mau sunat atau boleh dipakai waktu punya hajat atau tayuban…”

Orang-orang desa banyak yang tertawa, mendengarkan orang Arab yang menjajakan dagangannya dengan begitu aneh itu. “Arab lucu, Arab lucu!” begitulah kata anak-anak kecil sambil mengikuti “Arab Kadiroen” di belakangnya. Tetapi dengan cara berjualan yang begitu aneh itu pula akhirnya bisa membuka suara penduduk desa. Begitulah banyak orang di Desa H tersebut berkata:

“Tuan Sayid, jangankan tayuban, sedangkan menanggap wayang saja sekarang dilarang keras dan bisa dihukum!”

Kadiroen menjadi heran mendengar keterangan itu. Karena itu, ia memancing keterangan-keterangan lain yang lebih luas dan lalu ia mengerti bahwa lurah desa tersebut sudah memberi perintah bahwa Tuan Wedono yang baru sudah melarang orang kecil ramai-ramai wayangan, tayuban dan sebagainya. Siapa yang berani melanggar akan dimintakan hukuman oleh lurah. Sedangkan rakyat diberi nasihat supaya jangan royal. Tetapi lurah dari desa tersebut sudah mengeraskan nasihat menjadi larangan keras dengan ancaman hukuman. Memang sering hal yang serupa itu di desa-desa. Nasihat dari atas dibesar-besarkan kalau sudah di bawah, sehingga menjadi perintah halus, kadang-kadang menjadi tambah keras lagi dan lalu menjelma menjadi perintah kasar. Sudah barang tentu rakyat dari desa tersebut banyak yang mengomel karena larangan tersebut. Banyak yangmemaki-maki pada wedono baru yang mau mengubah adat orang desa, mau memotong kebebasan mereka buat mencari sedikit kesenangan. Adapun, sebab-sebab mengapa orang kecil mesti dinasihati, oleh lurah yang bodoh tadi, tidak diterangkan. Memang banyak lurah yang begitu bodoh sehingga tidak mengerti sebab-sebab dan manfaat dari perintah yang baru, apalagi menerangkan hal itu pada rakyatnya. Lurah yang semacam itu lalu main hantam kromo dalam hal mengurus desanya. Demikian juga adanya di Desa H.

Bahwa hal-hal serupa itu akan berbahaya bagi kehormatan pemerintah, itu sudah pasti. Sebaliknya, kemajuan negeri saban tahun memaksa lahirnya macam-macam aturan yang baru pula. Hal itu sering menyusahkan lurah desa yang kebanyakan dipilih dari para petani dan para tetua yang jarang memiliki pengetahuan yang luas serta sesuai dengan tuntutan zaman kemajuan sekarang ini. Kadiroen mengerti, sesudah “perjalanan rahasia” itu, bahwa keadaan sebagaimana di Desa H itu juga terjadi di lain-lain tempat. Kadiroen menjadi susah memikirkan hal ini. Ia mengambil keputusan akan memperbaiki kekeliruan-kekeliruan yang ditimbulkan oleh pegawai-pegawainya yang ada di bawah. Kadiroen menjadi senang bahwa dengan pura-pura menjadi Arab Mindring itu, ia sudah bisa menyelidiki adanya jalan pemerintahan di desa-desa. Memang banyak pejabat yang hanya memerintahkan saja kepada bawahannya, tanpa mengurus bagaimana jalannya perintah di bawah sebagaimana mestinya. Orang kecil biasanya tidak berani menjelaskan keberatannya pada pejabat-pejabat di atas. Begitulah, umpamanya sebuah peraturan di bawah diperintahkan dengan keliru, maka pembesar yang di atas tidak akan mengetahui kekeliruannya kalau tidak menyelidiki semua hal itu di desa-desanya sendiri. Sebaliknya, untuk menyelidiki sendiri, hampir para pejabat tidak mempunyai waktu, dari sebab semakin tinggi pangkatnya, tambah besar pula urusan yang harus diselesaikannya. Sehingga tambah tinggi pangkatnya, tambah sedikit pengetahuan mereka tentang bermacam-macam perubahan pikiran dan perasaan rakyat akibat bermacam-macam aturan di zaman baru. Ada pula pejabat tinggi yang berusaha mendapatkan pengetahuan itu dengan pertolongan banyak mata-mata atau spion yang mereka bayar dengan uang dari sakunya sendiri. Tetapi sejauh mana mata-mata itu bisa dipercaya? Itulah sebabnya Kadiroen menjadi mengerti mengapa dulu sewaktu ia menjadi mantri polisi, banyak keterangan yang dibikin-bikin oleh mata-mata itu sendiri, dengan menyimpang dari kebenaran yang sesungguhnya. Asal saja mata-mata itu memberikan keterangan dan ia dapat uang.

Kadiroen memikirkan hal itu dan merasa bahwa ia sebagai seorang wedono yang wilayahnya begitu lebar sekarang terpaksa harus bekerja keras luar biasa. Tetapi ia tidak akan takut pada pekerjaan yang berat, asal saja ia bisa membikin keamanan dan keselamatan rakyat yang ada di distriknya.

Sehubungan dengan masalah tersebut, Kadiroen mengadakan rapat di pendopo setiap kantor asisten wedono. Adapun, yang diundang dalam rapat tersebut adalah semua lurah dan semua penduduk laki-laki di tiga sampai empat desa yang berdekatan dengan pendopo masing-masing onderdistrik. Kadiroen datang sendiri dalam vergadering-vergadering yang tidak kecil (kira-kira 1500 orang). Di dalam rapat itu ia menjelaskan sendiri kepada rakyat apa sebabnya ia memberi nasihat supaya rakyat mengerti harganya uang. Dan ia menandaskan bahwa itu hanya nasihat saja. Vergadering lalu bisa mengerti bahwa nasihat wedono baru, Kadiroen, sangat baik dan bermanfaat. Sesudah itu, maka Kadiroen menyuruh lagi pada lurah-lurah, supaya tiga sampai empat desa lainnya berkumpul dalam satu vergadering dan meminta pada asisten-asisten wedono supaya mereka ikut dalam vergadering-vergadering tersebut dan menyuruh mereka supaya menasihati rakyat seperti tadi. Untuk menjaga supaya jangan sampai ada kekeliruan lagi dan supaya Kadiroen mengerti kalau ada kekeliruan lagi, maka Kadiroen memberi perintah supaya orang kecil yang mempunyai keberatan-keberatan apa saja hendaknya datang sendiri di kawedanan Kadiroen. Begitulah, para asisten wedono dan lurah-lurah itu juga diperintah supaya mereka mau menerangkan kepada rakyat. Aturan ini memang sangat berlainan dengan kebiasaan yang dulu, Kadiroen mau menerima orang kecil tanpa perantaraan seorang lurah lagi. Kadiroen merasa bahwa ia terpaksa membuat aturan baru itu karena ia berusaha memenuhi kebutuhan rakyat. Tentu saja, semua pejabat yang ada di bawah perintah Wedono Kadiroen banvak yang mengomel begini:

“Wah inilah aturan wedono baru yang masih muda. Banyak macamnya, tidak seperti yang dulu-dulu. Rewel dan banyak omong.”

Tetapi Kadiroen tidak mengerti, mengapa ada omelan seperti itu. Karena ia memiliki maksud yang bersih, sebagai seorang yang ingin menjadi bapaknya rakyat. Maka ia mengira, pejabat-pejabat yang ada di bawahnya sepakat dan juga memiliki watak seperti dirinya. Kadiroen sudah berusaha dengan satu cara untuk memperbaiki kehidupan rakyat dan tidak tahu kalau para pegawai di bawahnya berwatak lain. Pegawai-pegawai itu kebanyakan meminta cara-cara memerintah seperti zaman dahulu saja.

Sudah barang tentu, dengan usaha Kadiroen itu, rakyat menjadi percaya kepada dirinya, seperti kepercayaan anak kepada bapaknya. Kadiroen dicintai oleh rakyatnya. Tetapi ia memiliki bawahan yang suka mengomel dan tidak menyukai dirinya.

Berhubung dengan permintaan Kadiroen kepada rakyat supaya mereka datang sendiri kepadanya secara langsung, kalau ia memiliki keperluan dan keberatan, maka ia sering kedatangan orang-orang dari berbagai desa. Namun kalau dibandingkan dengan banyaknya penduduk yang ada di distrik itu, boleh dibilang yang datang ke kantor Kadiroen sangat sedikit. Dan apa yang diadukan hanyalah perkara-perkara yang penting dan telah jelas terbukti semuanya, sedangkan kebanyakan dari mereka yang datang, hanyalah penduduk yang berani-berani. Tetapi meskipun begitu, kebanyakan dari mereka meminta kepada Kadiroen supaya nama si pengadu jangan diberitahukan kepada para pejabat yang ada di bawah Kadiroen karena si pengadu takut difitnah. Memang sering terjadi, seorang kecil yang mengadukan perkara secara langsung pada pejabat tinggi, ia dibenci dan difitnah oleh pejabat-pejabat yang ada di bawah. Apalagi kalau pejabat yang di bawah itu yang bersalah sehingga sampai diadukan seperti itu. Sebaliknya, kalau rakyat tidak mengadu, maka masalahnya sungguh berat; kelirulah rakyat yang tak kuat lagi jika lalu mengirim surat “budek” atau surat yang tidak memakai tanda tangan dan dengan nama palsu kepada pejabat-pejabat tinggi. Kalau surat “budek” itu diurus akan banyak dijumpai kesalahan. Apalagi kalau mengurusnya tidak rajin dan kurang hati-hati. Pada kenyataannya sering terjadi pengaduan rahasia itu kurang beralasan. Pertama, karena saksi-saksi belum berani menghadap, karena ketakutan difitnah tadi. Yang kedua, sebab yang menulis dan mengirim surat itu kebanyakan orang bodoh yang hanya bisa menulis sedikit. Pengetahuannya tidaklah cukup untuk menerangkan hal-hal dengan jelas dan nyata tentang kejadian yang sebenarnya.

Kadiroen mengetahui hal-hal ini; karena itu, selamanya ia rahasiakan nama pengadunya, sedangkan ia tidak lupa mengurus pengaduan itu hingga selesai. Dengan jalan seperti itu maka para pejabat kecil yang melakukan berbagai kesalahan sering diketahui oleh Kadiroen. Aturannya, Kadiroen ini dibenci oleh para pejabat yang ada di bawahnya. Apalagi oleh para pejabat kecil-kecil, seperti juru tulis dan sebagainya, karena mereka tidak lagi bisa memungut upah yang macam-macam dari rakyat yang memiliki keperluan untuk mengurus ini dan itu.

Oleh sebab itu, para pejabat kecil lalu penghasilannya menjadi berkurang. Hasil-hasil gelap, sekarang hilang sama sekali. Dengan itu, maka para pejabat yang ada di bawah sering menghalang-halangi atau memberatkan pekerjaan Kadiroen, hal itu lalu membikin repotnya Kadiroen. Sejumlah perkara, mesti ditanganinya sendiri. Boleh dibilang Kadiroen bekerja siang-malam. Semenjak Kadiroen menjadi wedono, wajah dan badannya kian lama kian bertambah kurus, karena beratnya pekerjaannya itu. Tetapi Kadiroen tidak begitu memikirkannya. Ia hampir tidak memikirkan badannya sendiri. Kadiroen hanya mau memikirkan satu masalah; yaitu membikin keselamatan dan kemakmuran rakyat.

Di antara keluh kesah itu, ada juga rakyat yang keberatan membayar pajak atau belasting yang hampir saban tahun terus naik. Tetapi sebagai pegawai gupermen, Kadiroen mesti mengikuti aturan negara dalam hal pajak ini.

Dan setelah ia hitung dan tahu bahwa pajak si pengadu sudah semestinya maka ia bukan saja tidak bisa menolong pun ia harus menerangkan kepada si pengadu bahwa di mana ada negara yang hidup teratur, maka di situ pasti ada pajak. Gupermen tambah tahun tambah besar belanjanya, sebab kemajuan negara memaksa adanya bermacam-macam aturan baru yang selamanya menambah ongkos. Maka sudah tentu sering ada tambahan belasting itu. Sebaliknya, Kadiroen menjanjikan kepada si pengeluh semacam itu bahwa ia akan berusaha memajukan kehidupan rakyat. Supaya rakyat tidak merasa berat memikul kewajiban membayar belasting. Dan memang, Kadiroen memenuhi kewajibannya serta janjinya kepada rakyat. Siang dan malam tidak kenal lelah ia berusaha memperbaiki penghasilan rakyat itu.

Semakin banyak rakyat yang mengadukan masalah yang ada di desa-desa, semakin menumpuk pekerjaan Kadiroen. Dan semakin tambah pintar pula Kadiroen memerintah distriknya. Dan ia sudah sering membikin voorstel-voorstel (laporan) kepada pembesar-pembesarnya untuk keperluan penduduk tersebut. Di antara voorstel-voorstel itu adalah:

a. Supaya kebun tebu milik pabrik mendapatkan pengairan di waktu malam dan sawah milik rakyat mendapatkan pengairan di waktu siang karena rakyat yang miskin keberatan betul bekerja malam buat mengairi sawahnya. Sedang pabrik mempunyai modal buat membayar mandor malam (waktu itu aturan air berkebalikan dengan voorstel tersebut).

b. Supaya lurah dilarang menerima premi dari pabrik buat tiap-tiap bau sawah yang oleh penduduk desanya disewakan kepada pabrik. Sering terjadi bahwa lurah mencari premi itu dengan perintah halus dan sebagainya kepada rakyat, supaya mereka mau menyewakan sawahnya, hal yang mana sering merugikan keperluan rakyat di desa.

c. Supaya dilarang pabrik memberi voorschot kepada orang kecil yang akan menyewakan tanahnya, karena voorschot itu sering menarik rakyat yang melarat dan bodoh. Kadiroen memberi alasan bahwa rakyat itu umpamanya anak-anak yang masih senang bermain dengan uang. Oleh sebab itu, maka siapa pun harus dilarang jika menyewa tanah dengan memberi voorschot uang pada orang kecil yang menyewakannya.

d. Supaya semua orang Jawa, Tionghoa, Arab dan lain-lainnya dilarang meminjamkan uang dengan bunga lebihdari 10% selama satu tahun (tukang mindring rentennya sampai 250% sampai 300% selama satu tahun). Dan gupermen supaya mengadakan sendiri bank desa dengan bunga murah. Alasannya juga bermain-main uang sangat berbahaya untuk anak-anak.

e. Dan voorstel-voorstel lain yang penting untuk distriknya.

Di antara voorstel-voorstel itu, ada yang dikabulkan oleh pembesar. Tetapi voorstel a, b, c, dan d sudah ada lebih dari enam bulan belum ada jawabannya. Oleh sebab itu, pada suatu hari Kadiroen meminta izin pada atasannya, Patih dan Regen, supaya ia bisa menerangkan sendiri dengan panjang lebar dengan Tuan Asisten Residen. Tiba-tiba Kadiroen mendapat jawaban dari atasannya, supaya Kadiroen sabar dan percaya pada Tuan Regen. Ia seorang pejabat di bawah Regen, mesti melaporkan voorstel-voorstel itu pada Patih dan Patih akan meneruskan pada Tuan Regen dan akan meneruskan pula pada Tuan Asisten Residen dan seterusnya. Adapun voorstel-nya Kadiroen lebih jauh masih diurus Tuan Patih dan Regen. Dan karena banyaknya keinginan, urusannya mesti sedikit lama. Mendapat balasan serupa itu, maka Kadiroen menjadi susah. Tetapi apa boleh buat, Kadiroen mau menunggu. Kadiroen bekerja terlalu berat, sehingga pada suatu hari ia menjadi sakit. Dan terpaksa dalam tiga buIan ia meminta cuti. Sesudah sembuh, maka ia kerja lagi, nyaris siang-malam.

Sudah dua tahun Kadiroen menjadi wedono dengan berusaha sekeras mungkin mengurus keperluan rakyat. Tetapi sia-sialah pekerjaannya sebab rakyat di distriknya hampir tidak menunjukkan kemajuan kemakmuran sama sekali. Susahnya kehidupan rakyat pada akhir tahun kedua itu masih sama saja dengan permulaannya. Bedanya dengan distrik-distrik lain hanya sedikit, untungnya rakyat tidak semakin bertambah melarat sebagaimana di distrik-distrik lain di mana orang-orang kecil keadaannya semakin lama semakin mundur. Karena hal-hal yang serupa itu, semakin kuat niat Kadiroen untuk menjaga keperluan rakyat yang dianggap sebagai anaknya sendiri yang masih kecil yang berhadapan dengan “permainan uang” yang tampak disengaja oleh pihak pabrik gula dan pihak mindring-mindring desa. Sudah barang tentu Kadiroen tidak lupa, dan bersama-sama dengan itu, selalu memberi keterangan pada rakyatnya supaya berhati-hati dalam mengurus uang dan harta-hartanya. Ia selalu memberi tahu dan nasihat mengenai perkara ini.

Pada suatu hari, yaitu kira-kira sesudah sepuluh bulan Kadiroen mengajukan voorstel a, b, c dan d, ia mendapat kabar dari Tuan Patih bahwa voorstel tersebut telah diteruskan pada Tuan Regen. Sesudah wedono-wedono lain dimintai pertimbangan atas masalah-masalah ini banyak pejabat-pejabat bumiputera yang sepakat dengan kehendak Kadiroen.

Dua bulan berikutnya Kadiroen dipanggil Tuan Asisten Residen untuk menerangkan panjang lebar, berbicara sendiri tentang alasan-alasan voorstel-nya yang penting itu. Kadiroen menjadi bahagia karena sekarang keputusan voorstel-nya itu sudah dekat. Begitulah, maka pada suatu hari Kadiroen datang ke kantor Tuan Asisten Residen. Pejabat Afdeeling ini adalah seorang Belanda yang sudah sedikit tua. la mencintai rakyat dan orang kecil. Karena mengetahui voorstel-nya Kadiroen, ia menjadi senang dan memberikan pujian pada Kadiroen. Tuan Asisten Residen senang karena Kadiroen dengan voorstel-voorstel-nya sudah berusaha keras untuk kemakmuran rakyatnya. Tetapi, sudah barang tentu kesenangannya itu tidak lantas dengan sendirinya menghapus perbedaan pendapat mengenai perkara-perkara di atas, antara Tuan Asisten Residen dengan Kadiroen. Juga supaya perbedaan pendapat itu menjadi beres, maka Kadiroen dipanggil oleh Tuan Asisten Residen. Pejabat ini menerangkan kepada Kadiroen bahwa voorstel-voorstel itu memang sangat penting, sehingga tidak bisa diputuskan oleh Tuan Asisten Residen sendiri. Yang memutuskan voorstel-voorstel itu seharusnya pemerintah (gupermen) dan ketetapannya harus disertai dengan keputusan kerajaan karena hal-hal yang ada dalam voorstel-voorstel itu ada sangkut pautnya dengan pokok-pokok peraturan dalam negeri.

Tuan Asisten Residen menimbang bahwa voorstel-voorstel yang diusulkan Kadiroen itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Yang pertama menyangkut orang yang meminjamkan uang dengan renten yang sangat berat kepada rakyat.

Mengenai pasal yang pertama ini, Tuan Asisten Residen berpendapat lain dengan Kadiroen. Ia berkeyakinan bahwa pabrik gula itu dapat memajukan kehidupan rakyat sebab banyak membuka lapangan kerja baru serta membantu pengedaran uang di kalangan rakyat. Memang, ada baiknya jika voorstel-voorstel Kadiroen dalam hal ini diturutinya, tetapi Tuan Asisten Residen khawatir bahwa pabrik lalu menderita begitu banyak kerugian dan menyebabkan kemunduran sehingga perusahaan-perusahaan itu akhirnya ditutup. Hal yang mana akan menyebabkan kerugian rakyat juga. Dalam selisih pendapat antara keperluan rakyat dengan pihak pabrik memang sangat sukar ditentukan, siapa yang seharusnya mendapat bantuan. Tuan Asisten Residen sendiri menimbang bahwa dalam hal ini, lebih baik pemerintah mengambil jalan yang netral dan menyerahkan urusan ini pada pihak-pihak yang berselisih, bagaimana baiknya. Tuan Asisten Residen sudah meminta pertimbangan Tuan Kontrolir dan Tuan Kontrolir bermufakat dengan Kadiroen; Jadi memang ada perbedaan keyakinan dengan Tuan Asisten Residen mengingat bahwa kebanyakan pejabat dan Kontrolir yang ada di bawah perintah Tuan Asisten Residen bertentangan keyakinan dengan Tuan Asisten Residen pula dan karena mereka kebanyakan sependapat dengan Kadiroen maka Tuan Asisten Residen berjanji meneruskan voorstel-voorstel yang diajukan Kadiroen pada Tuan Residen. Hanya saja Tuan Asisten Residen memberi pertimbangan bahwa ia tidak sependapat. Kadiroen menilai bahwa keputusan Tuan Asisten Residen sudah adil, sebab ada juga asisten-asisten residen yang dengan seenaknya memotong voorstel-voorstel yang tidak sesuai dengan pikirannya dan hanya meneruskan pikirannya sendiri saja ke atas. Karena itu Kadiroen memuji pada Tuan Asisten Residen.

“Ya, Wedono, kowe memang setia dan cerdik hoor!. Tetapi jangan bosan dan putus asa kalau ada hal-hal yang tidak mencocoki dengan kehendakmu. Begitupun voorstel-voorstel-mu itu, oleh Gupermen belum tentu disetujui dan balasannya tentu bisa sangat lama. Urusan ini di tingkat residen ada sekitar tiga bulan, sebab mesti harus meminta pertimbangan kepada asisten-asisten residen yang lain dan sebagainya. Habis itu, sedikitnya sampai enam bulan harus dipertimbangkan dengan para direktur dan sebagainya. Lalu sedikitnya sampai tiga bulan lagi baru diurus oleh Raad van Indie. Dan enam bulan lagi pergi ke negeri Belanda atau pada Tuan Yang Mulia Minister van Kolonien. Hal ini berhubung besarnya urusan pabrik gula. Dan baru enam bulan lagi ada keputusan. Itu pun kalau Staten-General (Tweede dan Eerste Kamer) di negeri BeIanda tidak turut mempertimbangkannya. Saya kira dalam dua atau tiga tahun lagi baru bisa diputuskan. Dan bagaimana keputusannya itu pun saya tidak tahu!”

Begitulah, Tuan Asisten Residen menjelaskan dengan lemah lembut. Kadiroen memperkirakan bahwa waktu yang ditempuh memang sangat lama, tetapi apa boleh buat, memang sudah semestinya begitu.

Terhadap pasal yang kedua yaitu voorstel tentang mendirikan bank desa dan melarang orang-orang meminjamkan uang dengan bunga yang sangat berat, maka Tuan Asisten Residen sepakat dan mau membantu voorstel itu. Hanya mengenai masalah mendirikan bank desa tersebut ada perbedaan pendapat. Kadiroen berpendapat supaya modalnya diberi oleh Gupermen, sedang Tuan Asisten Residen berpendapat supaya modalnya dicari dan dikumpulkan oleh rakyat sendiri. Gupermen sifatnya hanya memberi bantuan (subsidi). Sebab kalau tidak begitu, Gupermen pasti akan kekurangan uang dan tidak bisa menuruti maksud mendirikan bank desa tersebut. Tuan Asisten Residen berpendapat bahwa aturan memungut bunga, caranya meminjamkan, mengatur pembukuan dan lain-lain ada begitu banyak macamnya. Hal ini harus dipertimbangkan dan memakan waktu yang begitu lama juga. Kira-kira juga sampai dua atau tiga tahun. Begitulah, maka Kadiroen bermusyawarah dengan Tuan Asisten Residen. Dan sepulangnya, ia merasa sedikit senang. Karena voorstel-voorstel-nya akan diteruskan ke pemerintah. Ia berdoa kepada Tuhan Allah supaya kehendaknya mendapat keputusan yang baik oleh Gupermen, agar rakyat dapat dijaga kepentingan hidupnya saat berhadapan dengan kepentingan-kepentingan pihak lain.

Tiga tahun sudah, Kadiroen menjabat sebagai Wedono. Pada waktu itu umurnya kira-kira baru 28 tahun, tetapi karena kecerdikannya itu, pada suatu hari dipilih untuk mewakili Patih di Kota S, sebab Patih di situ sedang sakit. Pada waktu mewakili Patih itu, maka pekerjaan Kadiroen menjadi bertambah banyak. Ia mengurus pemerintahan dengan sungguh-sungguh, sehingga hampir siang-malam ia bekerja. Sebaliknya, pejabat-pejabat yang ada di bawahnya banyak yang mengomel dan tidak mau membantu dengan hati ikhlas semua maksud Kadiroen yang sangat berguna buat rakyat. Para pejabat itu hampir semuanya mufakat dengan peraturan-peraturan apa adanya sebagaimana zaman dahulu, yang urusannya begitu gampang dan tidak membikin pusing kepala. Saat tourne Kadiroen sering mendapat berbagai masalah. Terpaksa ia harus mengingatkan kepada para pejabat yang ia perintah sebab mereka sering alpa meneruskan kehendaknya pada rakyat. Jadi ia sering mendapat masalah karena kehendaknya sering dipotong di tengah jalan. Selain itu, masih banyak yang salah pengertian sehingga kemudian penerimaan rakyat menjadi keliru terhadap maksud yang baik itu. Tetapi kesusahan Kadiroen terbesar adalah.bahwa rakyat masih saja hidupnya tidak cukup sebagaimana seharusnya. Tandanya adalah lumbung-lumbung padi banyak yang kosong, kerbau, sapi kepunyaan rakyat terus berkurang, rumah-rumah rakyat tidak begitu baik dan sentosa seperti yang dahulu-dahulu. Betul juga, rakyat yang sering dinasihati Kadiroen itu lalu pintar mengolah uang, tetapi toh umumnya kemakmuran dan keselamat­an rakyat belum maju. Itulah yang menyusahkan Kadiroen dan memaksanya bekerja siang-malam itu. Mewakili Patih baru dua bulan, Kadiroen jatuh sakit lagi sebab pekerjaannya terlalu berat. Ia terpaksa meminta cuti lagi sampai dua bulan lamanya. Dan di waktu ia kembali dari cuti dan mengurus lagi pekerjaannya, badannya menjadi sangat kurus. Ia kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya. Begitulah, maka Kadiroen merasa terjepit. Pejabat yang ada di bawahnya tidak membantu dengan hati ikhlas semua kehendaknya, rakyat banyak yang salah pengertian, voorstel-voorstel yang diusulkan sangat lama, pekerjaannya terlampau berat. Sedang hasil kerjanya untuk rakyat hampir tidak ada dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Kadiroen. Sungguh Kadiroen tidak bisa mengerti apa sebab-sebabnya semua ini.

Bab IV

Sukar Memilih

Pada waktu Kadiroen mewakili jabatan Patih, di tanah Hindia terjadi guncangan karena datangnya pergerakan baru yang ramai. Sebuah pergerakan yang menarik hati rakyat Hindia mengenai perubahan budi pekerti, pikiran dan adat istiadat yang baru. Pergerakan tersebut telah menjadi perkumpulan rakyat yang besar sekali. Dan sebentar saja anggotanya sudah beribu-ribu banyaknya. Pergerakan tersebut dinamakan “Partai Komunis” yang disingkat P.K. yang dapat menjadi anggota dari pergerakan tersebut adalah semua rakyat Hindia. Dan menurut pembicaraan banyak orang, pergerakan itu dikatakan baik sekali untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Hanya saja surat-surat kabar yang berbahasa Belanda di Hindia ini banyak yang berseteru dan membenci pergerakan itu. Meski begitu, Gupermen Belanda tidak melarang pergerakan itu. Karena waktu itu kemajuan di Dunia sudah sangat berpengaruh sehingga hak rakyat untuk berpolitik dilindungi. Selain dari itu, banyak orang berkata bahwa pergerakan itu tidak bisa dibunuh karena memang sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman. Meski Gupermen tidak melarang pergerakan itu, tetapi di bawah, yakni para priyayi-priyayi atau pejabat yang kuno dan kolot, ada yang memfitnah pergerakan tersebut. Karena itu siapa saja yang menjadi anggota dari pergerakan tersebut lalu perilakunya berubah, mereka tidak begitu mau menghormati lagi terhadap para priyayi seperti menyembah, berjalan jongkok sebagaimana bentuk-bentuk penghormatan yang dulu-dulu. Hal itu mendadak mau dihilangkan oleh pergerakan itu dan mau diganti dengan adat Belanda. Maksud mengubah adat istiadat inilah yang menyebabkan kebencian antara para priyayi dan rakyat yang sedang bergerak. Setelah banyak orang dan priyayi muda yang bekerja di luar kalangan Gupermen seperti di toko-toko dan sebagainya, maka mereka mengupayakan perubahan adat itu secara terus-menerus. Mereka mengatakan bahwa cara kuno itu adalah cara kaum kolot yang gila hormat. Perselisihan antara kuno dan baru itulah yang menyebabkan guncangnya Hindia.

Banyak orang yang tertarik ataupun membenci pergerakan itu, tetapi mereka tidak tahu betul apa maksud pergerakan itu. Hal itulah yang sering menimbulkan berbagai gejolak perselisihan yang menyebabkan guncangnya negeri. Itulah yang menjadi alasan banyak orang di sana-sini menyarankan agar pergerakan itu ditindas sampai mati saja. Tetapi, ada juga yang ingin mengerti terlebih dahulu, bagaimana akhir dari pergerakan itu. Kadiroen waktu itu berada di pihak yang bersikap ingin menunggu lebih dahulu itu. Sementara itu distrik Kadiroen sudah kemasukan pergerakan tersebut.

Pada suatu hari, sesudah Kadiroen sembuh dari sakitnya, maka di Kota S diadakan propaganda vergadering oleh Hoofdbestuur perkumpulan P.K. Maksud dari propaganda itu untuk memajukan dan membesarkan pergerakan itu dengan menarik para anggota-anggota baru, setelah mereka mengerti betul apa yang menjadi tujuan dari pergerakan tersebut. Sebagai pejabat Patih, Kadiroen mesti membuat verslag yang betul dari vergadering tersebut. Adapun yang bertugas menjaga keselamatan dari vergadering tersebut adalah Tuan Asisten Residen sendiri dibantu oleh beberapa orang pegawai polisi. Kadiroen sudah mendapat perintah supaya ia tidak hanya membuat verslag dari seluruh pembicaraan yang terjadi di vergadering tersebut, tetapi juga mencacat betul semua yang terjadi pada orang-orang banyak di situ. Siapa dan bagaimana caranya memimpin vergadering dan sebagainya. Oleh karena itu, tiga hari sesudah vergadering itu, Tuan Asisten Residen membaca verslag Kadiroen yang berbunyi sebagai berikut.

“Pendahuluan: Atas izin pembesar yang berwajib, di alun-alun, oleh bestuur cabang P.K. di Kota S, sudah didirikan sebuah panggung yang akan digunakan sebagai tempat berpidato bagi semua yang hendak berbicara pada rakyat. Di kanan-kiri panggung didirikan tarub-tarub (pendopo yang terbuat dari bambu dan kajang) yang akan digunakan sebagai tempat duduk para tamu-tamu, bestuur-bestuur dari berbagai perkumpulan politik lainnya, juga polisi dan utusan-utusan dari pers. Di sekeliling panggung itu adalah tempat berdiri bagi orang-orang yang hendak mendengarkan vergadering. Jam delapan pas, sudah beratus-ratus orang yang datang. Jam sembilan, jumlah hadirin dirasa sudah cukup. Adapun yang datang adalah semua bestuur cabang di Kota S, para propagandis dan anggota hoofdbestuur bernama Tjitro, beberapa Tuan Belanda dari pabrik-pabrik, banyak priyayi, utusan-utusan pers Belanda, Tionghoa dan Bumiputera. Di antaranya ada redaktur dari surat kabar P.K. tersebut bernama Sariman dan juga kira-kira 5.000 orang tamu dan penonton. Dari pihak B.B. ada hadir Tuan Asisten Residen, Patih dan beberapa pegawai polisi.

