Tetas XV: Hari Kelahiran Baru Teater Korek

Pada 19 Juli 2002, Teater Korek menetas. Tentu sudah banyak sejarah yang dicipta. Menderap gerak dengan berbagai rasa. Melakukan eksplorasi yang lahirkan inspirasi. Sebagai wadah pengembangan diri. Menjadi tempat berpulang untuk selalu menggali, mengorek, dan menemukan hal baru yang kemudian diejawantahkan dalam laku dan gerak di keseharian.

Teater Korek merupakan sebuah perlambangan. Sesuatu yang jika dinyalakan dapat menerangi kegelapan. Namun, jika disalahartikan justru melahirkan malapetaka bagi siapa dan apa pun. Kemudian, dari situ muncul kata-kata meng-korek-si, mencari, dan menggali ke dalam nurani pada sebuah perjalanan panjang. 

Ketika itu, (19/7/2002) organisasi teater ini dideklarasikan. Hingga kemudian mencoba melakukan kerja kebudayaan bersama pegiat teater yang ada di sekitarnya. Berbagai karya diciptakan sebagai pertanggungjawaban kepada masyarakat.

Kini, Teater Korek sudah –atau mungkin masih– berusia 15 tahun. Dalam pertumbuhan manusia, jumlah usia tersebut menandakan sebuah proses menuju kedewasaan. Remaja. Pubertas diri sedang menyelimuti diri. Mencari sahabat, kerabat, dan berusaha merangkul siapa pun yang dianggap mampu menumbuhkan. Sebagaimana halnya remaja. Dinamika dan dialektika kehidupan menjadi sebuah perjalanan yang harus dilalui oleh Teater Korek. 

Tak jarang, karena sikap dan perilaku remaja itu, Teater Korek mendapat berbagai cibiran dan buah bibir lainnya (dalam hal negatif). Namun, seperti itulah, bumbu kehidupan. Pro-kontra pasti ada. Bahkan siapa yang pro, terkadang berubah menjadi kontra. Begitu pun sebaliknya. Namun, Teater Korek harus tumbuh. Tak boleh mati, walau sekejap.

Pertumbuhan mesti dijaga. Asupan gizi menjadi prioritas yang wajib diterima agar tumbuh menjadi sebuah organisasi yang mendewasakan orang-orang di sekitarnya. Teater Korek tetap menjadikan cinta sebagai bagian utama yang senantiasa dilimpahkan kepada setiap orang. Sebab tujuan berteater, bahkan tujuan Teater Korek menetas ke dunia adalah sebagai pengantar diri untuk menjadikan siapa pun yang terlibat di dalamnya lebih bermartabat.

Akhir-akhir ini, Teater Korek seringkali diuji dengan berbagai hal yang memang harus dihadapi. Salah satunya mengenai isu penyekatan ruang Laboratorium yang bertempat di kampus Universitas Islam “45” Bekasi. Teater Korek sadar, tempat tersebut memang tidak ada legalitas-formal kepemilikan.

Namun, sesungguhnya ruang eks-musala itu sudah menjadi tempat bernaung bagi gerak kesenian dan kebudayaan Bekasi. Laboratorium Teater Korek menjadi sentral. Menjadi titik temu dan tempat yang representatif bagi pengkaryaan para pegiat seni. Bahkan Laboratorium Teater Korek menjadi tempat pertunjukkan teater. Karena sejauh ini, di Bekasi khususnya, belum ada ruang atau gedung kesenian yang representatif untuk sebuah pertunjukkan.

Karenanya, Teater Korek merasa kecewa kepada pihak kampus yang ingin menyekat ruang itu. Alasannya karena ada beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang belum memiliki ruang sekretariat. Sesungguhnya, kebijakan sepihak itu mesti dikritisi. Pihak kampus justru memanfaatkan wacana yang dikatakan sebagai master plan itu untuk memecah-belah hubungan baik antar-UKM yang selama ini terjalin.

