Kami Tidak Takut!

Foto bersama di Gedung Miss Tjitjih

Oleh: Aru Elgete

Sayangku, jangan pernah takut pada ancaman mereka yang tak pernah tahu apa-apa. Orang-orang itu digaji dan bekerja untuk itu. Mengancam, meraung, membentak, dan segala hal yang membuat siapa pun mati kutu.

Hampir setiap perjumpaan, aku selalu berpesan, ketakutan adalah sesuatu yang mengungkung gerak. Kita akan terpenjara oleh keadaan saat membiarkan rasa takut meracuni tubuh. Tenang, gaji mereka dari kita. Mereka bisa memberi makan anak dan istri karena ada kita. Setiap bulan, kita membayar kinerja mereka. Kalau kinerja mereka buruk, protes adalah hal wajar.

Tapi, jangan grasak-grusuk, ya. Lawan dengan santun, dengan argumentasi yang ilmiah, dengan tetap menjunjung tinggi etika dan estetika. Maksudku, jangan seperti berandal yang abai terhadap segala sesuatu yang sudah menjadi norma kehidupan bangsa Indonesia.

Hati-hati. Politik pecah-belah ala penjajah Belanda masih relevan mereka gunakan. Kita diadu secara horizontal dengan kata-kata yang adiktif. Sifat mereka memang begitu. Senang meninabobokan anak muda. Mereka paternalistik. Menganggap diri sebagai orangtua yang kalau dibantah dan dikritik, durhaka-lah kita.

Tidak. Ini bukan soal hadits nabi, “ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain.” Melainkan, soal melawan kemunafikan dan kejahatan berkedok keadilan. Tidak ada birokrat yang berhati bersih dan berjiwa mulia. Kalau ada, percayalah, itu kamuflase. Artifisial.

Tetaplah solid, sayang. Berpegang erat, berpeluk rapat. Kita bersama-sama berjuang memperjuangkan hak dan kebenaran. Segala macam aspirasi, dilindungi oleh negara. Kalau mereka tetap mengancam, kita juga harus berani mengancam. 

Pasalnya, media massa, online, dan media sosial sudah menjamur. Dan kita berada dalam lingkaran itu. Berada di lingkaran para pencatat adegan, buruh tinta, dan penulis segala macam peristiwa. Jadi, apa yang mesti ditakuti?

Sayangku, perjuangan tak pernah mengenal batas ruang dan waktu. Mulai saat ini, mari katakan: KAMI TIDAK TAKUT!

Dipublikasi di Aru Elgete, Editorial | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Antara Rumah dan Ayah 

Oleh: Geubrina Rizky Dinda

Malam itu, kami sedang asik bermain tubuh. Dering gawai berbunyi seketika. Kakak bilang, ayah menelepon. Kabarnya, rumah kami akan disekat. Ayah mengatakan, penyekatan itu untuk saudara kami yang belum punya rumah. Aku menangis. Pikirku, wajar saja aku menderai air mata. Sebab, umurku masih balita, masih rentan oleh tangis. 

Saat itu, semua kakakku sedang tidak di rumah. Sementara di rumah hanya ada aku dan saudara kandung yang juga masih balita. Tak lama, kakak tertua datang. Aku sedang menangis. Mengadu. Kukatakan, rumah akan disekat. Tangisku kian meledak.

Aku berusaha ditenangkan oleh yang lain. Konyol, pikirku, bagaimana bisa seorang ayah menyampaikan hal itu hanya melalui sebuah telepon? Bukankah lebih elok jika dia bertatap muka dengan kami? Baiklah, mungkin dia sedang sibuk.

Lalu, ayah, bagaimana dengan anak-anakmu yang lain? Tidak. Maksudku bukan kami enggan berbagi dengan saudara yang lain. Bukan itu. Sebab, ini tentang bagaimana ayah mampu mengatur itu semua. Ayah adalah seorang yang kaya. Membangun satu rumah lagi untuk saudara-saudara yang lain di tempat yang lebih layak, pasti bisa. Iya, kan?

Untuk apa ayah menggunakan rumah kami yang seperti rumah hantu? Banyak nyamuk dan banjir pasti berkunjung saban hujan. Dan parahnya, kami sering kedatangan tamu bersisik alias ular berbisa karena di belakang rumah masih rumput. Alang-alang, bahkan rawa.

Rumah itu memang terlihat seperti gudang. Tapi, Ayah mesti mampu melihat progresivitas kami di sana. Kami sudah melakukan dan telah melalui tahap apa saja. Ayah harus tahu itu! 

Bahkan, pemenang penghargaan Usmar Ismail kategori aktor terbaik dalam film Istirahatlah Kata-Kata, Gunawan Maryanto, pernah bertandang ke sana. Dia, Mas Gun, bermain dan melakukan proses jelang pementasan di Taman Ismail Marzuki, beberapa waktu yang lalu.

Sebab, di mana lagi tempat bermain kami kalau bukan di sana? Ah, kami yakin ayah mampu. Pertanyaannya hanya satu, apakah ayah punya kemauan untuk membangun rumah yang baru?

Dipublikasi di Cerpen, Salam Budaya | Meninggalkan komentar