Undangan Terbuka Ruang-Raung 


Kepada seluruh sahabat, kerabat, kolega, keluarga, guru, adik, kakak, dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Kami, Tim Keproduksian Malam Persembahan Teater Korek, mengundang dengan hormat,


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Salam Budaya!!!

Ayo Bekerja!!!
Teater Korek Universitas Islam “45” Bekasi
Mempersembahkan sebuah karya pementasan teater,
“RUANG – RAUNG”

Karya : Teater Korek Angkatan 14
“Sebab, ruang yang sewaktu-waktu dapat meraung dengan sangat keras itu adalah tempat berkumpulnya sosok yang bernama keniscayaan.

Lantas, adakah gerangan yang dengan angkuh dan sombongnya memiliki niat untuk meniadakan keniscayaan?”

• Pimpinan Produksi : Alycia Marsheilla

• Sutradara : Art_Tog

• Ass. Sutradara : Ayil Brown

• Properti : Esti

• Tata Cahaya : M S Lail

• Musik : Sholihin Ibnu Badri, Anestesi
• Keaktoran : Thaufan, Dhea, Okky, Nira, Yuli, Rasti

• Hari dan Tanggal : Jumat, 22 Desember 2017
• Pukul : 19.00 WIB s/d selesai
• Lokasi : Laboratorium Teater Korek Unisma Bekasi, Jl Cut Meutia No 83, Kota Bekasi.
Tiket? GRATIS!!!
Sekian,

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Narahubung :

0895332855790 (Alycia Marsheilla) 

085724174735 (Aru Elgete) 
Sosial Media Kami,

Instagram : @teater_korek

Facebook : Teater Korek

Fanpage : Teater Korek

Blog : teaterkorek.wordpress.com

Iklan
Dipublikasi di Aru Elgete, Editorial, Salam Budaya | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Ruang-Raung, Jalan Sunyi Peradaban 


Ruang-Raung merupakan jalan sunyi yang ditapaki orang-orang pemberani. Yakni, anak-anak remaja yang selalu melawan ketakutan. Mereka tidak takut pada kegelapan, keterasingan, dan ancaman-ancaman yang dapat memenjarakan kata-kata. Sebab, melalui jalan sunyi itu, mereka telah menemukan makna kehidupan.





Jalan sunyi itu adalah bangunan tua tak bertuan. Sebuah ruang kosong yang tidak berpenghuni. Jangankan dijamah, dilirik saja sudah sangat menjijikkan. Di setiap sudut ruang, bersemayam beragam kengerian. Entah, makhluk halus atau binatang (kecoa, tikus, nyamuk, ular, laba-laba, katak, cicak, dan tokek). Sehingga, kesemrawutan menjejak di dalamnya.




Peradaban, mati. Keberadaban, apalagi. Semua berlalu begitu saja. Meninggalkan sisa-sisa logistik pertukangan. Bambu, kayu, perkakas rongsok, kaleng cat, hingga sajadah dan tulisan bismillah di dinding; tak terhiraukan. Bangunan itu menjadi jalan sunyi. Bahkan, tidak pantas disebut jalan. Melainkan kehidupan tanpa nama.

Namun, keberanian anak-anak remaja yang cerdas itu mampu menerabas ke dalam kesunyian. Menerangi gelap dengan cahaya kebudayaan. Membebaskan kungkungan ketakutan dengan budi-daya, keberhalusan rasa, dan kejernihan akal. Mereka, secara gotong-royong memberanikan diri masuk ke dalam gorong-gorong kehidupan baru. Bersama-sama.

Dipersolek bangunan itu dengan karya. Dipercantik dinding-dinding yang terlihat jelas bercak air banjir dengan kekuatan jiwa, mental, fisik, dan diri. Tidak ada yang mereka takuti, kecuali pada kebodohan yang membenarkan ketertinggalan pemikiran dan perilaku. Mereka bergerak, berarak. Memaknai tiap sudut yang ditinggal tanpa kesopan-santunan. Memberi arti pada tiang-tiang penyangga keadaban.

Dijadikannya bangunan itu seperti tempat tinggal baru. Ditasyakuri. Diberi ajimat penyelamat. Agar kehidupan baru dapat lestari hingga kiamat. Semua mengamini. Memberi apresiasi tinggi kepada anak-anak remaja tanggung yang liar pemikiran, tetapi santun dalam melakukan aktivitas dan gerak. Bagi mereka, seperti itulah kerja kebudayaan.

Ruang bangunan tua yang telah mati, kini menjadi hidup. Sementara anak-anak remaja tanggung itu berkeliaran mencari kawan dan handai-taulan. Bersalaman dengan siapa saja. Menjalin persaudaraan, merekatkan ikatan rasa kepada orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal. Membawa nama harum keluarga besarnya, ke mana-mana. Bahkan, hingga ke pelosok Pulau Jawa. Dan, gaungnya sampai ujung Bumi Pertiwi.

Dengan bangganya, anak-anak itu mengajak-serta kawan-kawan yang baru dikenal untuk melingkar bersama. Menggelisahkan kondisi dan situasi terkini yang terdapat di lingkungan sekitar. Bertambah hiduplah bangunan itu. Petikan gitar terdengar merdu sembari suara-suara sumbang mengiringi. Terkadang, rintik hujan turut-campur dalam kemesraan yang dicipta dari lingkaran di kehidupan baru itu.

Berbahagialah, mereka. Anak-anak pemberani yang menghidupkan peradaban dan kemudian menetaskan keberadaban. Sementara itu, Ruang-Raung tetap menggema. Membunyikan suara-suara kebahagiaan. Mendendangkan lagu kebersamaan. Sebab, ruang yang sewaktu-waktu dapat meraung dengan sangat keras itu adalah tempat berkumpulnya sosok yang bernama keniscayaan.

Lantas, adakah gerangan yang dengan angkuh dan sombongnya memiliki niat untuk meniadakan keniscayaan?

Dipublikasi di Aru Elgete, Editorial | Tag , , , , | Meninggalkan komentar