Alasan lain yang lebih lucu adalah, pihak kampus menganggap bahwa keberadaan ruang itu justru menjadi sarang ketidakberadaban. Salah satunya, dikatakan sebagai tempat berkembangnya seks bebas di kampus. Padahal sesungguhnya, saat ditanya, apakah sudah melihat langsung bagaimana kondisi ruang Laboratorium Teater Korek? Mereka menjawab, “Belum pernah, saya dapat dari omongan-omongan gitu.”

Lucu. Bagaimana mungkin berasumsi dan kemudian langsung mewacanakan sesuatu tanpa konfirmasi atau mendapat klarifikasi? 

Kalau Laboratorium Teater Korek disekat dan didalamnya dijadikan beberapa ruangan, maka Bekasi terancam akan kehilangan ruang kebudayaan yang selama ini sangat representatif untuk digunakan. Praktis, nama Unisma Bekasi akan tercoreng. Padahal selama ini, kampus hijau ini mendapat pujian dari beberapa grup teater yang berkunjung, bahwa Unisma mampu memfasilitasi pergerakan teater kampus.

Kemudian, beberapa UKM yang belum mendapat ruangan itu pasti mendapati sebuah ketidakadilan. Sebab, gedung Student Center yang berlokasi tepat di depan Laboratorium itu sudah tidak cukup untuk ditempati. Lalu, pihak kampus dengan piciknya ingin menyekat ruang yang kalau hujan pasti banjir. Tentu tidak sama dengan fasilitas yang sudah diberikan kepada UKM yang sudah lebih dulu mendapat ruangan di gedung Student Center itu.

Fakta unik yang ditemukan adalah, kampus tidak mampu membangun gedung baru bagi UKM yang belum memiliki ruangan. Juga, tidak sanggup mendirikan gedung yang sama persis seperti Laboratorium Korek di dalam kampus. Parahnya, ruangan yang menjadi rumah bagi pegiat teater di Bekasi itu tercipta berkat inisiatif para pendahulu Teater Korek. Pasalnya, ruang itu sempat kosong (kurang lebih seperti gudang) bertahun-tahun. Dibiarkan begitu saja ketika masjid Al-Fatah resmi berdiri.

Lalu, ruang itu dibersihkan. Dijadikan sebagaimana mestinya ruangan. Disapu, dipel, dibersihkan, dicat, dan dirawat dengan setulus hati. Ruang itu, hingga kini, menjadi tempat berlatih bagi anggota Teater Korek. Menjadi ruang pementasan. Menjadi rumah berkumpul para aktivis mahasiswa dalam membangun soliditas antar-mahasiswa.

Pertanyaannya, apa benar pihak kampus tidak mampu membuat gedung baru? Sementara setiap tahun, bayaran dan mahasiswa baru pasti bertambah. Kemudian, kalau memang kebijakan itu merupakan master plan, kenapa tidak jauh-jauh hari memproyeksikan diri untuk membangun gedung baru (karena isu ini adalah isu tahunan). Kalau untuk memfasilitasi yang dirasa belum mendapat fasilitas, kenapa mesti meniadakan fasilitas yang sudah ada?

Karena itu, kami mengajak pihak kampus untuk sama-sama membangun Unisma Bekasi dengan manusiawi, tidak melulu menghitung untung-rugi. Hal ini juga demi menyelamatkan wajah Unisma yang pasti akan mendapati gelombang massa yang cukup besar kalau sampai Laboratorium Teater Korek ditiadakan atau diubah fungsi.

Lalu, Tetas XV pada 19 Juli 2017, dimaknai tidak sebagai hari kematian, tetapi hari kelahiran baru. Ke depannya ruang yang pernah menjadi tempat ibadah ini, bisa bermanfaat bagi kehidupan kampus. Juga sebagai ajang untuk melakukan silaturrahmi batin (meminjam istilah yang dikembangkan oleh Almarhum Ane Matahari) antarsesama komunitas teater dan elemen mahasiswa, baik internal maupun eksternal.