“Yang memimpin vergadering adalah Haji Moesno, Presiden P.K. di S. Pada jam sembilan tersebut dibunyikan sebuah petasan sebagai tanda kalau vergadering dibuka. Berdirilah H. Moesno di atas panggung. Dan dengan mengucap terima kasih pada Paduka Tuan Asisten Residen yang telah memberi izin mengadakan openlucht propaganda vergadering, serta mengucap terima kasih pada Tuan Regen, yang memberi izin memakai alun-alun sebagai tempat Vergadering, maka ia menghaturkan selamat datang pada semua yang hadir. Dan ia berkata bahwa Tuan Tjitro anggota Hoofdbestuur yang akan menjadi pembicara untuk menerangkan maksud dan kegiatan usaha P.K. Nanti setelah Tuan Tjitro berbicara akan diadakan tanya-jawab, semua orang boleh bertanya ataupun mendebat.

Lalu Tuan Tjitro berdiri di atas panggung dan dengan bersuara nyaring ia sangat yakin memulai berpidato, seperti sebagai berikut:

“Saudara-saudara kaum P.K. dan semua Tuan-Tuan yang hadir pada vergadering ini maksud saya berbicara di sini tidak akan mengajak orang untuk membikin rusuh dan ribut negeri dengan menghasut supaya bikin onar, sebagaimana yang hari kemarin sudah diterangkan dengan jelas oleh surat-surat gula S.H.B. Tetapi maksud saya mau menerangkan maksud dan tujuan pergerakan supaya semua orang mengetahui bahwa P.K. hanya berusaha memuliakan rakyat dan negeri Hindia. (Tepuk tangan dan sorak-sorai ramai menyambut keterangan itu).

“Memang ada alasan untuk memakmurkan rakyat negeri, sebab keadaan negeri dan rakyat Hindia sekarang ini boleh dikatakan tak lagi makmur. Tetapi kesusahan hidup, kemelaratan dan kemiskinan kian bertambah. Hal-hal ini sudah jelas buktinya, yaitu lumbung-lumbung padi kosong, kerbau, sapi dan semua ternak rakyat kian berkurang jumlahnya. Begitu juga makanan, lambat laun kian hari kian menipis. Sehingga berbagai jenis penyakit kian berkembang di Hindia. Kekurangan makan dan kemiskinan itu juga menjadi sumber godaan bagi perilaku rakyat. Sehingga banyak yang tidak dapat menahan godaan setan ini dan akhirnya banyak yang menjadi pencuri, perampok dan sebagainya. Kurangnya keselamatan lahir atau susahnya perikehidupan rakyat selamanya akan membikin kasar perilaku orang, orang-orang yang berbudi pekerti halus kian hari-kian busuk dan rusak, mereka adalah orang-orang yang tidak kuat melawan godaan setan. Perkembangan negeri untuk menambah keselamatan lahir dan batin begitu mundur meskipun sudah menambah kepandaian dan kepintaran rakyat. Maka, kita rakyat pertama-tama yang wajib memperbaiki semua hal yang berhubungan dengan hajat hidup rakyat Hindia. Kedua, baru Tuan-tuan Belanda pun wajib untuk itu. Juga Gupermen Belanda yang berkuasa di Hindia ini katanya sudah berusaha serupa itu, yaitu umpamanya dengan membentuk Commissie voor de Mindere Welvaart. Kita kaum pergerakan bersama-sama akan turut membantu memperbaiki semua ini. Jadi nyatalah bahwa kita tidak mengajak untuk kerusuhan dan keributan. Inilah maksud pendirian pergerakan kita, pendek kata, inilah maksud dan tujuan yang sebenarnya dari pergerakan kita. Saudara-saudara tentu ingin tahu buktinya? Bukti-bukti itu akan kelihatan kalau saya sudah menerangkan usaha-usaha pergerakan kita. Tetapi untuk menerangkan usaha-usaha itu, maka Tuan-Tuan meski harus tahu lebih dahulu perubahan-perubahan besar yang terjadi di Hindia dari dahulu sampai sekarang, yaitu yang dinamakan sejarah.

“Sekarang saya akan membuka sedikit sejarah di tanah Hindia. Terutama sejarah perikehidupan rakyat di sini. Zaman dahulu kala, sebagaimana cerita dalam buku-buku Jawa, dikatakan bahwa waktu itu Gupermen Belanda belum memerintah, sehingga semua urusan di Hindia menjadi gampang. Peraturan negeri gampang dilaksanakan. Namun, raja-raja Jawa gampang juga memeras rakyatnya sendiri. Tetapi, rakyat juga mudah menumpas raja-raja lalim itu dengan meminta tolong pada raja-raja Jawa yang lain, yaitu raja-raja yang suka menolong. Karena dengan menolong mereka lalu bisa membesarkan daerah kekuasaannya. Karena di Hindia banyak raja-raja kecil, maka dengan demikian sering terjadi peperangan, hal yang mana mudah membikin pecah belahnya tanah air kita. Di waktu Oost Indische Compagnie (O.I.C.) datang dan berusaha di Hindia, maka keadaan negeri ini sudah pecah belah sedemikian rupa dan semua manusia hanya mencari keuntungan sendiri-sendiri. O.I.C. memang sangat cerdik memanfaatkan keadaan perpecahan rakyat Hindia tersebut. O.I.C. bisa memihak sana, memusuhi sini dan selalu berbuat begitu; I.O.C. berusaha mendapatkan pengaruh besar dan bisa berhasil dengan baik. Sehingga tidak antara berapa lama Hindia jatuh ke tangan O.I.C. dan lama-kelamaan datang Gupermen Belanda. Gupermen Belanda datang ke Hindia dan lalu mulai mengatur negeri ini bersama-sama dengan pembesar-pembesar bumiputera yang ada pada waktu itu. Dan sifat pemerintahan Hindia lalu berubah-ubah. Pada waktu itu hingga sampai sekarang tingkat kemajuan dan kepandaian datang dari penduduk bangsa Eropa, jadi termasuk bangsa Belanda juga. Kemajuan dan tingkat kepintaran itu di Hindia sangat tertinggal jauh. Sehingga membikin kalahnya negeri Hindia pada Belanda. Tetapi terbawa oleh kodrat, maka bangsa Hindia mulai maju terus dan meniru serta mengambil contoh kemajuan di negeri Belanda. Sehingga Tuan-Tuan yang berhaluan etis, seperti V. Deventer, memandang Hindia sebagai anak dan muridnya Belanda. Dan mau mendidik murid itu seperti orangtua atau guru. Di sini, dengan singkat saya akan menerangkan keadaan sejarah pemerintahan Hindia sampai waktu ini. Dari sejarah itu, kita bisa mengerti bahwa ada tiga tingkat kemajuan zaman. Yang pertama zamannya Hindia diperintah oleh bangsa Hindia sendiri; kedua, saat mulai diperintah bangsa Belanda dengan dibantu oleh raja-raja Jawa yang sudah takluk yang akhirnya diberi pangkat Kanjeng dan Regen; ketiga, zaman Hindia meniru sejumlah kepintaran, pengetahuan serta kemajuan bangsa Eropa, sehingga lalu ada yang mengumpamakan Hindia sebagai muridnya negeri Belanda.

“Sekarang harus dicari sebabnya mengapa sejarah pemerintahan Hindia bisa berubah ubah sedemikian rupa menurut hemat kami, sebabnya itu cukup banyak. Yang pertama-tama, sebab semua itu terbawa oleh cara penghidupan manusia dan usaha manusia untuk hidup di tanah air kita berhadapan dengan kehidupan bangsa-bangsa asing lainnya. Oleh karena itu, boleh kita pastikan, bahwa sistem pemerintahan akan berujud dan teratur, jika sesuai dengan keperluan manusia dalam negeri dan menurut bentuk hubungan dengan bangsa-bangsa lain atau penduduk negeri asing. Karena hal ini dipandang sebagai pokok atau asal mula urusan, maka saya akan membuka lebih jauh sejarah kehidupan di Hindia ini.

Tadi Saya sudah menerangkan bahwa pada zaman purbakala, semua urusan menjadi gampang. Begitupun perikehidupan penduduk atau rakyat pada waktu itu karena tanah di Hindia sangat subur dan penduduknya masih sedikit. Hampir semua kehidupan penduduk dapat dipenuhi dengan mengusahakan pertanian, yaitu dengan menanam tanaman pangan. Sedangkan untuk keperluan itu, kerbau, sapi dan hewan piaraan lainnya dapat dipelihara dengan sungguh-sungguh dan piaraan itu pun bisa mendapatkan makanan atau rumput yang cukup. Begitulah, kehidupan rakyat serba mudah. Demikian juga urusan mendapatkan pakaian juga gampang, sebab saudara-saudara di rumah saja bisa menenun kain dan membatik sendiri. Jenis dan macam pekerjaan sangat sedikit. Demikian juga cara mereka bekerja tidak beraneka warna, sehingga mengatur negeri pun juga gampang.

“Tetapi, tidak semua rakyat dapat hidup dengan gampang melalui usaha pertanian. Seperti di daerah Jepara misalnya, tanahnya sering kebanjiran atau kekurangan air. Sebaliknya, di situ ada banyak pohon-pohon jati. Dan dari pohon-pohon penduduk di sana gampang membikin perabot rumah dan berbagai perhiasan yang indah-indah. Dan hasilnya bisa ditukar dengan bahan makanan di daerah-daerah lain yang banyak tanaman pangannya.

“Di pesisir laut, penduduk mudah mencari ikan lalu menukarkan penghasilannya itu dengan padi dari daerah lain di negeri ini. Begitulah, semua orang mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. Dan semua itu dapat berlangsung dengan gampang karena mereka bekerja sendiri-sendiri juga. Dengan pekerjaan sendiri itu, mereka dengan gampang menentukan cara serta waktu kerjanya. Hal itu menyebabkan rakyat merasa merdeka. Merasa merdeka artinya merasa hidup ayem-tentrem. Hanya karena banyak hutan yang harus dibuka dan karena hutan banyak binatang buasnya yang harus diusir dengan kekuatan, maka manusia berkumpul bersama-sama membuka hutan. Dengan berkumpul itu supaya mereka bisa kuat melawan binatang-binatang buas. Hal itulah yang menyebabkan berdirinya desa-desa. Dan supaya hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya dapat hidup rukun maka setiap desa dipimpin oleh tetua yang paling pintar dan paling kuat. Adapun orang yang terpilih disebut lurah. Di mana hutan dibuka secara bersama-sama, maka tanah yang terbuka itu, pada zaman dahulu kala, dianggap sebagai milik orang sedesa. Dan di tanah Jawa ini masih banyak aturan tentang hak milik sawah bersama-sama serupa itu. Begitulah asal mula maka rakyat hidup sendiri dan mengatur kehidupannya sendiri secara bersama-sama di masing-masing desa. Di sana ada sistem pemerintahan rakyat. Dan lurah menjadi wakil atau tetua yang terpilih. Jadi, pada waktu dahulu, kebanyakan lurah adalah orang yang terbaik. Di desa, hiduplah sistem pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat atau disebut sebagai demokratische regeeringsvorm

“Tetapi, ada juga manusia yang mencari kekuatan dan kekuasaan untuk memerah hasil rakyat semata dengan cara yang sewenang-wenang. Karenanya rakyat ingin memiliki raja yang mau memerangi penjahat-penjahat dan dapat merukunkan manusia di seantero negeri. Pada saat itu juga, di tanah Hindia mulai didirikan kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh hulubalang-hulubalang dan balatentaranya. Raja-raja itu tidak semua baik; ada juga raja yang selalu ingin berkuasa sendiri dan berusaha melebarkan daerah kekuasaannya sehingga sering terjadi peperangan. Bersamaan dengan zaman kerajaan dan zaman peperangan itu, maka manusia lalu bertambah juga cara usahanya untuk tetap hidup. Jenis pekerjaan pun menjadi kian bertambah. Maka dari itu, lalu ada petani, tukang kayu, tukang bikin bata merah, tukang berkelahi atau prajurit dan sebagainya. Bertambahnya jenis pekerjaan, akhirnya, menambah banyak pula macam penghasilan. Sampai di sini ramailah usaha perikehidupan rakyat, maka mulailah ada pasar atau tempat tukar-menukar penghasilan dan macam-macam barang, juga macam-macam hasil tanah. Adanya pasar juga menambah pekerjaan pula bagi manusia maka timbullah golongan saudagar. Berikutnya lalu mulai terbuka zaman perdagangan. Mengingat sangat sulitnya melakukan tukar-menukar barang juga supaya perdagangan berjalan aman, supaya tidak banyak orang yang membegal dan sebagainya, maka memanglah perlu bahwa beberapa desa dikumpulkan menjadi satu kerajaan yang diatur serta dijaga oleh raja dengan balatentaranya, juga para priyayi dan sebagainya. Untuk keperluan itu, raja dan pegawainya mesti mendapatkan gaji sehingga rakyat lalu dikenakan pajak. Zaman dahulu, kalau adil dan rakyat merasa keberatan terhadap pajak maka mereka lalu meminta tolong pada raja lain. Oleh karena rakyat sering mengadu raja yang satu dengan yang lainnya, ditambah pula ada raja-raja yang nakal; mau melebarkan kerajaannya sendiri, supaya semakin kuat dan kaya, maka sudah barang tentu di Hindia datang zaman peperangan yang terus-menerus yang memecah tanah air kita ini.

“Pada zaman, di negeri-negeri lain seperti Arab, Tionghoa, Eropa dan sebagainya mulai menyerbu kepulauan Hindia untuk berdagang atau mencari penghidupan yang lebih baik daripada di negerinya sendiri-sendiri. Begitulah, maka Hindia lalu menjadi terbuka untuk tukar-menukar hasil dengan negeri-negeri lain. Karena berbagai hasil industri dari negeri-negeri lain yang dikirim dengan kapal itu sangat berbeda sedemikian rupa dengan hasil-hasil industri serta kerajinan di Hindia sendiri – jadi barang-barang itu dianggap aneh – maka dagangan itu bisa laku di sini sehingga perdagangan menjadi kian bertambah ramai. Tetapi semakin ramainya perdagangan dengan berbagai bangsa dan negeri-negeri lain, juga semakin menambah kerumitan untuk mengatur pemerintahan di Hindia. Karenanya Hindia harus kuat dan rukun kalau mau terus dapat mengurus pemerintahan negerinya sendiri. Namun sebagaimana yang telah ditakdirkan Tuhan Allah, Hindia tidak begitu rukun, Hindia mulai tercerai berai sewaktu perdagangan itu mulai ramai. Karena itu, O.I.C. bisa mudah mendapatkan kemenangan sebagaimana yang sudah saya jelaskan di muka. Begitulah, lalu bangsa Belanda dapat menghimpun kekuatan dan memerintah Hindia sepenuhnya serta membikin berbagai peraturan negeri yang sesuai dengan ramainya perdagangan dengan negeri-negeri lain; terutama Belanda mengatur bermacam hal di Hindia yang semakin menambah ramainya perdagangan dengan negeri Belanda sendiri. Sehingga, kekayaan di Hindia dengan gampang ditarik ke Eropa. Perbuatan semacam ini, waktu itu, dikatakan sudah menjadi kodrat sehingga waktu itu dianggap adil juga.

“Pada zaman itu, jenis dan macam perkerjaan serta usaha rakyat di Hindia juga semakin banyak macamnya. Mereka lalu mulai meniru kepandaian dan kemajuan bangsa Eropa.

“Tidak lama setelah Hindia diperintah bangsa Belanda, di Eropa ada perubahan besar kemajuan manusia yang juga membawa perubahan besar di seantero dunia yakni mereka bisa membikin mesin-mesin dan pabrik-pabrik. Lalu mulai berdiri pabrik kereta api, pabrik kain atau cita-cita. Pendek kata, sekarang adalah zamannya mesin dan pabrik yang digerakkan oleh tenaga air dan api alias stoom dan kemudian dengan sistem elektrik dan sebagainya.

“Keberhasilan-keberhasilan baru itu tidak saja membawa dampak perubahan yang besar di negeri Eropa, tetapi juga di Hindia. Karena kita berada di Hindia, saya akan menerangkan perubahan yang terjadi di Hindia saja. Pabrik-pabrik di Eropa dapat menghasilkan barang-barang perdagangan seperti kain, perabotan rumah, perhiasan badan dan sebagainya. Jumlah barang itu amat banyak sebab sebuah pabrik dapat bekerja dengan cepat dan bagus. Jadi, barang hasil produksi pabrik bisa sangat banyak jumlahnya serta murah. Begitulah dalam hal tukar-menukar penghasilan antara Hindia dengan barang-barang dari pabrik Eropa maka barang-barang produksi Eropa dapat mengalahkan barang-barang bikinan Hindia yang kalah baik dan kalah murah ketimbang barang hasil pabrik Eropa. Kain tenun, batik, nila Jawa dan sebagainya mulai digantikan oleh kain cap-capan, cat-cat pabrik Eropa dan sebagainya. Karena itu, berbagai pekerjaan bumiputera seperti menenun, membatik, membikin nila Jawa dan sebagainya mulai mengalami kemunduran.

“Semakin lama perdagangan bertambah ramai sehingga toko-toko dan gudang-gudang di kota bertambah banyak juga. Mundurnya beberapa jenis pekerjaan yang lama lalu diganti dengan berbagai macam pekerjaan-pekerjaan yang baru, seperti menjadi juru tulis toko, mandor, klerk, kuli dan lain-lain sebagainya.

“Adapun di Eropa orang-orangnya yang kaya terus saja mendirikan pabrik-pabrik baru. Dan begitulah sampai ada pabrik membikin peralatan pabrik. Semakin lama pabrik-pabrik ini kian bertambah banyak serta bertambah banyak pula mesin-mesin yang dihasilkan oleh pabrik. Akhirnya, di Eropa sendiri ada kesulitan lahan untuk mendirikan pabrik-pabrik baru. Sehingga, sangatlah perlu, mesin-mesin baru itu dijalankan juga di tanah Hindia. Semenjak itu, maka di Hindia lalu ada spoor atau kereta api tram, pabrik gula, pabrik beras dan sebagainya. Pabrik-pabrik di Hindia ini bisa menyewa tanah atau membeli hasil bumi buat diolah di pabrik. Karena itu, pekerjaan para petani lalu juga terdesak. Hal itu jelas mengurangi produksi padi atau beras. Kalau dibandingkan dengan pertambahan penduduk produksi itu tidak mampu lagi mengimbangi keperluan hidup rakyat di Hindia.

“Sudah barang tentu terdesaknya berbagai macam pekerjaan asli milik bumiputera itu ada imbangannya dengan datangnya berbagai jenis pekerjaan baru sebagaimana yang sudah saya jelaskan di muka. Selain itu, ditambah lagi dengan adanya perkerjaan sebagai tukang-tukang besi di bengkel-bengkel, letter-zetter di drukkerij, masinis, kondektur kereta api, sopir dan sebagainya. Jadi nyatalah, karena terbawa oleh kemajuan manusia, negeri menjadi tambah ramai dan tambah ruwet pula. Semakin ramainya negeri itu memaksa supaya negeri itu pun tersebut dapat diatur dengan kuat dan baik. Hal yang mana juga semakin menambah biaya pengeluaran untuk itu. Artinya, pajak di negeri itu mestinya dinaikkan juga. Inilah jalannya kodrat, jadi sudah sebagaimana adilnya.

“Semakin ramainya sistem perdagangan itu, sudah barang tentu, juga membutuhkan pegawai-pegawai yang pintar untuk menulis dan menghitung atau memperkirakan. Selain itu, juga dibutuhkan pegawai-pegawai yang pandai berbahasa Belanda untuk dipekerjakan di toko-toko Belanda itu. Oleh karena itu, di Hindia juga perlu ditambah sekolah-sekolah bumiputera. Dengan sekolah itulah akan tercipta bumiputera yang pandai. Semenjak munculnya kepandaian itu, maka rakyat Hindia mulai bergerak maju dengan pesat menuju kemerdekaan bangsa dan tanah airnya. Hal ini juga sesuai dengan jalannya kodrat, jadi adil juga. Dan karena itu lalu ada Tuan-Tuan seperti V. Deventer yang memasukan sistem politik etis dalam pemerintahan di Hindia.

“Sekarang kita mesti menyelidiki dan mengurus juga apakah keramaian dan keruwetan zaman baru ini juga semakin menambah kemakmuran dan keselamatan rakyat di Hindia. Meskipun sudah nyata bahwa hal itu sudah menambah kemajuan dan kepandaian secara lahiriah pada Hindia.

“Saudara-saudara tahu, dalam situasi serba ramai begini, mulai timbul dua golongan manusia. Yaitu pertama, golongan yang memiliki pabrik-pabrik, maskapai-maskapai kereta api dan mobil, toko-toko dan sebagainya. Yang kedua adalah golongan kaum buruh dari berbagai macam bangsa atau mereka yang bekerja di perusahaan golongan pertama. Golongan kaum buruh ini asalnya adalah dari kaum petani, tukang batik, tukang tenun, pedagang kecil dari berbagai macam bangsa dan sebagainya. Sebagaimana tadi sudah saya terangkan, mereka kehilangan pekerjaannya karena terdesak oleh pabrik-pabrik, oleh mesin-mesin dan perdagangan besar.

“Semakin canggih dan berkembangnya pabrik dan mesin, semakin kuat pula desakannya menghilangkan pekerjaan asli bumiputera. Adapun Saudara-Saudara bisa mengerti bahwa pekerjaan asli tadi dapat memerdekakan perasaan rakyat. Tiba-tiba sekarang pekerjaan itu terdesak sehingga kaum buruh kian hari kian bertambah. Bersamaan dengan itu, maka atas usaha manusia yang pintar-pintar, dalam mesin dan pabrik semakin bertambah canggih, ada yang lalu dijalankan dengan sistem elektrik dan sebagainya. Kalau kerja mesin dan pabrik bertambah baik, maka manusia yang bekerja di mesin atau pabrik itu bisa dikurangi jumlahnya. Umpamanya begini, dahulu pabrik gula menggunakan pabrik kuno dan tiap tahun bisa memproduksi 50.000 karung gula, tetapi pabrik itu membutuhkan pekerja yang jumlahnya 500 orang. Sekarang pabrik dibikin semakin baik dengan mesin-mesin model baru, maka saban tahun lalu bisa menghasilkan 100.000 karung gula, sedangkan buruh yang dibutuhkan tetap hanya 500 orang. Jadi, nyatalah bahwa mesin baru bisa mendesak, mengurangi buruh sejumlah 500 orang. Sebab jika pabrik tidak dibikin baik, tentu harus ada 1.000 orang yang mesti bekerja di pabrik itu, untuk dapat meng­hasilkan 100.000 karung gula. Dari contoh ini, nyata bahwa semakin maju pabrik dan mesin-mesinnya tidak berarti semakin membutuhkan kaum buruh. Tambah maju mesin dan pabrik tambah banyak pula pekerja yang terdesak oleh kekuatan mesin. HaI yang mana semakin menambah susahnya manusia mencari pekerjaan atau penghidupan meskipun jenis dan macam pekerjaan bertambah. Pada saat ini lalu datang masanya kaum buruh saling berebut pekerjaan. Mereka mau dibayar murah, asal saja dapat kerjaan.

“Hal ini yang menyebabkan perubahan besar di desa-desa. Yaitu perubahan yang membikin ruwetnya mencari pekerjaan dan penghidupan penduduk asli. Itulah salah satu sebab juga yang menyebabkan kemunduran pemodal kecil dan kemakmuran serta keselamatan rakyat di Hindia.

“Tetapi selain dari ini ada sebab yang lain lagi, yaitu orang-orang yang bermodal yang mempunyai pabrik-pabrik, kapal, spoor, toko-toko dan sebagainya; orang-orang itu satu sama lain saling berebut keuntungan; sehingga sering tidak mendapatkan keuntungan. Umpamanya begini, mereka saling bersaing menjual murah asal saja barangnya lekas habis dan laku. Jadi meski untungnya hanya sedikit sering kali untungnya akhirnya juga menjadi banyak juga. Selama golongan bermodal itu masih bersaing begitu, tentulah rakyat atau penduduk yang enak sebab bisa membeli barang dengan harga yang murah sedang pengusahanya semakin merugi. Tetapi kaum saudagar besar, tambah lama tambah pintar juga. Akhirnya, lalu mereka bersatu dengan sesama golongan masing-masing. Sehingga lalu mereka bersama-sama menaikkan semua harga barang-barang kebutuhan manusia. Umpamanya saja sekarang semua pabrik gula di Hindia bersatu dalam Java-Suiker Syndikaat dan itu perkumpulan saudagar yang besar, tentu lalu bisa bersatu menaikkan harga gula bersama-sama atau kalau perlu menurunkan harga secara bersama-sama pula. Begitulah adanya dengan semua itu; rakyat bertambah lama bertambah susah hidupnya karena semua harga-harga kebutuhan manusia semakin naik terus harganya. Sedangkan hasil rakyat itu tidak pernah naik secara sepadan. Karena mereka berebut pekerjaan sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Nah, sekarang saudara-saudara juga sudah tahu sebab yang kedua yang menambah mundurnya kemakmuran rakyat. “Yang ketiga, tadi saya sudah terangkan, bahwa negeri yang bertambah ramai itu perlu diatur dengan lebih baik dan aturannya harus tambah baik juga. Dengan sistem aturan atau pemerintahan yang semakin baik tentu saja juga semakin menambah warna dan macamnya. Sehingga rakyat di desa sering tidak tahu atau mengerti betul dan menjadi bingung karenanya. Mereka hanya bisa mengerti dengan sesungguhnya kalau sudah merasa bahwa suatu aturan baru yang ada itu sangat diperlukan oleh mereka. Sedang banyak di antara mereka belum merasa perlu untuk itu. Perasaan rakyat di kota-kota dan sedikit berbeda dengan perasaan rakyat di desa-desa yang dekat dengan kota-kota itu. Sedangkan perasaan penduduk di desa-desa yang jauh dari kota-kota itu juga lain lagi. Begitulah, sistem pemerintahan yang satu macam dari atas, sering hanya sesuai dengan perasaan dan kebutuhan penduduk di suatu tempat dan belum tentu sesuai dengan kebutuhan penduduk di tempat lain. Sebaliknya, jika setiap pemerintahan itu mengadakan sistem aturan sendiri-sendiri di tiap-tiap tempat, tentulah lalu menjadi kekurangan tenaga dan kebanyakan kerjaan. Hal ini semua sering menyebabkan susahnya kehidupan rakyat. Apalagi rakyat sudah semakin pintar dan bertambah besar juga keperluannya guna untuk hidup yang pantas. Sehingga sekarang ini rakyat sudah mempunyai keinginan untuk turut mengatur negeri dan utamanya untuk turut mengatur penghidupannya di tempat masing-masing. Dan umumnya ingin turut memerintah di seantero Hindia ini tanpa kecuali.

“Perubahan karena ketiga sebab tadi sudah menambah sukarnya kehidupan rakyat sedang sekarang ada begitu banyak yang mesti diikuti. Sehingga peraturan agama mendapat persaingan dengan peraturan negeri dan peraturan mencari penghidupan. Akhirnya, orang-orang yang tidak tebal imannya lalu tidak lagi setia kepada kebaikan dan ajaran agamanya. Ajaran agama pun turut mengalami kemunduran. Begitulah, maka semakin lama orang-orang jahat juga semakin bertambah banyak.

“Jadi, nyatalah bahwa kesukaran dan kesusahan rakyat Hindia sekarang ini karena terbawa oleh kodrat atau kepastian sesuai dengan jalannya kemajuan dunia. Zaman yang sukar demikian ini juga sudah sampai di Eropa yaitu di negeri Belanda sendiri dan di mana saja. Di seantero dunia tentu suatu ketika akan datang masa atau zaman serba susah bagi rakyat negerinya masing-masing.

“Saudara-saudara! Meskipun jalannya perubahan begini, namun kita tidak boleh bilang ‘masa bodoh’ atau ‘na, ya sudah, kita diam saja!’ Ketahuilah, orang yang diam saja dan tidak mau berusaha itu sama halnya melawan kodrat juga. Sebab habis malam pasti datang siang. Habis susah pasti datang senang. Dan untuk mendapatkan kesenangan itu, kita manusia wajib berusaha. Dan dengan berusaha, kita manusia pasti akan dapat memakmurkan dan memuliakan kehidupan rakyat lahir dan batin. Dan kalau Saudara-Saudara sudah mengetahui kewajiban berusaha itu, maka Saudara-Saudara akan bisa membantu kemajuan tiap-tiap zamannya.

“Zaman serba susah sekarang ini memang sudah kodrat, tetapi kodrat juga sudah mendatangkan benih-benih yang akhirnya pasti mendatangkan keselamatan pada manusia. Kehidupan yang susah menimbulkan niat manusia untuk berusaha memperbaiki kehidupannya itu. Dan usaha manusia yang disebabkan oleh kesusahannya supaya bisa mendapatkan kesenangan. Usaha manusia itu sendirilah yang menumbuhkan benih-benih kesenangan yang akan memuliakan lagi manusia di akhir zamannya. Bagaimanakah manusia berusaha untuk memperbaiki hal itu? Di sini akan saya terangkan sedikit.

“Tadi saya sudah terangkan bahwa dalam urusan lahir, perkara harta benda, ada golongan manusia yang sekarang ini menguasai. Yakni kaum yang bermodal yang mempunyai pabrik-pabrik, spoor, bank-bank, toko-toko, uang dan sebagainya. Kaum ini jumlahnya sangat sedikit sekali ketimbang jumlahnya kaum buruh. Tetapi kaum yang bermodal, saudagar-saudagar besar itu, pada zaman sekarang ini sedang menang dan berkuasa. Mereka pintar dan kuat sebab mereka bersatu antar sesarma golongannya buat bersama-sama menumpuk kekayaan. Sebagai golongan saudagar, sudah barang tentu mereka bermaksud terus mencari keuntungan. Begitulah, karena mereka mempunyai kepintaran dan kekuasaan, mereka mempergunakannya untuk mendapatkan keuntungan bagi golongannya. Banyak di antara mereka yang memiliki sifat adil dan berperkemanusiaan yang baik. Tetapi sebagai golongan saudagar, mereka ‘wajib’ mencari keuntungan. Jadi, karena konsekuensi dari maksud berusaha atau dagang dan bukan karena maksud jahat, maka terpaksa mereka mencari keuntungan itu. Sekarang hendak ditanyakan, dari mana mereka dapat menarik keuntungan itu?

“Sudah tentu keuntungan itu didapat dari pabrik-pabrik atau usaha perdagangan mereka atau perusahaan di mana kaum buruh bekerja di situ. Dan juga dari adanya trust atau syndikaat dari konsumen yang membeli. Jadi mereka mendapatkan keuntungan itu dari pekerjaan para kaum buruh serta dari rakyat yang menjadi konsumennya. Begitulah, kaum bermodal yang berkuasa sangat gigih dalam berusaha, berdasarkan kepintaran serta kerukunan antar kaumnya. Maka mereka lalu bisa menarik keuntungan dari rakyat konsumen dan kaum buruh yang bekerja.

“Sebaliknya, di mana ada keuntungan, di lain pihak pasti ada kerugian. Karena kaum bermodal yang mendapatkan keuntungan, maka yang merugi adalah kaum buruh serta rakyat konsumen. Dengan demikian, golongan ini kehidupannya menjadi susah sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Jadi nyatalah dalam urusan lahiriah, kaum bermodal sekarang ini memang pintar, kuat, dan berkuasa meskipun jumlahnya hanya sedikit. Mereka dalam persaingan memperebutkan kebutuhan, memusuhi kaum buruh yang jumlahnya banyak itu dan menang. Apa sebabnya mereka bisa menang? Karena mereka berkuasa. Yang pintar, kuat dan berkuasa, tentulah yang menang. Di sinilah rahasia kodrat atau jalannya usaha yang penting untuk kaum buruh dan rakyat. Pintar, kuat dan berkuasa, selamanya pastilah menang!

