Berdakwah Melalui Seni Pertunjukkan

Teater Korek usai pementasan di LSPR Jakarta

Setiap manusia atau kelompok memiliki cara dakwah dan syi’ar yang berbeda. Semua punya bingkai kebenarannya masing-masing. Salah satu metode untuk menyampaikan kebenaran adalah dengan melakukan sebuah pertunjukkan teater.

Hal itu disampaikan Sutradara Teater Korek Universitas Islam “45” (Unisma) Bekasi Arie Togle sesaat usai pertunjukkan teater berjudul “Kanvas Perempuan” pada gelaran dramakala Fest 2018 di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) London School Public Relation (LSPR), Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (22/2).

Menurutnya, Kanvas Perempuan merupakan sebuah interpretasi catatan sang sutradara melihat berbagai peristiwa percintaan yang kerap menimbulkan kerugian bagi kaum hawa. Cinta adalah hal yang suci. Namun, cinta akan menjadi sesuatu yang kotor manakala dihiasi dengan berbagai perilaku buruk. 

“Dari pertunjukkan itu, kami ingin menyampaikan sebuah kabar bahwa perempuan selalu menjadi objek yang dirugikan. Perempuan itu, kalau sudah cinta, dengan sendirinya akan memberikan seluruh jiwa raga untuk sang kekasih. Kalau sudah nikah, tidak masalah. Permasalahannya, masih pacaran kok sudah berani berbuat demikian,” kata Pae Togle, begitu ia akrab disapa.

Kekerasan fisik, seks bebas di luar nikah, dan berbagai perilaku yang tidak terpuji kerap mewarnai percintaan pemuda-pemudi zaman now. Barangkali, lanjut Togle, dengan demikian dianggap sebagai perwujudan dari cinta.

“Padahal cinta tidak mengajarkan hal-hal demikian,” katanya.

Terakhir, ia mengungkapkan bahwa tidak ada salahnya berdakwah melalui seni pertunjukkan. Sebab, melakukan dakwah dari mimbar-mimbar keagamaan sudah sangat penuh dan sangat normatif.

“Salahkah kita berdakwah melalui teater? Sementara berdakwah melalui mimbar-mimbar keagamaan di rumah-rumah ibadah itu tidak jarang dipakai untuk berbagai kepentingan, salah satunya soal politik. Kita menyampaikan kebenaran dengan cara yang berbeda. Apa adanya. Tidak dengan sok atau merasa diri paling suci,” pungkasnya.

Iklan
Dipublikasi di Aru Elgete, Editorial | Tag , , | Meninggalkan komentar

Ruang-Raung Usai, Teater Korek Akan Terus Mencari BentukĀ 

Usai Pementasan Ruang-Raung, 22 Desember 2017

Malam Persembahan Teater Korek Angkatan ke-14 dengan mementaskan sebuah karya pertunjukkan berjudul Ruang-Raung, telah usai. Masyarakat kampus dan sekitarnya sudah terkabarkan tentang adanya sebuah kegelisahan yang mesti terjawab dengan dialektika yang utuh.

Bahwa sebenarnya permasalahan internal juga bakal merembet ke persoalan yang lebih luas lagi. Yakni, mengenai aneksasi ruang Laboratorium Teater Korek yang selama ini difungsikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan kesenian di Kota Bekasi.

Terlepas dari segala macam kontroversi yang beredar; secara kelembagaan, Teater Korek meminta untuk dibukakan pintu maaf yang sangat luas kepada segenap pihak yang merasa terusik atau terganggu dengan pementasan yang dilangsungkan pada Jumat 22 Desember 2017. Dengan pemakluman itu, diharapkan agar Teater Korek dapat lebih membuka diri kepada apa dan siapa pun.

Kemudian, hal tersebut mesti diupayakan supaya proses kerja organisasi dan kekaryaan yang dilakukan Teater Korek ke depannya menjadi jauh lebih optimal. Karena walau bagaimana pun, Teater Korek juga mesti menjaga keseimbangan gerak dan laku, agar tidak ada beban di kemudian hari. Kesalahan tentu ada, permasalahan pasti tercipta, dan percikan keberadaban selalu timbul karena disebabkan pengetahuan yang masih belum memadai.

Singkatnya, Teater Korek perlu melakukan kontemplasi dan perenungan yang mendalam untuk membersihkan segala bercak noda yang timbul karena langkah yang selama ini dikayuh. Dan, selama napas masih dapat terhirup, selama itu pula Teater Korek akan terus bergerak dan mencari makna serta hal-hal yang sama sekali baru. Proses itulah yang selalu dijalani Teater Korek dalam perjalanan menggapai semua cita.

Juga, kepada segenap pihak yang telah menjalin kekerabatan dan persaudaraan, atau yang sudah melakukan kontribusi dan partisipasi yang sangat berharga selama proses menuju pementasan Ruang-Raung, Teater Korek memberi apresiasi yang mendalam. Tak lupa pula, ungkapan rasa terima kasih yang tak berhingga semoga dapat diterima dengan ketulusan jiwa. Sebab, tanpa bantuan dan peran dari pihak yang sudah berkontribusi, Teater Korek sama sekali tidak berarti apa-apa.

Ke depannya, semoga rajut tenun silaturrahim itu dapat terus menguat sampai tak ada seorang pun yang mampu mengantahberantahkan keadaan. Harapannya tentu, jalinan persaudaraan dapat menjangkau ke arah yang lebih luas dan mampu melampaui gagasan serta pikiran yang sempit. Bahwa ada banyak pihak yang selama ini belum terkelola dengan sedemikan rupa, baik komunikasi secara kelembagaan maupun laku dan gerak yang belum tersinkronisasikan dengan baik.

Pasca Ruang-Raung, Teater Korek akan terus mencari bentuk dan melakukan kerja organisasi serta kekaryaan dengan pembaruan yang lebih baik. Di penghujung dan penutup 2017 ini, Teater Korek mesti banyak melakukan evaluasi dan koreksi kerja sehingga di tahun yang baru, organisasi intra-kampus yang dikelola langsung oleh mahasiswa ini dapat lebih optimal dan maksimal dalam mempekerjakan tubuh dan pikiran.

Selamat menyongsong Tahun Baru 2018. Semoga persaudaraan, kekerabatan, dan kekeluargaan yang selama ini sudah terbangun, dapat terkelola dengan sangat apik sehingga melahirkan banyak hal yang dapat saling mendorong dan mendukung ke arah yang lebih baik.

Tabik,



Aru Elgete

Ketua Teater Korek 

Dipublikasi di Aru Elgete, Editorial | Tag , , , , , , | 1 Komentar