Untuk tahun ini, Teater Korek tidak melakukan pementasan. Tetapi memberikan ruang seluas-luasnya bagi para tamu undangan untuk mengeksplorasi tubuh sebagai kado terindah bagi Teater Korek. Sebab, bagaimana mungkin berproses untuk mementaskan sebuah pertunjukkan kalau pikiran terus-menerus diganggu oleh isu penyekatan itu? Walaupun, alasan itu memang sangat tidak logis bagi para pegiat teater.

Namun sesungguhnya seperti itulah keadaan remaja. Masih sangat resah jika diganggu. Gelisah, galau, dan bahkan merintih serta mengeluh saat dirinya merasa ditindas oleh penguasa.

Dalam Tetas XV akan ada sesi diskusi bersama Dendi Madiya dari Artery Performa mengenai konsep dramaturgi dalam teater yang sedang merambah di Indonesia. Agar Kopdar Teater, sebuah tema yang dibuat oleh Teater Korek, menjadi menarik, akan ada juga sesi pemotongan tumpeng sebagai simbol kebersyukuran diri atas usia yang kian bertambah.

Jadi, silakan datang. Kemudian nikmati berbagai sajian yang sangat sederhana dari perayaan hari kelahiran Teater Korek. Jangan lupa, beri kado terindah dalam bentuk penampilan, apapun itu.

Iklan
Dipublikasi di Aru Elgete | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Kami Tidak Takut!

Foto bersama di Gedung Miss Tjitjih

Oleh: Aru Elgete

Sayangku, jangan pernah takut pada ancaman mereka yang tak pernah tahu apa-apa. Orang-orang itu digaji dan bekerja untuk itu. Mengancam, meraung, membentak, dan segala hal yang membuat siapa pun mati kutu.

Hampir setiap perjumpaan, aku selalu berpesan, ketakutan adalah sesuatu yang mengungkung gerak. Kita akan terpenjara oleh keadaan saat membiarkan rasa takut meracuni tubuh. Tenang, gaji mereka dari kita. Mereka bisa memberi makan anak dan istri karena ada kita. Setiap bulan, kita membayar kinerja mereka. Kalau kinerja mereka buruk, protes adalah hal wajar.

Tapi, jangan grasak-grusuk, ya. Lawan dengan santun, dengan argumentasi yang ilmiah, dengan tetap menjunjung tinggi etika dan estetika. Maksudku, jangan seperti berandal yang abai terhadap segala sesuatu yang sudah menjadi norma kehidupan bangsa Indonesia.

Hati-hati. Politik pecah-belah ala penjajah Belanda masih relevan mereka gunakan. Kita diadu secara horizontal dengan kata-kata yang adiktif. Sifat mereka memang begitu. Senang meninabobokan anak muda. Mereka paternalistik. Menganggap diri sebagai orangtua yang kalau dibantah dan dikritik, durhaka-lah kita.

Tidak. Ini bukan soal hadits nabi, “ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain.” Melainkan, soal melawan kemunafikan dan kejahatan berkedok keadilan. Tidak ada birokrat yang berhati bersih dan berjiwa mulia. Kalau ada, percayalah, itu kamuflase. Artifisial.

Tetaplah solid, sayang. Berpegang erat, berpeluk rapat. Kita bersama-sama berjuang memperjuangkan hak dan kebenaran. Segala macam aspirasi, dilindungi oleh negara. Kalau mereka tetap mengancam, kita juga harus berani mengancam. 

Pasalnya, media massa, online, dan media sosial sudah menjamur. Dan kita berada dalam lingkaran itu. Berada di lingkaran para pencatat adegan, buruh tinta, dan penulis segala macam peristiwa. Jadi, apa yang mesti ditakuti?

Sayangku, perjuangan tak pernah mengenal batas ruang dan waktu. Mulai saat ini, mari katakan: KAMI TIDAK TAKUT!

Dipublikasi di Aru Elgete, Editorial | Tag , , , | Meninggalkan komentar