“Tadi sudah saya terangkan bahwa kaum buruh tambah lama makin banyak jumlahnya, sedang rakyat makin lama juga makin pintar. Mereka dipintarkan oleh kaum bermodal. Sebab ingin mempunyai pegawai yang pintar menulis, menghitung dan sebagainya, mereka terpaksa membantu berdirinya sekolahan-sekolahan. Yang kedua, rakyat mendapatkan kepintaran karena kehidupan yang melarat itu, memperkeras usahanya. Di sini kaum bermodal dipaksa oleh perusahaannya sendiri supaya memberi senjata kepada kaum buruh dan rakyat untuk memperjuangkan maksud masing-masing. Artinya telah tumbuh benih zaman baru.

“Sebab kepintaran kaum buruh dan rakyat selalu bertambah, maka mereka berusaha supaya dapat memenangkan dalam persaingan perebutan rezeki atau hasil duniawi. Yaitu berebut memusuhi kaum bermodal. Ini juga telah sesuai dengan zaman atau kodrat, jadi nyata juga adilnya.

“Bagaimana kaum buruh dan rakyat bisa menang ialah dengan jalan mencari kekuatan dan kekuasaan juga. Dengan kepintaran, kekuasaan dan kekuatan, itulah mereka mendapatkan jalan kemenangan. Bagaimana mereka bisa kuat dan berkuasa yaitu dengan rukun bersatu atau mendirikan perkumpulan. Begitulah, maka perkumpulan-perkumpulan di tanah Hindia sekarang ini ada banyak jumlahnya, karena memang sudah tuntutan sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Dengan pendek kata, memang sudah merupakan tuntutan zaman.

“Karena itu, ada perkumpuIan-perkumpulan yang sangat adil dan tidak bisa dihalang-halangi atau dibunuh oleh siapa pun juga manusianya. Sebab, manusia yang mau membunuh mati perkumpulan yang lahir karena tuntutan zaman, boleh dikatakan mau membalik jalannya matahari. Hal yang memang sungguh mustahil dilakukan. Memang bisa juga di sana-sini sebuah perkumpulan mengalami kemunduran sementara waktu, atau boleh diumpamakan sedang sakit atau pingsan, tetapi umumnya perkumpulan yang lahir karena tuntutan zaman kemajuan, setiap langkah akan maju terus selangkah demi selangkah tanpa henti. Segala rintangan justru semakin menambah pintar mereka untuk terus maju.

“Tetapi patut diketahui betul-betul maksud dan tujuan perkumpulan kita. Maka perlulah di sini saya menerangkan terlebih dahulu bahwa dalam hal perkumpulan kaum buruh dan rakyat ada tiga caranya.

“Jalan yang pertama, rakyat mesti rukun bersatu bersama-sama berusaha atau berdagang sendiri, yaitu dengan jalan mendirikan koperasi. Dengan mengumpulkan uang maka mereka harus mendirikan toko-toko sendiri untuk berjual beli barang-barang kebutuhan sendiri. Rakyat lalu tidak mau membeli di lain tempat selain di tokonya sendiri. Tidak mau menjual kepada saudagar lain, kecuali pada tokonya sendiri itu. Maka dengan jalan seperti itu, keuntungan bisa masuk ke dalam tokonya sendiri itu atau dalam perusahaannya sendiri. Dan dengan bersatu mereka saban waktu bisa membagi secara adil keuntungannya mereka sendiri itu. Artinya keuntungannya bisa dibagi dengan adil di antara rakyat konsumennya atau pelanggannya dengan penjualnya pada toko atau perusahaan koperasi itu. Dengan cara berusaha semacam ini, keuntungan toko atau perusahaan, kaum bermodal itu lalu menjadi berkurang, akhirnya hilang sama sekali sebab pindah ke tangan rakyat. Sesungguhnya, jalan berusaha seperti koperasi ini memang sangat halus, tetapi amat lama berhasilnya dan sering mati di tengah jalan, kalau yang memimpin dan yang dipimpin tidak setia dan telaten dengan sungguh-sungguh. Kita harus tidak lupa bahwa kaum bermodal, memang sangat pintar membunuh toko-toko dan perusahaan rakyat yang modalnya cuma sedikit itu. Meskipun begitu, rakyat harus wajib berusaha terus-menerus mendirikan koperasi. Itulah sebabnya di sini perlu dipilih pimpinan dari orang-orang yang paling pintar, terbaik dan paling setia sendiri. Sebab kalau tidak begitu, akhirnya koperasi itu akan sakit dari dalam dan mati juga. Dari itu, bukan sembarang orang boleh dijadikan pemimpin-pemimpin atau pengurus koperasi.” (“Betu1!” kata vergadering dengan sorak sorai).

“Mengingat beratnya jalan yang pertama maka ada cara lain yang harus dijalani oleh rakyat dengan melalui jalan yang kedua yaitu perkumpulan pekerja atau bersatu dalam vakbond. Di sini para rakyat yang menjadi kaum buruh bersatu dengan sesama buruh yang sesuai dengan golongan pekerjaannya masing-masing. Seperti yang bekerja di perusahaan spoor bersatu dalam vakbond pegawai spoor yang bekerja sebagai letter-zetter bersatu dalam vakbond-letter-zetter-drukker dan sebagainya. Dengan berkumpul sesuai dengan jenis pekerjaannya itu maka kaum buruh dapat merebut kekuatan dan kekuasaan para kaum bermodal atau yang mempunyai spoor, drukerij dan sebagainya. Begitulah, kaum yang bermodal, yang memberi pekerjaan pada kaum buruh mendapatkan imbangan dengan vakbond-vabond. Sebab dengan bersatu dalam vakbond-vakbond itu kaum buruh lalu bisa berkuasa meneruskan jalannya pekerjaan atau perusahaan, juga bisa berkuasa bersama-sama untuk menghentikan jalannya perusahaan itu. Meski yang memberi pekerjaan juga berkuasa berbuat serupa itu. Adapun jika hanya yang memberi pekerjaan yang berkuasa berbuat serupa itu, sedang kaum buruh tidak, tentulah kaum priyayi atau kaum yang pemberi kerja (yang bermodal) lalu berkuasa sendiri dan bertindak sewenang-senang, memerintah dan membayar si buruh. Sehingga si pemberi kerja bisa menarik keuntungan yang sebesar-besarnya dari kerja kaum buruh. Kaum buruh pun kehidupannya bertambah miskin terus-menerus. Oleh karena itu, cara yang kedua atau jalan vakbond-vakbond sangat perlu dan penting sekali bagi rakyat yang menjadi buruh. Karena kaum buruh lalu bisa memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengimbangi kekuasaan kaum pemberi kerja. Dengan perimbangan kekuasaan sedemikian maka kaum buruh bisa meminta perbaikan gaji dan lamanya jam kerja dalam sehari-harinya. Meminta supaya jangan bekerja terlalu lama sehingga menyebabkan tubuh lekas hancur. Meminta supaya pekerjaannya dihargai dan jangan mereka dipecat dengan mudah seperti barang yang tak bernyawa. Jadi kaum buruh lalu berkuasa merebut keuntungan perusahaan serta lalu bisa memperbaiki kehidupannya. Inilah usaha yang adil dan sangat baik, jadi mustinya bisa dijalankan dan sesuai dengan maksud serta tujuannya. (“Betul, mufakat!” kata vergadering dengan tepuk tangan yang ramai!).

“Di sini saya sudah menerangkan dengan singkat dua jalan dan tinggal menerangkan jalan yang ketiga, yaitu pergerakan politik namanya. Arti politik yaitu ‘mengurus dan mengatur negeri’ atau ‘turut berbuat’ ataupun juga ‘berusaha turut berbuat begitu’. Apa sebabnya rakyat dan kaum buruh harus mempunyai perkumpulan politik?

“Tadi saya sudah menerangkan bahwa negeri ini bertambah ramai, aturan pemerintahan lalu bertambah ruwet, hal yang mana sering membikin salah pengertian pada rakyat. Sedang keadaan di sana-sini berubah-ubah dan berbeda-beda. Sehingga banyak aturan negeri yang perlu diperbaiki supaya sesuai dengan keadaan dan keperluan rakyat banyak. Gupermen sungguh repot mengatur hal-halyang demikian ini sendirian, jika rakyat tidak turut campur tangan. Dan rakyat tambah lama tambah pintar juga jadi ingin turut campur tangan mengurus dan mengatur negerinya sendiri. Oleh karena hal-hal ini, rakyat seharusnya ikut campur tangan dalam mengurus dan mengatur negerinya. Jadi, semua aturan dan urusan pemerintahan negeri mestinya diselenggarakan melalui mufakat terlebih dahulu dengan rakyat. Untuk hal itu maka perlu dibentuk perkumpulan rakyat. Yaitu sebagian dari orang-orang yang dipilih harus mengurus desa dan bertempat tinggal di situ juga. Dan ada juga yang mengurus sebuah afdeeling serta mengurus seantero negeri Hindia dan lain-lain. Mereka boleh dinamakan ‘wakil rakyat pembikin wet’. Sebab mereka harus dipilih oleh rakyat dan mengatur negeri dengan wet yang sesuai dengan keperluan rakyat. Apa sebabnya sekarang rakyat harus turut mengatur, mengurus dan memerintah negerinya? Tadi saya sudah bilang bahwa ada orang yang memperumpamakan kita rakyat Hindia sebagai anaknya Gupermen Belanda. Tetapi golongan kaum yang bermodal, yang kaya-kaya itu juga anaknya Gupermen Belanda. Jika dua anak itu berebutan hasil dunia atau rezeki, siapakah yang akan dibantu oleh ayahnya? Sudah barang tentu anak yang sudah pintar dan sudah besar. Sebab ada pepatah mengatakan ‘saudara muda mesti menurut kepada yang tua’. Jadi semakin pintar dan kuat saja kaum bermodal itu dan tambah menang juga pengaruhnya terhadap semua aturan negeri. Karena pengaruhnya yang besar itu dapat menyusahkan peraturan negeri yang sesuai dengan koperasi dan vakbond atau jalan usaha yang pertama dan kedua tersebut. Ya, dengan pengaruh kaum bermodal dalam pemerintahan negeri maka keperluan rakyat mudah dikalahkan, sehingga akan terus-menerus menjadi celaka. Oleh karena itu, pihak rakyat harus ikut bergerak dalam politik juga. Selain dari itu, rakyat yang semakin pintar, ada juga yang memperumpamakan kita rakyat Hindia sebagai muridnya Gupermen Belanda. Dan kalau rakyat itu atau anak itu atau murid itu sudah cukup kepandaiannya serta kekuatannya, tentulah orangtua atau guru mau melepaskan anak atau muridnya itu. Itu artinya rakyat Hindia lalu diperkenankan untuk berkuasa memerintah negerinya sendiri. Dan merdekalah Hindia ini. Kapan bisa merdeka? Na, itu tergantung dari niat anak atau murid yang belajar. Jadi kalau tekun belajarnya dan terus berusaha mendapatkan kepintaran dan kekuatan mengurus negerinya itu, maka suatu waktu atau zamannya bisa dipercepat, dan cepat juga kita dipandang cukup untuk memerintah negeri dan hidup kita sendiri (“Betul-betul,”kata vergadering dengan sorak-sorai yang riuh dan damai).

“Adapun tempat belajar itu, ialah dalam pergerakan perkumpulan politik! (“Cocok,” sambut vergadering lagi dengan gembira).

Saudara-saudara, di sini saya sudah menerangkan tiga cara berusaha rakyat. Adapun kalau rakyat dalam tiga jalan itu, betul-betul sudah pintar, kuat dan berkuasa dan kalau kaum yang bermodal yang kaya-kaya itu masih selalu menarik keuntungan dari rakyat, nah, di situ wajiblah kita berusaha supaya cita-cita pergerakan kita berhasil.

“Komunisme itu ialah ilmu mengatur pergaulan hidup supaya dalam pergaulan hidup itu orang-orang jangan ada yang bisa memeras satu sama lainnya. Ilmu itu mau menghilangkan bentuk perdagangan biasa seperti yang ada sekarang ini. Jadi, modal saudagar-saudagar yang ada sekarang ini, seperti pabrik-pabrik, kereta-kereta api, kapal-kapal, gudang-gudang dan lain-lain, semua itu supaya dijalankan oleh rakyat sendiri tidak lagi oleh para saudagar-saudagar itu. Untuk keperluan itu, umpamanya mesti diatur dengan cara begini:

(1) Kaum buruh harus bekerja di pabrik-pabrik dan tanah-tanah serta menghasilkan kain, lena lawon, kopi, teh, gula dan sebagainya;

(2) Kaum petani harus bekerja di sawah-sawah untuk menghasilkan beras, ketela, padi dan sebagainya;

(3) Hasil kaum buruh dan kaum tani itu lantas dimasukkan dalam gudang-gudang umum atau gudang-gudang rakyat.

(4) Kalau ada keperluan untuk menukar hasil yang dengan hasil yang lain, diadakan tukar-menukar, sehingga ini lalu ada;

(5) Kaum buruh yang harus bekerja di kereta api, tram, kapal, pos, telegram dan sebagainya. Sudah tentu kereta api, tram dan lain-lain itu masih dinaiki orang juga. (Vergadering tertawa);

(6) Supaya tukar-menukar ini bisa adil, kaum buruh dan kaum tani mengadakan majelis-majelis yang tiap ada perlu atau tiap bulan atau tahun menyelenggarakan rembugan atau vergadering-vergadering untuk memberi makan dan pakaian sampai cukup kepada semua buruh dan tani yang bekerja di situ, juga yang sakit, yang belum bisa kerja atau masih anak-anak atau yang sudah tidak bisa kerja atau sudah tua;

(7) Majelis-majelis itu juga harus memutuskan apa yang mesti diproduksi atau ditanam, misalnya kalau di gudang umum kebanyakan korek api, tidak habis untuk keperluan rakyat, pabrik korek api itu lalu ditutup dan buruh yang bekerja di situ pindah untuk kerja membikin rumah-rumah. Kalau kebanyakan beras, tidak habis dimakan sehingga bisa rusak, lalu orang-orang tani tidak menanam padi, tetapi menanam tembakau. Begitu seterusnya.

“Hal-hal ini harus diputuskan oleh majelis-majelis di atas. Jadi tidak seperti sekarang, rakyat kekurangan beras, tetapi para saudagar tetap menanam tebu untuk gula, asal saudagar itu dapat untung banyak. Mereka tidak peduli dengan keperluan hidup orang senegeri sendiri.

(8) Majelis-majelis itu umpamanya diatur begini:

a. Di tiap-tiap desa didirikan satu majelis yang setiap mau ada vergadering, utusan-utusannya atau tetua-tetuanya semua berasal dari desa itu dan dipilih oleh para petani dan buruh di desa itu juga. Di vergadering yang mempunyai hak suara hanya utusan-utusannya, tetapi rakyat sedesa harus diizinkan boleh melihat dan mendengarkan, agar utusan-utusan itu tidak berbicara semaunya sendiri, tetapi memperhatikan keperluan hidup orang sedesa. Sehabis membuat keputusan, maka majelis itu bubar dan utusannya lalu bekerja lagi seperti biasa.

b. Di pabrik-pabrik para buruh itu mendirikan Majelis Pabrik dengan aturan seperti butir a.

c. Di kapal-kapal, spoor dan tram, tiap-tiap vaknya umpamanya seperti itu juga.

d. Mejelis-Majelis Desa, majelis-majelis pabrik, majelis-majelis spoor dan sebagainya ini lalu tiap atau perlu ada tiga bulan sekali, umpamanya, mengirim utusan-utusan untuk mengadakan vergadering di kota-kota terdekat. Mereka mengadakan vergadering dan memutuskan apa yang mesti dikerjakan semua orang, apa yang mesti ditukar-tukarkan dan sebagainya. Vergadering-nya utusan desa, pabrik dan lain-lain ini boleh dikatakan sebagai ‘Majelis Kota’.

e. Majelis-Majelis Kota sewilayah tiap bulan, umpamanya dan kalau ada perlunya mengirim utusan-utusan untuk pergi ke ibukota negeri. Dan di situ utusan-utusan tadi mengadakan vergadering untuk memutuskan aturan-aturan besar bagi keperluan hidup kaum buruh dan tani senegeri. Majelis ini boleh dikatakan Majelis Negeri.

f. Semua utusan dari semua majelis-majelis ini kalau sudah pulang harus menerangkan pada semua orang apa yang sudah diputuskan dalam Majelis Negeri. Keputusan Majelis Kota, tidak boleh melanggar keputusan Majelis Negeri, sebab Majelis Negeri sifatnya lebih tinggi dan umum. Keputusan Majelis Desa dan Majelis Pabrik tidak boleh melanggar keputusan Majelis Kota dan Majelis Negeri sebagai yang lebih besar dan umum. Kalau keputusan-keputusan itu sudah diumumkan, maka harus diikuti dan dikerjakan oleh orang senegeri dan semua utusannya harus ikut bekerja lagi sebagai buruh atau tani seperti biasa. Semua vergadering majelis-majelis harus ada “oppen baar” (bersifat terbuka) di mana rakyat boleh melihat dan mendengarkan sesukanya.

g. Majelis-majelis ini tiap satu tahun sekali umpamanya harus memilih bestuur harian seperti presiden, komisaris dan sebagainya. Kalau ada presiden atau komisaris yang berbuat susuka hatinya, harus dilepaskan oleh majelis dan diganti yang baru.

h. Untuk tingkat desa, bestuur harian ini cukup tiga orang saja umpamanya, sedangkan di kota boleh sembilan atau lima belas atau dua puluh lima.

i. Komisaris-komisaris Majelis Negeri itu mendapat bagian pekerjaan, umpamanya menjadi presiden spoor dan tram senegeri, presiden pertanian satu komisaris dan presiden sekolahan satu komisaris. Begitu seterusnya.

j. Kalau ada orang jahat lalu dihukum oleh Majelis Hukum yang terdiri dari lima orang umpamanya dan kelima orang itu dipilih orang sedesa atau sepabrik. Dan di kota ada Majelis Hukum Kota umpamanya. Dan Majelis Hukum Negeri dipilih oleh Majelis Negeri. Orang-orang yang dipilih sebagai Majelis Hukum boleh mengadakan kunjungan ke Majelis Hukum Kota atau Majelis Hukum Negeri.

Gambar majelis-majelis itu umpamanya begini:

“Di atas ini, model a sampai j ialah rancangan dari peraturan pergaulan hidup yang berdasarkan ilmu Komunis. Jadi tidak ada lagi pedagang, priyayi, atau amtenar, pajak dan sebagainya.

“Semua rakyat jadi lantas bisa mengatur sendiri pekerjaannya, hidupnya dan sebagainya. Dan orang-orang yang memeras dan menindas lalu juga menjadi hilang.

“Sudah tentu saja, keterangan di atas itu hanya rancangan singkat sebab sesungguhnya di kemudian hari akan lebih baik dan lebih lebar lagi.

“Aturan dagang dengan negeri lain diputuskan oleh Majelis Negeri. Jadi, tidak ada orang atau pedagang yang bisa berdagang semau-maunya sendiri dengan negeri-negeri lain.

“Jadi, aturan pergaulan hidup yang berdasarkan paham komunis ada perbedaan besar dengan aturan sekarang ini yang kita sebut sebagai aturan hidup kapitalis. Ya, malahan boleh dikatakan kebalikannya. Sebab itu komunisme dikatakan revolusioner dan membalik-balikkan keadaan.

“Pemerintah di Hindia sekarang ini bisa membikin aturan pergaulan hidup berdasarkan paham seperti ini kalau ia mau.

“Sudah barang tentu, aturan ini tidak lantas bisa diterapkan besok pagi di Hindia, tetapi harus diusahakan. Dan kalau usaha yang bertahun-tahun itu sudah masak lantas akan datang sendiri di kemudian hari.

“Orang-orang yang tergerak hatinya untuk berusaha mewujudkan aturan pergaulan hidup seperti komunisme itu maka disebut sebagai orang komunis.

“Vakbond-Vakbond yang baru mau berusaha seperti itu. Tetapi vakbond-vakbond yang kuno dan vakbond buruh tinggi tidak mau. Sebab vakbond-vakbond itu anggota-anggotanya sudah hidup senang dan mereka telah senang dibayar lebih tinggi oleh kaum kapitalis untuk ikut menindas dan memeras kaum buruh rendah atau kecil. Dia adalah orang-orang kapitalis dan lupa pada orang-orang kecil. Itulah sebabnya mereka tidak suka dengan urusan politik. Mereka tidak suka berusaha untuk mengadakan perubahan peraturan negeri.

“Begitulah, maka artinya di seantero Hindia ini tidak akan ada lagi kelaparan dan kesusahan lahir. Dengan demikian, perbaikan batin tidak bisa dihambat lagi oleh kemiskinan. Semua orang di sini lalu hidup cukup dan selamat serta mendapatkan peralatan lahir untuk menjalankan ajaran agama, jadi bisa memperbaiki batiniah. Pencuri, perampok dan sebagainya lalu tidak ada. Sebab sudah baiknya kehidupan batiniah manusia. Dan semua manusia lalu hidup rukun bersama-sama menuju pengetahuan kebaikan, mencapai surga di dunia dan di akhirat. Inilah keadaan zaman akhir yang bentuknya masih baru dapat dibayang-bayangkan saja.

“Saudara-saudara, di sini saya sudah menerangkan jalannya kepastian dari zaman dahulu hingga zaman sekarang dan akhir zaman. (“Betul! Semua! Mengerti! Mufakat!” kata suara-suara ramai dari vergadering).

“Kalau manusia sudah mengetahui jalannya kepastian zaman, maka kita wajib mengikuti laku dan kehendak zaman itu, agar kita, anak dan cucu kita semua manusia bisa hidup mulia. Terutama di akhirnya. Oleh karena sekarang kita ada di zaman serba susah maka kita harus selalu maju untuk menyongsong datangnya zaman senang, yaitu zaman Komunisme yang akhir. Sekarang ini kita mesti menanam dan memelihara benih-benih zaman akhir itu. Sebab kita harus tahu bahwa benih-benih itu akan menjadi pohon-pohon atau zaman baru yang buahnya amat lezat rasanya bagi kita atau anak cucu kita. Itulah kewajiban kita, wajib karena kodrat. Jadi, sesuai dengan wet perjalanan zaman Tuhan Allah. Oleh karena itu, perkurnpulan P.K. kita semua ini mempunyai maksud tidak lain supaya rakyat bisa lekas pintar dan kuat untuk mengikuti aturan zaman. Dengan berkumpul, kita bisa ber-vergadering dan bermusyawarah tentang segala hal. Lalu kita bisa mengumpulkan uang secara bersama-sama untuk modal permusyawarahan itu. Kita lalu bisa mengumpulkan modal untuk mendirikan surat kabar yang menambah kepandaian rakyat yang membacanya. Di dalam surat kabar itu kita bisa mufakatkan tentang bermacam-macam hal keperluan rakyat. Serta di dalam vergadering, surat kabar kita dan perkumpulan-perkumpulan, maka kita lalu bisa hidup rukun berusaha bersama-sama guna memperbaiki kehidupan rakyat kita serta menyongsong datangnya zaman senang di akhir nanti. Perkumpulan akan membawa kita hidup rukun, kuat serta kuasa untuk mencari hal-hal bagi keselamatan hidup kita. Itulah sebabnya, sekarang ada perkumpulan P.K. yang sesuai dengan kodrat zaman. Perkumpulan P.K. akan membantu rakyat Hindia melalui jalan usaha koperasi, vakbond dan akan melalui jalan usaha politik untuk membantu keperluan rakyat atau orang banyak. (“Betul. Baik” kata vergadering dengan riuh dan bertepuk tangan sangat ramai).

“Mengingat tujuannya tadi sudah saya terangkan, maka nyatalah bahwa tujuan perkumpulan ini sangat baik sekali untuk semua rakyat Hindia semua bangsa: Jawa, Ambon, Belanda, Arab, Tionghoa dan sebagainya. Dan juga sangat baik bagi semua orang yang beragama apa saja, seperti Kristen, Islam, Buddha dan sebagainya. Mereka semua manusia, sedang perkumpulan kita bermaksud memuliakan semua manusia yaitu maju sesuai dengan jalannya kodrat. Jadi di sini saya sudah membuktikan bahwa perkumpulan P.K. sangat baik untuk semua bangsa dan semua agama.

“Karena itu, wahai rakyat dan penduduk Hindia, lekaslah kuatkan dan bantulah perkumpulan kita ini. Lekaslah menjadi anggotanya. Yang terpelajar, lekaslah berusaha memimpin, yang masih bodoh-bouoh dengan berusaha supaya dipilih oleh orang banyak menjadi pemimpin. Bantulah pergerakan kita melalui surat kabar kita dan dalam. (“Mufakat. Betul,” kata vergadering dengan merdu-merdu, ramainya).

“Tuan-Tuan bangsa Belanda yang adil, Tuan-Tuan segala bangsa dan segala agama. Bantulah perkumpulan kita supava kita semua bangsa dan semua agama bersaudara dengan baik. (“Bravo. Baik Begitu!kata suara ramai yang amat gembira dari vergadering dan dibarengi oleh tepuk tangan yang riuh dan lama).

Sampai di sini maka Tuan Tjitro berhenti berpidato. Presiden lalu memperkenankan semua orang yang mempunyai pendapat lain untuk bertanya atau mendebat. La1u majulah Kyai Noeridin, guru dari Pesantren Sendang dan berkata: “Saya ada pikiran lain dengan Tuan Tjitro, kalau benar semua yang tadi ia katakan, maka pergerakan P.K. mau memakmurkan manusia dalam urusan lahir, yakni dalam hal duniawi atau harta benda dunia, dalam pikiran saya, hal itu justru sangat berbahaya bagi manusia. Karena urusan batin atau masalah agama serta kepercayaan kepada Gusti Allah lalu menjadi rusak. Sebab manusia lalu hanya memperhatikan urusan lahir lebih dahulu. Untuk memperbaiki akal budi manusia, maka yang pertama-tama harus diutamakan urusan batin terlebih dahulu. Jadi nomor satu haruslah agama dimasukkan dalam hati sanubari manusia. Karena masuknya agama ke dalam jiwanya, manusia akan dengan sendirinya menjadi baik dan bersih. Maka tentulah akal budi dan urusan lahiriah akan menjadi baik dengan sendirinya. Oleh karena itu, saya sepakat bila semua pemuda harus dibikin alim dahulu di langgar dan pesantren, di mana semua guru agama akan bisa menunjukkan jalan bagi kebaikan batin, agar supaya bisa mulia lahir dan batin. Dalam hal ini, saya memandang kurang perlu adanya pergerakan ini.” (Sebagian dari vergadering sepakat dan bersorak-sorak).

Sampai di situ, maka Tuan Edelhart yang terkenal sebagai penolong orang-orang desa yang miskin maju dan berkata: “Kalau saya tidak salah mengerti, maka Tuan Tjitro mengajak rakyat bergerak supaya tanah Hindia merdeka dan terlepas dari pemerintahan Belanda. Hal itu saya tidak sepakat, karena sekarang ini rakyat di Hindia belum siap untuk mengurusi negerinya sendiri. Umpamanya besok pagi Gupermen Belanda pulang ke negerinya, maka Bumiputera pasti akan kalang kabut dan bangsa-bangsa lain seperti Jepang, Inggris dan lain-lain tentu akan datang dan menaklukkan tanah Hindia. Sehingga tanah Hindia tidak untung apa-apa dan hanya berganti pembesar bangsa lain saja.” (Banyak yang bersorak karena sepakat).

Tuan Mangoentjokro, Asisten Wedono Bulu Rejo yang sudah pensiun, ikut mendebat pula dan berkata: “Tadi Tuan Tjitro sudah menerangkan apa sebab-sebabnya Bumiputera sekarang ini serba susah dan hidup melarat, tetapi menurut hemat saya, melaratnya rakyat itu karena salahnya sendiri. Sebab mereka tidak menghargai uang dan tidak menyimpan uangnya.” (Separo vergadering menyatakan sepakat dengan bertepuk tangan).

Sekarang Haji Mamirah berdiri dan berkata: “Sepanjang pikiran saya, maka rakyat memang mempunyai kesalahan sendiri. Hidup mereka bertambah susah sebab mereka suka membeli barang-barang dari luar negeri sedang tanah Hindia bisa rnembikin kain-kain tenun, pakaian dan sebagainya. Karena itu, untuk memakmurkan kehidupan rakyat, nomor satu hendaknya dihidupkan juga pekerjaan-pekerjaan yang dahulu-dahulu, seperti menenun, membatik dan sebagainya.” (Banyak yang bertepuk tangan sebab sepakat)

Lalu ada seorang pemuda bernama Tuan Soebono, ikut membantah dan berkata: “Saya melawan keras pendapat Tuan Tjitro. Tuan Tjitro adalah seorang yang jahat dan penjual bangsa. Begitupun perkumpulan P.K. ini sangat jahat sekali. Karena di situ mau dihidupkan paham P.K., sedang paham itu bersifat internasional. Artinya mencintai semua bangsa dan tidak memakmurkan bangsa kita sendiri. Paham P.K. ini jelas-jelas mau mengadu rakyat bumiputera yang miskin dcngan yang kaya, supaya bangsa kita terpecah-belah dan tidak bisa kuat. Itulah jahatnya paham ini untuk kita bangsa Jawa.” (Separoh vergadering bersorak dan bertepuk tangan).

Sampai di sinilah perdebatan itu berlangsung. Dalam verslag hanya diambil intinya saja. Karena tidak ada yang mendebat lagi, maka Presiden lalu berdiri dan menjelaskan bahwa Tuan Tjitro siap menjawab semua yang tuan-tuan telah tanyakan. Adapun jawaban Tuan Tjitro adalah sebagai berikut.

“Saudara-saudara vergadering yang terhormat, sesungguhnya saya sangat senang hati bahwa dari lima Tuan yang mendebat. Dengan perdebatan semacam ini, maka urusan kita lalu bisa semakin terang lagi serta sangat baik bagi untuk menjelaskan maksud dan tujuan P.K. Sekarang saya mau menjawab Kyai Noerdin lebih dahulu. Tadi saya sudah menerangkan bahwa kita mengusahakan perbaikan lahir, supaya perbaikan batin tidak tergoda oleh kesusahan lahir. Siapa bisa mengirim pemuda ke pesantren kalau orang tuanya itu miskin? Karena kehidupannya susah, jadi manusia hanya sibuk menggunakan waktunya untuk mencari makan. Sehingga banyak yang lupa pada urusan batiniah. Jadi bukan usaha perbaikan duniawi yang merusak urusan batiniah. Tetapi rusaknya masalah lahiriah yang sering merusakkan masalah batiniah. Karena itu, maksud dari perkumpulan kita hendak mencapai dua-duanya. Berusaha memperbaiki lahir supaya juga bisa memperbaiki masalah batin. Jadi mau memperbaiki keadaan lahir-batin manusia.

“Selain itu, manusia atau rakyat, kita ajak untuk hidup rukun menjadi satu supaya bisa secara bersama-sama memperbaiki keperluan kita semua secara bersama-sama pula. Nah, apakah ini bukan pekerjaan yang berdasarkan perbaikan batin? Memang kalau tiap-tiap orang hanya mencari hal-hal yang duniawi saja, tentu ia lalu sering rusak batinnya. Tetapi kalau bersama-sama secara rukun bersatu memperbaiki semua kebutuhan dunia, jadi tidak mementingkan keperluan sendiri dan hanya demi kepentingan orang banyak dengan jalan rukun, maka di sini hanya dengan jalan rukun bersatu saja pun sudah pasti akan memperbaiki batin. Sehingga hati atau manusia akan bergerak berbarengan menjadi baik. Jadi nyatalah bahwa kumpulan P.K. akan memperbaiki rakyat Hindia secara lahir dan batin. “(Sepakat, kata semua orang dengan bergembira).

“Saya berterima kasih kepada Tuan Edelhart, bahwa ia sebagai orang Belanda mau memberi pertimbangan dalam vergadering kali ini. Saya mengerti, Tuan Edelhart berniat baik dengan peringatan itu, supaya kita jangan kesusu atau tergesa-gesa. Oleh karena itu, saya tidak marah kita dikatakan belum siap. Memang, Tuan Edelhart, sungguh akan kalang kabut kalau pemerintah Belanda besok pagi menarik diri tanpa mengatur dengan baik urusan yang ditinggalkan untuk kita. Atau jelasnya, kalau tidak mengoperkan pemerintahan itu tanpa aturan, tetapi hanya pergi begitu saja. Begitu pula, saya tadi tidak berkata bahwa saya besok pagi meminta merdeka, tetapi saya sudah menerangkan bahwa ketentuan zaman akan memerdekakan Hindia dengan sendirinya. Rakyat pada akhirnya melalui berbagai cara itu, akan pintar mengurus negeri Hindia Merdeka. Selain itu, pemerintah Belanda tentu tidak mempunyai niatan besok pagi menarik diri dari sini. Tetapi menunggu kalau rakyat sudah pintar dan kuat. Hal ini hanya rakyat Hindia sendiri yang wajib dan bisa mengusahakannya yaitu dengan cara berkumpul bersatu dalam P.K. Oleh karena itu, tadi saya sudah bilang bahwa ada yang mengumpamakan kita sebagai anak atau muridnya negeri Belanda. Kalau kita sebagai anak atau murid setia belajarnya, maka kita lekas menjadi pintar dan besar. Dan pada saat itu anak-anak akan diberi kemerdekaan untuk mengurus negerinya sendiri. Tepatnya belajar politik dan sebaiknya dalam pergerakan P.K.”

“Itu betul, dan saya sekarang mengerti dan sepakat,” kata Tuan Edelhart. Sehingga vergadering bersorak ramai untuk menghormati Tuan Edelhart yang tegas mengaku berterus terang.

“Menjawab Tuan Mangoentjokro, maka memang rakyat dahulunya belum pintar menyimpan uang. Dari sebab itu, mereka tidak tahu apa yang semestinya. Maka oleh karena itu, mereka tidak bersalah; mereka tidak sengaja menghilangkan harta bendanya. Tetapi selain dari itu, kita harus tidak lupa, memang sudah tabiatnya jika manusia suka meniru dan ingin seperti mereka yang dipandang umum baik. Karena para priyayi oleh rakyat dianggap sebagai manusia yang lebih baik ketimbang orang kecil maka rakyat kecil itu senang meniru semua halnya priyayi tadi. Oleh karena itu, maka rakyat lalu gampang membuang uang supaya mereka sedikitnya bisa menyamai para priyayi itu. Hal yang mana menyebabkan kesusahan pada tingkat pertama. Sekarang sudah masuk pada tingkat itu, sehingga memang wajib diusahakan untuk hemat dan hati-hati. Tetapi karena sekarang mereka tidak berkuasa apa-apa dalam hal mencari kehidupan, jadi hanya tergantung pada kaum bermodal yang hanya mencari untung maka rakyat akan terus-menerus merugi dan hidup susah sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Karena itu kita semua harus membantu perkumpulan P.K. untuk mempercepat datangnya zaman Komunisme.” (“Mufakat, betul,” kata suara ramai dari vergadering).

“Menjawab Tuan Haji Mamirah, maka saya tadi sudah menerangkan bahwa dahulu, pekerjaan membikin barang-barang keperluan hidup hanya dengan tangan semata sedangkan sekarang dengan mesin. Mesin itu memang sangat cepat pembuatannya, hasilnya bisa sama. Meski ongkosnya lebih banyak ketimbang dengan hasil buatan yang tidak memakai mesin. Selain itu, buatan mesin bisalebih halus. Karena hasil kerja mesin itu bisa lebih sempurna dan murah, tentulah dicari dan disukai semua manusia. Sebab memang sudah jamak, manusia mencari yang sempurna dan tersempurna lagi pula murah harganya. Itu sesuai dengan ketentuan zaman, aturan kemajuan sehingga tidak bisa dilawan oleh kehendak manusia. Atau dengan memaksa mereka memakai bentuk usaha yang kuno lagi, seperti menenun, membatik dan sebagainya. Sebab tentu toh kita akan kalah dengan kemajuan mesin. Adapun harga dan modal mesin atau pabrik memang begitu banyak dan mahal, sehingga tidak semua rakyat bisa mendirikannya. Yang bisa hanya yang kaya dan yang sudah mempunyai modal yang besar. Begitulah, sekarang lalu kaum bermodal yang menang, mendesak pekerjaan tangan yang bukan buatan mesin. Kaum bermodal yang bisa menang atas rakyat dan mereka lalu berkuasa. Hal ini tadi toh sudah saya terangkan dengan jelas! Pendek kata, dalam zaman sekarang ini tidak ada jalan lain untuk memuliakan kehidupan rakyat selain jalan komunisme. Sebab jalan ini adalah jalan yang sudah sesuai dengan kodrat. Jadi semua orang wajib membantu P.K. (“Betul, cocok,” begitulah suara ramai vergadering menyambut jawaban Tuan Tjitro itu).

“Sekarang saya mesti menjawab Tuan Soebono. Tuan Soebono memang masih muda, karena itu semangatnya keras sehingga marah pada saya. Ia mengatakan bahwa saya jahat sekali dan menjual bangsa. Tetapi saya tidak sakit hati pada Tuan Soebono. Saya hanya meminta kepada Tuan Soebono supaya memikirkan dengan sabar atas jawaban saya ini. Tadi saya sudah memberi keterangan bahwa kumpulan kita mengajak rakyat supaya pintar dan kuat, supaya akhirnya kita bisa mengurus negeri kita sendiri. Nah, hal inilah sesungguhnya merupakan masalah kebangsaan. Pasal ‘internasional’ dan pasal ‘cinta kepada semua manusia’ itu pun perlu diajarkan supaya peperangan menjadi hilang. Dan ada perlunya supaya kaum komunis dari lain negeri membantu tujuan P.K. memuliakan rakyat Hindia. Kita tidak mengadu rakyat dengan kaum bermodal dari bangsanya sendiri. Tetapi kalau timbul perlawanan serupa itu, bukan salah kita. Sebab hal itu sudah sesuai dengan ketentuan kodrat sendiri, sebagaimana tadi sudah saya terangkan. Adapun jika bangsa bumiputera kita yang kaya, sudah tahu betul tujuan perkumpulan kita. Tentu mereka akan dengan sendirinya mau mengalah dan sepakat dengan rakyat dalam P.K. Sebab P.K. hendak memuliakan rakyat, penduduk seantero Hindia. Selain itu, di manakah ada bumiputera yang mempunyai pabrik, spoor dan sebagainya, kecuali satu dua orang dan kalau sebagian kecil ini memang dasarnya baik maka mereka tentu membantu tujuan P.K. untuk keperluan beribu-ribu manusia. Hal itu lebih mulia daripada mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Di sini nyatalah bahwa bukan maksud kita memecah-belah bangsa kita. Ya, malahan justru mengajak bersatu hati untuk keperluan bermiliun-miliun manusia. Sampai di sini dahulu.” (“Betul, sepakat,” begitulah sambutan vergadering dengan bersorak-sorak dan tepuk tangan yang sangat ramai).

Habis itu Presiden mempersilakan kepada tuan-tuan yang mendebat tadi untuk maju lagi. Tetapi semua tidak mau ambil bicara, sebab, katanya, sudah mengerti dan mufakat dengan Tuan Tjitro. Karena itu, jam 12 siang vergadering ditutup oleh Tuan Residen, sedang beratus-ratus orang minta masuk menjadi anggotanya.

Sampai di situ verslag yang dibikin Kadiroen. Adapun Kadiroen sendiri sewaktu terjadi vergadering hatinya berdebar-debar. Ia mendengar keterangan Tjitro dan perasaannya terbuka, sepertinya dalam hati ia melihat cahaya bintang yang sangat baik, menggambarkan maksud dan tujuan perkumpulan P.K. Sehabis vergadering, Kadiroen memikirkan semua itu. Ia tidak bisa tidur. Sekarang ia tahu, mengapa usahanya selama ini sebagai Wedono dan Wakil Patih untuk memuliakan rakyat selalu tidak berbuah besar. Ia tahu bahwa usahanya itu adalah mengikuti cara kuno. Sedangkan, keadaan rakyat sekarang sudah baru. Jadi, nyatalah jalan yang diusahakannya, ketinggalan dan tidak sesuai dengan zaman lagi. Cara kuno masih bisa berlaku di pucuk-pucuk gunung, di mana rakyatnya masih kuno dan keadaan zamannya belum berubah. Tetapi di negeri yang sudah menginjak zaman baru, tak bisa dipakai lagi. Memang, usaha Kadiroen bisa menaikkan pangkatnya sendiri, tetapi buat rakyat hampir tidak berguna. Sungguh Kadiroen merasa tertarik betul dengan gerakan P.K. itu. Tetapi ia tertarik gerakan rakyat, ia masih tertarik oleh pangkatnya. Ia memikir, seandainya ia membantu gerakan P.K. itu, tentulah ia harus turun. Dan menurunkan derajatnya seperti rakyat akan menghilangkan rasa hormat rakyat kepada dirinya sebagai Wakil Patih.

Lalu rakyat memandang dirinya sebagai saudara, tidak sebagai pembesar lagi. Dan lagi, gerakan baru itu mempunyai musuh yang banyak karena masih kebaruannya itu. Adapun orang-orang yang tidak mengerti, mereka benci kepada P.K. Kalau Kadiroen mencampuri gerakan itu, ia khawatir dikatakan gila oleh seteru-seteru gerakan itu. Yang pertama dari golongan priyayi sendiri. Begitulah, maka ia terpaksa memisahkan diri dari golongannya sendiri. Baru saja Kadiroen memikirkan hal itu semua, maka ia menerima Surat Kabar S.H.B. milik golongan kaum yang bermodal. Di situ Kadiroen membaca dalam ruangan “Ned 1ndische Telegramen” dalam bahasa Belanda yang menerangkan bahwa hari kemarin di S oleh P.K. sudah digerakkan penghasutan pada rakyat. Sedang yang berbicara opruier (tukang penghasut)-nya adalah Tjitro. Redaksi surat kabar itu memberikan pikirannya bahwa sekarang ini sudah saatnya sang opruier Tjitro, penjahat itu, dibuang dan diasingkan di pulau kecil, supaya tidak bisa menghasut lagi. Kadiroen menjadi heran membaca hal itu. Ia sudah mendengar dengan telinganya sendiri, ia melihat dengan matanya sendiri vergadering hari kemarin itu. Dan ia tahu betul bahwa Tjitro tidak menghasut. Ia malahan mau berbuat baik kepada semua manusia. Memang di Hindia banyak surat kabar bukan kepunyaan rakyat, yang selalu memuat kabar-kabar bohong buat merusak gerakan rakyat, untuk mengajak kepada para pembacanya supaya membenci pergerakan itu, terutama pada para pemuka-pemukanya. Begitulah, racun yang disebarkan oleh surat-surat kabar itu, sudah sering memasuki tuan-tuan yang adil. Dan karena kerasukan racun itu, maka tuan-tuan itu lalu sering lupa pada keadilannya. Sungguh sayang!

Kadiroen tahu hal ini, tetapi pada saat itu tambah berat buat dia untuk memilih jalan sebab umpamanya ia membantu gerakan, tentu ia turut dapat cacian oleh surat kabar tersebut. Sehingga ia lalu gampang kena hasutan dan mudah lepas dari pekerjaannya. Sebaliknya, ia tertarik kepada pergerakan sebab ia ingin menolong rakyat dengan cara sesuai zaman baru. O, manakah yang akan ia pilih?

BAB V

Seorang Satria

(Roch dan Rah Adhi Sejati)

Persdelict. Ini hari kita punya Hoofd-Redacteur dipanggil oleh tuan jaksa di kantornya dan dibilangi bahwa tuan Asisten Residen menyuruh ia, jaksa, supaya menanya macam-macam halnya Sinar Ra’jat pada hari kemarin dulu tanggal 12 Mei, terutama tentang karangan yang termuat itu hari dan yang berkepala: “Diminta sedikit lekas”, dan ditandai oleh Pentjari. Tuan jaksa selainnya menanya ha1 isi dan maksudnya karangan tersebut, juga minta tahu namanya penulis yang sebenarnya, sebab Pentjari ialah nama palsu. Sudah tentu kita punya Hoofd-Redacteur tidak suka menerangkan nama sejati yang terminta itu dan menjawab bahwa ia akan menanggung sendiri karangan itu di muka hakim pengadilan kalau memang jadi tuntutan. Sepanjang pikirannya tuan jaksa, itu karangan mesti menjadi perkara persdelict, sebab tuan Asisten Residen di kota G, kencang dan keras kehendaknya memintakan hukuman buat siapa yang menjebar karangan itu. Sudah nasibnya saudara Hofd-Redacteur ketabrak “delict”.

Begitulah bunyinya surat kabar milik organisasi P.K. yang diterbitkan tiap hari di Kota G. Dan yang diasuh, oleh beberapa redaktur yang dikepalai oleh Pemimpin Redaksi Sariman. Sudah tentu berita itu menimbulkan pikiran dan pembicaraan yang sangat ramai di kalangan pembaca-pembacanya, terutama di antara kaum P.K. Dua hari kemudian, maka di kantor redaksi dari surat kabar tersebut terjadi gegeran yang ramai antara Pemimpin Redaksi Sariman dan penulisnya sejati.

“Tidak Saudara, sebagai pemimpin redaksi saya wajib mengoreksi betul-betul apa dalam setiap berita pembantunya terdapat unsur delik pers atau tidak. Hari itu saya kurang teliti membaca laporan/berita Saudara, jadi saya yang salah. Oleh karena itu, saya akan mempertanggungjawabkan sendiri di muka hakim.”

“Saudara Sariman, betul Anda seorang pemimpin redaksi, tetapi saya tahu, pekerjaan Saudara banyak sekali. Sehingga, satu atau dua laporan seperti laporan saya tempo hari, Saudara tidak sempat mengoreksinya secara betul. Sebagai pembantu, saya wajib mengingat hal-hal ini dan mestinya membikin laporan yang lebih halus. Karena itu, saya yang bersalah dan saya meminta supaya saya diperbolehkan mempertanggungjawabkan sendiri berita yang saya tulis itu. Beritahukanlah nama saya yang sesungguhnya agar Saudara jangan menjadi korban kesalahan saya yang kurang hati-hati.”

“Terima kasih banyak! Apa Saudara mengira saya akan melepaskan Saudara untuk menjadi korban? Saya bukan penakut dan tidak mempunyai niatan untuk mengorbankan diri Saudara.”

“Lho, aneh sekali kau ini. Saudara Sariman, saya juga bukan seorang penakut dan sama sekali tidak punya niatan untuk mengorbankan diri Saudara untuk mempertanggungjawabkan berita saya. Sebab saya ingat, Saudara sudah mempunyai anak bini. Sedangkan saya belum. Karena itu, sekali lagi saya meminta dengan sungguh-sungguh supaya nama saya yang sebenarnya diberitahukan kepada jaksa.”

“O, no. Tidak boleh! Ingatlah kepada ayah dan ibu Saudara. Mereka sebagai pegawai Gupermen dan orangtua zaman dahulu ingin melihat anaknya, yaitu Saudara, supaya menjadi pegawai Gupermen yang tinggi pangkatnya. Sekarang pangkat Saudara sudah tinggi. Jadi, kalau nama Saudara sampai terbuka, maka tentu Saudara akan mendapatkan masalah dalam kerjaan Saudara. Ya, bisa juga malahan kamu dipecat. Dalam hal ini, bagaimana nanti susahnya orangtuamu. Maka dari itu, sekali lagi saya bilang padamu bahwa saya tidak akan membuka namamu. Apalagi saya masih bisa membikin alibi yang akan membebaskan saya dari hukuman dalam sidang pengadilan nanti. Sebab sepanjang pengetahuan saya, berita itu tidak melanggar aturan yang berlaku.”

“Saudara Sariman, saya sebagai penulisnya tentu lebih tahu masalah-masalah apa yang sudah masuk dalam tulisan itu. Jadi, saya memiliki bukti-bukti bahwa tulisan itu hanya untuk menuntut keadilan bagi keperluan rakyat. Dari sebab itu, tentunya saya akan 1ebih bisa menjelaskan di muka hakim bahwa tulisan itu tidak melanggar peraturan yang berlaku.”

“Ya, tetapi pikiran kita belum tentu akan dibenarkm oleh hakim pengadilan dan biasanya mereka mempunyai pandangan lain dari kita. Sehingga kalau saya melepaskan nama Saudara yang sebenarnya di kemudian kamu bisa dihukum juga. Lebih baik saya (yang sebagai pemimpin redaksi memang sudah wajib untuk menanggungnya) yang menjalani perkara hukuman ini, kalau di kemudian hari hakim memang memutuskan hukuman itu. Saya mempunyai keyakinan bahwa tulisan itu tidak bersalah sehingga bisa dihukum. Jadi bisa juga dibebaskan. Sebaliknya kalau Saudara yang menghadap di muka hakim, bisa dihukum dan ditambah akan dipecat dari jabatan Saudara. Setidaknya, Saudara akan mendapatkan masalah dalam pekerjaan. Meskipun umpamanya Saudara dibebaskan dari hukuman. Dalam hal yang kedua ini, Saudara akan mengorbankan dirimu dengan percuma. Sedangkan kalau saya yang menghadap, selamatlah saya, meski dihukum atau tidak!”

“Saudara Sariman, saya tidak mau dan tidak bisa memahami kehendak Saudara menjadi korban tulisan saya. Sebagai pemimpin redaksi dan sebagai pemimpin rakyat, tempat suara rakyat, pekerjaan saudara sangat penting bagi kemajuan rakyat dan tanah Hindia. Kalau Saudara jadi dihukum apalagi kalau sampai lama, sesungguhnya Saudara akan banyak kehilangan waktu dan kesempatan untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Sebaliknya, hal ini bagi saya tidak ada masalah.”

“Saudara, sudah kodrat alam yang memiliki kehendak bahwa rakyat akan tetap bergerak dan maju, meskipun saya ada di dalam penjara. Tentulah kalau sudah kehendak zaman, ada saja yang di kemudian akan memajukan rakyat dan tanah Hindia. Selain itu, bukan saya sendiri yang bisa menyuarakan kepentingan rakyat, tetapi masih banyak orang lain. Dan rakyat tentu akan terus maju meski saya dipenjara. Saya yakin begitu. Dari itu, jangan khawatir, saya akan tetap menanggung tulisan Saudara.”

“Tidak Saudara Sariman, kalau Saudara tetap ingin menanggungnya, saya juga tetap seperti itu. Dan tanpa persetujuan Saudara, maka besok pagi saya akan datang sendiri menghadap ke muka jaksa untuk menerangkan dan menjelaskan bahwa sayalah penulis delik itu.”

Mendengar hal itu, maka Pemimpin Redaksi Sariman kehabisan akal untuk melindungi pembantunya supaya jangan sampai menjadi korban. Oleh karena itu, Sariman lalu memakai jalan lain, yaitu jalan halus yang mengesampingkan perasaan pembantunya dan berkata: “Begini Saudara, kita sedang saling berselisih pendapat satu sama lain untuk membuktikan bahwa kita senang mengorbankan diri untuk keperluan rakyat. Saudara juga senang berbuat itu. Sekarang tidak perlu banyak bicara, sudahlah. Marilah kita lot, kita undi siapa yang berun­tung, itulah yang menanggung.”

Dengan begitu maka pendapat disepakati oleh pem­bantunya, karena si pembantu tidak ingat bahwa ia bisa meneruskan kehendaknya tanpa pakai undian segala. Dan Sariman sangat cepat mcngambil aturan untuk meng­undinya. Sehingga sebentar saja putuslah perselisihan itu. Tetapi Sariman kalah dan pembantunya yang menang. Si pembantu menjadi gembira. Dan saking gembiranya, ma­ka sewaktu pembantunya itu mau pulang, Sariman berkata:

“Saudara, mulai sekarang Saudara akan melepaskan diri dari kesenangan yang disukai kebanyakan manusia. Sebab itu Saudara harus membersihkan diri dan jiwamu dengan membantu kepentingan rakyat. Sekarang Sauda­ra harus melupakan kepentinganmu sendiri. Saya men­doakan Saudara supaya kau memiliki kekuatan yang be­sar untuk meneruskan maksudmu yang mulia itu. Saya akan membantumu dan sanggup mengusahakan jalan yang baik bagi kehendakmu. Karena kita berdua mau membela kepentingan rakyat dan tanah Hindia.

“Dalam perjalanan orang maka kita akan sering kali mendapat rintangan dan godaan yang besar serta sangat berbahaya. Karena, semakin mulia maksud seseorang, tambah besar juga lawannya atau godaan dan rintangan­nya. Rintangan dan godaan tadi akan menjatuhkan orang itu kalau ia tidak kuat. Tetapi, ada satu perkara yang akan memberi kekuatan luar biasa pada manusia yang berusa­ha dan berbuat baik. Perkara itu adalah kepercayaan ke­pada Tuhan Allah. Dalam semua hal, susah atau senang, carilah Tuhan Allah kita Yang Mahakuasa. Dan bersama­an dengan itu, teruskanlah maksud Saudara yang mulia itu. Sebab Tuhan Allah akan memberi kekuatan pada sia­pa saja yang mengetahui-Nya.”

Siapakah pembantu surat kabar yang gagah berani dan bertindak seperti satria tersebut. Nyonya-nyonya dan Tuan-Tuan pembaca tentunya sudah dapat meramal atau mengira-ngira sendiri kalau melihat dari tanya-jawab di atas. Dialah Kadiroen, tidak lain hanyalah Kadiroen yang berani mempertanggungjawabkan tulisannya yang di­muat dalam Sinar Ra’jat di muka hakim pengadilan. Ba­gaimana ceritanya, sehingga sekarang Kadiroen harus mempertanggungjawabkan dakwaan delik pers.

Sebagaimana sudah diceritakan dalam Bagian IV, maka sehabis Kadiroen menghadiri vergndering P.K., ia menjadi sangat tertarik dengan gerakan rakyat itu, di sam­ping ia harus tetap mempertahankan pangkat dan jabat­annya. Semakin lama Kadiroen memikirkannya, ia sema­kin mengerti bahwa pada zaman itu gerakan rakyat tidak boleh ditinggalkan atau dibiarkan begitu saja oleh semua bumiputera yang tahu akan kewajibannya, yaitu kewa­jiban untuk memuliakan dan memakmurkan rakyat dan negeri Hindia. Sungguh, sedang tidurlah mereka yang ke­tinggalan zamannya. Kadiroen mendapatkan keyakinan demikian. Tetapi sebaliknya, ia mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua. Sedang ayahnya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh supaya anaknya, Kadiroen, bisa men­jadi seorang priyayi yang berpangkat tinggi supaya ia bi­sa membantu orangtuanya untuk turut memelihara de­ngan baik saudara-saudaranya. Sebab Kadiroen masih mempunyai saudara sebanyak tujuh orang. Kadiroen menimbang, ia mencari pangkat tinggi itu tidak hanya un­tuk kesenangan dirinya sendiri, tetapi untuk menyenang­kan hati orangtua dan famili-familinya. Kadiroen merasa bahwa hal itu juga merupakan kewajiban mulia.

Jadi, dua kewajiban selalu bertentangan dalam hati­nya. Yang pertama kewajiban untuk turut membantu ge­rakan rakyat, untuk memperhatikan dan memuliakan rak­yat dan negeri. Yang kedua, kewajiban membantu kebu­tuhan hidup saudara-saudara dengan mendapatkan pangkat yang tinggi dalam pekerjaannya. O, sesungguh­nya amat berat untuk memilih dua kewajiban ini. Tetapi sesudah memikirkan hal itu beberapa hari lamanya maka ia menetapkan memilih gerakan. Sebab ia pandang, dalam pergerakan ada banyak orang yang harus dibantu, melebihi banyaknya famili yang harus ia bantu. Ia berkeyakinan bahwa memenangkan gerakan rakyat itu me­rupakan kewajiban yang lebih besar daripada sekedar mencari pangkat. Selain dari itu, umpamanya dalam per­gerakan rakyat itu kehidupan rakyat bisa diperhatikan, toh kebutuhan famili juga bisa diperhatikan secara ber­sama-sama juga. Karena famili-familinya termasuk rakyat juga. Karena pertimbangan-pertimbangan yang demiki­an, maka Kadiroen memutuskan bahwa ia akan masuk menjadi anggota perkumpulan P.K. dan sanggup ber­usaha dengan sekuat-kuatnya membantu gerakan itu de­ngan tenaga dan harta benda miliknya. Tetapi, meski be­gitu Kadiroen tidak mau meninggalkan pikiran orangtua­nya. Sudah jamaknya seorang bumiputera bahwa dalam memilih cara dan usaha penghidupan atau pekerjaan hendaknya anak laki-laki men­dapatkan izin terlebih dahulu dari ayahnya. Supaya ia di­doakan dengan ikhlas hati dari orangtuanya. Lebih umum lagi, maka orangtualah yang biasanya menetapkan pe­kerjaan apa yang mesti dicari oleh anak lelakinya.

Teringat akan adat kebiasaan yang demikian itu, ma­ka Kadiroen menceritakan keyakinan dan pikirannya pa­da ayahnya, dan meminta didoakan dalam hal memban­tu pergerakan rakyat itu. Meskipun hal itu bisa berbahaya bagi jabatannya. Ayah Kadiroen yang sudah tua ikut mempertimbangkan masalah itu dengan hati sabar. Ia percaya bahwa nasib seorang manusia itu sudah diten­tukan terlebih dahulu oleh Tuhan Allah dan di mana saja orang itu bekerja kalau usahanya memang sungguh­-sungguh baik, maka tentulah ia akan mendapatkan ke­senangan dan keselamatan. Apakah ia mengikuti peker­jaannya sebagai priyayi ataupun dalam gerakan rakyat. Sudah barang tentu bagi seorang ayah, yang pertama-ta­ma akan memilih hal yang sekiranya akan dapat membi­kin senang dan selamat anaknya. Begitupun halnya dengan ayah Kadiroen. Kalau dipertimbangkan dengan ke­rasnya kehendak Kadiroen maka sesungguhnya Kadi­roen akan merasa susah dan celaka jika ayahnya mengha­lang-halangi maksudnya. Sebaliknya, jika tidak dihalangi dan ia mendapat celaka yang besar, hal itu pada akhirnya juga akan menyusahkan hati si anak. Ayah Kadiroen me­mikirkan hal itu dengan panjang lebar dan hati sabar, te­tapi ia tidak bisa memutuskan yang mana yang benar. Se­hingga ia mengambil keputusan untuk bersama pada ke­hendak Tuhan Allah. Oleh karena itu, ayah Kadiroen ber­kata kepadanya:

“Anakku, perkara ini susah untuk saya pikirkan. Oleh karena itu, sebagai permulaan dan percobaan se­baiknya kamu mengambil jalan tengah terlebih dahulu. Memang biasa, orang yang ada di tengah sering terjepit oleh kanan-kiri. Sehingga terpaksa akhirnya memilih yang kiri atau kanan. Nah, kalau kamu berada di tengah dan sudah berusaha dengan sebaik-baiknya maka terpak­sa ke kiri atau ke kanan, karena kamu terjepit, itu ya apa boleh buat. Keputusanmu akan memihak yang mana jika sudah terjepit demikian. Itulah kehendak Tuhan Allah. Dan seharusnya, sebaiknya kamu berusaha dengan hati yang sungguh-sungguh menjalani takdirmu yang akan datang ini. Dalam segala maksud dan kehendakmu, ka­mu harus bertindak dengan ketetapan hati supaya kamu mendapatkan kekuatan yang cukup untuk memikul ke­wajiban yang sudah dipikulkan oleh Tuhan Allah pada dirimu. Ayahmu yakin kepada Tuhan Allah dan sekarang mengizinkan kamu supaya mengambil jalan tengah. Dan kemudian sesukamu, mau mengikuti yang kanan atau yang kiri sesuai dengan yang akan terjadi pada akhirnya nanti. Saya selalu berdoa semoga kau selalu selamat.”

Seperti semua anak yang setia pada ayahnya, Kadi­roen mengikuti keputusan ayahnya itu. Ia memilih jalan tengah, tetapi bagaimana akalnya? Ia tahu bahwa gerak­an rakyat membutuhkan modal atau ongkos untuk ber­bagai keperluan. Karena itu Kadiroen sering mengirim­kan uang derma semampunya untuk berbagai keperluan pada pemimpin perkumpulan P.K. Tetapi, supaya tidak diketahui bahwa ia yang memberi uang bantuan pada pergerakan itu, maka selamanya ia menjelaskan namanya yang sebenarnya. Dan hanya ditulis afzender N.N. (Pengi­rimnya bernama N.N.).

Kadiroen mengambil jalan tengah, jadi tidak masuk sebagai anggotanya atau ikut memberikan pertimbangan-­pertimbangan dalam vergadering-vergadering P.K. Tetapi, selain membantu dengan uang secara rahasia itu, maka Kadiroen juga turut membantu dengan berusaha mem­berikan pertimbangan dan pengetahuannya pada or­ganisasi P.K., yaitu dengan menulis dalam surat kabar Sinar Ra’jat. Tetapi supaya tidak ada orang yang mengerti bahwa ia ikut menulis, maka selamanya ia memakai na­ma palsu, yaitu Pentjari. Hanya Pemimpin Redaksi Sari­man sendiri yang mengetahui rahasia ini.

Jalan tengah itu disepakati oleh ayah Kadiroen. Te­tapi sebagaimana telah diceritakan maka akhirnya Kadi­roen terjepit juga; tulisannya tersangkut delik pers. Di waktu ia mengetahui bahwa tulisannya menimbulkan dakwaan delik pers maka Kadiroen memikirkan dua ja­lan yaitu tetap bersembunyi atau menunjukkan jati diri­nya. Dalam hal yang pertama, ia tetap mendapatkan na­ma baik dan kehormatan dengan pangkat priyayinya. Te­tapi akan mendapatkan julukan penakut dari Sariman dan hilanglah kepercayaan pemimpin redaksi itu kepa­danya sehingga Kadiroen bisa disangka bahwa ia hanya pura-pura saja membantu gerakan rakyat. Tetapi kalau Kadiroen tetap bersembunyi, tentulah pemimpin redaksi akan terpaksa menjalani hukuman sebab kesalahan tulis­an Kadiroen. Dan bagaimana nantinya istri dan saudara­saudara Sariman. Dan bagaimana jadinya dengan perge­rakan itu di kemudian hari jika pemimpinnya, Sariman, yang terkenal cerdik itu terpaksa harus dipenjara. Apa hal itu tidak akan banyak menimbulkan masalah dan sangat menyusahkan?

Kadiroen yakin bahwa dalam perkara itu memang saudara-saudara Sariman dan pergerakan akan banyak mengalami masalah. Sedang ia sendiri yang bersalah ma­lah selamat. Apa Kadiroen akan bisa menjalankan sifat kesatrianya, sebagai seorang yang baik, jika mengorban­kan orang lain untuk menanggung dosanya? Kadiroen ti­dak mau menjadi orang hina dan membiarkan dirinya mencelakakan orang lain. Oleh karena itu, Kadiroen lalu mengambil keputusan untuk membuka jati dirinya dan tidak mau lagi mengingat-ingat pangkatnya sebagai pri­yayi besar. Kadiroen ingat apa yang dikatakan ayahnya, bahwa dalam keadaan terjepit maka jalan kanan atau kiri itu telah ditentukan Tuhan Allah. Dan Kadiroen tahu bah­wa Tuhan Allah menyuruh kepada manusia supaya ia berjalan dalam kebaikan dan satriawan. Hal yang mana tidak akan dipenuhi oleh Kadiroen jika ia tetap bersem­bunyi. Jadi, kalau Kadiroen membuka rahasia namanya dan di kemudian hari mendapatkan masalah dalam pe­kerjaan dan pangkat jabatannya, nah, semua itu telah menjadi takdir atau kehendak Tuhan Allah Yang Maha­kuasa. Dan ia akan menjalani susah atau senang: keten­tuan yang tertinggi itu. Begitulah adanya hal-hal yang menyebabkan Kadiroen menanggung tulisannya yang didakwa melanggar delik pers.

Tetapi Pemimpin Redaksi Sariman juga orang yang baik dan satriawan, sehingga terjadi rebutan memikul dakwaan delik pers itu. Hal ini sudah diceritakan di atas, yang akhirnya diundi. Kadiroen menang maka ia yang berkewajiban menanggungnya. Kadiroen pun semakin percaya bahwa hal itu sudah menjadi takdir atau kepu­tusan Tuhan Allah.

Sesudah pasti Kadiroen yang akan mempertang­gungjawabkan di muka hakim perkara tulisan itu, maka perkara itu menjadi perbincangan ramai di antara banyak orang. Surat-surat kabar yang sengaja berpihak pada kaum yang bermodal, dan yang khawatir bahwa keun­tungan kaum itu akan menjadi berkurang jika amtenar-am­tenar Gupermen membantu pergerakan rakyat seperti Kadiroen maka surat kabar itu semua memaki, menghina dan melemparkan macam-macam kotoran kepada diri Kadiroen. Surat kabar itu berteriak setinggi langit, supaya Gupermen cepat memecat Kadiroen dari pangkat dan ja­batannya.

Sebaliknya, surat kabar yang memperhatikan kepen­tingan rakyat sama memuji kepada Kadiroen dan sama membuktikan kehormatannya dalam tulisan-tulisan yang indah-indah.

Priyayi-priyayi kuno yang membenci gerakan rakyat yang baru itu sama mengatakan bahwa Kadiroen sudah menjadi gila. Tidak kuat memegang pangkat priyayi be­sar dan sebagainya. Sebaliknya, priyayi dan semua ma­nusia yang mengetahui keadilan dan mengetahui zaman­nya kemajuan dunia, mereka sama menghormati Kadi­roen yang membuktikan bahwa ia adalah seorang satria­wan dan budiman yang berketetapan hati, baik akal budi dan wataknya.

Perkara itu menjadi buah bibir yang ramai, tetapi Ka­diroen tidak suka memikirkan suara kanan atau kiri, ti­dak suka memikirkan pujian dan cacian atau penghinaan itu. Ia hanya berusaha keras mengumpulkan bukti-bukti bahwa tulisannya berdasarkan kenyataan. Tidak berdusta dan tidak melanggar ketentuan undang-undang. Dalam hal ini, Kadiroen mendapat bantuan yang sungguh-sung­guh dari Sariman. Di muka pengadilan, Sariman malahan menjadi advokat untuk membantu pekerjaannya.

Vrij, dibebaskan dari hukuman, tidak melanggar un­dang-undang,” begitulah keputusan hakim pengadilan. Kadiroen dan Sariman menjadi bahagia sekali. Dari mana-­mana Kadiroen mendapat surat yang memuji dan meng­ucapkan selamat. Dan banyak sudah orang-orang yang bersahabat dengannya turut berbahagia. Tetapi yang ti­dak berbahagia adalah surat-surat kabar yang melawan kepentingan bumiputera. Surat-surat kabar itu sama ber­pendapat bahwa meskipun hakim pengadilan membebaskan Kadiroen dari hukuman tetapi ia toh wajib dipecat dari pangkat dan jabatannya. Karena seorang pejabat se­perti Kadiroen itu telah membikin kehormatan kekuasaan Gupermen menjadi ternoda. Sebaliknya, surat kabar bu­miputera membantah dan berkata perbuatan Kadiroen membuktikan bahwa priyayi dan pergerakan rakyat bisa bekerja sama. Hal yang mana akan sangat berguna bagi ketertiban umum dan keselamatan rakyat.

Akibat dari ramainya perbincangan dari perkara itu, maka Kadiroen dipanggil oleh Tuan Asisten Residen di Kota S, yakni atasan Kadiroen yang dahulu telah diceri­takan. Kadiroen mengira bahwa ia akan dipecat. Tetapi Tuan Asisten Residen berbicara dengan muka yang manis dan sabar kepadanya:

“Kadiroen, saya senang kepadamu karena melihat kerja dan usahamu sebagai priyayi dalam membantu rak­yat. Dahulu saya telah memberi nasihat kepadamu, su­paya kamu sedikit bersabar. Tetapi nasihat saya itu se­pertinya kurang kamu perhatikan betul. Saya tahu dan bisa berpikir bahwa kamu menulis seperti di Sinar Ra’jat itu karena kamu masih muda. Kamu memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan maksudmu dengan secepat-ce­patnya. Sekarang kamu mendapatkan masalah sendiri. Apa sebabnya kamu tidak mau memperhatikan nasihat­ku. Sudah tentu saya tidak mengajukan pemecatan dari jabatanmu sebagaimana usul surat-surat kabar yang ter­kenal itu. Ya, kalau ada pertanyaan dari atas karena tu­lisan tersebut, maka saya akan melindungimu, selama saya menjadi Asisten Residen. Sebab saya seperti kamu ju­ga, sangat mencintai rakyat. Meskipun saya seorang Be­landa, tetapi saya seorang manusia juga yang mencintai rakyat Bumiputera. Sebab mereka juga manusia. Dan saya sebagai pemimpinnya wajib menjaga keselamatannya, sebagaimana seorang ayah menjaga keselamatan anak­nya. Kamu semestinya juga merasa begitu. Tetapi saya sudah tua, Kadiroen. Dan saya berbuat sabar, sedang ka­mu sangat berkehendak keras. Sekarang nasi sudah men­jadi bubur. Yang sudah ya sudah. Tetapi saya akan mem­beri nasihat lagi kepadamu. Ketahuilah, beberapa bulan lagi saya akan pensiun dan siapa yang akan mengganti saya, saya belum tahu. Selama ada saya, kamu tidak usah khawatir, kamu bebas menulis di surat kabar. Tetapi ingatlah, pengganti saya belum tentu berhaluan seperti saya. Karena itu, saya memperingatkan kalau saya sudah pensiun, berhentilah kamu menulis dalam surat kabar itu.”

Kadiroen mendengar nasihat atasannya, yang berkata seperti ayah kepada anaknya. Ia merasa hancur hatinya dan menaruh kepercayaan yang besar pada Tuan Asisten Residen. Oleh karena itu, ia mengungkapkan perasaan hatinya kepada atasannya itu. Kadiroen menerangkan ba­gaimana asal mulanya ia tertarik pada gerakan rakyat, bagaimana pikiran dan pandangannya tentang pergerakan itu dan sebagainya. Tuan Asisten Residen mendengarkan dengan sabar dan akhirnya berkata:

“Kadiroen kalau saya mendengar kehendakmu yang begitu kuat, sesungguhnya hal itu tidak boleh kau tahan-­tahan lagi. Sebab kalau kau tahan, tentunya kau akan me­rasa sengsara terus-menerus. Sekarang saya hanya me­nasihati kamu. Kadiroen, kalau kau menulis yang hati­hati. Kadiroen, itulah nasihat lain saya dan saya hanya mendoakan supaya kamu selamat dalam menjalankan maksudmu yang mulia itu.”

Lalu Kadiroen dipersilakan pulang. Kadiroen sangat terkesan betul dengan Tuan Asisten Residen yang sudah tua itu. Kepadanya, Kadiroen tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia mengungkapkan perasaan hatinya seper­ti seorang anak kepada orangtuanya sendiri. Di mana an­tara dua manusia dari lain bangsa memiliki watak, akal­budi dan tujuan hidup yang sama baiknya, di situ hilang­lah perasaan perbedaan lain bangsa dan dua manusia ter­sebut bisa menyatukan hatinya. Tidak ada perbedaan bangsa dan kedudukan yang bisa memisahkan mereka satu dengan yang lain.

Tiga bulan setelah peristiwa itu terjadi maka Tuan Asisten Residen yang sudah tua itu pergi; ia sudah pen­siun. Dan sebagai gantinya, datang seorang asisten resi­den baru, kalau mengingat pangkatnya, ia terhitung ma­sih muda. Ia keluaran sekolah tinggi di negeri Belanda. Ia anak seorang hartawan besar. Tuan Asisten Residen yang baru itu ingatannya sangat tajam serta pandai. Te­tapi watak dan hatinya jauh dari sempurna. Sebagai anaknya seorang hartawan sejak masih kecil, ia tidak per­nah kekurangan apa-apa. Dan sudah biasa diladeni, di­turuti dan dihormati oleh orang-orang pembantunya yang bekerja pada hartawan itu. Di sekolah, ia juga me­miliki kebiasaan serupa itu.

Ia memiliki ayah yang sangat mahir mencari uang dan Tuan Asisten Residen yang baru juga seperti ayah­nya. Agamanya Kristen, sebuah agama yang baik dan lu­hur bagi bangsa Eropa. Namun agama itu tidak mempe­ngaruhi kehidupan Tuan Asisten Residen yang baru yang masih muda itu. Dalam hal kepercayaan agama, ia meng­aku moderat dan maunya hanya percaya pada alam. Te­tapi kepercayaan kepada agamanya sudah rusak dalam hati sanubari tuan ini.

Ia senang mendapat jabatan sebagai amtenar Binnen-landsch-Bestuur, hanya karena ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan masalah pemerintahan dan adat istiadat Hindia. Supaya kalau ia sudah tahu betul, ia bisa minta lepas dan akan menjadi pedagang besar di Hindia ini.

Pengetahuan dari Binnen-landsch-Bestuur itu nantinya akan ia pergunakan untuk menambah kekayaan dengan menjadi pedagang besar di negeri ini.

Mengingat hal-hal tersebut, maka sudah tentu tuan tersebut dalam hatinya berkeyakinan bahwa di dunia ini selamanya ada orang kaya dan orang miskin. Sebagai seorang berpendidikan dan memiliki keinginan untuk se­lalu menumpuk kekayaan maka ia percaya bahwa orang yang memiliki paham demikian adalah sesuai dengan ko­drat alam. Sudah barang tentu, ia dan ayahnya sering membantu berbagai macam perkumpulan kekasihan (philantrofische bonden) seperti rumah miskin, rumah anak yatim piatu dan sebagainya. Dengan memberi derma beratus-ra­tus rupiah besarnya, sudah tentu uang derma itu lebih kecil dari hasil yang beribu-ribu rupiah besarnya yang dida­patnya. Adapun mereka suka berderma demikian tidak disebabkan kasihan pada orang yang seharusnya ditolong – mereka percaya bahwa orang miskin dan melarat itu sudah sesuai dengan kehendak alam, tetapi disebabkan mereka mencari nama dari banyak orang semata. Kalau mereka mendapatkan nama baik, tentu mereka akan dipercaya banyak orang. Hal yang mana akan sangat ber­guna besar bagi usaha dagangnya dalam rangka menum­puk kekayaan itu. Jadi, pemberian derma itu tidak keluar dari niat hati yang suci, tetapi hanya buat modal mencari kekayaan semata. Sudah barang tentu, hal itu sangat ber­beda dengan niat para tuan-tuan dermawan yang bera­gama dengan sungguh-sungguh. Atau yang percaya ke­pada kekuasaan Tuhan Allah sebab maksud mereka me­mang benar-benar untuk menolong dengan rasa belas ka­sihan kepada si miskin. Tuan-tuan bangsa Belanda yang bersifat adil seperti itu di Hindia ini juga ada banyak. Ter­utama golongan para pejabat Belanda, ada banyak sekali yang memiliki rasa belas kasihan seperti itu, sehingga bo­leh dibilang, Tuan Asisten Residen yang baru tersebut me­mang sangat aneh (uitzondering).

Sebagaimana sudah diterangkan, Tuan Asisten Resi­den yang baru ini memang sangat tajam ingatannya dan pandai sekali. Sehingga sangat gampang ia mendapatkan jabatan Asisten Residen. Karena ia bisa menutupi watak dasar hatinya yang kurang sempurna itu dengan kepan­daiannya. Sudah barang tentu, orang yang demikian ini ti­dak akan memiliki kesenangan dan ketentraman serta kenikmatan hati yang sejati. Sebab ia selalu mengkhawa­tirkan harta benda serta kepentingannya sendiri. Meski­pun sudah kaya, ia selalu saja tidak bisa merasa senang. Sebab selalu khawatir tidak mendapatkan keuntungan atau selalu merugi. Keinginan nafsunya tidak pernah ter­puaskan. Ia justru merasa lebih sengsara daripada orang miskin yang suci hatinya dan berbakti kepada Tuhan Allah. Begitulah, si kaya harta benda itu, karena keku­rangsempurnaan hatinya tidak pernah merasakan kebaik­an dan sudah dihukum oleh Tuhan Allah seperti masuk dalam neraka dunia sewaktu ia masih hidup. Orang yang adil, jika memikirkan orang yang serupa ini lalu sungguh ia akan merasa berbelas kasihan pada si celaka ini. Dan ia tidak akan membenci orang karena yang berdosa itu sudah mendapat hukuman berhari-hari. Neraka perasa­an, lebih berat bebannya daripada neraka harta benda atau kekayaan.

Sekarang Tuan Asisten Residen tersebut sudah men­jadi atasan Kadiroen. Sebagai pembaca surat kabar S.H.B yang memihak kepentingan kaum bermodal, maka Tuan Asisten Residen tersebut sepakat dengan haluan surat kabar S.H.B. Surat kabar itu mengira bahwa pergerakan rakyat juga bermaksud mencari keuntungan untuk memperbaiki nasib rakyat. Jadi, akan sangat merugikan kaum bermodal. Karenanya surat kabar itu tidak suka dengan adanya rakyat yang bergerak. Begitupun Tuan Asisten Re­siden juga sepakat dengan gerakan S.H.B yang memusuhi Kadiroen.

Tidak lama Tuan Asisten Residen yang baru itu be­kerja, Kadiroen segera dipanggilnya. Tuan Asisten Resi­den bertanya kepada Kadiroen, apakah ia masih selalu saja menulis dalam Sinar Ra’jat. Kadiroen mengaku terus terang bahwa hal itu ia kerjakan terus, dan ia masih tetap memakai nama palsu Pentjari. Lalu Tuan Asisten Residen yang baru berkata:

“Kadiroen, kau seorang wakil patih, kamu seharus­nya bekerja betul sesuai pangkatmu dan tidak usah ikut tulis-menulis dalam surat kabar itu.”

Kadiroen mengatakan bahwa sangatlah perlu untuk menulis dalam surat kabar karena dengan begitu, ia bisa membantu kemajuan rakyat Hindia. Jadi untuk urusan tulis-menulis itu tidak bertentangan dengan tugasnya. Malahan sangat cocok dengan tugasnya sebagai pejabat yang juga harus memajukan rakyat yang ada di bawah perintahnya. Tuan Asisten Residen menjawab bahwa me­ngenai masalah tulis-menulis itu memang tidak menga­pa. Tetapi mengenai caranya menulis atau isinya karang­an yang ditulisnya itu bisa merugikan kepentingan pe­merintahan negara. Sebab isi tulisan itu bisa menyerang kehormatan pemerintah. Kadiroen menjelaskan pula bah­wa sekarang ini ia menulis dengan hati-hati dan menying­kiri semua hal yang merugikan kepentingan pemerintah. Tetapi kadang-kadang ia memang harus menulis yang se­benarnya. Karena ia seorang pejabat, sudah barang tentu harus menulis yang sebenarnya itu dengan hati-hati dan dengan tidak menyerang kehormatan pemerintah.

Akhirnya, terjadi perdebatan yang hebat antara Tuan Asisten Residen dengan Kadiroen. Dan sebagai penutup maka Tuan Asisten Residen berkata:

Ne, baik! Kamu mau terus karang-mengarang. Saya ingin tahu apa betul semua karanganmu di kemudian ti­dak ada salahnya. Tetapi jika akhirnya saya dapat tahu bahwa kamu melanggar maka dengan tidak ada ampun lagi tentu kamu saya mintakan pemecatan dengan tidak hormat. Sekarang kamu sudah saya peringatkan.”

Setelah selang beberapa hari, Kadiroen dipanggil lagi oleh Tuan Asisten Residen. Di meja Tuan Asisten Resi­den ada bertumpuk-tumpuk lembaran surat kabar Sinar Ra’jat. Tuan A.R sudah membaca betul surat kabar itu, ter­utama semua karangan yang ditandai dengan nama Pentjari.

“Hai, Kadiroen, sayang kamu tidak suka menuruti aku. Sekarang aku mau memintakan surat pemecatan kamu. Sebab kamu telah menulis dua buah karangan di ma­na di situ ada pelanggaran undang-undang,” kata Tuan Asisten Residen.

Kadiroen tidak merasa berbuat hal itu. Ia tanya tulisan yang mana. Tuan A. R menjawab:

“Di sini ada tulisan yang berjudul ‘Menangis Memin­ta Pertolongan’. Di dalam tulisan itu kamu meminta pe­merintah supaya di Residentie B diadakan saluran irigasi selokan-selokan air dan sebagainya untuk kepentingan petani. Memang tulisan itu maksudnya baik, tetapi da­lam penutupnya kamu sudah menulis begini:

‘Kita mohon pertolongan Gupermen, dan kalau kita mendapatkan pertolongan itu, maka tentulah kita rakyat akan hidup selamat’

“Kalimat ini melanggar pasal 154 Straf Wetboek. De­ngan kalimat tersebut, kamu sudah mengeluarkan pera­saan kebencian pada Gupermen sebab maksudnya ka­limat itu begini: ‘Kalau Gupermen tidak menuruti, kehidupan kita, akan dibikin tidak selamat’.

“Kesalahanmu ternyata ada di sini. Kedua, ada lagi pelanggaran dalam tulisanmu: ‘Sebabnya Banyak Tebu Terbakar’. Dalam tulisan itu kamu sudah menerangkan dengan betul dan disertai bukti-bukti mengapa banyak kebakaran kebun tebu. Jadi, tulisan itu ada baiknya juga. Tetapi sebagai penutup kamu telah menulis:

‘Kesusahan kehidupan rakyat telah melemahkan rakyat melawan nafsu kejahatan. Moga-mogalah pabrik-pa­brik gula yang begitu kaya itu mau turut memper­baiki penghidupan rakyat itu, agar supaya tidak ada orang tertarik melakukan kejahatan’.

“Kalimat itu melanggar pasal 160 Straf Wetboek sebab maksudnya: ‘Kalau pabrik tidak suka turut membantu, rakyat supaya membakar tebu saja’.

“Begitulah pikiran saya, Kadiroen. Dan karena itu, saya akan voorstel supaya kamu dilepaskan dari pekerjaan­mu dengan tidak hormat. Bagaimana pendapatmu?”

Kadiroen ditanya pendapatnya, tetapi cukup lama ia tidak menjawab. Beberapa menit ia melihat Tuan Asisten Residen dengan melompong sangat keheranan, seperti seorang melihat rembulan pecah menjadi tiga matahari. Kadiroen tidak bisa percaya pada apa yang telah ia dengarkan itu. Dan ia mengira bahwa ia salah mengerti. Oleh karena itu, ia bertanya lagi, apa yang sudah dika­takan Tuan Asisten Residen mengulangi perkataannya. Kadiroen mendengarkan tuduhan Tuan Asisten Residen yang berhati keras itu. Maka di dalam hatinya ia seperti­nya menangis sekaligus tertawa; menangis sebab Tuan Asisten Residen begitu salah pengertian. Pertama, karena kesalahpengertian Tuan Asisten Residen itu telah dija­dikan kebenaran yang tetap. Kadiroen menyangka ada dua hal yang bisa terjadi. Pertama, Tuan Asisten Residen sengaja mencari-cari kesalahannya sehingga memutarba­likkan maksud kalimat. Atau, kedua, Tuan Asisten Resi­den sangat khawatir bahwa semua surat kabar bumiputera akan menarik kehormatannya kepada pemerintah se­hingga membikin kusutnya negeri. Dengan demikian, hampir di mana-mana ia melihat genderuwo di siang bo­long yaitu mendapati semua hal menjadi jahat ketika jus­tru tidak ada kejahatan. Jadi kalau begitu, maka ternya­talah bahwa kepintaran dan ketajaman pikirannya yang tidak disertai dengan kebaikan hati itu justru sering me­nimbulkan kesalahan, menyangka busuk pada yang baik. Atau, manusia yang busuk melihat bayangannya sendiri di mana-mana. Kadiroen memikirkan hal ini, oleh kare­na itu, ia tidak sakit hati pada Tuan Asisten Residen. Te­tapi malahan ini menjadi berbelas hati. Watak dan hati Tuan Asisten Residen itu sangat miskin dari kebaikan. Dengan sabar dan dengan jelas lalu Kadiroen menerang­kan dan membuktikan bahwa tuduhan Tuan A.R. yang pertama keliru, karena maksud kalimat yang dituduh­kan itu, tidak lain hanya:

“Meminta pertolongan pada pemerintah dan kalau pertolongan itu sudah didapatkan, maka hal itu akan berbuah lesat, sebab akan membuat selamatnya rakyat.”

Orang yang waras ingatan dan batinnya tentu menge­tahui hal ini. Adapun tuduhan yang kedua disangkal oleh Kadiroen karena maksud kalimat itu tidak lain adalah begini:

“Supaya pabrik gula suka menolong dan dengan per­tolongan itu, kejahatan manusia akan bisa dikurangi.” Kadiroen menerangkan bahwa sampai waktu ini ti­dak ada tuntutan dari hakim pengadilan. Tidak ada tu­duhan delik pers, karena tulisan-tulisan tentang hal itu. Jadi, terbukti bahwa yang salah penerimaannya hanya Tuan Asisten Residen sendiri. Lalu terjadi perselisihan yang ramai antara Kadiroen dengan Tuan Asisten Resi­den. Dan akhirnya sebagai penutup Tuan A.R. berkata: “Kadiroen, memang perkataanku susah ditangkap, buat kamu sendiri dan buat sebagian orang-orang lain. Memang, tulisannya tidak bersalah melanggar undang-­undang. Tetapi saya katakan, kamu sudah betul-betul melanggar undang-undang. Dan saya sebagai Asisten Re­siden di sini memiliki kekuasaan buat menetapkan pendapatmu. Oleh karena itu, saya sekarang tetap akan mengajukan pelepasanmu.”

Kadiroen menjawab bahwa itu urusan Tuan Asisten Residen. Tetapi karena Kadiroen merasa ia tidak menda­patkan keadilan, ia meminta izin untuk bertemu sendiri dengan Tuan Residen, untuk menerangkan bahwa ia ti­dak mempunyai kesalahan apa-apa. Tuan Asisten Resi­den menantang Kadiroen untuk berbuat itu, dan ia diberi tahu bahwa lain hari Kadiroen akan mendapat panggilan untuk menghadap Tuan Residen.

Beberapa hari setelah kejadian itu, maka Kadiroen ter­paksa menghadap Tuan Residen karena dipanggil. Pem­besar ini adalah seorang pejabat yang sudah tua. Ia su­dah biasa hidup dengan zaman kuno dan tidak begitu co­cok dengan aturan dan keadaan zaman baru yang men­jelmakan pergerakan rakyat Hindia itu. Banyaknya peker­jaan sudah tidak bisa memberi waktu banyak kepadanya untuk memikirkan dan mempelajari secara dalam tentang hal-hal dan sebab-sebab pergerakan rakyat itu. Te­tapi tuan yang kuno itu percaya kepada Tuhan Allah dan memiliki hati yang adil. Tuan Residen berbuat lain de­ngan Tuan Asisten Residen muda yang memintakan le­pasnya Kadiroen itu. Di muka Tuan Residen, maka Ka­diroen ditanya bermacam-macam hal. Kadiroen menje­laskan perkara dengan sebenarnya. Sesudah pembicaraan menjadi terang, maka Tuan Residen berkata:

“Kadiroen! Memang saya tidak membetulkan penda­pat Tuan Asisten Residen. Hari kemarin ia sudah omong panjang lebar dengan saya. Tetapi saya sudah mengata­kan kepadanya bahwa tulisanmu yang menyebabkan tu­duhan Tuan Asisten Residen menurut pendapat saya me­mang tidak melanggar undang-undang. Oleh karena itu, saya tidak suka kamu dilepas. Hal itu membikin tidak enaknya Tuan Asisten Residen. Ia merasa di dalam ka­langan Binnenlandsh-Bestuur kurang mendapatkan ke­hormatan dan kesenangan. Karena ia punya pendapat baik, katanya, tidak semua dituruti dan disepakati semua orang. Ia merasa selalu saja mendapat celaka. Meskipun, boleh dibilang sebenarnya ia paling cepat mendapat pangkat Asisten Residen. Oleh karena hal-hal itu, seka­rang ini ia minta lepas sendiri dengan hormat. Berhubung dengan kelepasannya Tuan A.R. yang diminta itu, maka perkaramu menjadi gampang diputuskan. Sebab umpa­manya ia tetap menjabat, dan minta voorstel-nya melepas kamu diteruskan kepada pemerintah, tentu ini hari per­karamu belum bisa diputuskan. Adapun putusan saya dalam perkara ini begini: sebagaimana kamu tahu, maka di bawah perintah saya, sekarang ini ada dua pangkat besar yang terbuka, yaitu pangkat regen di Kota P dan pang­kat patih di kota M. Saya sudah melihat semua Staat van Dienst dan Conduite-Staat (Catatan Hal Ihwal Pekerjaan dan Urusan Setiap Priyayi) dari amtenar-amtenarku. Dan sa­ya tahu bahwa kamu ada di paling depan menurut voorstel-nya Tuan Asisten residen yang dahulu, kamu ada di rangking 1. Karena itu, kamu bisa saja voorstel-nya menjadi regen di Kota P atau menjadi patih di Kota M. Kalau ka­mu mau berhenti menulis di surat kabar Sinar Ra’jat, tentu saya akan membikin voorstel supaya kamu menjadi regen itu. Setidak-tidaknya kamu menjadi patih di Kota M. Te­tapi kalau kamu terus menulis di Sinar Ra’jat, tentu saya tidak akan voorstel-kan kamu. Dan kalau patih yang kamu wakili ini sudah sembuh, tentu kamu akan kembali men­jadi wedono lagi. Saya tidak akan voorstel-kan menaikkan pangkatmu karena kamu akan mempunyai waktu yang terbagi dua, yaitu untuk keperluan pekerjaanmu dan un­tuk keperluan menulismu. Pekerjaan regen atau patih itu begitu berat, sehingga kalau dikerjakan betul oleh se­orang biasa, tentu orang yang berpangkat itu lalu tidak ada waktu untuk menulis. Sebaliknya, kalau terus tulis­-menulis tentu pekerjaannya menjadi kurang benar sebab waktunya terpecah. Adapun pekerjaan wedono masih bi­sa merangkap begitu. Dari sebab itu, kalau kamu tetap masih menjadi wedono tentu saya tidak melarang kamu untuk tulis-menulis. Tetapi jika akhirnya ada delik pers yang sampai menghukum kamu, kamu tentu bisa berpi­kir sendiri bahwa kamu akan dapat celaka. Jadi, sekarang ini saya memberi waktu kepada kamu buat memilih; ‘menjadi patih atau regen dengan tidak menulis lagi atau tetap menjadi wedono dengan boleh terus menulis dalam Sinar Ra’­jat‘. Pilihlah yang mana?”

Kadiroen mendengarkan perkataan Tuan Residen yang seperti itu, tentu ada sedikit bahagia hatinya. Kare­na Kadiroen merasa mendapatkan keadilan dalam per­selisihannya dengan ‘Tuan Asisten Residen. Tetapi seka­rang ia mesti memilih lagi. Kadiroen tahu, dalam pangkat dan pekerjaan priyayi ia sering mendapatkan kesusahan atau sukar betul untuk memuliakan penghidupan rakyat dan untuk memintarkan dan menguatkan rakyat di za­man baru ini. Sebaliknya, dalam pergerakan rakyat ter­buka jalan yang gampang untuk kepentingannya ini. Ka­diroen hanya memikirkan betul perkataan Tuan Residen yang berkata tentang waktu yang terpecah itu. Kalau te­tap ia menjabat sebagai priyayi, maka terpaksa ia meme­cah waktunya, sehingga ia tidak bisa berbuat sesungguh­nya dan semestinya dalam pergerakan rakyat itu. Kadi­roen juga ingat bahwa ia kemarin membaca suatu adver­tensi yang menjadi mede-redacteur (yang gajinya hanya se­dikit untuk organisasi P.K. Sinar Ra’jat). Ia tahu, bahwa kalau ia yang minta pekerjaan mede-redacteur itu, tentu akan ia dapatkan. Sedangkan Tuan Residen memberikan dua perkara yang harus ia pilih. Tetapi sekarang Kadi­roen menambahi sendiri dengan satu pilihan lagi:

(1) Pangkat regen, setidak-tidaknya patih, tetapi mes­ti memutuskan hubungannya dengan pergerakan rakyat. Gaji dan pangkatnya amat besar. Tetapi cita-citanya atau idealismenya akan mati.

(2) Pangkat dan gaji wedono ada cukupan, berhu­bungan dengan gerakan rakyat masih bisa. Tetapi peker­jaannya di sana-sini tidak bisa semestinya karena wak­tunya terpecah.

(3) Pangkat tidak ada dan gaji hanya sedikit, tetapi sebagai mede-redacteur bisa menunjang cita-citanya. Yaitu membantu dengan ikhlas semua tenaga dan usahanya supaya rakyat Hindia bisa lepas, pintar dan kuat untuk bi­sa merdeka lahir batin.

Ia bisa menuntut cita-citanya bahwa tanah airnya akan merdeka, berdiri sendiri seperti bangsa lainnya, se­hingga bangsanya akan bisa dipandang sama dan sede­rajat dengan bangsa lain.

Dalam hal menilik tiga perkara ini, maka sebagaima­na dahulu sudah diceritakan oleh orangtuanya, terserah buat Kadiroen. Jadi, ia boleh memilih yang ia sukai. Oleh karena itu, Kadiroen dengan cepat memutuskan dan me­milih: meminta lepas dari pangkat dan jabatan priyayi dengan hormat sebab ia mau menjalani perbuatannya sendiri yang sesuai dengan cita-cita dan keyakinannya, yang sungguh mulia untuk kepentingan orang banyak.

Begitulah, maka Kadiroen menerangkan keputusan­nya kepada Tuan Residen. Ia menjelaskan dengan gam­blang sebab-sebabnya ia ingin lepas dengan hormat itu. Tuan Residen mendengarkan semua keterangan Kadi­roen lalu menjadi gembira dan memijat tangan Kadiroen dengan cara menghormati. Maka Tuan Residen berkata:

“Kadiroen, saya gembira sekali mengetahui dirimu, yang sekarang dengan perbuatanmu sudah menunjukkan bahwa kamu memang seorang kesatria. Kamu sudah me­nyatakan bahwa kamu memang seorang yang pemberani. Artinya bukan berani berkelahi seperti anak-anak, tetapi berani, sebab kamu mau melepaskan semua kepentingan dirimu sendiri untuk memenuhi kepentingan orang ba­nyak menurut keyakinanmu, Roch dan Rah adhi sejati tentu akan mendapatkan buah yang lezat dari perbuatannya. Kadiroen, saya mendoakan semuga kamu selamat.”

Begitulah, dengan senang hati dan tenteram, Kadi­roen meninggalkan pangkat dan pekerjaannya untuk hi­dup sengsara, tetapi bermaksud mulia, sedangkan Tuan Asisten Residen muda meninggalkan pangkat dan peker­jaannya, dengan murka dan sakit hati. Tetapi akan hidup terus dalam kelimpahan harta benda. Yang baik sudah mendapat surga di batinnya, sedang yang buruk sudah pula mendapat neraka di batinnya. Neraka batin tidak bi­sa ditukar dengan surga batin. karena kekayaan batin le­bih langgeng atau lebih tetap serta kuat (onvergangkelijk).

BAB VI

Mendapat Guru

Di sebuah tempat di Kota G, di bagian kota yang sunyi yang hampir mendekati desa-desa, di sana, di sebuah pekarangan yang tidak lebar tetapi banyak pohon-pohonan yang membikin sejuknya suasana, di situlah berdiri sebuah rumah kecil yang terbuat dari dinding bambu berkapur putih. Rumah itu memakai atap genting dan berubin semen batu yang bersih. Selusin pot bunga-bungaan dari tanah teratur rapi di muka rumah, sehingga kelihatan indah dan segar. Perkakas rumah, seperti kursi dan meja dan sebagainya teratur rapi di dalam rumah itu. Meskipun perkakas itu tidak mewah dan murah harganya, tetapi kelihatan begitu bersih, sehingga bisa menyenangkan semua orang yang memandangnya. Beberapa perhiasan rumah seperti pigura-pigura dengan gambar yang terpasang di dinding menunjukkan bahwa pemilik rumah itu bukanlah orang kaya. Tetapi, rumah itu menunjukkan juga si pemiliknya mempunyai perasaan halus dan telaten, sehingga bisa menata ruangan menjadi begitu rapi, bersih dan menyenangkan semua orang yang memandang seisi rumah, baik dari luar maupun dari dalam.

Di galeri muka, pada waktu jam setengah dua siang itu, duduk seorang perempuan muda. Wajahnya tidak begitu cantik atau molek, tetapi juga tidak jelek. Wajahnya malahan kelihatan lebih manis. Pakaiannya tampak seperlunya untuk kepentingan di rumah, yang menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai banyak uang untuk menghias dirinya. Gelang, tusuk konde, subang dan peniti dari emas atau perak yang sangat disenangi oleh kebanyakan kaum perempuan, barang-barang itu sama sekali tidak menempel di tubuhnya. Dan hanya cincin kawin dari swasa tanpa mata yang berkilau melingkar di salah satu jarinya. Tetapi caranya berpakaian yang sederhana itu memang kelihatan begitu bersih dan rapi, sehingga pemakainya kelihatan sangat pantas. Pada waktu itu perempuan tersebut sedang bahagia memikirkan apa yang sudah ia kerjakan sampai saat itu. Pagi-pagi benar ia sudah bangun, lalu mandi seraya menyedu wedang kopi dan memasak nasi goreng sisa masak kemarin sore serta membikin telur dadar mata sapi dua. Lalu setelah suaminya bangun dan mengerjakan hal-hal yang perlu, mereka sarapan bersama-sama pada waktu yang biasanya. Sehingga laki-laki tersebut menjadi amat senang, sehingga semakin sayang dan berterima kasih kepada istri tercintanya itu. Setelah si lelaki berangkat bekerja, maka si perempuan pergi berbelanja ke pasar. Sedang seorang anak tetangganya menjaga rumahnya. Dari pasar ia lantas masak dan sambil menunggu masakannya matang, ia mencuci pakaian serta perabotan rumah tangga lainnya yang kotor. Lalu mengerjakan hal-hal lain sebagai kewajiban istri di rumah. Ya, ia memikirkan semua pekerjaannya yang sejak pagi hingga jam satu lebih tidak ada hentinya itu. Tetapi karena itu semua, hatinya menjadi begitu senang. Sehingga lalu teringat kepada Tuhan Allah dan mengirimkan doa beberapa kali. Perempuan tersebut merasa senang, karena dengan pekerjaannya tersebut ia merasa bisa membantu suaminya, menyenangkan lelaki meski hasilnya tidak seberapa besar. Dan karena rajinnya perempuan itu bekerja maka mereka bisa berumah tangga dengan tenteram dan bahagia. “O, bagaimanakah senangnya hati lelaki jika melihat semua pekerjaan di rumah sudah beres! Ya, saya akan menyongsong suamiku di muka rumah dengan muka manis dan senang hati. O, bagaimanakah tambah besarnya cinta lelakiku merasakan hidup berumah tangga yang begini nikmat’.” Begitulah, perempuan tadi berpikir-pikir sambil menunggu kedatangan suaminya.

“Kriiingg…kriiing…kriiinggg!”

“Na, suamiku datang!” kata si perempuan dalam hatinya. Dengan gembira dan senang hati ia bangkit dari duduknya serta menjemput suaminya yang datang menaiki sepeda.

“O, Mas, ini hari Kanda datang sedikit terlambat. Toh tidak ada halangan apa-apa ‘kan Mas?” kata istri sambil mencium lakinya.

“Iya Dik, saya memang pulang terlambat. Tetapi tidak ada halangan apa-apa. Hanya sebentar lagi di sini akan kedatangan tamu, yang sekarang sedang naik dokar. Karena tadi sempat omong-omongan dengan tamu itu di jalan, jadi sekarang agak sedikit telat. Dinda menunggu lama barangkali?” kata si lelaki sambil mengelus kepala istrinya yang menempel di dadanya serta melihat pada istrinya itu dengan sepenuh perasaan cintanya.

Tamu datang! Si lelaki, Sariman menjemput ia dan terus memperkenalkan si tamu kepada istrinya. Sariman berkata; “Ini istri saya, dan ini Dik, Tuan Kadiroen.”

Istri Sariman menjawab: “O, jadi Tuan yang bernama Kadiroen. Suamiku sering menceritakan perihal Tuan kepada saya. Saya menaruh hormat yang tinggi pada apa yang Tuan telah perbuat. Sudah lama saya ingin berkenalan dengan Tuan. Karena itu, hari ini saya senang sekali bertemu dengan Tuan. Tetapi saya berkata Tuan, saya ingin menjadi saudara Tuan. Apa sekiranya Tuan tidak keberatan kalau selanjutnya saya memanggil Kakandaku Kadiroen… Kanda?”

Kadiroen mendengarkan penyambutan istri Sariman. Kata-kata sambutannya itu kelihatannya memang keluar dari hati sanubari sehingga sekejab saja, saat itu juga, Kadiroen merasa memiliki saudara perempuan muda. Sudah barang tentu ia menyahut penyambutan istri Sariman itu dengan kata-kata yang mendekatkan persahabatan satu dengan yang lainnya.

Tidak lama mereka berbincang-bincang, maka ketiganya lalu makan bersama-sama. Waktu makan itu, Kadiroen tahu bahwa ikannya tidak begitu banyak. Sebab yang ada di situ hanya tempe, sambal, jangan dan sekadar daging sapi. Semua dimasak hanya menjadi empat macam. Tetapi Kadiroen menjadi heran, karena masakan itu begitu enak rasanya. Saat makan berbarengan sambil ngomong-ngomong yang baik-baik dan menyenangkan, Kadiroen merasa ada di dalam surga.

Sehabis makan, Sariman dan Kadiroen minum, rokok dan meneruskan pembicaraannya. Sedang si perempuan mengerjakan semua hal, seperti membersihkan taplak meja dan sebagainya. Persis jam tiga, maka Sariman mempersilakan Kadiroen untuk tiduran. Karena semua itu, Kadiroen merasa begitu senang. Sehingga ia merasa seperti ada di rumahnya sendiri. Dan karena ia merasa capek pulang bepergian dari Kota S ke Kota G, maka ia mau tiduran itu. Ia tanya kepada Sariman apakah tuan dan nyonya rumah juga mau tiduran. Tetapi dengan heran ia mendapat keterangan bahwa mereka berdua itu tidak pernah tidur siang. Sebab Sariman mulai dari jam 2.30 sampai jam 4, mengajar istrinya. Dan hari itu istrinya harus belajar ilmu bumi. Istri Sariman menerangkan bahwa ia sangat senang belajar ilmu alam, ilmu bumi, ilmu hitung dan lain sebagainya. Perempuan itu ingin mengerti dan pandai supaya bisa ikut memikirkan dan membicarakan semua hal yang penting-penting yang terjadi di zaman kemajuan itu.

Sekarang Kadiroen mengerti, mengapa istri Sariman itu tadi begitu fasih ikut omong-omong membicarakan masalah politik.

Sewaktu Kadiroen hendak tidur, maka ia merasakan dan memikirkan masalah Sariman dan istrinya itu. Dan ia tahu bahwa mereka berdua memang sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Karena itu maka Kadiroen semakin ingin tahu, bagaimanakah kehidupan mereka berdua. Dan pada saat itu ia mengantuk dan lantas tidur.

Jam empat Kadiroen bangun dan mengetahui bahwa saat itu istri Sariman sedang menyedu wedang. Sedangkan Sariman membersihkan kursi-kursi, meja, mengisi lampu dengan minyak dan sebagainya. Lalu mereka mandi, sehingga persis jam 5 kurang sepuluh menit Sariman dan istrinya sudah siap minum teh di teras rumah yang sudah kelihatan bersih.

Kadiroen juga sudah disediakan teh. Begitulah, maka mereka bertiga ngobrol sambil minum teh. Dalam obrolan itu Kadiroen mengetahui bahwa biasanya Sariman dan istrinya mulai jam lima sore sampai jam enam pergi jalan-jalan ke alun-alun atau ke tempat-tempat lain. Kalau tidak jalan-jalan, biasanya mereka menerima tamu atau bertamu sebentar ke rumah sahabat-sahabat terdekatnya. Jam enam mereka pulang lalu menyalakan lampu dan Sariman lalu belajar sendiri bermacam-macam buku yang bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuannya sampai jam delapan. Sedang istrinya dari jam enam itu sampai jam tujuh memanaskan masakan dan menanak nasi. Mulai jam delapan mereka berdua sudah bisa makan bersama. Maka jam setengah sembilan sampai jam setengah sepuluh, istri Sariman belajar lagi. Sedangkan Sariman sendiri membaca koran-koran yang baru datang. Biasanya persis jam sepuluh mereka sudah tidur dan bangun lagi pada jam lima. Apa yang dikerjakan istri Sariman sejak bangun pagi sudah diceritakan di atas. Adapun Sariman sejak bangun pagi lalu mandi dan melakukan gymnastiek, membersihkan perkakas rumah lalu sarapan pagi. Tepat jam tujuh pagi ia berangkat ke kantornya. Kadiroen mengetahui bahwa semua kebiasaan Sariman dan istrinya itu tiap harinya sudah diatur dengan pasti. Selain Sabtu sore adalah saat untuk mencari hiburan ke bioskop atau bertamu ke rumah sanak famili yang sedikit jauh.

Hari Minggu biasanya Sariman bekerja di kebun atau pergi ke tempat-tempat wisata yang sejuk.

Maka karena kepastian-kepastian di atas, hidup Sariman dan istrinya menjadi senang terus-menerus. Sedangkan badan mereka berdua selalu sehat pula meski di rumah mereka tidak ada seorang pembantunya. Gaji Sariman yang begitu kecil sebab surat kabar bumiputera waktu itu belum kuat membayar redaktur dengan gaji yang mencukupi tidak memperkenankan mereka untuk mencari pembantu seperti koki, babu atau jongos. Karena hal-hal itu, Kadiroen mengetahui bahwa Sariman berdua yang begitu luas pengetahuannya dalam semua hal itu, sudah menunjukkan bahwa mereka tidak suka menyombongkan diri dan menerima saja dengan ikhlas untuk hidup sederhana. Sariman dan istrinya bukanlah manusia yang hanya mencari kekayaan duniawi seperti uang dan sebagainya dan juga bukannya manusia yang hanya mencari pangkat atau derajat lahiriah. Tetapi mereka mencari keselamatan batin dengan berusaha melayani dan membantu kepentingan rakyat Hindia yang pada waktu itu begitu merana keadaan lahir batinnya. Begitulah maka Kadiroen mengetahui bagaimana watak Sariman dan istrinya. Dengan pengetahuannya itu, Kadiroen bisa mengerti mengapa Sariman bisa begitu kuat memikul kewajibannya dalam pergerakan yang amat berat itu. Secara lahiriah mereka memang melarat, tetapi batiniah sangat bersih dan berhati ikhlas. Itulah rahasia kekuatan manusia yang berilmu tinggi, kekuatan yang mana akan bisa mampu melakukan semua pekerjaan atau siksaan dunia yang amat berat sekalipun.

Sudah dua hari Kadiroen bertamu di rumah Sariman, sambil menunggu keputusan vergadering yang akan menentukan apakah Kadiroen akan diterima menjadi mede-redacteur dalam surat kabar Sinar Ra’jat atau tidak. Pada sore hari kedua, sewaktu mereka ngobrol sambil minum teh, maka Sariman berkata kepada Kadiroen sambil menyatakan kesedihan hatinya:

“Saudara, memang susah nasib sahabat kita Tuan Weldoener. Ia menjadi hoofd-boekhouder di toko besar. Ia kerja di sini baru kira-kira dua tahun. Maka sebentar lagi tentu ia akan dipecat dari pekerjaannya. Tuan Weldoener memang paling baik akal budinya. Dan karena sebagai seorang sosialis sejati, ia membantu gerakan rakyat Hindia, maka ia dibenci oleh kaum yang bermodal. Sekarang kita mesti berusaha meringankan beban nasib Tuan Weldoener yang menjadi korban ini.”

Mendengar hal itu, Kadiroen menjadi terkejut dan ikut merasakan kesedihannya. Ia menanyakan kabar itu asalnya dari mana. Tetapi Sariman menjawab degan pertanyaan pula:

“Apa Saudara tidak membaca tulisan pertama dalam surat kabar Belanda L hari kemarin?”

“Ya, saya juga sudah membacanya. Tulisan itu mencela keras Tuan Weldoener itu, sebab tuan ini dalam vergadering P.K. di Kota M, turut berbicara dan mengajak rakyat mengubah kapitalisme menjadi sosialisme. Dalam tulisan tersebut sama sekali tidak diutarakan bahwa Tuan Weldoener itu akan dipecat dari pekerjaannya,” kata Kadiroen.

“Memang dalam tulisan itu tidak diutarakan, tetapi Saudara harus ingat, sampai dua kali tulisan tersebut menyebutkan pangkatnya Tuan Weldoener yang bunyinya begini: ‘Weldoener Hoofd-Boekhouder Toko F, Milik Kapitalis C’ sedang tulisan ‘Hoofd-Boekhouder Toko F‘ ditulis dengan cetak miring. Dalam politik halus, maka maunya itu supaya Kapitalis C, memecat Tuan Weldoener dari jabatannya Hoofd-Boekhouder. Sebab semua orang sudah tahu bahwa watak Tuan Weldoener yang suka membantu gerakan rakyat Hindia itu sudah tidak bisa diubah lagi. Hal yang mana diterangkan juga dalam bagian penghabisan tulisan itu begini: ‘Tuan Weldoener yang ada di negeri Belanda ternyata tidak mau mengubah keinginannya untuk melawan kapitalisme yang ada di Hindia. Ia tetap mau meneruskan tekad hatinya itu dengan teguh. Sungguh Tuan ini membikin masalah di Hindia’. Mengingat besarnya pengaruh surat kabar L, maka Tuan C tentu akan menuruti nasihat surat kabar itu untuk memecat Tuan Weldoener dari tokonya,” baru saja Sariman menjelaskan begitu maka datang seorang jongos membawa surat. Surat itu dari Tuan Weldoener dan bunyinya begini:

Sahabat Sariman,

Tadi pagi saya diminta oleh saya punya pembesar, Tuan C, supaya saya melepaskan diri semua perhubungan dengan gerakan kaum kita socialisten dalam P.K. Adapun kalau saya tidak menurut dan tidak suka tunduk pada kemauan tuan C, maka mulai bulan di muka saya dapat lepas. Sudah tentu saya memilih dilepas ketimbang meninggalkan kaum kita. Supaya kaum kita mendapat tahu, bagaimana akalnya kaum bermodal mau menghalang-halangi gerakan P.K. dengan kelepasan saya ini, haraplah ini perkara sahabat suka membicarakan dalam Sinar Ra’jat.

Memujikan Selamat,

Weldoener

Surat yang pendek itu juga dibaca oleh Kadiroen. Jadi dugaan Sariman memang betul dan cocok. Kadiroen sekarang terpaksa mengakui bahwa Sariman adalah seorang Hoofd-Rectacteur yang amat tajam pikirannya. Memang sudah lama Sariman menunjukkan dalam tulisan-tulisannya bahwa ia seorang jurnalis yang amat bijaksana, luas pandangannya, cerdik serta tajam dugaannya.

Kadiroen mengakui, meski Sariman masih muda ketimbang dirinya maka wajib ia menjadikan Sariman sebagai gurunya. Sebab Sariman melebihi kebiasaan dalam semua hal. Kelebihan dari kebiasaan itu pun bisa Kadiroen ketahui selama dua hari hubungannya itu. Oleh karena itu, Kadiroen bertanya kepada Sariman dan istrinya:

“Saudara, kalau saya jadi ditetapkan menjadi mede-redakcteur, apa Saudara sepakat kalau saya mondok kumpul dengan kamu berdua. Sebab saya mau jadi muridmu, guruku Sariman!”

Sariman dan istrinya mendengarkan pertanyaan yang keluar dengan air muka yang lucu oleh Kadiroen itu, menjadi tertawa. Dan dari mulut keduanya berbareng-bareng keluar jawaban, “Sudah tentu sepakat.”

Istri Sariman menyatakan bahagia bahwa Kadiroen mau berkumpul serumah. Sedang Sariman berkata:

“Ha,ha… Bagaimana yang lebih muda menjadi guru. Tidak Saudara Kadiroen. Saya tidak mau menjadi gurumu. Tetapi ingin menjadi sahabat dan saudaramu.”

“Kamu boleh begitu sesukamu, tetapi saya memandang kamu sebagai guruku,” kata Kadiroen.

Akhirnya, oleh vergadering, Kadiroen diterima menjadi mede-redacteur, ia lalu serumah dengan Sariman yang olehnya dipandang sebagai gurunya itu.

Mengetahui semua hal di atas, maka Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, para pembaca, barangkali ingin tahu lebih jauh. Siapakah Sariman dan istrinya itu. Di sini penulis akan terangkan.

Sariman ialah anaknya Pak Saridin. Seorang tukang rumput – ia menjualnya di Kota G. Tetapi sewaktu Sariman baru berumur lima tahun, ayah dan kakaknya yang bernama Saridin meninggal dunia. Oleh karena itu, maka Sariman tinggal hidup dengan ibunya yang menjanda. Di rumah Jawa yang terbuat dari atap dan berukuran kecil sekali, Sariman dan ibunya hidup miskin, itu sudah jelas. Ibu Sariman bisa mempertahankan hidup bersama-sama anaknya karena berjualan nasi-sayur. Karena saking miskinnya itu, sudah barang tentu rumahnya hanya bisa untuk tidur dan memasak nasi sayur yang dijual tersebut. Jadi meskipun ditinggal suaminya, Mbok Sariman tidak khawatir.

Sepanjang hari Mbok Sariman berjualan sepanjang jalan bersama anaknya yang masih kecil. Pada suatu hari ada seorang priyayi yang juga mempunyai anak baru berumur enam tahun sedang membeli dagangan Mbok Sariman. Anak priyayi tersebut waktu itu sedang pulang dari sekolah dan membawa lei. Sebagai anak yang sama kecilnya, maka dua anak itu satu sama lain berkenalan dan terus menjalin persahabatan. Sariman bertanya apa yang dibawa anak priyayi tersebut dan mengetahui bahwa itu adalah lei untuk peralatan sekolah.

Mulai hari itu, saben-saben Sariman menanyakan kepada ibunya, buat apa lei itu dan apa artinya sekolah. Kalau mereka kebetulan berjualan di muka sekolahan, di situ ibunya Sariman menerangkan kepada anaknya apa yang dinamakan sekolah. Dengan itu, maka Sariman kecil pada saat itu mulai tertarik untuk sekolah. Begitulah, maka ia sering menangis kepada ibunya supaya dibelikan lei dan disekolahkan. Tetapi karena miskinnya – sebab pada waktu itu di Hindia tidak ada sekolahan yang tidak bayar – maka sudah barang tentu yang ibunya Sariman tidak bisa menuruti kehendak anaknya. Pada waktu Sariman berumur enam tahun, dengan susah payah ibunya bisa membelikan lei dan grip.

Kebetulan di sebelah Mbok Sariman tinggal seorang tukang batu, yang hidupnya bisa sedikit kecukupan dan bisa menyekolahkan anak lelakinya yang juga baru berumur enam tahun, di sekolah kelas dua. Anak itu adalah yang bernama Tjitro dan sewaktu besar menjadi propagandis P.K. yang sudah diceritakan dalam Bagian IV buku ini.

Sebagai anak yang sama kecilnya dan berumah begitu dekat satu dengan yang lainnya, Sariman lalu menjadi sahabat karib Tjitro. Tetapi kalau Tjitro pagi-pagi pergi ke sekolah, Sariman pun juga harus pergi, namun ikut berjualan nasi bersama ibunya. Hanya bila sore jam tiga sampai jam enam, dua anak itu bisa bermain bersama-sama.

Sariman yang merasa kaya, bisa menyamai Tjitro karena masing-masing mempunyai lei dan grip, mereka lalu bermain-main. Tidak hanya bermain lei-leian dan cakar-cakaran ayam saja di lei itu. Tetapi Sariman saban hari bertanya pada Tjitro, apa saja yang tadi diajarkan di sekolah. Sehingga Tjitro menceritakan itu dan saban hari menirukan gurunya, sedang Sariman masih pura-pura diajar sebagai muridnya. Sebaliknya, kepura-puraan itu, oleh Sariman diingat betul, sehingga lalu saban sore ia bisa belajar dari Tjitro. Oleh karena itu, sewaktu Tjitro berumur tujuh tahun, maka kepandaiannya dalam hal tulis-menulis sama dengan Sariman. Begitulah, maka saban sore Tjitro harus belajar lagi, sebab mesti menjadi gurunya Sariman. Maka Tjitro akhirnya menjadi murid yang terpandai, ia di kelasnya mendapat rangking satu. Hal yang demikian itu memberi pengertian pada Tjitro dan Sariman bahwa mereka harus bersahabat terus dan apa yang dahulunya hanya pura-pura, sekarang lalu ia kerjakan bersama-sama sebagai keinginan yang tetap. Sehingga lalu mereka saban sore belajar bersama-sama. Hal itu membuat senangnya orangtua Tjitro dan ibunya Sariman. Tetapi, mulai umur tujuh tahun itu, maka Sariman terpaksa harus membantu ibunya mencari makan. Sehingga ia saban pagi sampai jam satu siang harus menyabit rumput untuk dijualnya. Oleh karena Sariman bisa mencari uang, maka lalu ia juga bisa membeli buku, potlot, tinta dan sebagainya. Sehingga waktu Tjitro berumur sepuluh tahun, sudah tamat belajarnya di sekolahan klas 2 itu, maka Sariman juga bisa menyamai kepandaian Tjitro.

Semenjak tahun itu, maka Tjitro oleh ayahnya disuruh mencari kerja, dan lalu menjadi leerling letter Zetter di salah satu drukerij di Kota G tersebut. Adapun Tjitro mempunyai adik perempuan yang waktu itu berumur enam tahun, mulai disekolahkan juga mengganti Tjitro. Sebab meskipun ayah Tjitro hanya seorang tukang batu, tetapi ia ingin maju dan ingin melihat anak-anaknya, Tjitro dan Sarinem (adik Tjitro) menjadi pintar. Begitulah, orang yang maju, senang menyekolahkan anak perempuannya.

Ialah pada waktu itu maka Sariman sering menjual rumput pada priyayi yang anaknya sudah diceritakan di muka. Pada suatu hari, maka menurut pendapat anak priyayi tadi – yang sudah berumur sebelas tahun dan sekolah di EuropeescheLagereSchool – Sariman kurang menghormati dirinya. Sebab Sariman berani memanggil “mas” sedang si anak priyayi minta dipanggil “ndoro”. Sehingga di antara dua anak tadi terjadi perselisihan yang ramai. Anak priyayi tadi memaki-maki pada Sariman:

“Kamu anaknya orang desa, bodoh, goblok!” dan sebagainya.

Hati Sariman menjadi amat marah dikatakan bodoh dan goblok. Sebab ia merasa meskipun ia tidak sekolah, tetapi dengan kehendaknya sendiri, sekarang ia sudah bisa menulis dan mempunyai kepintaran yang sama dengan anak yang di sekolahan. Sesudah ia menjadi sabar kembali maka ia ingat bahwa percuma kalau ia hanya marah belaka. Oleh karena itu, ia lalu berniat yang kuat untuk menambah kepintarannya, agar ia bisa melebihi anak priyayi yang oleh Sariman dianggap besar kepala itu.

Sariman memperbincangkan niatnya itu bersama sahabatnya Tjitro serta orangtua mereka. Karena Tjitro baru saja mengerti bahwa di sekolah H.I.S. di Kota G itu saban sore diajarkan bahasa Belanda dan lain-lain untuk menuntut ujian Kleinambtenaars-examen, maka mereka membikin keputusan untuk meneruskan belajar di situ. Tetapi untuk bisa membayar biayanya, maka saban pagi Sariman terpaksa bekerja lebih keras agar ia bisa memotong rumput yang lebih banyak dari biasanya. Dan saban hari Sariman menabung f.0,10 untuk ongkos sekolah itu. Adapun Tjitro mendapat bantuan dari ayahnya. Untuk keperluan sekolahnya itu terpaksa Tjitro berhenti merokok dan ibunya terpaksa berhenti menginang. Begitulah, dua anak desa tadi bisa belajar terus, dan saban malam sampai jam sepuluh, kita bisa melihat mereka sedang belajar, bersanding dengan lampu kecil. Mereka tidak memikirkan kesenangan seperti anak-anak lainnya tetapi hanya mencari kepintaran belaka.

Empat tahun lagi, maka mereka sudah bisa berbahasa Belanda, ilmu hitung dan sebagainya. Mereka sudah cukup kepandaiannya untuk menuntut ujian Kleinambtenaars-examen.

Oleh karena itu, pada suatu hari Sariman dan Tjitro menempuh examen tersebut bersama-sama anak priyayi yang besar kepala tadi. Mereka berdua bisa lulus menempuh ujian itu dan mendapatkan zeer-goed, sehingga menjadikan senangnya hati orangtua Sariman dan Tjitro. Adapun anak priyayi yang besar kepala tadi – orang yang besar kepala selamanya bodoh – malah tidak bisa menempuh ujian. Dan sewaktu Sariman menjadi HoofdRedacteur Sinar Ra’jat dan terkenal cerdik dan pintar pun, si anak priyayi masih, menjadi hulp-schrijver di kantor salah seorang Asisten Wedono. Seandainya priyayi tadi bijaksana tentu anaknya akan dididik supaya menjadi pintar dan ia tentu tidak menjadi congkak; masih anak-anak sudah minta dihormati. Lain halnya dengan anak priyayi yang bijaksana; mereka malahan menghormati serta mencintai dan berbelas kasihan kepada semua orang desa atau orang kecil. Priyayi yang bijaksana tentunya membantu rakyat dan tidak menghina.

Sariman dan Tjitro sekarang bisa merasakan sendiri, bahwa anak orang desa bisa lebih pintar daripada anaknya priyayi yang congkak. Kalau anak orang desa itu mempunyai niat dan dijalankan dengan sungguh-sungguh, niscaya bisa mendapat waktu serta tempat belajar. Sebaliknya, lantas ia juga semakin mengerti kesusahan golongan mereka, orang kecil, serta tidak habis heran, mengapa H.I.S. dan sekolah yang baik-baik hanya disediakan untuk anak-anak priyayi saja. Hal itu jelas membedakan hak sesama manusia. Hal itu menimbulkan niat dalam hati Tjitro dan Sariman untuk terus berusaha membantu si kecil, yaitu “kaum kromo” atau rakyat supaya golongan ini bisa dipandang sebagai manusia juga.

Tetapi, mereka juga mengerti bahwa untuk membantu rakyat maka mereka harus mempunyai alat atau modal yang kuat, yaitu pandangan yang luas dan ilmu pengetahuan yang lebar. Sebab inilah sumber kekuatan dan kekuasaan manusia. Itulah sebabnya sesudah mereka lulus ujian Kleinambtenaars-examen, maka mereka lalu bekerja di salah satu kantor yang buka sampai jam 2 siang. Di situ mereka menjadi klerk dan masing-masing mendapat gaji f.25,- per bulan. Mereka bekerja itu tidak untuk mencari uang buat plesir-plesir, namun hanya untuk modal menambah ilmu pengetahuan lagi. Begitulah saban sore hingga tengah malam, dua anak muda tadi belajar terus ilmu alam, ilmu bumi, ilmu pemerintahan negeri, ilmu hukum, ilmu agama, ilmu pertanian, ilmu yang mempelajari hal ihwal hewan dan lain-lain. Sudah barang tentu dalam berbagai jenis ilmu itu, mereka tidak bisa mendapatkan kepandaian seperti halnya seorang profesor. Akan tetapi, dengan belajar sungguh-sungguh, mereka lalu bisa tahu dan mengerti pasal semua ilmu sehingga dari macam-macam ilmu itu mereka bisa menarik faedah yang besar, yakni berpandangan luas dan berilmu pengetahuan yang lebar. Adapun mereka mempelajari hal-hal itu dari berbagai jenis buku berbahasa Belanda. Pada zaman itu buku yang berbahasa Melayu hanya sedikit sekali. Mereka membeli buku-buku itu saban bulan dari Toko V.D. Dan sebagai penuntun belajar, mereka membayar seseorang guru Belanda yang saban minggu mau memberikan pelajaran selama 2 jam lamanya. Waktu yang sedikit itu, oleh kedua pemuda tadi hanya dipergunakan untuk meminta keterangan-keterangan dalam hal-hal yang belum bisa mereka mengerti dari buku-bukunya.

Berbareng-bareng niatbesi mencari luasnya pandangan dan kepandaian itu, maka adik perempuan Tjitro juga ikut belajar dengan setia. Sehingga ia bisa memperoleh Kleinambtenaars-examen juga di waktu berumur 18 tahun.

Sudah tentu, ketiga muda-mudi tadi juga tidak bodoh dan mau membiarkan tubuhnya rusak. Oleh karena itu, mereka juga melakukan gymnastiek; Olahraga tidak mereka lupakan. Saban minggu mereka jalan-jalan dan sebagainya. Itu semua untuk obat mereka kalau sedang capai belajar. Tetapi semua yang mereka kerjakan, bukannya hanya mencari kesenangan untuk kepentingan diri sendiri secara lahiriah (badan) atau batin (pikiran dan hatinya). Hubungan tiga muda-mudi itu akhirnya membuahkan cinta kasih antara Sariman dan adik perempuan Tjitro. Sehingga sewaktu Sariman menjadi hoofd-redncteur-nya Sinar Ra’jat, ia lalu kawin dengan gadis tersebut. Perempuan itulah yang diceritakan dalam awal Bagian VI ini.

Sewaktu Sariman dan Tjitro berumur 20 tahun – jadi sudah selama enam tahun mereka mencari berbagai jenis ilmu pengetahuan dan kepintaran – niat besi mereka sudah memberikan pengetahuan dan pandangan yang cukup luas, juga akal budi dan kepandaian yang luas pula. Sehingga seandainya mereka diadu dengan murid H.I.S. yang sudah tamat belajarnya, tentu mereka tidak akan kalah. Hanya bahasa Inggris, Perancis dan Jerman, mereka tidak bisa sebab mereka memang tidak menyukai dan tidak ada waktu untuk mempelajarinya. Untuk sementara waktu, dua pemuda tadi memandang bahwa bahasa Belanda juga sudah cukup untuk membuka gudang kepintaran dan pengetahuan Eropa karena untuk keperluan itu banyak sudah tersedia buku-buku dalam bahasa Belanda.

Juga adik Tjitro, selamanya selalu mengambil teladan dari dua pemuda tersebut. Oleh karena gadis yang mempunyai niat besi tadi juga turut berilmu dan pengetahuan yang luas. Meski begitu, ia tidak melupakan kepandaian perempuan, seperti masak-memasak di dapur, membatik, menjahit dan sebagainya.

Semenjak berumur 20 tahun, pemuda-pemuda itu lalu masuk dalam pergerakan P.K. Dan karena luasnya pandangan dan ingatannya, maka mereka tidak lama lantas dipilih sebagai lid-lid bestuur (anggota Dewan Pengurus). Tjitro terpilih menjadi sekretaris dan Sariman menjadi Penningmeester dari cabang P.K. di Kota G. Bersamaan dengan mereka ikut pergerakan, mereka terus belajar saja. Terutama mempelajari buku-buku sosialisme, seperti Manifesto Komunisme dan Het Kapital (Das Kapital) karya Karl Marx, buku-buku mengenai koperasi, vakbond dan lain-lainnya yang berfaedah untuk pergerakan rakyat. Mereka mengerti bahwa manusia itu meskipun rambutnya sudah putih, seharusnya tetap terus belajar untuk selalu menambah kekayaan ilmunya.

Begitulah mereka mencari ilmu-ilmu tersebut tidak hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi untuk kepentingan rakyat, yang mereka usahakan dalam P.K. Karenanya, sudah barang tentu, mereka tidak takut dalam membela rakyat. Badan mereka sendiri hampir-hampir tidak mereka hargai. Seorang manusia yang membela kepentingan beribu-ribu manusia seharusnya memang melupakan kepentingan mereka sendiri. Dan siapa yang melupakan kepentingan diri sendiri itu, tentu tidak takut apa-apa lagi. Begitupun juga adanya Tjitro dan Sariman; karena keberanian mereka menulis dalam surat-surat kabar dan berpidato dalam kesempatan berbagai vergadering maka tidak lama setelah bergerak, mereka lantas saja dipecat dari pekerjaannya di toko. Sementara bulan, Tjitro dijadikan propagandis P.K. dan mendapatkan gaji dari perkumpulan tersebut. Adapun Sariman menjadi hoofd-redakteur; ia mendapat gaji dari surat kabar Sinar Ra’jat. Begitulah, Sariman seorang anak tukang rumput, yang tidak dapat belajar di sekolahan, masih muda sudah bisa menjadi hoofd-redakteur dari organisasi politik yang penting untuk kepentingan rakyat. Karena mempunyai niat besi, ia bisa termasyhur di seantero Hindia dalam hal kecerdasan dan kepandaiannya membela rakyat. Ia baru berumur 25 tahun sewaktu ia dipilih oleh Kadiroen menjadi gurunya.

Pada suatu sore di waktu Sariman dan istrinya bersama-sama dengan Kadiroen sedang minun teh, maka Kadiroen bercerita bagaimana rasanya orang yang terjepit di antara dua pilihan, yaitu sewaktu Kadiroen menghadapi pengangkatannya sebagai priyayi dan pergerakan P.K. Sehabis bercerita, ia bertanya kepada Sariman, apakah ia pernah juga menghadapi hal yang serupa.

“Kalau terjepit di antara dua pilihan, itu saya belum pernah, tetapi saya pernah terjepit di antara dua kewajiban!” jawab Sariman.

Sudah tentu Kadiroen dan istri Sariman ingin tahu masalah itu. Sariman menurutinya dan menceritakan demikian:

“Sebagaimana kalian semua sudah ketahui, maka tidak lama sesudah saya masuk dalam pergerakan P.K., saya lalu terpilih menjadi penningmeester di cabang G. Sesungguhnya uangnya tidak sedikit, sebab yang tersimpan di bank jumlahnya tidak kurang dari f.2000,-. Sedang yang ada di dalam kas hanya kecil. Di tangan saban hari paling hanya f.100,- Akan tetapi, ketika baru saja saya menjadi penningmeester P.K. serta membantu tulis menulis di surat kabar Sinar Ra’jat, tiba-tiba saya lepas dari pekerjaan di toko. Dan dalam dua bulan saya terpaksa menunggu pembukaan pekerjaan hoofd-redacteur Sinar Ra’jat. Hoofd-redacteur-nya yang lama akan menjadi Presiden dari hoofd-bestuur, yang juga mendapat gaji dari P.K. Waktu itu perkumpulan kita sudah besar, sehingga mengurus dan mengaturnya amat susah dan repot serta memakan waktu, selain itu pekerjaannya juga amat banyak. Karena itu, perlu sekali pemimpin-pemimpin yang independen, seperti misalnya presiden mesti melulu bekerja memimpin P.K. Oleh Algemeene Vergadering, saya dipilih menjadi hoofd-redacteur organisasi, tetapi saya harus menjadi leerling lebih dahulu selama dua bulan, tanpa mendapatkan gaji apa-apa. Karena saya sendiri memang tidak kaya, jadi sudah barang tentu dalam dua bulan itu saya terpaksa menjual atau menggadaikan arloji, rante dan barang-barang lainnya yang dahulunya sedikit demi sedikit bisa saya kumpulkan. Begitulah, dalam dua bulan itu saya hidup miskin seperti seorang pertapa, kekurangan makan, barang dan pakaian habis, tinggal yang dipakai. Mendadak waktu itu ketambahan kesengsaraan pula sebab ibu saya sakit. Wah repot betul. Ibuku minta didatangkan dukun, dan begitulah, ia mendapat pertolongan dukun yang pintar dan baik serta besar pengaruhnya. Tetapi dukun itu menyuruh ibu memakan obat yang aneh sekali, yaitu, ibu saya harus makan buah anggur dan dalam lima jam harus habis satu pon. Kalau sudah memakan pinang dan sirih, tentu dalam tiga hari ibu akan sembuh. Sewaktu dukun itu berkata kepada ibu, ia melihat ibu dengan sorot mata lurus dan tajam dan sangat dekat. Si dukun memberi kepercayaan yang besar pada ibu bahwa obat tadi, pasti akan menyembuhkannya. Saya tahu si dukun akan menyembuhkan ibu dengan cara hipnotis atau “ilmu kepercayaan sejati” sedangkan obat yang aneh itu hanya dibuat syarat semata. Sebagaimana kau tahu, orang sakit juga bisa disembuhkan dengan pertolongan hipnotisme. Begitulah, lalu ibu meminta kepada saya supaya dibelikan buah anggur tersebut. Sudah tentu saya akan senang mengikuti permintaan ibuku, tetapi bagaimana? Sebab saya hanya punya uang f.0,10,- untuk beli makan esok paginya. Juga untuk makan ibu. Sedang saya mau berpuasa, sebab kebetulan hari itu Sabtu sore. Sedang saya hanya tinggal mempunyai kain satu biji, tidak bisa saya gadaikan, sebab rumah pegadaian sudah tutup. Adapun buah anggur waktu itu satu pon harganya harganya f.1,-. Begitulah saya mesti mencari pinjaman pada Tjitro dan orangtuanya. Akan tetapi, mereka juga tidak mempunyai uang, sedangkan saya tidak mempunyai kenalan lain yang dekat rumah ibuku dan bisa memberi pertolongan. Sekarang apa yang mesti saya perbuat? Saya ingat bahwa di tangan saya ada uang lebih dari f.100.- tetapi uang itu milik P.K. yang dipercayakan kepada saya untuk disimpan dengan baik. Jadi, saya tak punya hak untuk mengambilnya meskipun hanya setengah sen pun. Sebaliknya, sakit ibu bertambah keras, saya harus cepat-cepat membelikan obat sebelum tokonya tutup pada Sabtu sore itu. Pada saat itu, di satu sisi saya mesti memenuhi kewajiban membelikan obat kepada ibuku yang sakit keras, tetapi saya tidak punya uang; di sisi lain, ada uang tetapi saya mesti memenuhi kewajibanku; yakni menyimpan uang itu untuk perkumpulan dengan tidak boleh mengambil satu sen pun untuk keperluan diri sendiri. Di satu sisi saya wajib membantu untuk keselamatan jiwa ibu, di sisi lain saya wajib menjaga keselamatan jiwa organisasi. O, bagaimana perasaan hatiku pada saat itu, Saudara Kadiroen. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya terjepit dua kewajiban.”

“Ganti berganti dalam sanubariku berkelahi, menang dan kalah. Maksud yang pertama dan pada saat itu menyuruh ‘tolonglah ibumu, hai anak yang mempunyai kewajiban setia dan mencintai pada ibu dan ambillah f.1,dari kas P.K. untuk membelikan obat itu.’ Sebaliknya, maksud yang lain berkata: ‘Hai penningmeester P.K. yang dipercaya oleh rakyat yang meminta kesetiaanmu. Janganlah kamu nodai kewajibanmu, menyimpan uang untuk menjaga keselamatan jiwa P.K., kamu tidak boleh ambil setengah sen pun untuk keperluan ibumu.’ Saya mau memilih melanggar kewajiban sebagai penniingmeester untuk keperluan kehidupan ibuku, tetapi saya ingat bahwa dalam hal ini saya akan membunuh kewajiban yang dipikulkan oleh saudara-saudara kaum pergerakan yang begitu besar kepercayaannya kepada saya. Saya mau tetap menjaga kewajiban saya sebagai penningmeester, tetapi seolah-olah saya juga membunuh kewajiban kepada ibuku sendiri. Semakin lama saya memikirkan hal itu, hati dan pikiran saya semakin bingung. Saya merasa tidak kuat untuk memihak dan memikul dua beban kewajiban yang menghimpit ini. Dan sebentar timbul ingatan untuk bunuh diri saja. Lebih baik saya mati sendiri daripada seolah-olah saya ‘membunuh ibu’ atau ‘membunuh kewajibanku sebagai penningmeester’. Segeralah saya mengambil pisau belati untuk menusuk mati badan saya sendiri. Tetapi saya urungkan niat itu sebab saya rnendengar teriakan ibu.

‘Duh, Sariman, anakku. Akh, saya merasa sangat sakit … Aduh … aduh, minta minum …’

“Saya lari menemui ibuku, memberinya minum dan ingat bahwa dengan berbuat bunuh diri, saya tidak akan bisa membelikan obat pada ibu, yang juga bisa membikin matinya juga. Sedang dengan kematian saya pun, perkumpulan P.K. juga tidak akan terbantu. Ya, kasnya malahan akan semakin kusut sebab saya tidak bisa menyerahkan kepada penningmeester yang akan menggantikan saya dengan benar dan rapi. Tangisan ibu sudah mendinginkan pikiran saya yang sedang kalut. Saya menjadi sedikit bersabar dan lalu bisa memikirkan dengan tenang. Saat itu jam setengah enam. Sedang jam sembilan toko buah anggur akan tutup. Apa yang harus saya perbuat? Sahabat yang kira-kira akan bisa memberikan pinjaman, rumahnya jauh dan waktunya tak akan cukup jika saya minta tolong kepadanya. Sahabat-sahabat yang dekat, semuanya juga miskin, sedangkan orang-orang yang sedikit mampu di dekat tidak saya kenal. Tetapi sore itu, saya harus mendapatkan uang dengan jalan yang sah dan halal. Nah, saya dapat usaha, saya mau mengemis. Nah, Saudara Kadiroen, memang hari itu saya berpakaian robek-robek, bisa untuk mengemis. Sebab hanya dengan usaha itu jalan yang halal. Saya percaya, bahwa dalam keadaan terjepit seperti yang saya alami waktu itu, lebih baik kita mengemis daripada mencuri uang perkumpulan yang dipercayakan kepada saya. Lebih baik, manusia yang sudah kehabisan jalan itu mengemis. Meski mengemis itu akan membikin malu orang banyak yang melihat, namun hemat saya lebih baik begitu daripada mencuri uang perkumpulan yang dipercayakan kepadanya. Meskipun jika mencuri tidak akan diketahui oleh seorang pun, dan hanya mencuri dalam satu jam misalnya dan nantinya akan dikembalikan lagi. Begitulah, maka saya lalu berjalan mondar-mandir di muka rumah-rumah orang-orang di sini. Di sini diusir, di sana di beri 1 sen, 3,2 atau setengah sen. Di tempat lain diusir oleh anjing-anjing pemilik rumah. Jam delapan. Kurang satu jam saya menghitung pendapatan saya. Oh, baru dapat f.0,15,-. Hati saya mulai bingung lagi. Tetapi lalu saya ingat kepada Tuhan Allah dan di situ lantas saya duduk di tanah di tepi jalan, serta beberapa menit berdoa dengan sungguh-sungguh meminta pertolongan Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Sebuah auto berjalan melewati saya, memaksa saya untuk berdiri lagi. Dan dalam auto itu saya melihat orang-orang yang kaya berpakaian mewah sedang tertawa-tawa, dengan tidak ingat atau mau melihat pada si miskin. Di muka saya ada rumah seorang haji yang sedikit kaya, saya tidak kenal kepadanya. Tetapi kesulitan memberikan keberanian kepadaku, dan saya memberanikan diri untuk mengemis kepadanya uang sebesar f.0,85, serta saya menerangkan apa sebabnya berani mengemis begitu banyak. Kesusahan memaksa saya mengeluh! Tuan Haji tersebut waktu mendengar cerita saya mulai menjadi heran. Lama ia tidak menjawab dan hanya melihat dengan tajam ke mukaku. Maka sekonyong-konyong, ia berkata:

‘Astaga! Saudara Sariman, penningrrreester P.K. Saudara? Saya juga anggota P.K. meskipun Saudara tidak mengenali saya, karena banyaknya anggota yang beribu-ribu, tetapi saya kenal kepadamu. Rupanya sudah jelas, O, Saudara. Tetapi apa sebabnya kau mengemis begini? Ceritakanlah dengan hati ikhlas dan pandanglah saya ini sebagai saudaramu sendiri.’

“Pada saat itu maka hati saya menjadi bahagia dan senangnya sebesar Gunung Himalaya. Doa saya kepada Tuhan Allah sepertinya di dengar oleh Gusti Yang Mahakuasa itu, sedangkan saudara Haji tersebut oleh Gusti Kita, dijadikan alat untuk menolong saya. Sesungguhnya, seorang yang dipilih oleh Tuhan Allah menjadi wakilnya untuk menolong si susah, tentu akan mendapat rahmat Tuhan Allah pada waktunya sendiri.”

“Sudah tentu saya lalu terpaksa bercerita kepada saudara tersebut dengan pendek tentang semua masalah saya. Dan sebentar saja menaikkan saya ke kereta untuk membelikan anggur, guna obat ibuku. LaIu saya mendoakan keselamatan kepada saudara Haji tersebut sebagai tanda terima kasih.”

“Jam sembilan persis, ibu saya sudah dapat obat anggur itu. Sedang seterusnya saya melayani dan menjaga ibu sambil memohon kepada Tuhan Allah supaya ibuku lekas sembuh. Jam dua malam maka buah anggur tadi sudah habis dimakan, sebagaimana nasihat dukun. Dan ibuku lalu bisa menginang. Dua hari kemudian ibuku bisa sembuh dan lalu bisa jualan nasi sayur lagi. Hati dan perasaan saya menjadi senang dan tenteram. Ya, saya merasa seperti baru sekali ini merasakan nikmatnya surga batin. Terjepit di antara dua kewajiban, digoda setan pencuri pun saya bisa tetap tebal iman dan mau serta terus bisa berjalan dalam kebaikan. Dengan pertolongan Tuhan Allah, saya mendapat kekuatan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban saya. O, Saudara, siapa yang tidak akan merasakan nikmatnya kesenangan batin atau nikmat jiwa kalau mendapatkan kemenangan melawan nafsu jahat dan bisa berbuat baik juga ketika ada bahaya yang besar sekalipun. Tuhan Allah pun tidak lupa memberi ganjaran atau anugerah kepada yang baik, dan tentunya menghukum pada jiwa manusia-manusia yang jahat. Saya sudah merasakan dan mengalaminya sendiri hal-hal itu. Dan karena itu, sekarang saya terus-menerus berusaha keras melawan nafsu saya yang busuk dan selalu berusaha untuk berbuat baik. Hal yang mana telah memberikan kesenangan jiwa pada hari-hari saya. Kesenangan sejati tempatnya ada di dalam kebaikan hati, sedang semua godaan atau rintangan bagi niat hati yang baik, sebagaimana yang tadi sudah saya ceritakan itu seolah-olah hanya buat menambah besarnya kesenangan sejati itu. Sesudah godaan atau rintangan dilawan sampai tidak bisa menarik manusia dalam kejahatan maka tiba waktunya Tuhan Allah memberikan anugerah kepada manusia yang dicoba, tetapi tetap kuat dan terus melawan nafsu yang jahat. Anugerah itu, yang berupa kesenangan batin atau kenikmatan jiwa, yang mendatangkan kesenangan, mendatangkan nikmat surga untuk jiwa manusia sesudah ditimpa kesusahan dan kekesukaran.”

Begitulah, Sariman menerangkan keterjepitan di antara dua kewajiban tadi. Sedang Kadiroen mendengarkan betul. Lalu untuk sementara waktu mereka semua diam, seolah-olah semua meneruskan sendiri cerita itu dalam pikiran masing-masing. Pada saat tidak ada yang berbicara tadi, kesunyian itu diputus dengan pembicaraan Kadiroen:

“Saudara Sariman, tadi kamu cerita perihal ibumu, sekarang ada di mana?”

“Meninggal dunia sesudah saya kawin!” jawab Sariman dengan perasaan sedih. Kadiroen jadi menyesal telah menanyakan hal itu. Oleh karena itu, Kadiroen lalu mengalihkan pada pembicaraan lain. Tidak antara lama Kadiroen berkata:

“Saudara Sariman, kamu tidak saja luas pandangannya, pintar dan bijaksana, cerdas serta mempunyai niat sekuat baja dalam semua hal yang baik. Tetapi juga nyata dapat dipercaya rakyat. Karena itu, nama baikmu termasyhur harum di seantero negeri, dan kamu dihormati oleh banyak orang.”

Sariman menjadi tertawa. Sedang istrinya berkata sambil tertawa juga:

“O, Kanda, Saudara Kadiroen mau mengambil hati dengan memuji kanda sebab mau meminta sesuatu?”

Mendengar hal itu, Kadiroen juga tertawa. Lalu ketiganya tertawa dengan sangat ramai. Tetapi sesaat kemudian Sariman diam dan memandang tajam kepada Kadiroen seraya bertanya:

“Apa Saudara Kadiroen mau mencari nama harum, kemasyhuran dan kehormatan?”

“O, tidak!” jawab Kadiroen.

Sariman lantas berkata pula:

“Sebaiknya begitu Saudara. Sebab saya juga tidak mencari tiga perkara itu dan memang tidak bisa didapat atau dicari. Orang yang mencari nama harum akan menjadi sombong, besar kepala, congkak dan sebagainya. Yang mencari kemasyhuran akan menjadi penakut dalam pergerakan. Tidak mempunyai pendirian yang tetap. Hanya mondar-mandir ikut yang kuat supaya jangan dikatakan busuk oleh pihak yang jahat atau pihak yang baik. Orang yang mencari kehormatan akan menjadi penjilat berhadapan dengan orang berpangkat di atasnya dan menindas, minta dianggap seperti raja oleh orang yang ada di bawahnya. Mencari tiga perkara itu akan menuntut nafsu untuk kepentingan diri sendiri. Dan siapa yang mau menjadi budak nafsu untuk kepentingan diri sendiri, tentu tidak akan mendapatkan apa yang ia cari. Tetapi hanya akan menjadi orang yang selalu ingat pada dirinya sendiri. Itulah yang akhirnya memberi orang sifat sombong, penakut dan penjilat. Dan menjadikan hinanya sendiri di mata orang-orang yang baik. Meskipun kadang-kadang ditakuti (tidak dicintai) oleh si bodoh yang ada di bawahnya. Dan disenangi, tetapi tak dihormati oleh si busuk yang ada di atasnya. Orang yang mencari kemasyhuran, kehormatan dan nama yang harum, akan tidak bisa mendapatkan yang sejati. Meskipun mereka kadang-kadang bisa mendapatkan hal-hal itu yang palsu. Artinya ia menurut kehendaknya sendiri dan menuruti kehendak semua orang yang sudah rusak moralnya. Meski katanya sudah dihormati, sudah termasyhur dan harum namanya, tetapi perkara palsu serupa itu, tidak akan bisa langgeng, hanya bisa bertahan beberapa waktu dalam hidupnya. Sedang jika ia sudah meninggal dunia namanya akan rusak dan busuk, mendapat hinaan umum dan sebagainya. Sebab mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menghukum dan menakuti serta membujuk pada orang-orang yang dikenalnya atau yang berhubungan dengan mereka. Semua hal yang palsu tidak bisa langgeng.”

“Nama harus sejati, kemasyhuran sejati dan kehormatan sejati akan langgeng dan hidup terus-menerus meski orangnya sudah mati. Artinya, manusia yang serupa itu akan dihargai oleh orang lain dan selalu diingatnya. Kuburannya sekalipun masih dikunjungi oleh beribu-ribu orang. Namanya pun hidup dalam hikayat yang bercahaya. Pendeknya, mereka boleh dibilang hidup mulia sesudah matinya dan menurut kebanyakan orang yang mempunyai ilmu gaib, orang yang hidup mulia sesudah mati itu artinya mendapat surga akhirat. Nama harum sejati, kemasyhuran sejati dan kehormatan sejati ialah cahaya jiwa. Manusia hanya bisa bercahaya kalau mendapat bintang dari Tuhan Allah, yaitu bintang yang dianugerahkan oleh Tuhan Allah kepada manusia. Dan bintang itu oleh kebanyakan orang Islam dinamakan nur. Oleh agama Jawa kuno, dinamakan wahyu. Kita manusia bisa mendapatkan anugerah bintang jiwa itu, tetapi jiwa kita mesti membuktikan lebih dahulu bahwa memang sudah adil kita mendapatkan bintang atau nur itu. Bagaimana bisa membuktikan, tidak lain hanya melalui jalan berbuat baik buat beribu-ribu manusia yang ada dalam kesusahan, kesukaran, kebodohan, penindasan atau kemiskinan. Sudah tentu manusia yang mau berbuat baik buat semua manusia lain itu, mesti memperbaiki batinnya lebih dahulu. Hanya jika memperbaiki batin tersebut dilakukan sebagai tujuan penghabisan, tentu ia lalu bisa hidup selamat, senang dan tenteram. Tetapi belum cukup buat mendapatkan nur.”

“Yang dinamakan batin yang baik yaitu tidak suka berbuat jahat, tidak suka merusak manusia lain serta adat istiadat berlaku sebagaimana mestinya. Orang yang begitu itu namanya ‘baik biasa’ dan mereka tidak menyusahkan manusia lain. Tetapi juga tidak menyenangkan beribu-ribu manusia. Itulah sebabnya mereka belum bisa mendapatkan nur. Sesudah batinnya sendiri menjadi baik maka manusia mesti lalu memperbaiki batin orang-orang lain yang masih belum sempurna, yaitu perbuatan yang dikatakan ‘menyenangkan atau menolong sesama manusia.’ Caranya menolong atau menyenangkan ada berbagai cara, ada yang melalui jalan jiwa atau jalan utama atau juga jalan gaib, yaitu memberi tahu kepada beratus-ratus orang bahwa semua orang mesti mengetahui rahasia agama atau mesti mengikuti kehendak Tuhan Allah dengan maksud supaya hidup kita tidak berdosa, kalau mereka ingin mendapatkan kesenangan batin. Orang yang ahli memberi tahu jalan semacam itu dinamakan wali atau guru agama, kyai dan pendeta. Kalau mereka sudah menyatakan dan membuktikan perbuatannya dengan memberikan pelajaran yang utama itu sungguh-sungguh, semata bertujuan untuk memuliakan orang banyak sehingga beribu-ribu orang bisa merasakan nikmatnya pengajarannya, mereka akan mendapatkan nur dan jiwa mereka menjadi bercahaya. Artinya, mereka menjadi masyhur, mendapat nama harum dan dipuji serta dihormati oleh banyak orang. Ya, kuburannya pun setelah beratus-ratus tahun ia mati masih selalu dikunjungi orang yang meminta pertolongan, satu bukti bahwa ia hidup terus sesudah mati. Jalan yang lain lagi ialah:

“Memberi pertolongan kepada beribu-ribu manusia yang hidup dalam penindasan. Entah penindasan harta benda atau kekayaan negerinya. Manusia yang beribu-ribu itu atau manusia yang tertindas nama dan kehormatannva sebagai manusia adalah yang ditindas oleh orang lain yang hanya sedikit jumlahnya. Manusia yang membuktikan dengan membantu rakyat yang serupa itu juga bisa mendapatkan nur. Seperti di negeri Belanda, Prins Willem van Oranye Nassau; di tanah Jawa, Diponegoro dan masih banyak lagi contoh-contohnya. Ini penolong manusia namanya. Mereka juga hidup sesudah mati meskipun kuburannya tidak dikunjungi manusia. Pendek kata, jalannya membuktikan kebaikan yaitu: ‘menolong, membantu, menyenangkan, dan memuliakan beribu-ribu manusia atau rakyat.’ Adapun kekuatan manusia untuk berbuat baik seperti itu juga berlain-lainan. Sehingga besarnya nur atau cahaya nur yang dianugerahkan oleh Tuhan Allah pada manusia yang baik itu juga akan berlain-lainan. Bertambah besar kehendak dan kepandaian manusia yang berbuat baik sebagaimana tadi sudah saya terangkan, bertambah besar dan terang pula cahaya nur yang ia punyai. Dan secara lahiriah ia mempunyai nama bertambah harum. Ia masyhur dan semakin bertambah dihormati orang banyak. Bagaimanapun nur itu adalah anugerah Tuhan Allah dan tidak bisa dicari-cari, tetapi didapat sendiri setelah membuktikan bahwa si beruntung itu memang sudah adil mendapatkan anugerah itu. Begitupun terjadi pada siapa saja yang dengan hati tulus dan terus-menerus membela dengan jalan apa saja kepada rakyat Hindia yang sedang ada dalam kemelaratan, kemiskinan, kebingungan dan kebodohan dan kehinaan dalam zaman kita sekarang ini. O, Saudaraku Kadiroen, akhirnya pada waktunya sendiri, si pembela rakyat itu akan mendapaikan anugerah nur, meskipun ia tidak mencari atau menginginkan itu.”

Begitulah, maka Sariman berbicara sebagai seorang guru sejati yang memberikan jalan utama kepada Kadiroen. Kata-kata Sariman, meski hanya disambi dengan minum teh, sangat bermanfaat bagi Kadiroen. Oleh karena itu, Sariman berpengaruh besar atas Kadiroen dan menjadi gurunya.

Pada suatu hari Sariman dan istrinya tertawa ramai sekali. Karena tidak ada orang lain, mereka berciuman sebagaimana layaknya lelaki-perempuan yang saling mencintai betul-betul satu dengan yang lainnya. Tiba-tiba Kadiroen datang, tetapi melihat Sariman dan istrinya sedang tertawa, maka Kadiroen segera menarik diri dan duduk di bagian lain dari rumah itu yang tidak dilihat oleh Sariman. Begitupun Kadiroen juga tidak bisa melihat Sariman.

Sariman terkejut melihat sahabatnya datang pada waktu yang tak terduga-duga. Tetapi ia menjadi heran, mengapa Kadiroen sangat tergesa-gesa menarik diri. Sedang biasanya Kadiroen merasa senang kalau ia berkumpul bertiga. Sariman ingin tahu sebabnya. Karena itu, ia segera menghentikan ketawanya dengan istrinya dan datang menemui Kadiroen. Adapun waktu itu Kadiroen hanya duduk diam. Matanya terbuka tetapi seperti tidak melihat apa-apa. Kupingnya terbuka tetapi seakan tuli. Kadiroen tidak tahu kalau Sariman datang menemuinya. Karena Kadiroen sedang memikirkan hal yang membunuh keinginan lahiriahnya dan hanya memusatkan kepada jiwanya dalam harapan dan cita-citanya yang amat besar. Dengan suara pelan Sariman memanggil: “Kadiroen!” Tetapi Sariman tidak mendapat jawaban. Sariman menjadi heran, tetapi begitu cepat ia bisa mengira-ngira apa sebab Kadiroen berbuat aneh begitu. Sariman ingin mencocokkan dugaannya dengan kejadian yang sebenarnya. Oleh karena itu, Sariman mendekati Kadiroen dengan pelan-pelan. Dan sambil berdiri di belakangnya, ia berbisik-bisik, “Ia yang paling ayu sendiri.”

“O…. iya…,” jawab Kadiroen dengan pelan seperti tergagap. Tetapi Kadiroen sepertinya terkejut oleh perkataannya sendiri. Maka pikiran dan jiwanya kembali sebagaimana adanya. Dan sedikit malu dan bingung la melihat Sariman dan bertanya:

“E, Saudara Sariman, saya tidak tahu apa-apa?”

Sariman melihat Kadiroen dengan sorot mata yang lurus dan tajam ke mata Kadiroen. Dan dengan perkataan yang tulus hati dan sedalam-dalamnya, maka ia berkata: “Saudara, kau mempunyai rahasia yang kau simpan sendiri yang tidak pernah kau ceritakan kepada siapa pun. Bahkan kepada saya yang sudah menjadi sahabat secara lahir dan batin, kau tidak percayakan rahasiamu.” Kadiroen menjadi setengah ketawa dan sepertinya ia mau menyembunyikan perasaan batinnya. Dan ia pun lalu menjawab:

“Ah, rahasia apa?”

“Kamu mencintai seorang perempuan?” tanya Sariman.

Kadiroen tidak menjawab dan Sariman cepat menyambung perkataannya.

“Cinta, sewaktu kamu menjadi Asisten Wedono, tetapi perempuan itu telah mempunyai suami?”

Kadiroen menjadi amat terkejut dan berkata:

“Saudara Sariman, siapa yang memberitahukan kamu mengenai rahasiaku itu? Memang itulah rahasiaku dan saya mau menyimpan itu sampai mati. Tetapi sepertinya kau mempunyai hati dan pikiran yang tajam luar biasa. Maka kamu sekarang bisa mengetahui rahasia jiwaku. Begitulah maka kamu sekarang sudah membuka guci wasiatku.”

“Begitukah perkiraanmu Saudara Kadiroen? Ingatlah, seorang sahabat sejati bisa awas dan bisa tahu kekuatan dan kelemahan sahabatnya. Saya sudah lama memikirkan, apa sebabnya kamu sering berduka cita. Kamu kelihatan sering berpikir sedemikian rupa, sehingga kata orang kamu kelihatan tidur, meskipun kamu bangun. Selain itu, kamu sering sakit kepala dan gampang sakit badan juga. Lagian, kamu sering lupaan. Pasal sering sakit kepala dan gampang sakit badan itu memang sering diderita oleh seorang lelaki yang sudah waktunya berhubungan dengan perempuan, tetapi tidak mau berhubungan. Mengenai masalahmu tidak suka kawin, saya tahu, kamu seorang manusia yang baik-baik. Dan sudah tentu karena kebaikanmu itu, kamu tidak mau berhubungan dengan perempuan-perempuan hina sebagaimana kebanyakan pemuda yang berbuat dosa itu. Tetapi kamu tidak mau kawin juga meskipun sudah berpangkat wedono dan umurmu sudah lebih dari cukup. Itulah yang sering menjadi pikiranku. Saudara Kadiroen, barusan tadi kamu menunjukkan rahasiamu, tidak secara kamu sengaja. Di mana jiwa manusiamu penuh dengan rahasia-rahasia, di situ tingkah lakumu menjadi cermin jiwamu itu. Saya sedang tertawa-tawa dengan adikmu, kamu datang dan berlari lagi, serta seperti tiduran lagi, meskipun kamu bangun. Perbuatanmu yang aneh itu sudah saya hubungkan dengan halnya saya tertawa-tawa dengan istriku. Dan saya sambung lagi dengan dengan halnya kamu tidak mau kawin. Dan segeralah saya dapat menduga bahwa kamu sudah menaruh cinta. Adapun barusan kamu mengingat-ingat lagi orang yang kau cintai itu sebab kamu telah melihat saya sedang bersenang-senang tertawa dengan istriku. Saya punya dugaan itu dan sudah saya cocokkan ketika sambil berdiri di belakangmu saya berbisik; “la yang paling ayu sendiri.” Kamu menjawab “ya” seperti sedang bermimpi. Itu sudah menjadi bukti bahwa kamu sedang tergoda gadis yang kamu cintai. Lalu saya sudah bertanya dalam hatiku sendiri, sejak kapan Kadiroen mulai tergoda cinta itu? Dan saya bisa berpikir, di Hindia, kebanyakan pemuda yang sudah berumur 20 tahun sampai paling lambat 25 tahun, biasanya tergila-gila, jatuh cinta pada seorang perempuan. Pada saat umur itu, kamu berpangkat asisten wedono dan sudah naik pangkat lagi. Jadi, saya lalu mengira-ngira, kamu mulai menaruh cinta sewaktu kamu berpangkat asisten wedono. Dan mengingat pula pangkatmu, wajahmu serta keadaanmu, maka umpamanya kamu waktu itu mencintai seorang gadis, tentulah kamu bisa kawin. Tetapi kenyataannya kamu tidak kawin, jadi timbullah dugaanku, bahwa orang yang kamu cintai itu sudah mempunvai lelaki. Untuk mencocokkan dugaanku itu maka saya berbicara seolah-olah sudah tahu betul, supaya kalau kejadian sesungguhnya memang begitu, kamu menjadi terkejut dan mengakui. Dalam bahasa Jawa dibilang gedak. Begitulah, kamu saya gedak lalu sungguh mengaku. Lihatlah Saudara Kadiroen, sesungguhnya saya tidak mempunyai hati dan ingatan yang tajam luar biasa. Tetapi saya hanya menarik dugaan dari beberapa hal yang saya kumpulkan. Dan dugaan itu bisa sah kalau sudah ada bukti-buktinya. Untuk orang yang suka dan sering memikir-mikir, maka mencari bukti atau mencocokkan dugaan itu dengan keadaan yang sesungguhnya itu amat gampang!”

“Tetapi sekarang lain perkara, Saudara Kadiroen. Sungguh saya tidak ingin ikut campur dalam urusan jiwamu itu andai kata saya tidak mencintai dan bersahabat karib denganmu. Ketahuilah, seorang lelaki yang sudah sampai umurnya untuk berhubungan dengan seorang perempuan itu, tetapi tidak mau melakukannya maka sama halnya menyalahi kodrat. Lalu ia sering sakit-sakitan, pelupa dan cepat menjadi tua dan tidak akan mempunyai kekuatan yang cukup untuk menggapai tujuan hidup. Oleh karena itu, pada waktunya maka seorang lelaki harus kawin. Begitupun jika kamu mau turut membela rakyat terus-menerus, maka kamu mesti kawin. Saya tidak sepakat jika kamu mau berhubungan dengan perempuan-perempuan hina yang celaka itu. Tetapi saya memberi nasihat kepadamu, kawinlah,” jawab Sariman.

Mendengar hal itu, Kadiroen menjadi sedih hati dan dengan pendek serta menangis dalam hatinya ia menjawab:

“Tidak bisa Saudara, saya hanya mencintai sekali saja. Bahwa percintaan saya itu tidak bisa lulus karena ada lelaki lain yang mendahului hak, maka itulah celaka saya. Barangkali sudah kehendak Tuhan Allah bahwa jiwaku ini harus menanggung sengsara yang serupa ini.” “Tidak begitu, Saudara Kadiroen!” kata Sariman. “Percayalah kepada Gusti Allah Yang Maha belas kasihan kepada manusia yang baik. Dan ia tentunya akan menolong kepada manusia yang sedang mendapat kesusahan itu, asal saja manusia itu mau berusaha. Juga dalam masalahmu ini masih bisa diusahakan. Menurut pendapat saya, percintaan itu ada dua warna dan jalannya juga ada dua rupa. Ada yang terbawa oleh cita-cita perjaka, ketika ia melihat seorang perempuan, yaitu cinta sejati yang asalnya melihat bayangannya sendiri dalam diri perempuan itu. Dan ada juga percintaan yang karena belas kasihan jembatan ke negeri cinta. Jadi, kalau kamu begitu celaka dan tidak bisa menggapai cinta pertamamu, kawinlah dengan seorang perempuan yang bisa menarik belas kasihanmu dan akhirnya kau juga bisa mencintai orang itu juga. Tetapi Saudara Kadiroen, saya ingin membantumu dengan usaha sebisa-bisa saya. Karena itu, ceritakanlah masalah percintaanmu dahulu itu.”

Kadiroen mendengarkan Sariman yang lebih luas pandangannya dalam semua hal. Lalu ia mau menceritakan apa yang sudah diminta Sariman. Begitulah, maka Sariman bisa mengerti sejarahnya Ardinah sebagaimana tersebut dalam bagian dua di buku ini. Lalu Sariman meminta izin kepada Kadiroen untuk memusyawarahkan masalah yang sukar itu dengan istrinya supaya Sariman sekalian bisa berusaha memberi pertolongan yang sebisanya. Kadiroen sepakat.

BAB VII

Pembela Rakyat Mulai Mendapat Hadiah

Sariman dan istrinya baru saja datang dari bepergian verlof. Sariman duduk di depan rumah sambil menunggu kedatangan Kadiroen yang waktu itu sedang mewakili pekerjaannya sebagai hoofd-redacteur Sinar Ra’jat. Tidak berapa lama, yang ditunggu pun datang. Keduanya lalu saling berjabat tangan serta menunjukkan kebahagiaan masing-masing, karena mereka bisa bertemu lagi dengan selamat. Sariman berkata sambil tertawa:

“Saudara Kadiroen, saya membawa oleh-oleh buat kamu dari kepergian saya. Tetapi kamu sekarang belum boleh mengambil itu kalau kamu tidak mau berjanji mau kawin dengan Ardinah kekasihmu, jika Ardinah sudah pisah secara sah dengan suaminya.”

Dengan tertawa juga Kadiroen menjawab:

“Saya minta oleh-olehmu, sekalian juga minta kawin dengan Ardinah. Kalau kau bisa membebaskan Ardinahku dari suaminya yang menyusahkan Ardinahku itu.”

Keduanya lalu menuju ke belakang. Tetapi baru datang ke pintu belakang, Kadiroen terkejut dan wajahnya mendadak menjadi pucat sebentar. Sebentar kemudian menjadi merah padam, sedang kata-katanya penuh makna cinta dan hatinya gembira, tetapi bercampur sedih sebab gadis yang dicintai belum bebas. Maka Kadiroen berkata sambil mengelus dadanya “Ardinah!”

Memang, waktu itu, Ardinah ada di situ. Dan gadis itu juga menjadi merah padam wajahnya. Sedang ia berkata dengan amat senang bercampur rasa malu, “O, Tuanku!”

Sariman dan istrinya melihat Kadiroen dan Ardinah menjadi senang dalam hati. Sementara itu Sariman berteriak sambil tertawa:

“E, memang sudah jodoh tetapi jangan tergesa-gesa dulu ya! Lebih dahulu harus disahkan oleh penghulu. Sekarang kita berempat mesti vergadering dahulu. Marilah kita sama-sama duduk dan berembuk.”

Begitulah, maka keempat orang tadi bersama-sama duduk melingkari meja persegi empat dan Kadiroen bertanya kepada Sariman dengan malu, sebentar-sebentar pandangan matanya melirik ke arah Ardinah.

“Saudara Sariman, saya tidak mengerti sama sekali, bagaimana duduk perkaranya ini?”

Istri Sariman menjawab dengan tertawa.

“Selamanya, orang yang sedang mabuk cinta akan kehilangan akal dan menjadi bodoh.”

Tertawanya itu semakin menambah malunya Kadiroen sebab waktu itu Ardinah ikut setengah tertawa. Selesai tertawa, Sariman menyambung.

“Begini Saudara Kadiroen, sewaktu kamu menceritakan rahasia percintaanmu itu, maka kamu menerangkan kebaikan Ardinah lahir dan batin … E, jangan menjadi merah Saudara Ardinah!” kata Sariman memotong ceritanya dengan tertawa sambil melihat Ardinah. Sekarang Ardinah ganti menjadi malu sebab Kadiroen ikut setengah tertawa.

“Sekarang saya teruskan ceritaku!” kata Sariman. “Selain dari itu, kamu, Saudara Kadiroen sudah berkata bahwa Ardinah sudah melepas kamu dari kewajibanmu menolong istri tua Kromo Nenggolo. Ardinah sudah menjelaskan bahwa ia memiliki cara tersendiri untuk menolong itu. Hal itu saya jadikan pusat perhatianku, guna berusaha membantu hubungan percintaanmu. Saya lalu berpendapat bahwa Ardinah – mengingat watak Ardinah sebagaimana dahulu sudah kamu jelaskan – pasti akan bertindak jika ia mempunyai niat. Jadi, sewaktu kamu pindah dari Onderdistrik Gunung Ayu sebab kamu naik pangkat menjadi wedono, maka mestinya Ardinah sudah bertindak sedemikian rupa, sehingga ia dicerai oleh Kromo Nenggolo. Sebab hanya dengan cara itu, ia bisa menolong istri tua Kromo Nenggolo yang menderita batin itu. Begitulah pendapat saya. Maka saya bersama istri saya minta verlof guna membuktikan pendapat saya itu, apakah cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Saya tidak mengatakannya padamu agar kamu tidak susah seandainya kepergian saya ini tidak membawa hasil.

Karena di Desa Meloko sudah ada P.K., maka dengan gampang saya bisa mengetahui keadaan Ardinah di sana. Saudara-saudara anggota P.K. banyak yang kenal kepada saya dan suka menolong. Dengan pertolongan saudara-saudara yang percaya kepada saya itu, maka saya bisa mendapatkan Ardinah. Istri saya lalu berkenalan dengannya. Selanjutnya, usaha-usaha yang lain saya serahkan kepada istri saya. Oleh karena itu, istri saya akan menyambung pembicaraanku ini.”

Istri Sariman meneruskan.

“Begini, sesudah saya berkenalan dengan Ardinah, maka saya berbuat sedemikian rupa sehingga Ardinah menaruh kepercayaan kepada saya. Sesudah saya dipercaya, lalu saya bisa meminta keterangan yang bermacam-macam. Pada saat itu, maka saya mendapatkan cerita, bahwa betul ia dulunya menjadi istri Kromo Nenggolo. Tetapi sekarang sudah dicerai dan diambil anak oleh kamitua desanya. Kamitua itu, keduanya sudah kakek-nenek, tetapi mereka tidak mempunyai anak sama sekali. Karena sewaktu Saudari Ardinah dicerai oleh Kromo Nenggolo, ia tidak mempunyai sanak famili sama sekali, kamitua itu menjadi kasihan kepada Saudari Ardinah. Maka ia diambil menjadi anak dan menjadi pembantu utama dalam keIuarga kakek-nenek itu. Sudah beberapa kali ada pemuda melamar Ardinah, tetapi Ardinah tidak mau kawin lagi dan ia akan melulu melayani ayah ibu tua yang amat baik dengan anak angkatnya itu. Ardinah menjadi begitu besar kepercayaannya kepada saya sehingga ia bilang bahwa meskipun secara lahiriah ia pernah menjadi istri Kromo Nenggolo, tetapi selamanya ia menolak suaminya itu. Sehingga sampai sekarang Ardinah menyatakan bahwa ia masih seorang gadis yang masih suci dan kuat melawan nafsu. Apa sebabnya ia melawan, kamu pun, Saudara Kadiroen juga sudah tahu. Selamanya Ardinah disiksa oleh suaminya, tetapi selamanya juga ia berniat menolong istri tuanya dan selalu minta cerai. Tetapi si lelaki tidak mau menuruti, sedang Ardinah tidak mendapatkan jalan pertolongan bagaimana ia bisa melepaskan diri dari Kromo Nenggolo. Sudah tentu cara yang dikendaki Ardinah itu adalah cara yang sah dan baik. Sesudah Ardinah bertemu denganmu, Kadiroen, maka Ardinah kebetulan baru mengetahui dari omong-omong penduduk Meloko bahwa si Lurah, suaminya, adalah seorang pemeras dan penindas rakyat, sebab sering meminta bayaran yang luar biasa kepada penduduk yang minta pertolongannya. Meskipun sesungguhnya pertolongan lurah itu merupakan kewajiban dari pangkat dan pekerjaannya. Bengisnya lurah itu kepada penduduk desa memang sudah keterlaluan, sehingga rakyat hidup dalam kemelaratan dan kesusahan, sedang si lurah sendiri menjadi amat kaya. Lurah Kromo Nenggolo itu di desanya adalah orang paling pintar dan paling kuat sendiri. Ditambah karena pangkatnya sebagai lurah, ia memang berkuasa. Karenanya sudah tentu tidak ada seorang pun yang berani melawan dia.”

“Ya, hal itu saya sudah tahu dan sava telah menyerahkan urusan ini lebih jauh kepada pengganti saya,” kata Kadiroen memotong pembicaraan istri Sariman.

lstri Sariman mclanjutkan cerita.

“Baik. Tetapi, meskipun tidak ada yang berani melawan dan berani mengadukan kejahatan lurah terhadap penduduk kepada Asisten Wedono atau para pembesar-pembesar negeri yang berwajib lainnya, di desa itu, di belakang lurah, banyak yang berkata benci. Sehingga Ardinah ikut bisa mendengarnya dan hatinya bertambah marah kepada suaminya. Ardinah lalu tahu bahwa lurah tadi, bukan saja seorang yang suka membikin sakit hatinya istri tua, bukan saja seorang penindas istri muda, tetapi juga seorang penindas dan pemeras rakyat. Dalam hati Ardinah menjadi sangat marah. Dan tertarik atas kehendaknya untuk menolong istri tua dan menolong rakyat yang tertindas dan terperas itu. Maka Ardinah selalu berpikir keras buat mencari cara memberi pelajaran kepada suaminya yang amat busuk itu. Niatan untuk membela kepentingan orang banyak telah memberi keberanian yang luar biasa kepada si gadis Ardinah. Pada waktu asisten wedono yang baru mulai menjabat pangkatnya, maka Ardinah mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi atas kejahatan lurah. Setelah mendapat bukti-bukti yang cukup, maka, Ardinah bertamu di rumah tiap-tiap penduduk desa, serta berjanji akan memimpin orang banyak untuk mengadukan kejahatan suaminya di hadapan Tuan Asisten Wedono. Orang-orang desa serentak mengetahui bahwa istri muda lurah adalah seorang perempuan yang berani melawan lurahnya. Maka orang-orang desa tadi lalu terbuka pikirannya sehingga menjadi berani juga. Begitulah, pada suatu hari berpuluh-puluh orang desa berkumpul dan dipimpin Ardinah, beramai-ramai menghadap pada Tuan Asisten Wedono. Seperti Srikandi dalam peperangan, maka Ardinah menuduh dengan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kuat guna menjatuhkan lakinya. Ia meminta dipecatnya si lurah dari jabatannya itu. Karena Asisten Wedono tadi juga sudah mengetahui kejahatan Kromo Nenggolo, maka sudah tentu ia sepakat saja. Dari perkara itu Ardinah menjadi tahu, biasanya penduduk desa baru berani mengadukan lurahnya di hadapan pembesar jika sudah ada lebih dari separo jumlah penduduk yang bersatu mempunyai niat melawan lurahnya itu.

“Adapun tidak lama setelah perkara Kromo Nenggolo ditindaklanjuti oleh Tuan Patih, Kontrolir dan sebagainya, maka sungguhlah si jahat itu mendapat surat pemecatan dari residen. Bagaimana kegembiraan penduduk, itu pun tak usah saya jelaskan pula.

“Tetapi bagaimana marah dan bencinya Kromo Nenggolo kepada Ardinah pun ada batas-batasnya pula. Sudah barang tentu sejak Ardinah mengajak penduduk desa untuk menggulingkan suaminya, ia tiap hari selalu siap sedia dan berjaga-jaga untuk berperang melawan Kromo Nenggolo.

“Sebagai senjata perang, maka setiap hari Ardinah menyimpan sekantong abu yang ia selipkan di dadanya. Setelah semua orang pulang dari kantor onderdistrik, maka di rumah Kromo Nenggolo ada pertikaian ramai antara suami dan istri mudanya. Ardinah berkata; `Hai, Kromo Nenggolo, ingatlah kepada istri tuamu, sebab kamu sudah tahu bahwa saya tidak akan mau membantu hidupmu sebagaimana istri tuamu. Sebaliknya, saya selalu bermusuhan denganmu. Karena itu, ceraikan saya dan kembalilah kamu ke istri tuamu. Cobalah kamu menjadi orang baik-balk agar kamu tidak selalu menjadi seorang pemarah terus-menerus.

“Kata-kata yang dikeluarkan dengan lemah lembut dan halus budi bahasanya itu, diterima Kromo Nenggolo dengan luapan kemarahan. Laksana buto ijo, Kromo Nenggolo menjawab: ‘Hai, Ardinah, kamu seorang perempuan yang lembek. Kamu tidak saja berani menjatuhkan diriku, tidak saja berani menolak terus-menerus ajakanku, tetapi sekarang kamu malahan berani mengguruiku. Kecintaanku kepadamu sekarang telah berubah menjadi kebencian yang hanya bisa saya lupakan kalau kamu sudah mati. Saya tidak hanya akan menceraikanmu, tetapi saya juga akan menceritakan jiwamu dari badanmu.’

“Habis berkata begitu, Kromo Nenggolo menghunus kerisnya dan berlari mendekati Ardinah untuk menikam atau membunuh gadis muda itu. Tetapi Ardinah yang juga sudah siap, tidak tinggal diam.

“Begitu Kromo Nenggolo sudah menghunus kerisnya, begitu juga Ardinah membuka abu dari kantongnya. Dengan cepat Kromo Nenggolo lari hendak menusuk Ardinah dan dengan cepat pula Ardinah melemparkan abu tepat di mata Kromo Nenggolo. Sudah tentu Kromo Nenggolo tidak bisa melihat apa-apa, sehingga ia tidak tahu ke mana perginya Ardinah. Sambil misuh-misuh dan mengamuk laksana orang gila, Kromo Nenggolo menusuk-nusukkan kerisnya sedapat-dapatnya ke arah mana saja, meja, kursi, tanah, dinding rumah dan sebagainya. Tetapi Ardinah sudah lari dan mengunci kamar tempat berkelahi itu dari luar. Kromo Nenggolo terkurung dalam kamar, laksana babi hutan yang masuk jebakan. Keris Kromo Nenggolo terputus, tetapi matanya masih tidak bisa melihat apa-apa. Ia semakin mengamuk dan berlari menabrak-nabrak dinding dan perkakas rumah. Sehingga badannya menjadi sakit semua. Di sana-sini keluar darah, sehingga semakin lama semakin hilang pula kekuatannya. Akhirnya, ia terjatuh setengah mati dan pingsan. Begitulah dengan abu, Ardinah sudah bisa meredam nafsu amarah Kromo Nenggolo dan Ardinah menang serta bisa selamat.

“Sewaktu Kromo Nenggolo pingsan, Ardinah membuka kunci kamar itu dan bersama-sama dengan istri tua mereka mengangkat badan Kromo Nenggolo dan membawanya ke tempat tidur. Sesudah luka-lukanya dicuci, diobati dan dibalut rapi oleh dua perempuan tadi – satu sama telah berjanji untuk saling tolong-menolong dan sepakat mengatur siasat perselisihan tadi – maka mata Kromo Nenggolo pun dicuci pula oleh istri tua, dan selang beberapa lama ia pun bangun, namun badannya masih terasa lemah. Ardinah bersembunyi, tetapi istri tuanya menunggu di depan suaminya. Setelah mengetahui suaminya bangun, istri tua memberi ciuman seraya berkata:

‘O, suamiku, saya akan memelihara kamu sampai kamu sembuh dari sakitmu. Tetapi kalau kau menurut, Ardinah akan memberikan untuk keselamatanmu.’

‘Ya, Ardinah memang seorang perempuan yang cerdik, berani dan sesungguhnya baik lahir-batinnya. Sekarang saya tahu dan mengakui kesalahan saya, dan saya telah merasa takluk kepadanya. Saya akan menuruti kehendaknya, jika saya sudah sembuh, saya akan menceraikannya,’ kata Kromo NenggoIo.

“Tiga hari kemudian, sungguh Kromo Nenggolo menceraikan Ardinah dan kembali setia serta mencintai istri tua. Sedang Ardinah memberi nasihat begini:

‘Hai Kromo Nenggolo, manusia baru dikatakan selamat jika ia mempunyai hati yang selalu merasa senang. Sedang kesenangan hati itu tidak ada dalam kepuasan nafsu. Tetapi ada dalam kesediaan untuk menahan nafsu terus-menerus, jika nafsu itu ingin mendapatkan kesenangan dan kekayaan lahiriah. Orang yang hatinya bisa bersabar, yang berusaha membikin kesenangan orang lain, dan suka menerima dengan senang hati, apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan Allah, dengan tidak melepaskan diri untuk terus berusaha berbuat baik, dengan tidak lupa kepada Tuhan Allah, maka orang itu akan mendapatkan keselamatan, yakni keselamatan batin sebab rasa hatinya selalu senang. Inilah rahasia yang saya tinggalkan untukmu dan kalau kamu bisa menjalankan hal-hal itu, maka akan mendapatkan keselamatan juga.’

“Kromo Nenggolo mengikuti nasihat itu, dan sekarang ia menjadi seorang petani yang baik-baik. Sedang istri tuanya selalu membantu Kromo Nenggolo untuk mencapai jalan keutamaan itu.

“Adapun Ardinah lalu diambil anak oleh kamitua sebagaimana telah saya ceritakan. Setelah saya mengetahui riwayat Ardinah itu, maka saya berkata kepada Ardinah bahwa di rumah saya ada seorang perjaka bernama Kadiroen yang dahulunya pernah menjadi Asisten Wedono membawahi Desa Meloko. Sewaktu Ardinah mendengar nama Kadiroen, muka Ardinah lantas bersemu merah. Jadi saya mendapatkan bukti bahwa gadis itu masih cinta kamu, Kadiroen! Oleh karena saya telah mendapatkan bukti itu, saya lalu bercerita kepada Ardinah, bagaimana keadaanmu yang begitu setia kepada si gadis ayu ini. Sehingga sampai sekarang kamu tidak mau kawin. Sewaktu Ardinah mendengar cerita saya itu, maka ia lalu menangis dan mengaku bahwa ia juga tidak mau. Ia diharap pada jodohnya alias Kadiroen. Karena itu, saya segera saja atas nama kamu, Kadiroen, melamar Ardinah agar mau kawin denganmu, supaya perkara ini bisa cepat selesai. Jadi orangtua Ardinah saya ceritai hal-hal itu semua. Akhirnya Ardinah mau saya ajak bertamu di rumah kita.”

Sampai di situ, selesailah cerita istri Sariman mengenai Ardinah. Sudah tentu Ardinah menjadi malu bercampur senang ketika riwayatnya dijadikan bahan cerita itu. Kebahagiaan Ardinah menjadi bertambah besar lagi karena setelah mendengar riwayat Ardinah, Kadiroen pun lalu datang mendekati tunangannya, memegang mencium tangan bidadarinya dan berkata:

“O, istriku. O, jiwaku! Saya sungguh-sungguh mencintaimu dan sangat bahagia mendengar cerita apa yang telah kaukerjakan di Desa Meloko.”

Mendengar keterangan Kadiroen, Ardinah pun lalu menangis sebab sakingbesarnya kebahagiaan serta senang hatinya. Ia berdiri dan menjatuhkan kepalanya di dada Kadiroen. Lama mereka tidak berbicara apa-apa dan hanya masih saling berpelukan, membuktikan bahwa mereka telah menyatu lahir-batin karena ikatan cinta. Sariman dan istrinya turut merasakan kebahagiaan calon pengantin baru itu. Maka kemudian Sariman berkata, “Saudara Kadiroen, perkawinan sejati ialah lahirnya percintaan sejati. Tetapi supaya perkawinan batinmu yang sudah sah itu bisa diketahui sah lahiriahnya oleh semua orang, maka kamu harus menunggu penghulu lebih dahulu. Juga sebelumnya kamu harus meminta izin kepada orangtuamu. Ibumu masih menyandang gelar raden ayu, jadi saya tidak bisa memperkirakan apakah kiranya ibumu akan sepakat jika kamu menikah dengan Ardinah yang tidak mempunyai gelar kebangsawanan itu. Karena esok lusa ada vrij dua hari, ialah hari besar, sedang sesudahnya itu lalu hari minggu, maka kita akan mendapatkan vrij tiga hari lamanya. Marilah besok lusa kita berempat mengunjungi orangtuamu, Saudara Kadiroen. Lebih dahulu Ardinah mesti diketahui oleh ibumu. Sedangkan istri saya nanti akan menjelaskan kebaikan lahir-batinnya Ardinah. Kalau kita semua sudah saling kenal-mengenal selama tiga hari, maka kamu Kadiroen mesti mulai bicara dan meminta izin untuk kawin pada ibumu. Yang nomor satu, bagi seorang perjaka yang akan kawin, harus meminta izin pada ibunya dan barulah ayah akan turut campur.

Tiga hari kemudian, Sariman dan istrinya serta Ardinah duduk di muka rumah orangtuanya Kadiroen. Di belakang rumah, ibu Kadiroen sedang duduk di dipan dan di sampingnya, anak lelakinya, Kadiroen, duduk berjejer sambil memegang tangan dan memandang mata si ibu sebagaimana seorang perjaka yang sangat setia dan mencintai ibunya. Maka ia berkata:

“O, Ibu. lbu sudah tahu, siapa Ardinah. Ibu, saya sangat mencintai gadis itu dan memohon izin ibu dan bapak supaya saya boleh mengawini Ardinah. Ardinah juga sudah sepakat. Ibu, hidupku sungguh akan tidak berharga kalau tidak jadi kawin dengan Adinah.”

Ibu Kadiroen mendengar tangis anak lelakinya, lalu menjadi tersenyum dan sambil setengah tertawa ia menjawab.

“E, ee, anakku minta kawin. Dulu tidak mau. Tiba-tiba sekarang menjadi tergila-gila pada seorang janda. Nanti, nanti, ya, lbu mau pikir dahulu dan mau berembuk dengan ayahmu dulu. Sudah, sekarang pergilah ke muka, kalau nanti saya dan ayahmu sudah berembuk, kamu berempat akan saya panggil kemari.”

Kadiroen ke depan rumah dengan muka yang amat pucat… “O, bagaimanakah keputusannya, ayah dan ibu mau menyenangkan atau menyusahkan? Kalau tidak diberi izin bagaimana?” Hati Kadiroen menjadi berdebar-debar. Ia masih mengingat-ingat kata-kata ibunya yang mengatakan “Tergila-gila dengan janda!” Apakah dalam perkataan itu tidak menyiratkan penolakan?

Sariman dan istrinya serta Ardinah mengetahui Kadiroen datang dengan muka yang amat pucat. Semua menjadi terkejut dan setengah bingung. Mereka merasa, Kadiroen sudah minta izin kawin, tetapi apa sebabnya Kadiroen tidak bisa berbicara dan roman mukanya pucat. Ibu Kadiroen masih seorang raden ayu, bakal menantunya hanya seorang desa, sudah janda dan miskin. Juga sudah tidak punya orangtua lagi. Ditolakkah? Semua sama-sama takut meminta keterangan dari Kadiroen, apa betul sudah ditolak? Mata Ardinah berkaca-kaca hendak menangis. Semuanya terdiam, tidak ada yang berkata.

“Kadiroen, Ardinah, Saudara Sariman sekalian, marilah, datang ke sini!” kata seorang berteriak memanggil dari belakang. Yang dipanggil sama-sama berdebar-debar hatinya. Sama-sama berdiri dan Kadiroen memegang tangan Ardinah berjalan lebih dahulu. Sedang Sariman sekalian menyusul di belakangnya. Ibu dan ayah Kadiroen, dua orang lelaki perempuan yang rambutnya sudah memutih itu, duduk di atas dipan.

Di antara para pembaca buku ini, barangkali ada yang bergelar raden ayu dan sudah menduga bahwa ibu Kadiroen akan berkata: “Ardinah seorang janda yang miskin mau menjadi menantuku? Tidak boleh!” Tetapi kalau pembaca putra-putri raden ayu itu, memang mengira begitu, maka sesungguhnya penulis cerita ini dengan segala hormat dan kerendahan mohon ampun beribu ampun, bahwa penulis akan membikin kecewanya praduga-praduga para pembaca yang bergelar raden ayu ini. Sebab penulis terpaksa hanya menceritakan keadaan yang sebenarnya. Dan keadaan yang sebenarnya itu begini.

Ibu Kadiroen berkata:

“Kadiroen anakku! Ardinah anakku! Saksikanlah hai sahabat Sariman sekalian, kita ayah dan ibu Kadiroen bersedia memberi izin Kadiroen mengawini Ardinah. Ketahuilah, wahai anakku Kadiroen, sudah menjadi keberuntunganmu, kamu mendapat anugerah Tuhan Allah akan kawin dengan Ardinah. Ardinah, sebagaimana saya ketahui dari tingkah lakumu, wajah dan perkataan serta riwayatmu, Ardinah bukanlah seorang gadis yang bergelar raden ayu, tetapi seorang gadis yang berisi “Rach Ayu “. Rach Ayu, tempatnya tidak ada dalam gelar tetapi dalam hati. Dan seorang yang memiliki hati sebagaimana Ardinah ini memang sesungguhnya seorang perempuan Rach Ayu Sejati. Kita ibu dan ayah memberi doa dan izin pada kamu hai, Kadiroen dan Ardinah untuk kawin. Selamatlah kamu!”

Mendengar kata-kata ibunya yang memberi izin, maka Kadiroen dan Ardinah menjadi senang dan bahagia luar biasa. Kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakan oleh dua muda-mudi waktu itu sungguh-sungguh tidak bisa dilukiskan dengan pena dan tinta. Karena memang saking besarnya. Dari saking bahagianya maka Kadiroen dan Ardinah menjadi menangis dan mereka berpegangan badan satu sama lainnya, bersama-sama menyatukan muka di pangkuan ayah dan ibunya serta berkata:

“O…Ibuku…, Ayah…, O, apakah kebaikan kita sehingga mendapat anugerah perasaan bahagia yang sebesar-besarnya ini. Ibuku… Ayahku… ? O, Ibu…Ayah…kita merasakan begini bahagia…, begini nikmat di batin. O, kita tidak bisa menerangkan apa yang kita rasakan amat nikmat ini.”

Ganti-berganti Kadiroen dan Ardinah mengatakan hal sambil matanya bercucuran karena bahagianya. Ganti berganti mereka menangis sambil mukanya jatuh di pangkuan ayah maupun ibunya karena mendapatkan anugerah yang begitu besar; sepasang perjaka dan gadis lulus dalam percintaannya.

Ibu dan ayah dengan sabar dan senang hati, berganti-ganti mengelus kepala menantu mereka Ardinah, juga Kadiroen anaknya. Sariman sekalian ikut bahagia melihat semua itu, sehingga mereka merasakan seperti amat muda, dan dari sebab itu mereka saling berpelukan satu sama lain, ala pengantin baru. O bayangan surga itu, lamalah terbayang-bayang….”

“Sekarang begini anak-anak,” kata ayah Kadiroen sambil menjabarkan kebahagiaannya, “Di mana ternyata kita semua mendapatkan kebahagiaan karena Ardinah dan Kadiroen mendapat anugerah besar di situ kita wajib mengirim doa terima kasih kita kepada Tuhan Allah Yang Mahabelaskasihan pada kita ini. Sebentar lagi, marilah kita pergi ke mesjid supaya perkawinan ini disahkan oleh penghulu. Dan sekarang marilah kita sama-sama duduk di tanah sambil menghaturkan doa terima kasih kita!”

Enam manusia menyatukan diri duduk di tanah, dan dalam hati mereka yang sangat bahagia, melayang sebuah doa.

“O, Tuhan Allah Yang Mahabesar, Yang Maha adil, bagaimanakah kita bisa membuktikan rasa terima kasih kita, dengan terang dan sepantasnya kepada Gusti. O, Tuhan, Allah Yang Maha kuasa, kita menghaturkan berjuta-juta terima kasih atas kebaikan Tuhan….”

Setengah jam mereka duduk di atas tanah sambil berdoa dari jiwa-jiwa mereka yang paling dalam. Berdoa yang sebersih-bersihnya dan senyata-nyatanya.

Di dalam kamar semua diam dan suasana menjadi sunyi. Hanya hati dan jiwa-jiwa enam manusia tadi yang berbicara kepada Tuhan Allah Yang Maha adil. Suasana kamar sunyi sebab hanya jiwa-jiwa mereka yang sedang berbicara.

Di luar rumah, angin kecil bertiup perlahan-lahan di pohon dan dedaunan. Bunga-bunga melati yang menari-nari menyambut sinar mentari sedemikian hidup karena hembusan angin yang sejuk. Kupu-kupu berterbangan dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Burung-burung bercinta-cintaan dalam hijaunya lembah dunia. Semua kodrat Allah hidup. Hidup di dunia. Hidup, hidup dan bercinta-cintaan.

Demikianlah buat sementara waktu, lain kali kalau tidak berhalangan akan disambung.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s